Kereta dan Melankolia

Posted: 19 February 2017 by Ramayda Akmal

Saat itu awal bulan januari, pukul 5 sore. Hari sudah sepenuhnya gelap ketika kereta yang saya naiki berhenti di atas rel yang melintasi sungai Elbe, dengan kemiringan sekitar 20 derajat. Semua orang berwajah menunggu dan bertanya, walau tidak ada yang benar-benar bertanya. Sampai kemudian sebuah pengumuman, yang sedikit darinya bisa saya pahami, memberi tahu kereta akan berhenti sepuluh menit dan beralih jalur. Es turun rintik-rintik terdengar menempel di kaca jendela. Permukaan sungai sesekali berkilau. Seorang nenek di depan saya bergumam sambil mengelus-elus anjingnya. Saya cuma bisa paham satu kata, dan kebetulan penting, selbstmord. Saya tidak kaget. Musim dingin musim bunuh diri. Dan pikiran pun mengembara, mengingat banyak hal kemudian.

Momen terjebak di kereta pada musim dingin itu adalah salah satu momen paling melankolis dalam hidup saya. Tentu saya pernah mengalami situasi serupa, ketika melihat hujan dari jendela rumah orang asing, mendengar lagu sedih yang tidak bersyair, atau mengingat seseorang yang telah pergi bahkan ketika kita belum sempat dekat. Akan tetapi poin-poin yang terakhir ini sangat spesifik pada diri saya, sementara yang terjadi di dalam kereta, adalah yang saya yakin dialami juga oleh jutaan umat manusia lainnya. Kereta dan Anna. Kereta di Gare Saint Lazare dalam kanvas Monet. Kereta dan orang-orang yang diselamatkan Herr Schindler ataupun yang tidak. Kereta dan keroncong Di Tepinya Sungai Serayu di Stasiun Kroya. Kereta dan zombie. Kereta dan perampokan, dan lain-lain, yang kemudian membangkitkan tanya, mengapa kereta tidak henti-henti menjadi objek yang melekat dengan melankolia? Lalu apa sebenarnya melankolis itu? Sifat dari apakah itu?

Sebuah film garapan Lars Von Trier, dengan judul yang sama, Melancholia (2011), telah membuat saya muntah dan demam selama dua hari setelah menontonnya. Apakah demikian gambaran dan gejala mengalami melankolia? Bisa jadi. Secara sederhana (meskipun memiliki sejarah dan pembicaraan yang kompleks) melankolia dipahami sebagai perasaan yang muncul karena gabungan kondisi-kondisi tertentu, semisal, kesedihan, cinta dan ketakutan. Perasaan itu menimbulkan gejala dari mulai cemas dan gangguan psikis lain sampai muntah-muntah. Perasaan itu bisa muncul kapanpun, pada orang dalam suasana yang berbeda-beda dengan kombinasi yang kadangkala fantastis (silakan tonton Train to Busan (2016) untuk menguji ‘kefantastisan’ itu).   

Lalu, pada bagian apakah dalam kereta, yang membuatnya jadi sangat sensitif menciptakan gabungan suasana untuk menggerus saya dalam melankolia? Apakah itu karena lanskapnya? Hampir dua tahun, setiap pagi dan sore, saya menggunakan kereta (U-bahn) yang sama, melewati jalur yang sama, dalam waktu-waktu yang juga kurang lebih tetap. Pada menit-menit pertama, kereta melaju menembus hutan kota, lalu masuk ke bawah tanah. Kemudian sepertiga waktu perjalanan dihabiskan di terowongan yang menembus danau Alster, perumahan-perumahan, jalan dan ketika keluar, kereta menambah kecepatan melaju di rel-rel yang nyelip di antara gedung-gedung perkantoran. Terlihat sempurna, bukan? Namun, kereta melaju cukup cepat dengan akselerasi yang tidak terduga, sehingga tidak cukup nyaman untuk melihat lanskap di luar jendela, kecuali ketika berhenti. Akhirnya saya pun selalu meluruskan wajah, mengamati gerbong. Dan saya pun tahu, hampir tidak ada penumpang yang melemparkan pandangan ke jendela. Kalaupun ada, suatu ketika saya mengalaminya sendiri, mereka tidak benar-benar melihat lanskap di luar jendela. Kaca jendela kadangkala masih memantulkan wajah penumpang di sampingnya, dan ketika dua orang saling sama-sama memperhatikan wajah penumpang di depannya, itu menjadi ketidaknyamanan. Dan jika ada orang saling memandang lama, berarti ada sesuatu yang sedang mereka komunikasikan. Setelah itu mungkin mereka akan menyelidik cincin di jari, melihat gerakan mata, dan mungkin tersenyum, atau malah membuang muka. Pernah suatu ketika, di depan saya, sepasang muda-mudi kasmaran duduk dan berciuman. Setiap kali saya meluruskan wajah-yang artinya menghadap mereka, mereka cepat-cepat memandang saya seperti memandang orang tua yang tidak pengertian. Jadi, lanskap di dalam gerbong pun bukan berarti bisa dinikmati tanpa dipilih. Saya hanya bisa memandang kursi yang kosong, layar digital yang berisi informasi dan berita-berita singkat terkini, rute-rute dan kadangkala satu dua iklan yang ditempel. Kecuali tentu saja melihat dengan curi-curi, dengan keberanian, dengan risiko.

Mungkinkah itu suara dari kereta? Suara dinamis kereta ketika berjalan, suara desis remnya, suara terompetnya, suara peluit masinis, sudah pasti mendukung suasana yang melankolis. Akan tetapi, kereta yang saya tumpangi hampir tidak ada suara sama sekali. Kalaupun ada, itu hanya bunyi alarm ketika pintu akan ditutup atau bunyi pengumuman di setiap stasiun. Juga jarang sekali saya bisa mendengar suara manusia karena jarang orang bercakap-cakap. Ada beberapa gerbong yang bahkan dilarang bagi penumpangnya untuk berbicara. Pernah ada beberapa masa pengecualian, seperti ketika seorang pengemis berorasi meminta uang untuk makan, yang seringkali sangat singkat karena cara itu tidak efektif untuk sekadar mendapat receh. Sebab memberi uang untuk pengemis hukumannya lebih besar daripada menjadi pengemis itu sendiri. Pernah juga, seorang pengamen berbiola, dengan percaya dirinya menggesekkan Salute d’amour di antara perjalanan menembus hutan-hutan. Saya sangat gembira mengenang saat itu. Walau tidak ada satu menit kemudian, seorang laki-laki paruh baya, yang duduk tidak jauh dari tempat pengamen berdiri, dan kebetulan berhadapan jauh dengan tempat saya duduk, mengacungkan jari telunjuknya ke pengamen, menggoyangkan ke kiri dan ke kanan, sementara tangan yang lain mengeluarkan dompet identitas. Ia tidak bangkit dari duduknya dan tidak mengeluarkan suara. Ia berpenampilan seperti layaknya mahasiswa, hanya sedikit lebih baik. Sepatu Tomy Hilfiger, jaket Mammut dan tas Northface (Maafkan kegagalfokusan saya, anggap saya ini tren terbaru dalam mengidentifikasi polisi). Pengamen hanya mengangkat bahu, dan kemudian turun di stasiun berikutnya. Pernah seorang cacat bersama pendampingnya, duduk di depan saya. Ia berusaha berbicara dengan saya, menggunakan bahasa Jerman dengan ketidakjelasan pronounce karena pengaruh cacatnya tersebut. Mendapatkan tiga bentuk kesulitan: keterbatasan bahasa Jerman saya, ditambah dengan pengucapan yang kurang jelas dan rasa khawatir karena bercakap-cakap di kereta, saya berusaha membalas pertanyaan-pertanyaan anak itu sepelan dan sewajar mungkin. Saya ingat, orang cacat tidak boleh dianggap lemah atau diperlakukan berlebihan. Begitu peraturannya. Saya cukup cemas waktu itu, tetapi bukan cemas yang demikian yang menghadirkan melankolia.

Pernah suatu ketika, suara dan lanskap menyatu dalam jam sibuk yang membuat saya mendapatkan momen langka yang cukup nikmat. Saat itu saya pulang dengan kereta tujuan airport. Kursi penuh sehingga banyak penumpang berdiri. Di saat kacau seperti ini, suara sesekali muncul dan kita bisa memandang lebih bebas ke arah mana saja. Di depan saya, seorang laki-laki menyanding dua koper, berjenggot tebal dan membaca kusyuk novel kriminal yang sangat tebal. Perlu diketahui lebih dari separuh penumpang kereta selalu membaca, baik duduk atau berdiri, lengang atau berdesakan. Di sebelah saya, sepasang kakek nenek terdengar berdebat masalah di stasiun mana mereka akan berhenti. Di depan kakek nenek itu, seorang laki-laki mendengarkan musik melalui ponselnya, tanpa headphone dan cukup keras. Mukanya merah dan matanya berair. Jangan ditanya baunya. Ia tidak berhenti menggoyang-goyangkan kepalanya. Sepertinya ia mabuk kokain. Di pojok jauh, dua orang laki-laki duduk, masing-masing memangku perempuan, yang cantik dan elegan dalam riasan, tetapi tampak lelah dan bosan. Sementara orang terus lalu lalang di setiap pemberhentian. Meski cuma sebentar, karena satu persatu mereka turun, saya menikmati suasana itu. Walau kemudian hening lagi, mencekam lagi.

Jadi baik lanskap atau suara dari kereta, tidak mendukung hadirnya situasi melankolis, kecuali justru dalam keterbatasannya. Keindahan-keindahan lanskapnya yang samar, yang datang sebentar dan berlalu, kerumunan yang dekat tapi asing, keriuhan yang terdengar tapi tidak bermakna, semuanya menarik kita dalam momen-momen yang terasa indah saat kita sudah kehilangannya. Seperti saya suatu ketika di kereta, yang akhirnya hanya bisa menatap pojokan kursi, mengotak-atik kuku sendiri, merenungi kejadian saat profesor melemparkan proposal penelitian saya dan berkata, “kajian poskolonial di Indonesia itu berlebihan!” sementara lanskap-lanskap berlalu dan suara-suara memudar. Beginikah melankolia? Begitulah melankolia!
2017

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

1 Comment

  • Danu Saputra 26 February 2017 at 08:48

    —mengingat seseorang yang telah pergi bahkan ketika kita belum sempat dekat. 

    Padahal aku menunggu lanjutan cerita proses gagal mbribik yang cuma sepenggal kalimat di atas. Jebul ndak ada kelanjutannya…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *