Kegelisahan dalam Lanskap dan Cinta; Membaca Puisi-puisi Neng Lilis Suryani

Posted: 17 May 2018 by Fuad Cahyadiputra

Membaca puisi-puisi Neng Lilis Suryani (selanjutnya Neng Lilis), keadaan saya kurang sehat. Akibat pergantian musim dari musim penghujan ke musim kemarau, tubuh saya terkena flu dan demam. Saat dikirimi naskah puisi Neng Lilis oleh Drajat Teguh Jatmiko, saya sedang terbaring di tempat tidur dengan badan yang lemas dan rasa pusing di kepala. Tetapi karena Drajat meminta untuk segera membaca naskah itu dan membuat materi diskusi, saya memaksakan diri untuk membacanya pelan-pelan. Pembacaan pertama saya kepada puisi-puisi Neng Lilis memberi saya sebuah kesan tentang puisi-puisi lanskap dan cinta. Sebuah tema puisi yang sudah sering digunakan banyak penyair lawas dalam khazanah perpuisian Indonesia ataupun dunia. Apalagi tema cinta yang merupakan tema yang bisa saya katakan tema paling kuno sekaligus abadi dalam sejarah peradaban manusia.

Setalah pembacaan pertama puisi-puisi Neng Lilis, saya mencoba untuk tidur karena tubuh saya terasa semakin lemas. Pagi harinya keadaan tubuh saya mulai membaik, saya mulai membaca kembali puisi-puisi Neng Lilis di sela-sela rutinitas. Diksi demi diksi, larik demi larik, dan bait demi bait saya baca ulang beberapa kali. Saya mencoba mencari hal yang perlu dan baik untuk saya bahas dalam materi diskusi ini. Hingga akhirnya, dalam puisi-puisi Neng Lilis saya menemukan sebuah tema yang luput dalam pembacaan pertama saya. Tema itu tersembunyi dalam citraan lanskap alam dan cinta. Ia begitu intim, tetapi rapuh karena tertutupi lanskap alam dan cinta yang begitu kuat, tema itu adalah kegelisahan. Kegelisahan dalam puisi-puisi Neng Lilis mencakup banyak hal, mulai dari kegelisahan dalam diri, hingga kegelisahan dari luar dirinya.

Jadilah saya menulis judul Kegelisahan dalam Lanskap dan Cinta; Membaca Puisi-puisi Neng Lilis Suryani untuk materi diskusi Dikunyah#13 Ngopinyastro x Kibul.in. Saya mencoba memaknai secara subjektif puisi-puisi Lilis sehingga pemaknaan ini bukan bersifat mengekang pemaknaan pembaca lain, tetapi sebagai bahan untuk saling memberi pemaknaan lain terhadap puisi Neng Lilis.

Puisi pertama adalah Cinta pada Sebuah Ladang (1) (CSL1). Dalam puisi CSL1 saya menemukan beberapa lanskap yang terbentuk dari citraan penglihatan yang dipakai oleh Neng Lilis seperti, “alam”, “huma”, “ladang-ladang”, “bukit”, “ngarai”, “bintang”, “atap”. Lanskap yang dimaksud dalam tulisan ini merupakan sesuatu yang digunakan untuk membentuk pemandangan alam. Dari diksi yang membentuk citraan penglihatan itu saya dihadapkan kepada imaji pemandangan alam.

Cinta pada Sebuah Ladang (1)

Setelah jejak
Hati kita patuh pada alam
Menunduk pada getar romansa huma
Ladang-ladang penduduk dimainkan angin
Kupu-kupu dan kepak burung

Di sebuah bukit
Aku, kau, pada pejam yang gaib itu
Menghayati tetumbuhan dengan
Mata ke arah ngarai
Lalu kau berkata tentang atap
Yang dibikin dari jerami,
Bintang yang berumah di tanah,
Dan cemara pada tunduk yang jauh
Menafsirkan hati kita
Dengan citra langit dan wajah bumi

Setelah itu kau tak berkata apa-apa
Hanya cinta

Selain penyajian lanskap, dalam puisi CSL1 saya menemukan tema cinta yang terdapat dalam bait terakhir puisi, “Setelah itu kau tak berkata apa-apa/ Hanya cinta”. Lilis membawa saya pada klimaks yang romantis setelah pada bait-bait sebelumnya disuguhi sebuah pemandangan alam. Dari keseluruhan puisi CSL1 saya akhirnya menemukan tema kegelisahan yang ingin disampaikan oleh Lilis sebagai penulis puisi. Kegelisahan itu tersirat dalam lanskap pada bait pertama dan kedua. Kegelisahan itu berasal dari dalam dirinya tentang masa lalu dengan menggunakan frasa “setelah jejak” pada awal puisi. Kegelisahan itu menceritakan tentang “kita” yang dipakai untuk menggambarkan lanskap. Si “kita” melalui perjalanan dan perenungan tentang alam disekitar hingga pada akhir puisi menyublim menjadi “hanya cinta”.

Puisi kedua berjudul Cinta pada Sebuah Ladang (2) (CSL2). Dalam puisi ini juga terdapat banyak lanskap yang dibangun, diksi seperti “bukit”, “jajaran ilalang”, “kebun-kebun”, dan “batang-batang kayu” memberikan citraan penglihatan kepada pembaca terhadap pemandangan alam.

Cinta pada Sebuah Ladang (2)

Lalu kita baca lagi badai dan bukit dalam sebuah sajak
Menuliskan riwayat banjir yang mengairi sebagian permukaan bumi
Meluap pada sejarah yang terus menerus ditata dengan hati sebara matahari

Lalu kita pergi lagi
Setelah cerita tentang orang-orang yang lewat setiap pagi
Di jajaran ilalang, pada sepi yang merangkai tubuhnya

“Di sini, pada riwayat kebun-kebun
tersimpan cerita mengenai orang-orang yang diperkosa
dan pencuri-pencuri yang ditelikung kemiskinan.
Lihatlah batang-batang kayu yang ditebang
menyimpan birokrasi dan kebencian.

Berbeda dengan puisi CSL1, dalam puisi CSL2 tidak ditemukan tema cinta yang terlalu kuat. Hanya karena penggunaan diksi “kita” dalam puisi tersebut penulis ingin membuat penggambaran yang romantis untuk mengantarkan pembaca pada makna tersirat. Makna tersirat yang saya maksud di sini adalah kegelisahan. Kegelisahan dalam puisi CSL2 juga berbeda dengan puisi CSL1. Jika dalam puisi sebelumnya penulis lebih menekankan pada kegelisahan yang ada dalam dirinya, dalam puisi CSL2 penulis ingin mengungkapkan kegelisahan dari luar dirinya. Kegelisahan tersebut tergambar dengan frasa seperti “riwayat banjir”, “hati sebara matahari”, “orang-orang yang diperkosa”, “kemiskinan”, “kayu yang ditebang” dan “birokrasi dan kebencian”. Dari frasa-frasa tersebut terbentuk sebuah pemaknaan tentang kegelisahan terhadap keadaan alam dan manusia zaman sekarang yang mempunyai “hati sebara matahari” dan terkungkung oleh “birokrasi dan kebencian”.

Berdirilah

Berdirilah di altar benua,

Dan hiasilah dirimu dengan bunga nilam dan adenia
Akan kupersembahkan bagimu tujuh sayat pelangi
Dan kuntum-kuntum rindu

Berdirilah di altar laut,

Dan hiasilah dirimu dengan warna kerang dan ganggang
Akan kupersembahkan bagimu sembilan puluh sembilan
mutiara yang diperam gelombang

Berdirilah di altar waktu,

Dan hiasilah dirimu dengan nyanyian serangga dan burung-burung
Akan kupersembahkan bagimu paragraf-paragraf doa yang paling sunyi

Berdirilah di altar musism,

Dan hiasilah dirimu dengan barisan hujan, pepohonan, dan matahari
Akan kupersembahkan bagimu gugusan cinta dari kesunyianku yang terdalam

Dalam puisi di atas, saya dihadapkan pada repetisi “berdirilah di altar” sebagai pembuka pada setiap bait. Repetisi itu dilengkapi dengan memasukan diksi “benua”, “laut”, “waktu” dan “musim” (yang typo). Selain itu dalam puisi Berdirilah juga terdapat repetisi “Dan hiasialah dirimu dengan” dilengkapi dengan lanskap seperti “bunga nilam dan adenia”, “warna kerang dan ganggang”, “nyanyian serangga dan burung”, “barisan hujan, pepohonan dan matahari” pada baris pertama. Di baris selanjutnya dalam setiap bait terdapat pula repetisi “akan kupersembahkan bagimu” yang dilengkapi dengan lanskap “tujuh sayat pelangi/ dan kuntum-kuntum rindu”, “sembilan puluh sembilan/ mutiara yang diperam gelombang”, “paragraf-paragraf doa yang paling sunyi” dan “gugusan cinta dari kesunyianku yang terdalam”.

Dari repetisi-repetisi dan lanskap di atas saya menemukan pemaknaan tentang tema cinta. Cinta dalam puisi tersebut merupakan pengungkapan timbal balik dalam sebuah hubungan. Seperti “beri aku sebotol vodka dan aku akan memberi sebuah kehangatan”. Tetapi bukan hanya itu yang ingin disampaikan penulis melalui puisi Berdirilah. Terdapat makna tersirat lain yang dalam awal pembahasan saya sebut sebagai kegelisahan. Dalam setiap repetisi “akan aku persembahkan bagimu” terdapat lanskap yang ironi dalam setiap lanskap yang melengkapinya. Contoh dalam baris “akan aku persembahkan bagimu gugusan cinta dari kesunyianku yang terdalam”. Dalam baris tersebut terdapat diksi “cinta” tetapi juga terdapat diksi “kesunyianku” yang merupakan ironi yang ingin disampaikan. Bukan hanya cinta yang klise yang ingin diberikan, tetapi cinta dari kesunyian. Hal itu juga terdapat dalam bait-bait yang lain.

Puisi selanjutnya yang ingin saya bahas adalah puisi berjudul De. Puisi ini memiliki karakteristik yang berbeda dari puisi-puisi Neng Lilis dalam Buku Antologi Cerpen dan Puisi Pilihan Kibul 2017. Sekaligus merupakan puisi yang paling saya suka. Puisi ini tidak terlalu banyak lanskap yang dihadirkan dan tidak menyuguhkan tema cinta yang klise. Tetapi Neng Lilis tetap menyampaikan kegelisahan dengan subtil.

De

De mencari rindu
Malam ini ia pergi ke jauh malam
Lalu pada bayang-bayang kota
Dengan seluruh letih tubuh
Ia tersungkur di tepi jalan

De mencari rumah
Setelah hujan tak juga reda di tepi subuh
Ia menjorok ke sudut pasar
Bersama kucing ia tidur memanggil bidadari

Lalu sebelum subuh
De menemukan dirinya ditindih dingin
Dibangunkan jam sibuk sebelum mimpi usai

De pada pagi kembali menggelandang kota
Mencari ibunya
Mencari rumahnya
Usianya 13 tahun
Tetapi di tubuhnya mengendap rahim waktu
Berabad-abad kemiskinan manusia

Sebenarnya ada enam puisi yang diberikan kepada saya, tetapi saya hanya membahas empat puisi karena menurut saya empat puisi tersebut sudah mewakili karakteristik enam puisi karya Neng Lilis Suryani.

 

Kegelisahan Saya Terhadap Puisi Neng Lilis Suryani

Seperti Neng Lilis yang mempunyai kegelisahan dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya, izinkan saya juga mengutarakan sedikit kegelisahan saya terhadap puisi-puisi Neng Lilis. Semoga kegelisahan saya ini dapat diterima Neng Lilis sekaligus pembaca untuk didiskusikan kebenaran dan keperluannya.

Kegelisahan saya terhadap puisi-puisi Neng Lilis yang pertama adalah tentang typo, atau salah penulisan dalam kata. Mungkin kegelisahan ini bisa menjadi evaluasi juga kepada pihak editor buku karena memang mengedit sebuah puisi lebih sulit daripada mengedit cerpen apalagi artikel. Terlebih lagi kepada Neng Lilis yang merupakan penulis sekaligus pembaca pertama karyanya sendiri. Editing sebuah karya memang terkadang menjadi sulit, bisa dikarenakan takut terbawa suasana yang terbangun dalam puisi atau kadang penyakit kemalasan yang menyerang. Tetapi menurut saya pembacaan ulang sebuah karya sangat perlu dilakukan dengan tujuan: 1) menghargai karya sendiri; 2) untuk menghindari typo itu sendiri.

Kegelisahan saya yang kedua adalah tentang repetisi. Rahmat Djoko Pradopo dalam buku Pengkajian Puisi mengatakan bahwa repetisi memiliki tujuan untuk menguatkan makna yang ingin disampaikan. Tetapi menurut saya, repetisi riskan berubah memicu kebosanan pembaca melihat kata atau kalimat yang diulang-ulang. Dalam puisi-puisi Neng Lilis memang ada repetisi yang berhasil menguatkan makna, tetapi ada juga repetisi yang menjadi mubazir bahkan cenderung mengganggu pembacaan.

Selanjutnya adalah soal lanskap atau citraan yang berhubungan dengan alam. Puisi-puisi lanskap sering kita jumpai pada penyair seperti Sapardi Djoko Damono, Iman Budhi Santosa, Subagio Sastrowardoyo, dan lain-lain. Dalam menuliskan puisi lanskap penyair-penyair tersebut tetap menyelipkan permainan makna yang dalam di balik lanskap-lanskap yang mereka bangun. Sebut saja puisi Aku Ingin yang terkenal sejagat raya itu, atau Manusia Pertama di Angkasa Luar karya Subagio Sastrowardoyo. Menurut saya puisi dan lukisan sama, puisi lanskap tanpa disertai makna yang dalam hanya akan seperti lukisan pemandangan.

Demikianlah kegelisahan saya setelah membaca puisi-puisi Lilis. Semoga kegelisahan saya ini tidak terkesan menghakimi atau menggurui, karena kegelisahan yang dipendam hanya akan menjadi penyakit. Mari belajar bersama.

Pendapat Anda: