Aku Mau Jadi Manusia oleh Antonius Wendy

Posted: 19 January 2018 by Antonius Wendy

Catatan Redaksi:
Puisi-puisi Antonius Wendy adalah pertanyaan-pertanyaan tanpa kalimat tanya dan jawaban-jawaban tanpa kesimpulan, menyoal muasal, kehidupan, dan masa depannya, tentang kegelisahan hidup seseorang mengapa kehidupan nyata yang jauh dari ideal. Aku dalam salah satu puisi ini nampaknya menginginkan kemerdekaan, kemenangan dan kebahagian. Tapi jika menghadapi dunia saja kalah bagaimana kita menang pada akhirnya nanti?
Dengan demikian, puisi ini nampak menunjukkan ironi, tentang keinginan untuk melawan di tengah ketidakberdayaan, tentang harapan di tengah tak adanya kepastian dan tentang keinginan akhir yang bahagia di tengah penderitaan.

 

Aku Mau Jadi Manusia

kau kulit api yang pupur kata
mereguk sari zaman lunta

kami hangus kau tumbuh luas
dari esensi dualitas entitas
jadi patung medusa tanpa kepala
diami bandang pandang mata

tapi bukan cuma soal imaji palsu
bukan pula janji cemerlang biru
sedang belerang sekarang rumah
menimpang dunia lekang patah

kawanku sempat nulis puisi
kalau kalau hidup bakal hidup
begitu pun mati bakal mati

dan itulah, ialah jalan tiada
selain ingin binasa segala suara

maka ini orasi
karangan aspirasi

tanya yang tak punya jawaban
hidup yang tak punya masa depan

aku mau hidup dan bertanya sekalian
aku mau jawaban masa depan
pesuk jentera tak lagi awas laras
untuk itu aku panjat ke atas batas

Yogyakarta, Oktober 2017

 

 

N I H I L

tiada kelayakan daripada mereka
menaungkan diri kepada cahaya
cahaya binasa yang menolak bersinar
hingga masa berujar, “Mati lebih benar.”

 

A G N O S T I K

Tiada derita tanpa cerita, untuk menopang doa dari silih ganti muara. Pada mulanya ialah ujud niskala merayap senyap bara. Melewati peningkah elegi pagi menghias segendang embun. Gerimis tipis kikis menepis baris terhenyak bersenandung. Memintal angin di sisi bukit. Mengarak jarak. Memahat pintu. Menunggu dan memalingkan muka dari ruap rupa rembulan yang senang merayu tempias sunyi di kaca jendela. Tiada cerita tanpa derita, kota tanpa kata, yang akhirnya kembali kepada kesia-siaan makna.

 

Pe

gemerlap dunia saling bertubrukan
menggusur tepi dengan busur
celaka dalam penyamaran
simpang siur

di sana kita bernama ambang
tempat jiwa tidak tenteram
terperangkap tanggung jawab

juga bibir gerimis pernik keji
menghujani angin tersimpuh sedu

kutemu matamu menyatu
dalam kesukaran lingkup semesta

tapi kekasih, kelak jenazah aku
yang belum sempat dimandikan
memijar pijar liar
haus pada genta
dan beringsut
dan menubruk
piring piring rengat
dinding miring lempung
dari seringai misai badai
yang selama ini di pelupuk kamu

setiap hari, setiap detik saja
kutemui diri semakin bahagia

aku mau berakhir dengan senyuman
kemenangan!
dan mereka, manik pernik malam keji
yang mengguyur lapang jengkal dahi ini
tak akan pernah mampu ambil nyawaku

Yogyakarta, Oktober 2017

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *