Sentuhan Batin Puitis pada Dimensi Prosa dalam Cerpen “Barangkali” Karya Suci Wulandari

Posted: 17 May 2018 by Riska S N

Kegiatan atau langkah yang harus dilakukan dalam memahami karya sastra paling tidak meliputi tiga hal yaitu interpretasi atau penafsiran, analisis atau penguraian, dan evaluasi atau penilaian (Simatupang, 1980; Pradopo, 1982). Ketiga langkah tersebutlah yang digunakan penulis dalam mengapresiasi batin puitis dalam dimensi prosa pada cerpen “Barangkali” karya Suci Wulandari. Membahas mengenai puitis dan prosais memang selalu bersinggungan meski keduanya memiliki makna dan ruang yang berbeda. Puitis yang kita tahu selama ini selalu berkenaan dengan bahasa yang bersifat puisi, sedangkan prosa lebih kepada karangan yang bersifat bebas, memaparkan secara gamblang. Namun, dalam kesempatan kali ini penulis membatasi diri mengenai puitis dan prosais sebagai makna pemadatan/pendalaman dan pemekaran.

Bicara mengenai puisi dan prosa dalam satu buku, pengarang menyajikan idenya dengan cukup menarik. Letak kemenarikan tersebut, misalnya dapat ditemui dengan membandingkan puisi dan prosa yang ditulis Dewi Lestari, khususnya karya Supernova. Puisi dalam Supernova hadir sebagai prolog bahkan bisa dikatakan garis besar cerita. Sedangkan cerpen “Barangkali” menuliskan puisi sebagai prosa itu sendiri. Hal tersebut terpaparkan pada halaman 27 sampai 29, seperti berikut.

“Sajak Seonggok Jagung.” Ana mengelilingkan pandangannya.

“Seonggok jagung di kamar. Dan seorang pemuda. Yang kurang sekolahan. Memandang jagung itu. Ia melihat petani. Ia melihat panen.”

Ana melanjutkan puisinya, tentu saja sambil mengedarkan pandangan. Tenggorokan Raba gatal sekali rasanya. Raba ingin batuk, tapi ditahannya. Ia tidak ingin merusak suasana magis yang terlanjur terbangun.

“Seonggok jagung di kamar. Dan seorang pemuda. Ia siap menggarap jagung. Ia melihat menggarap jagung. Ia melihat kemungkinan. Otak dan tangan. Siap bekerja.”

Ana memberi jeda. Tatapannya jatuh pada Raba, tanpa disengaja.

“Tetapi ini….” suara Ana melirih. Tatapannya masih belum berpindah. Mata mereka beradu pandang. Tiba-tiba, Raba merinding. Bukan karena badannya yang sedang meriang. Ia merinding karena lengang yang muncul, serta mata Ana yang seolah menusuk milik Raba. Ia semakin ingin batuk, tapi tetap ditahannya setengah mati.

“Tetapi ini: seonggok jagung di kamar. Dan seorang pemuda tamat S.L.A. Tak ada uang, tak bisa jadi mahasiswa. Hanya ada seonggok jagung di kamarnya. Ia memandang jagung itu. Dan ia melihat dirinya terlunta-lunta.”

Ana masih bertahan menatap Raba. Begitu pun sebaliknya. Ana melanjutkan puisinya. Raba masih menahan batuknya. Lebih parah lagi, jantungnya kini berdebar makin cepat. Mendadak, semesta Raba lenyap, hanya tinggal mereka berdua, berhadap-hadapan begitu dekat sekaligus berjarak begitu jauh.

“Seonggok jagung di kamar. Tidak menyangkut pada akal. Tidak akan menolongnya. Seonggok jagung di kamar. Tak akan menolong seorang pemuda. Yang pandangan hidupnya berasal dari buku. Dan tidak dari kehidupan. Yang tidak terlatih dalam metode. Dan hanya penuh hafalan kesimpulan. Yang hanya terlatih sebagai pemakai. Tetapi kurang latihan bebas berkarya. Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.”

Ana berjalan turun dari panggung. Perlahan menghampiri Raba, masih dengan tatapan yang sama. Hanya saja kini suaranya meninggi. Amarah terbaca jelas di matanya.

“Aku bertanya? Apalah gunanya pendidikan. Bila hanya akan membuat seorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya? Apakah gunanya pendidikan? Bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibu kota. Kikuk pulang ke daerahnya sendiri?” Ana makin mendekat ke arah Raba. Tatapannya sama sekali tidak berpindah. Ia melanjutkan puisinya. Kini dengan suara tenang nan lantang, suara penuh kesedihan yang tidak bisa dijelaskan, membuat Raba sungguh-sungguh semakin ingin batuk.

“Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, teknologi, ilmu kedokteran, atau apa saja. Ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata: di sini aku merasa asing dan sepi.”

Ana masih menatap Raba.

“WS Rendra. 1975.” Ana mengalihkan tatapannya ke arah Yono. Lalu Yono meringis, dan bertepuk tangan. Semua orang kemudian ikut bertepuk tangan. Bersamaan dengan itu, Raba melepaskan batuk yang sedari tadi ia tahan. Semestanya kembali ramai

Pada kutipan tersebut terdapat puisi WS Rendra yang berjudul Sajak Seonggok Jangung. Puisi tersebut tidak hanya hadir sebagai kutipan maupun penggalan dialog, akan tetapi menjadi bagian prosa itu sendiri. Selain penafsiran terhadap prosa, mau tak mau pembaca juga dibawa untuk memahami bait-bait puisi tersebut. Hal ini berkenaan dengan sentuhan puitis yang tidak hanya dihadirkan oleh bahasa yang digunakan, akan tetapi juga berkenaan dengan unsur peembangun cerita dalam hal ini tokoh. Tokoh dalam cerpen “Barangkali” menawarkan dua peran sekaligus yaitu yang memberi dan yang dikenai sentuhan puitis. Berikut yang dialami oleh tokoh Raba, dalam kutipan berikut.

Masih terbatuk-batuk, Raba kemudian berdiri. Ia berjalan menuju rumah kontrakannya, tanpa memedulikan hal lain, termasuk teriakan Yono yang kebingungan ditinggal sendirian. Raba terus berjalan menyusuri gang, melewati orang-orang yang duduk lesehan menghadap panggung. Dalam perjalanannya, Raba mengutuk Rendra dan puisinya. Raba mengutuk Ana dan mata coklatnya. Raba mengutuk dirinya sendiri.

Dalam kutipan di atas, melalui penarasian terhadap tokoh dikatakan bahwa pembacaan puisi yang dilakukan oleh tokoh Ana telah menusuk batin puitisnya. Bagaimana pun kalimat-kalimat dalam puisi Rendra tersebut telah membuatnya tidak nyaman, gelisah, tidak lagi hanya mengenai hal lahiriah tokoh namun telah sampai pada hal batiniah.

Ternyata, setuhan puitis dan prosa dapat ditemukan tidak hanya pada penggambaran sikap tokoh. Setelah pembacaan berulang, pengarang juga menghadirkan kedalaman terhadap unsur pembangun cerita yang lain, seperti penamaan tokoh, setting, plot dan penanda-penanda yang ada. Seperti halnya penamaan tokoh Raba yang memiliki nama lengkap Raba Bara, seperti berikut.

Sedikit demi sedikit, Raba mulai berubah. Ia mulai mempertanyakan apa yang sebenarnya dilakukan oleh ayahnya. Seperti nama lengkapnya, Raba Bara, senantiasa mengandung panas yang seolah abadi.

Dari penarasian makna satu nama yang ada, akhirnya membuat pembaca pun meraba-raba pemaknaan nama-nama yang lain. Yang pada akhirnya membuat berpikir tentang kedalaman. Selain Raba, di sana ada tokoh Ana, Haryono Suwage, Gunawan, dan Rumini, yang membawakan kesan puitis masing-masing. Seperti Ana dengan karakternya, Haryono Suwage dengan kedalaman pikirannya, Gunawan dengan idealisnya, dan Rumini yang memang puitis melalui hobinya menulis surat.

Selanjutnya, memasuki sentuhan puitis dalam dimensi prosais bila dilihat dari segi setting, plot, dan penanda-penanda yang ada. Dari segi setting, pembaca melihat bagaimana keakraban pengarang memiih tempat cukup linier dengan wacana-wacana yang di bawa. Dalam cerpen tersebut terdapat empat icon yang dapat dikatakan memiliki andil besar untuk menjadi keutuhan cerita yaitu Kota Malang, Apel, Yogyakarta, dan Lukisan Apel serta sosok Ayah.

Kota Malang dihadirkan sebagai kota asal tokoh Raba Bara, kota yang secara universal sudah diketahui sebagai Kota Apel. Dalam hal ini, apel menjadi mengambil peranan penting mengenai hubungan seorang anak dan ayahnya. Akan tetapi, sebelum jauh membahas pohon apel dan lukisan apel, ada hal yang cukup mengganjal akan keberadaan apel di sini, seperti berikut.

Namun sebutir apel merah setiap pagi menghadirkan ayahnya. Raba tidak bisa pulang. Bak Patih Gadjah Mada yang bersumpah tidak akan istirahat sebelum menaklukkan seluruh nusantara di bawah Majapahit, Raba juga melakukannya. Ia berikrar tidak akan pulang, sebelum ia benar-benar jadi seorang pelukis besar. Semua bermula lewat perbedaan pendapat.

Dalam kutipan di atas, secara tersirat bahwa tokoh Raba memiliki pengalaman batin dengan sang ayah yaitu mengenai kebersamaan dalam perkebunan apel sebelum Raba memutuskan memilih jalan hidupnya sendiri dengan menekuni seni di Yogyakarta. Akan tetapi, kehadiran Apel di sini tidak lagi menjadi sakral dan mengena dengan kehadiran daun johar di situ. Sebab, daun johar tersebut juga menjadi sesuatu ingatan tentang ayahnya.

Selanjutnya, setting tempat di Yogyakarta kaitannya dengan puitis dan prosais membawakan ingatan saya pada artikel yang pernah ditulis Latief S. Nugraha dengan judul Yogya yang Puitis dan Yogya yang Prosais. Dalam artikel tersebut secara garis besar berbicara mengeni peran prosa dalam hal ini cerpen dengan puisi dalam membaca kota Yogya. Setidaknya dari situ, Yogya dirasa tepat untuk menjadi setting peristiwa mengingat keberadaan puitis dan prosaisnya cerpen “Barangkali” karya Suci Wulandari.

Menjadi puitis atau prosais adalah pilihan, pun ketika memadukan keduanya. Barangkali yang terpenting tanggung jawab atas keduanya. Barangkali pula inilah mengapa judul cerpen ini Barangkali, jangan-jangan pengarang pun bimbang akan meletakan dirinya.

Pendapat Anda: