Post-warkop: Dialektika dan Perenungan di tengah Keramaian

Posted: 15 November 2017 by Tri Wahyudi

Membaca keramaian tentu saja tidak dapat dilepaskan dari terjadinya interaksi antarperson yang terlibat di dalamnya. Singgungan-singgungan yang terus terjadi memunculkan aksi dan reaksi yang menghasilkan lanskap unik tentang bagaimana memaknai kebebasan. Manusia seolah menjadi liar ketika ia ‘dikeluarkan’ dari rutinitasnya. Warung kopi, sebuah ruang yang tak lagi sekedar menjadi tempat untuk menikmati minuman pelega dahaga tetapi telah menjelma menjadi sebuah ruang interaksi. Warung kopi seringkali hanya dibungkus dengan kemasan sederhana dan menyuguhkan menu dengan harga yang tak seberapa namun ternyata memiliki kekuatan untuk mengundang dan menyihir para ‘makhluk nokturnal’ untuk berwacana dan berdialektika.

Sebagaimana yang kita ketahui, riuh rendah keramaian di warung kopi kini bukanlah suatu keniscayaan, karena memang seperti itulah adanya. Akan tetapi, jika ditelisik lebih jauh, fenomena keramaian di warung kopi ini menjadi pintu pembuka tentang bagaimana manusa secara alamiah membuka sekian potensinya untuk bertemu, mengenali, dan menerjemahkan sensitivitas terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.

Di warung kopi, terdapat banyak ‘lingkaran’ yang saling berkutat dengan wacana dan kepentingan sendiri-sendiri. Lantas, apa yang menarik dari pemandangan tersebut? Bukankah suatu pembicaraan serius seharusnya membutuhkan ruang sepi tanpa hiruk pikuk?  Diskusi yang masif bukankah semestinya memisahkan diri dari hingarbingar dan ketidakteraturan?  Akan tetapi, seringkali kenyataan yang tampak sungguh berbeda. Di beberapa (baca: sebagian besar) lingkaran ternyata bukanlah sekedar ketawa ketiwi menikmati teh hangat atau kopi. Mereka secara anatomis membuat gerakan kerenyit dahi sambil sesekali memainkan jemarinya di keyboard cadas laptop pintarnya. Artinya, mereka melakukan kegiatan serius di tengah keramaian.

Dari pembacaan tersebut, keramaian menjadi ‘yang dirindukan’ untuk mengasah kepekaan. Ruang sepi mungkin tak lagi menjadi teman baik retas wacana. Sebagai subyek berpikir, kognitif manusia bergerak dinamis merespon segala suasana. Warung kopi agaknya menjadi sebuah wahana yang mampu menjadi pasar yang menyediakan berbagai macam kebutuhan. Seperti halnya yang terjadi pada saya malam ini, niat menulis (baca: iseng) muncul dengan tiba-tiba. Aktivitas diskusi dan menulis, tawa dan teriakan, ternyata mampu menumbuhkan kekuatan untuk menyikapi sesuatu, dengan menulis tentunya. Dalam hal ini, konten tidaklah penting, tetapi respon membuktikan bahwa otak menerima rangsang untuk bekerja dalam porsinya. Dalam pengamatan lain, dapat dikatakan bahwa otak memerintahkan seluruh ragam organnya untuk bergerak. Pertanyaan berikutnya, mengapa hal ini justru muncul di tengah keramaian? Mungkin kalimat umum yang sering didengar adalah “inspirasi bisa datang dari mana saja. Tetapi, satu yang tak disadari adalah bahwa manusia adalah animal symbolicum, binatang yang berpikir. Meskipun menegaskan dirinya berbeda dengan binatang –karena dapat berpikir –unsur kebinatangan secara naluriah adalah berburu, berlomba, mengalahkan, dan memenangkan: survive. Dengan demikian, persaingan atau kompetisi memantik otak untuk memberikan respon lebih ketika dalam ketidakberaturan semua mencoba menunjukkan eksistensinya. Mereka yang serius, yang santai, yang mengerenyitkan dahi, yang ketawa ketiwi, ternyata adalah ‘serigala’ (homo homini lupus) yang harus dikalahkan dengan melakukan kegiatan yang lebih, atau setidaknya sama.

Membincang tentang kompetisi tadi, dalam kaitannya dengan keramaian, terdapat dua pilihan jika ingin mempertahankan eksistensi, yaitu; menjadi yang hilang, atau menjadi yang lebih ramai. Dari sinilah kemudian muncul reaksi atas semua aksi yang seolah-olah alami terjadi. Inspirasi yang muncul ditengah keramaian sebenarnya bukanlah an sich kemampuan manusia yang mengeksplorasi potensinya, akan tetapi naluri kebinatangannya yang mengharuskan untuk bertahan. Dalam bagian ini unsur ‘berpikir’ dimanfaatkan yang kemudian termanifestasi pada tindakan berupa ‘menggunakan potensi kecerdasan/pengetahuan’.

Hingga pada bahasan ini, Warung kopi tidak lagi dapat dipandang sebagai warung biasa dengan harga tak seberapa. Warung kopi memungkinkan dirinya untuk menjadi belantara hijau yang mampu mengundang para binatang liar untuk datang dan bertemu. Sementara itu, sebagai arena ia menyediakan alat-alat perang yang membuat para binatang tersebut untuk saling mengaum, bahkan berbunuh-bunuhan. Dari kenyataan ini, apakah ada tempat yang benar-benar aman bagi manusia? Jika dalam pembahasan dangkal keamanan adalah terjaganya tubuh dari kekerasan aniaya, malam ini Warung kopi menyuguhkan pandangan lain bahwa aman bukan lagi sekedar tidak disakiti secara fisik, tetapi terjaga dari keterjajahan pikiran yang disebabkan oleh insting kompetisi yang tak terkendali. Dan oleh karenanya, Warung kopi mungkin tak sekedar warung tempat menyantap hidangan saja akan tetapi sudah dalam batasan yang ‘melampaui’. Post-warung kopi’??? mungkin saja.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *