Masa Depan Dangdut Kita Bersama Via Vallen

Posted: 27 June 2018 by Michael H.B. Raditya

Kabar mencengangkan datang dari Via Vallen pada Senin malam (4/6) pukul 23.30. Perempuan bernama lengkap Maulidia Octavia ini mendapatkan cyber sex harrasment dari seorang pesepak bola yang disamarkan sosoknya. Lewat akun instagramnya, Via Vallen mempublikasikan screenshot pesan personal si pesepak bola itu, “I want you sign for me in my bedroom, wearing sexy clothes,” begitu pesannya. Via Vallen membubuhkan beberapa komentar, seperti: “Nggak kenal dan nggak pernah ketemu, tiba-tiba nge-DM dan mengirim text gambar kaya gini”, “As a singer, I was being humiliated by a famous football player in my country right now”, dan “I am not a kind that girl, dude!!!”

Perselisihan ini tak hanya menimbulkan pertikaian dua arah antara Via Vallen dan si pesepakbola, tapi juga menimbulkan pertikaian panjang dari penggemar sang biduanita. Sontak saja akun media sosial si pesepak bola yang diduga melakukan pelecehan itu pun dibanjiri hujatan.

Banyak dukungan maupun cemoohan yang diterima Via Vallen. Ada yang mencemoohnya karena dinilai terlalu berlebihan. Sebagian yang lain mendukungnya karena tindakan si pesepak bola adalah pelecehan seksual daring yang wajib dilawan. Maka muncul berbagai dukungan melalui instagram ataupun twitter dengan tanda pagar #saveviavallen atau #aksibelaviavallen dari netizen Indonesia. Bahkan Menteri Pemuda dan Olahraga turut mengomentari hal tersebut, “Saya prihatin dengan hal ini,” katanya,  “Saya minta kepada Via Vallen sahabat saya untuk sabar, ini bulan puasa, tentu ini ujian… [Si pesepak bola] ya harus minta maaf, paling tidak harus minta maaf. [Untuk] Via Vallen saya harap sabar.”

Di beberapa sesi wawancara, Via Vallen menyatakan bahwa hal tersebut ia lakukan dengan alasan, “Biar perempuan di luar sana tahu, jika ada yang tidak sopan seperti ini, harus berani bicara, harus berani bertindak, kita tidak bisa diam saja!” Via Vallen tidak bermaksud melaporkannya ke pihak berwajib, namun si pesepak bola tersebut mendapatkan hukuman yang lebih berat: sanksi sosial dari masyarakat Indonesia, terutama dari basis fans Via Vallen. Bukan tidak mungkin buah dari tindakan ini akan membuat terduga segera mengakhiri karir sepak bolanya di Indonesia.

 

Via Vallen, Idola Yang Disucikan

Adalah sebuah kesalahan besar bagi siapa pun jika “mengusik” Via Vallen. Pasalnya ia merupakan sosok yang utuh sebagai biduanita dangdut. Selain itu, ia tengah mendapatkan karir terbaiknya beberapa tahun belakangan ini. Fanbase yang didirikan pada delapan tahun silam dengan nama Vyanisty pun semakin berkembang dan tersebar di seluruh Indonesia. Tidak laiknya entertainer pada umumnya yang tenar karena konflik atau lelucon, kecemerlangan karirnya ia dapatkan dengan usaha yang panjang sebagai biduanita dangdut koplo di Jawa Timur. Kini kerja kerasnya mulai membuahkan hasil.

Kiranya tercatat bahwa sejak tahun 2015 nama Via Vallen telah muncul sebagai nominasi pada dua penghargaan, yakni: Indonesian Dangdut Awards 2015 dan MNCTV Anugerah Dangdut Indonesia 2015 untuk kategori “Penyanyi Pendatang Baru Wanita Terpopuler”. Di tahun berikutnya, ia kembali menjadi nominasi dalam kegiatan yang sama (MNCTV Anugerah Dangdut Indonesia 2016) untuk “Penyanyi Dangdut Wanita Terpopuler” dan “Lagu Dangdut Terpopuler”. Walau pada dua tahun tersebut Via Vallen belum berhasil mendapatkan penghargaan, tetapi hal tersebut menunjukkan bahwa Via Vallen telah dicaturkan dalam konstelasi musik dangdut tanah air pada khususnya, dan industri musik nasional pada umumnya. Selain itu perlu dicatat bahwa industri musik tidak hanya berpusat di Jakarta, di Jawa Timur dan Pantura, eksistensi Via Vallen sebagai biduanita dangdut sudah cukup tinggi jika dibandingkan dengan biduanita lainnya. Via Vallen melejit bersama Orkes Melayu Sera.

Barulah pada tahun 2017 karir Via Vallen “terlegitimasi” oleh industri musik nasional (baca: Jakarta) ditandai dengan beberapa penghargaan yang ia menangkan. Kiranya tahun lalu merupakan tahun yang gemilang sebagai awal karir Via Vallen di industri hiburan, beberapa penghargaan langsung ia sabet, seperti: SCTV Music Awards 2017 untuk penghargaan “Penyanyi Dangdut Paling Ngetop”; Indonesian Dangdut Awards 2017 untuk penghargaan “Penyanyi Dangdut Solo Wanita Terpopuler”; SCTV Awards 2017 untuk penghargaan “Penyanyi Paling Ngetop”; MNCTV Anugerah Dangdut Indonesia 2017 untuk beberapa penghargaan “Penyanyi Dangdut Tersosmed”, “Fanbase Dangdut Tersosmed”, dan “Penyanyi Paling Joss”; serta DWP (Dangdut Wilayah Pantura 2017) untuk penghargaan “Penyanyi Dangdut Ter-WP”. Tidak jauh berbeda, di tahun 2018 ini Via Vallen turut mendapatkan penghargaan dari SCTV Music Awards 2018 sebagai “Penyanyi Dangdut Paling Ngetop”.

Selain mendapatkan pelbagai penghargaan, di tahun ini Via Vallen juga kerap mendapatkan pengalaman menarik. Misalnya, menjadi penyanyi pengumpul massa dalam kampanye dari pasangan calon kepala daerah sebuah partai politik. Pernah Via Vallen ditanggap oleh paslon Arinal dan Munik untuk Pilkada Lampung, juga ketika Via Vallen bersama Nella Kharisma—biduanita lain yang kerap ditandingkan oleh pencinta dangdut—menyanyikan jingle Kabeh Sedulur, Kabeh Makmur” guna kampanye paslon Gus Ipul dan Puti Guntur Soekarno di Pilgub Jatim1)https://news.detik.com/berita/d-3827756/via-vallen-dan-nella-kharisma-dua-kali-pelukan-di-depan-gus-ipul. Tidak cuma itu, pun Via Vallen turut gemilang pada dunia hiburan televisi. Ia terpilih menjadi satu-satunya penyanyi dangdut yang menyanyi di stasiun televisi swasta NET TV. Via Vallen bernyanyi lagu Sayang—dengan aransemen yang sedemikian rupa guna menarik perhatian penonton—di ulang tahun NET TV yang kelima bersama dengan penyanyi tenar tanah air, seperti Isyana Sarasvati, Raisa, Tulus, Glenn Fredly, serta penyanyi Internasional, seperti Hailee Steinfeld dan Craig David. Dampaknya mencengangkan: banyak komen miring yang menyatakan bahwa dangdut naik kelas—tentu soal naik kelas adalah cacat logika. Bulan puasa tahun ini pun Via Vallen telah mengisi beberapa acara televisi nasional, seperti Brownies Sahur dan Ngabuburit Happy di Trans TV.

Dengan banyaknya jam terbang dan penghargaan yang ia terima, kiranya bukan hanya itu saja yang membuat para penggemarnya semakin berlipat, melainkan juga konstruksi citra Via Vallen sebagai biduanita dangdut yang berbeda. Bicara pertunjukan, penonton yang be-referensi pada televisi dan Youtube mengamini bahwa Via Vallen menawarkan pertunjukan yang berbeda dari biduanita dangdut koplo liyan; mulai dari jenis suara yang lebih cenderung ke musik Pop; goyang yang minim; hingga penggunaan busana yang lebih trendi ala Korean Style. Singkanya, Via Vallen mempunyai impresi pertunjukan yang terpuji.

Hal terpuji ini turut diperkuat dengan aktivitas keagamaan yang ia lakoni, seperti pergi umrah bersama keluarga, memberangkatkan umrah Orkes Melayu Sera pada awal tahun 2018, atau berpartisipasi mengaji pada Tabligh Akbar di lapangan Albatros Juanda, Sidoarjo. Sederhananya, citra terpuji Via Vallen melanggeng di mata masyarakat, dalam artian Via Vallen menempati sebagai posisi wanita ideal Indonesia: parasnya yang cantik, kualitas suara yang baik, perilakunya yang sopan, busananya santun, taat beribadah pula. Hebatnya lagi, ia tidak pernah mengumbar kemesraan dengan siapa pun—yang berarti ia milik bersama. Lengkap!

Dalam hal ini, Via Vallen telah menjadi sosok idola yang utuh bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. Suatu hal yang jelas-jelas berbeda dengan pendahulunya, Inul Daratista—yang muncul karena pertikaian dengan penguasa dangdut, Rhoma Irama. Inul tak pernah sepenuhnya membuat jatuh cinta masyarakat Indonesia seperti Via Vallen. Maka tak aneh bila anggota Vyanisty bertambah, khususnya basis penggemar yang didasarkan pada cabang daerah di Indonesia. Jumlah penggemar yang terus bertambah ini bukan hanya soal angka, namun soal semakin kuatnya kekuasaan dan tersebarnya Via Vallen, utuh dengan sosok, citra, dan imajinasi yang terbangun.   

Alhasil bagi mereka (juga bagi si pesepak bola) yang berani menggoda atau melecehkan Via Vallen, kiranya akan bernasib nahas di tangan penggemarnya. Banjirnya ribuan komentar negatif adalah bukti. Serangan balik ini hanya sebuah awalan, atas bangunan pemikiran yang lebih besar bahwa Via Vallen tidak boleh diganggu-gugat oleh siapa pun (dan mungkin oleh Via Vallen sendiri). Pasalnya, ia telah menjelma menjadi objek kegemaran yang—bukan tidak mungkin—semakin hari semakin disucikan oleh para penggemarnya.  

 

Dangdutnya Berbeda, Namun Apakah Stigmanya Sama?

Dangdut bukan barang baru dalam jagad musik Indonesia, ia telah mengalami evolusi yang beraneka ragam, baik secara lirik, musik, hingga pertunjukan. Jika merujuk pada penelitian sebelumnya, baik William H. Frederick, G.R. Lono Lastoro Simatupang, ataupun Andrew N. Weintraub, dangdut memang mengawali fase pembentukan yang tidak mudah, pelbagai cemooh turut dilontarkan banyak kalangan, mulai dari genre kampungan, hingga joged yang diasumsikan mengundang gairah, bahkan seronok.

Padahal kehadiran goyang dan joget telah terbentuk dan muncul sejak awal mula dangdut. Jika merujuk pada biduanita dangdut era lama seperti Ellya Khadam, Elvy Sukaesih, Camelia Malik, Vetty Vera, dll. Adalah sebuah kebohongan jika mengatakan dangdut lama terlepas dari goyangan yang heboh. Ekspansi tubuh dalam dangdut sudah terjalin dan berkelindan menjadi ‘pesona’ pertunjukan. Kelak, referensi inilah yang diinterpretasikan oleh para pelaku dangdut daerah, sehingga memunculkan pelbagai daya kreativitas pada joget yang (sekarang) dianggap seronok. Pun perlu dicatat, bahwa tubuh dalam dangdut sempat terdisiplinkan oleh aturan tidak tertulis ketika Rhoma Irama menjadi raja dangdut. Buah dari konstruksi ini adalah penyanyi macam Ike Nurjanah, Iis Dahlia, Cici Paramida. Namun aturan tersebut hanya berlaku di ibukota, sementara di tempat lain tidak begitu.

Tentang perkara seronok, dangdut daerah seperti dangdut Jaipong dan terlebih dangdut koplo menjadi bulan-bulanan kalangan dangdut di Jakarta (baca: Rhoma Irama dan PAMMI). Dangdut koplo yang berkembang subur di Jawa Timur serta jalur Pantai Utara Jawa (Pantura) kerap diasumsikan mempunyai dampak pertunjukan yang buruk karena jogetnya dipandang seronok. Hal ini lazimnya ditautkan pada fenomena biduanita Inul Daratista pada tahun 2003 silam. Di mana fenomena ini meledak kiranya karena teknik pengambilan gambar pada VCD yang justru berfokus pada bagian tubuh tertentu, tersebar ke khalayak. Padahal fenomena joget di Pantura bukanlah ihwal asing, malah lumrah adanya. Selain itu, kecenderungan aktivitas sawer pada pertunjukan rakyat di banyak daerah turut berkontribusi pada pembentukan stigma negatif pertunjukan dangdut (khususnya para biduanitanya). Stigma tersebut terus bertumbuh seiring dengan perkembangan musik dangdut. Lantas apakah stigma negatif pada biduanita dangdut akan berubah?

Harapan perubahan itu muncul dari seorang biduanita dangdut koplo, Via Vallen. Ia dianggap bak juru selamat yang dapat mengubah stigma negatif yang tersemat pada dangdut koplo. Beberapa kalangan menganggap Via Vallen berbeda dengan biduanita lainnya, ia tidak memiliki goyangan seronok atau pakaian seksi. Sayangnya, informasi ini justru keliru. Kemunculan Via Vallen sebenarnya serupa dengan biduanita dangdut koplo pada umumnya. Di mana goyangan atau pakaian seksi memang menjadi syarat tak tertulis sebagai biduanita di beberapa daerah. Jika melihat beberapa rekaman video di awal karir Via Vallen, ia turut berjoged dan berpakaian seksi di setiap penampilannya. Terlebih Via Vallen turut mengamini dengan menyatakan, bahwa: “Dulu banget pernah (diminta joget), karena dulu kan Via belum bisa menentukan semuanya sendiri jadi harus ngikutin apa kata orang tapi sekarang orang yang menerima keadaan Via sekarang.”2)https://www.tabloidbintang.com/berita/gosip/read/99947/tak-mau-goyang-seronok-via-vallen-pilih-joget-apa-adanya  

Atas gaya pertunjukan yang dijalaninya, Via Vallen turut mengalami dampak dari stigma negatif atas dangdut. Di mana ia mendapatkan hal-hal yang tidak menyenangkan, seperti pelecehan. Hal ini sempat dicatat oleh Jawa Pos, “Pas turun panggung, pinggulku dipegang. Aku reflek nonjok bahu masnya,” ujar Via Vallen. Berkat ekstrakurikuler karate yang diikutinya semasa sekolah dulu, Via Vallen bisa membela diri. Dia berharap stigma bahwa penyanyi dangdut adalah cewek murahan mulai dihilangkan. “Kami jual talenta, bukan kayak begitu,” tegasnya.3)https://www.jawapos.com/features/13/05/2017/mengenal-lebih-dekat-via-vallen-penguasa-panggung-dangdut-saat-ini

Begitulah buah dari stigma negatif yang tersemat pada biduanita dangdut koplo. Stigma tersebut seakan melanggengkan adanya pelecehan kepada para biduanitanya, dan sebaliknya pelecehan yang terjadi mengamini stigma tersebut. Dalam kisah pelecehan yang dialami Via Vallen, ia melakukan tindakan yang sesuai, yakni dengan memukul secara langsung pelaku. Via Vallen memang langsung membuat efek jera kepada pelaku pelecehan, seperti pula yang terjadi pada si pesepak bola asing. Atas respon Via Vallen berupa pukulan kepada pelaku, atau meng-capture pesan terduga yang bermaksud melecehkan, tentu perlu direspon baik. Namun, seberapa banyak upaya perlindungan diri ini dilakukan oleh para biduanita yang mengalami hal serupa? Menjadi biduanita dangdut berarti berada di bawah bayang-bayang stigma mudah dilecehkan, entah sampai kapan.

Via Vallen sebenarnya merupakan biduanita yang sama dengan biduanita lainnya, namun yang membedakannya adalah ia memilih untuk berubah. Pilihannya untuk berubah tidak langsung ia lakukan seketika di awal karirnya, melainkan ketika telah memiliki basis penggemar (baca: kuasa). Via Vallen secara perlahan menolak untuk tampil dengan joget seronok dengan pakaian-pakaian seksi. Konsekuensinya ia harus merancang penampilannya sendiri. Formulasi terbaik justru ia dapatkan ketika ia menjadi dirinya sendiri. Minim joget dan pakaian modis justru menjadi gaya dari biduanita ini. Bahkan kini banyak penggemarnya yang mengingatkan jika ia bergoyang atau berpakaian melewati batas. Inilah keberhasilan konstruksi yang ia ciptakan.

Kesuksesan Via Vallen dalam mengkonstruksi kebaruannya membuat kariernya meroket, dan perlahan-lahan menjadi role-model bagi biduanita muda di daerah. Via Vallen telah menjadi opsi alternatif yang dapat dipilih dalam konsepsi gaya biduanita tunggal dangdut koplo. Tentu ia sendirian tidak akan serta-merta mengubah stigma negatif dangdut, namun setidaknya Via Vallen telah memberi tawaran konstruksi liyan mengoposisikan pakaian ketat dan goyang-goyangan vulgar. Dalam hal ini, mendukung Via Vallen bukan saja membantunya melawan pelecehan, namun membantunya melepas kungkungan stigma negatif yang kerap membuat biduanita dangdut dipandang setengah mata.[]

Pendapat Anda:

References   [ + ]

1. https://news.detik.com/berita/d-3827756/via-vallen-dan-nella-kharisma-dua-kali-pelukan-di-depan-gus-ipul
2. https://www.tabloidbintang.com/berita/gosip/read/99947/tak-mau-goyang-seronok-via-vallen-pilih-joget-apa-adanya
3. https://www.jawapos.com/features/13/05/2017/mengenal-lebih-dekat-via-vallen-penguasa-panggung-dangdut-saat-ini