Superhero Indonesia?

Posted: 10 May 2017 by Andreas Nova

superhero indonesia

Apa genre film yang hampir dipastikan hadir dalam daftar film yang ditayangkan di bioskop kesayangan anda ketika liburan tengah tahun, atau menjelang liburan akhir tahun? Genre—lebih tepatnya subgenre—yang pasti ada adalah superhero. Superhero didefinisikan sebagai sosok pahlawan dalam fiksi populer yang memiliki kekuatan yang melebihi manusia, terkadang mereka menggunakan kostum tertentu untuk menutupi identitasnya. Umumnya mereka mendedikasikan hidupnya untuk memerangi kejahatan dan melindungi masyarakat.

Superhero adalah orok yang lahir dari rahim cerita bergambar. Kekuatan super para tokohnya akan sangat mudah—dan murah—saat diekspresikan secara visual melalui gambar daripada melalui beberapa paragraf deskripsi. Apalagi Superhero memang pada awalnya adalah genre yang menyasar pangsa pasar anak-anak yang lebih menyukai cerita penuh ilustrasi daripada membaca teks yang mungkin bagi mereka membosankan. Pangsa ini memiliki penggemar yang fanatik, karena komik adalah satu-satunya hiburan pada masa itu—lagi pula saat itu politik dunia memanas jelang Perang Dunia II, maka tak heran tokoh-tokoh superhero tersebut menjadi populer.

Adalah Stanley Martin Lieber, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Stan Lee, seorang editor Timely Publication (cikal bakal Marvel Comics) yang merevolusi genre superhero. Dari tangannya naskah-naskah superhero Marvel diolah dan ditujukan kepada pembaca yang lebih dewasa. Stan Lee menciptakan karakter superhero yang lebih manusiawi, tidak tampan, gagah, sempurna, tak terkalahkan namun rapuh di balik kekuatan super yang dimilikinya.

Ketertarikan terhadap superhero sebagian besar berdasarkan pada ketertarikan yang sama terhadap narasi petualangan dan eskapisme yang ditawarkannya. Film-film ini dibangun berdasarkan mitologi dan busur narasi yang melibatkan pencarian akan suatu hal, dan terkadang takdir khusus yang disematkan pada tokoh utamanya–yang biasanya berpikir mereka adalah orang pada umumnya.

Peter Parker, Steve Rogers, Luke Skywalker, Harry Potter bahkan beberapa film populer di luar subgenre superhero memiliki busur narasi serupa. Tokoh utama adalah orang biasa, namun tiba-tiba ada suatu hal yang mendorong mereka pada hal luar biasa. Mereka harus bertarung mewakili kebaikan melawan kejahatan, dimana terkadang tokoh utama harus melewati tantangan tertentu dan membuktikan bahwa mereka layak menjadi pahlawan.

Berkali-kali elemen narasi ini diulang sejak masa mitologi Yunani hingga mitologi tersebut beralih ke dalam gedung bioskop. Ini bukan suatu hal yang baru, kita bisa melihat kemiripan antara Oedipus dan Sangkuriang yang sama-sama mencintai ibunya, atau kisah kasih tak sampai antara Romeo dan Juliet, Sam Pek dan Eng Tai, hingga Saijah dan Adinda. Narasi-narasi yang sama ditemukan di waktu dan tempat yang berbeda, namun lagi-lagi, manusia suka menikmati hal yang pernah dinikmatinya sebelumnya. Sehingga tak heran narasi-narasi ini menjadi populer dan mengendap cukup lama di kehidupan manusia.

Adapun di Indonesia, memunculkan mitos tokoh pahlawan super sudah berkali-kali dilakukan. Mulai dari Sri Asih (1950) karya R.A Kosasih, Godam dan Aquanus (1969) ciptaan Wid NS, Gundala Putra Petir dan Pangeran Mlaar (1969) ciptaan Hasmi, hingga superhero yang muncul di masa kejayaan layar kaca seperti Saras 008, Panji Manusia Millenium dan tokoh Tokusatsu hasil kerjasama dengan Ishimori Pro —produser serial tokusatsu di Jepang seperti Kikaider dan serial Kamen Rider, Bima Satria Garuda.

Pahlawan-pahlawan super tersebut sangat dipengaruhi tokoh superhero dari Amerika Serikat, khususnya Marvel dan DC. Sri Asih kerap dibandingkan dengan Wonder Woman, Godam dengan Superman, Aquanus dengan Aquaman, Gundala dengan Flash, Pangeran Mlaar dengan Mr. Fantastic—pimpinan Fantastic Four. Bahkan superhero lokal di era layar kaca seperti Saras 008 dan Panji Manusia Millenium juga mirip dengan Catwoman dan Robin. Kostum Panji, entah sengaja atau tidak, sangat mirip dengan Robin di film Batman Forever (1995) dan Batman & Robin (1999) yang disutradarai Joel Schumacher. Bima Satria Garuda pun tidak lepas dari pengaruh tokusatsu Jepang, terutamanya seri Kamen Rider—lebih dikenal di Indonesia dengan sebutan Ksatria Baja Hitam. Bahkan film superhero layar lebar yang terbaru, Garuda Superhero (2015), lagi-lagi kostumnya mirip dengan kostum Batman-nya Christopher Nolan. Superhero-superhero lokal tersebut menunjukkan jika kreator di Indonesia belum bisa melepaskan pengaruh komik atau superhero luar negeri di dalam karyanya.

Genre superhero tersebut pada awalnya bersaing dengan genre cerita silat lokal, dengan tokoh pendekar yang dianugerahi daya ‘lebih’ semacam Jaka Sembung (1968) karya Djair Warni, Si Buta dari Gua Hantu (1967) karya Ganes TH, juga Panji Tengkorak (1968) karya Hans Jaladara hingga Wiro Sableng (1989 dalam bentuk novel berseri) karya Bastian Tito, yang justru lebih populer dan terasa nuansa kearifan lokalnya daripada nama-nama yang disebutkan sebelumnya.

Kepopuleran para pendekar tersebut tentu saja tidak lepas dari pengaruh cerita silat Tiongkok yang lazim disebut wuxia. Di negeri asalnya, genre ini berakar sejak Dinasti Tang (618-907) dan berkembang hingga masa Dinasti Ming (1368-1644), yang menghasilkan Roman Tiga Kerajaan dan Tepi Air, dua dari empat karya sastra klasik tiongkok—dua lainnya adalah Perjalanan ke Barat dan Impian Paviliun Merah—keduanya ditulis pada masa Dinasti Qing. Wuxia modern dikenal di Indonesia melalui karya Louis Cha atau lebih dikenal dengan nama penanya Jin Yong (Chin Yung). Beliau dikenal dengan karyanya Trilogi Pendekar Rajawali—Pendekar Pemanah Rajawali (1957), Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali (1959) dan Golok Pembunuh Naga (1961), yang sempat populer kembali melalui adaptasi serial televisi pada tahun 1990-an di Indonesia.

Awalnya cerita silat muncul sebagai terjemahan dari karya-karya penulis terkenal Tiongkok. Para penerjemah Indonesia keturunan Tiongkok menerjemahkan kisah-kisah ini untuk dimuat di surat kabar berbahasa tiongkok untuk WNI keturunan di Indonesia. Tetapi karena kisah-kisah ini kemudian disukai banyak kalangan, akhirnya dibuatkan cetakan tersendiri berupa buku. Kisah-kisah petualangan para pendekar dunia persilatan ini amat sangat digemari, bahkan konon mantan Presiden Soeharto juga menggemari novel silat berjudul ‘Luxiang Hudie Jian‘ karya novelis Gu Lung (Khu Lung) yang diterjemahkan dalam judul Antara Budi dan Cinta (1973).

Karya-karya wuxia rata-rata memiliki kesamaan busur narasi. Biasanya menampilkan seorang tokoh protagonis laki-laki muda yang mengalami tragedi —seperti kehilangan orang yang dicintainya— dan terus menerima cobaan dan kesengsaraan sebelum belajar beberapa bentuk seni bela diri dari pendekar yang lebih senior atau belajar secara mandiri dari sebuah kitab kuno. Di akhir cerita, ia muncul sebagai pendekar yang kuat. Dia menggunakan kemampuannya untuk berbuat kebajikan. Busur narasi yang sama ditiru oleh cerita silat Indonesia. Panji Tengkorak, Si Buta dari Gua Hantu adalah contoh karya yang memiliki busur narasi serupa.

Salah satu karya yang kental dengan elemen-elemen wuxia adalah karya-karya Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo. Karya-karya populer tersebut menginisiasi genre cerita silat yang kemudian membuat penulis-penulis lain seperti S.H Mintardja (terkenal dengan cerbung Api di Bukit Menoreh dan cerbung Nagasasra dan Sabukinten), Arswendo Atmowiloto (karyanya Senopati Pamungkas), S. Tidjab (Tutur Tinular), Motinggo Busye (Tujuh Manusia Harimau) menghasilkan karya dengan genre serupa.

Mistisisme yang kental, latar sejarah nusantara, dan asimiliasi dengan legenda nusantara menjadi beberapa faktor yang membuat pendekar-pendekar tersebut populer. Ditambah dengan pemakaian istilah yang disesuaikan dengan selera lokal membuat Jurus Kunyuk Melempar Buah-nya Wiro Sableng, atau Kliwon sebagai sidekick dari Si Buta dari Gua Hantu, lebih dikenal daripada nama-nama futuristik yang terkesan dipaksakan di genre superhero Indonesia. Menjadi superhero dengan menggunakan bahan kimia (seperti Captain America), atau mengenakan zirah canggih (seperti Iron Man), atau digigit hewan yang bermutasi (seperti Spider-Man) kalah logis dibandingkan menjadi pendekar yang sakti mandraguna dengan cara bertapa, menggunakan pusaka peninggalan leluhur dan mempelajari ilmu-ilmu gaib.

Sama halnya dengan watak sebagian orang Indonesia yang gemar dengan budaya instan, karakter-karakter tersebut tidak disemai dengan baik untuk mendapatkan popularitas lebih di kemudian hari. Pada umumnya mereka mati seiring dengan redupnya sang kreator yang sudah tak memiliki dana dan dukungan untuk menerbitkan karyanya atau bahkan dipandang buruk karena dianggap meniru superhero dari luar negeri. Dan pada titik inilah superhero Indonesia mati.

 

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *