Tiada Lagi Haji yang Berlabuh di Pantai Ini

Posted: 6 September 2017 by Nanda Ghaida

Kendati telah di-Islam-kan sejak awal abad ke-16, tren haji di Lombok baru dimulai pada abad ke-18. Seiring dengan menebalnya keimanan, juga keingintahuan yang besar terhadap tanah suci, perjalanan berbulan-bulan lewat laut—lengkap dengan segala resikonya—tidak mengurungkan niat umat Islam di Lombok untuk menginjakkan kaki di Mekkah.

Dikenal dengan sebutan Pulau 1000 Masjid, begitulah gambaran besarnya pengaruh Islam di pulau kecil ini. Tahun ini saja Bandara Internasional Lombok menerbangkan 4.476 haji yang berasal dari seluruh Nusa Tenggara Barat (NTB). Meski begitu, tidak banyak tersedia catatan mengenai perjalanan haji orang-orang Lombok lewat jalur laut.

Umumnya, perjalanan haji pertama dari Lombok bermula dari sebuah tempat di Kabupaten Lombok Timur. Dahulu, calon jamaah haji dari Lombok dan wilayah lain di NTB berkumpul di wilayah itu. Mereka mendirikan tenda di tanah lapang, sekitar 1 km dari dermaga. Kapal-kapal yang akan membawa jamaah menuju pelabuhan embarkasi haji pemerintah, berlabuh sekitar 300 meter dari bibir pantai. Untuk mencapai kapal, perlu menggunakan alat semacam sekoci besar bernama blungku berbentuk “U”.

Berdasarkan ordonasi haji tahun 1922, pelabuhan embarkasi yang ditetapkan pemerintah Hindia Belanda ialah Makassar, Surabaya, Tanjung Priok, Emena, Palembang, dan Sabang. Oleh karenanya, semua jemaah haji asal Lombok harus terlebih dahulu menuju ke pelabuhan-pelabuhan itu jika ingin berhaji dengan kapal yang disediakan pemerintah. Kendati bukan pelabuhan resmi untuk berhaji, seluruh calon jamaah haji Lombok dan NTB selalu berkumpul di dermaga itu. Mungkin karena itulah nama pantai dan kecamatan di daerah itu disebut Labuhan Haji.

 

Tahun 1930an, 6 Bulan di Laut, 5 Bulan di Darat

Walau tidak banyak keterangan mengenai Labuhan Haji, saya cukup beruntung bisa bertemu dengan Zaitunil Zarkiyah (saya memangilnya Umi), seorang hajah yang bisa memberikan gambaran tentang keberangkatan haji jalur laut. Ingatannya tumpah ruah ketika saya memintanya untuk menceritakan tentang prosesi haji kakek, ayah, dan dirinya.

Generasi pertama yang berhaji di keluarganya adalah kakeknya yang bernama H. Lalu Abdul Wahab, seorang petani padi di Desa Ketara, Lombok Tengah. Umi tidak begitu ingat berapa biaya pastinya yang dikeluarkan kakeknya saat berhaji di tahun 1936. “Uangnya kepingan bolong-bolong, ada gambar perempuan Belanda, semua dimasukkan ke pundi-pundi, ada sekitar dua pundi. Itu setara harga 30 kerbau,” terangnya.

Setelah terbukanya Terusan Suez, pemerintah Hindia Belanda memang mengambil keuntungan untuk mengatur transportasi dan segala tetek bengek lainnya dalam ordonasi haji sehingga biaya menjadi lebih mahal daripada saat sebelum ordonasi haji dibuat. Dalam bedevaartverslag (arsip Konsulat Belanda di Jedah), biaya minimal berhaji di tahun 1931-1939 berkisar f 570 dan biaya tertingginya mencapai f 856,50. Biaya yang diatur oleh pemerintah kala itu mencakup tiket kapal haji,  upacara pemberangkatan, serta perjalanan menuju pelabuhan embarkasi haji. Biaya itu juga termasuk pengeluaran di luar negeri, seperti ongkos transportasi di Arab yang meliputi sewa unta, sewa penginapan di Mekkah, ziarah ke Madinah, dan konsumsi selama di Mekkah untuk lima bulan.

Menurut keterangan Umi, waktu tempuh pelayaran menuju daratan Arab dari Lombok saat itu adalah tiga bulan. Setelahnya, jemaah menunggang unta sewaan dari Jedah-Mekkah-Madinah (juga sebaliknya) yang memerlukan waktu tempuh sebulan untuk perpindahan dari satu kota ke kota lain, sehingga estimasi waktu yang dihabiskan untuk prosesi haji kala itu adalah lima bulan. 6 bulan di laut, 5 bulan di darat, adalah total waktu berhaji dari Pantai Labuhan Haji sampai kembali lagi. Nyaris setahun.

 

Yang Hilang dari Haji Dulu: Barokahnya!

Biaya yang tidak sedikit dan waktu yang panjang untuk berhaji membuat jamaah perlu menyiapkan proses keberangkatan haji dari jauh hari. Jumlah jamaah yang mampu pergi haji di tahun 1930-an hanya berkisar satu orang di setiap dua desa. Jumlah yang sangat sedikit jika dibandingkan sekarang. Tapi, dalam perihal persiapan keberangkatan haji, hampir semua orang di desa terlibat untuk membantu dengan sukarela.

Soal perbekalan, setidaknya sejak tiga bulan sebelum keberangkatan, warga desa datang nyaris setiap hari ke rumah calon jemaah haji untuk membantu memanen padi yang kemudian disimpan selama sebulan sebelum diolah menjadi nasi kering dan kue poteng, panganan sejenis uli, campuran dari beras, ketan, dan kelapa yang awet sampai setahun. Bekal-bekal itulah yang kelak akan dikonsumsi di kapal selama perjalanan.

Resiko untuk tidak kembali ke tanah Lombok selalu ada. Itu pula yang menjadi alasan kenapa para jemaah dilepas sedemikian meriah. Sebelum berangkat, selama sembilan hari lamanya, warga mengadakan ziarah di rumah jamaah haji. Doa-doa, salawat barzanji dan sarakalan dipanjatkan. Harapannya agar haji berjalan lancar dan jamaah dapat kembali dengan selamat.

Saat hari keberangkatan, semua keluarga jemaah lengkap dengan masyarakat di desanya ikut melepas di dermaga. “Satu orang yang berangkat, satu desa yang mengantar,” kata Umi. Tambahnya, mereka semua memakai atribut serba putih, dan satu hal yang tidak luput adalah kipas warna-warni yang dihias agar lambaian tangan mereka tetap tampak meski kapal sudah jauh melaju dari dermaga.

Normalnya, ketika cuaca sedang baik, seorang yang pergi berhaji akan pulang di musim haji selanjutnya. “Kakek pun begitu, ketika dia pulang, orang-orang di sini sudah mau berangkat haji lagi, setahun sudah,” kenang Umi. Begitu sampai di Lombok, penyambutan haji-haji baru juga dilakukan dengan amat meriah. Uniknya, saat itu haji ‘dikarantina’ dengan ditempatkan di sebuah rumah khusus yang didesain serba putih—mirip dengan kamar pengantin—untuk haji melakukan paosan, pembacaan kitab-kitab dari lontar dalam bentuk tembang macapat untuk mendalami ilmu makrifat.

Selain itu, di rumah haji juga kembali dilakukan sarakalan dan barzanji sembilan hari lamanya. Orang-orang berdatangan dengan membawa makanan dan mereka dijamu dengan kurma dan air zam-zam. Meski tidak ikut pergi berhaji, kedatangan haji di desa mereka membuat suasana haji ikut dirasakan warga desa yang lain. “Udah nggak kita rasakan lagi seperti itu, kalau sekarang, haji kayak nggak ada barokahnya. Semua berangkat dan pulang sendiri-sendiri,” tutup Umi.

 

Labuhan Haji, Riwayatmu Kini

Setidaknya hingga tahun 1974, aktivitas pengangkutan jamaah melalui dermaga Labuhan Haji berjalan sebelum akhirnya pelayaran haji laut dihentikan saat PT. Arafat dinyatakan pailit. Masyarakat Lombok pun beralih menggunakan jalur udara untuk berhaji.

Meski begitu, rombongan tersebut tidak terbang langsung dari Lombok, tetapi lewat embarkasi haji di Bandara Juanda, Surabaya. Dari Lombok, jamaah haji termasuk ayahnya Umi, tetap berangkat dari pelabuhan, meski bukan dari Labuhan Haji, melainkan dari Pelabuhan Lembar.

Pengalihan Labuhan Haji ke Pelabuhan Lembar bukan tanpa alasan. Meski telah menjadi pelabuhan yang memberangkatkan hingga ribuan jamaah haji Lombok dan NTB, pada akhir 60-an labuhan ini mulai ditinggalkan dan dinilai kurang cocok sebagai pelabuhan karena kurang kedalaman lautnya.

Ali Bin Dahlan, Bupati Lombok Timur periode 2003-2008, sempat berencana mengaktifkan kembali Labuhan Haji sebagai pelabuhan untuk mengangkut sapi-sapi ke Australia, juga untuk pengangkutan pupuk dan semen. Hanya sayang, selepas periodenya berakhir, bupati penggantinya tidak meneruskan program itu. Labuhan yang pernah menjadi saksi keberangkatan ribuan haji itu kini tampak penuh karat dan tidak terawat.

Kini, setelah Ali Bin Dahlan terpilih kembali menjadi Bupati Lotim untuk periode 2013-2018, program revitalisasi Labuhan Haji mencuat kembali. Konon anggarannya mencapai Rp. 30 milyar.

Meskipun kelak pembangunan selesai dan  pelabuhan bisa dioperasikan, belum ada yang mewacanakan untuk mengembalikan hiruk-pikuk Labuhan Haji seperti sedia kala. Labuhan Haji, pada akhirnya, hanya menjadi sebuah kenangan yang akan diwariskan pada anak cucu tentang leluhur yang mampu menyempurnakan agama meski terbentang laut ribuan kilometer. Kini tiada lagi haji yang berlabuh di pantai ini.

 

 

Sumber referensi:

Historiografi Haji Indonesia. 2007. M. Shaleh Putuhena.

Pelayaran Angkutan Jamaah Haji di Hindia Belanda (Tahun 1911-1930). 2016. Ahmad Fauzan Baihaqi

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *