Hikayat Winning Eleven

Posted: 10 January 2018 by Olav Iban

Tiga dekade lalu, di setiap kota kecil di Jawa selalu ada seorang bocah yang dilahirkan sebagai jawara Winning Eleven.  Tak peduli di kecamatan mana atau kelurahan apa, selama ada rental Playstation, selalu saja ada bocah paling terampil di antara segala pakar. Ia adalah jenis bocah yang pada umur 10-12 tahun menonton Serie A Liga Calcio di RCTI. Menyaksikan Rui Costa berseragam Fiorentina, Buffon berseragam Parma, dan Roberto Mancini berseragam Lazio. Bocah ini cenderung tak sepakat dengan angkatan di atasnya yang menggilai satu klub saja karena kecanggihan anggota timnya. Seperti AC Milan karena Trio Belanda-nya, ataupun Inter Milan karena Trio Jerman-nya. Ia memperhatikan Filippo Inzaghi mencuat karena Atalanta, Toldo sudah hebat sejak Fiorentina, atau Clarence Seedorf terlalu hebat sampai berpindah-pindah dari Sampdoria ke Madrid, Madrid ke Inter, Inter ke Milan.

Imbas dari segalanya itu, bocah ini adalah jenis bocah yang mengerti Hernan Crespo tak bisa apa-apa tanpa Sergio Conceicao, Vieri tanpa Recoba, atau Van der Sar tanpa Igor Tudor. Itulah isi otaknya, si bocah jawara. Dan umumnya, otak bocah jenis ini dilapisi rambut bergaya belah tengah layaknya pemain bola. Bila mana berkeringat, dikaitkannya bandana ibunya biar tambah gaya.

Di kelurahan tempat saya bertumbuh, bocah ini bernama Adip Praja. Di kelurahan sebelah, namanya Bayu Dirgantara. Di kelurahan yang lain, namanya Prama Anggara. Bila datang musim turnamen Playstation se-kecamatan, berkumpullah bocah jenis mereka disertai taburan doa dari bocah-bocah medioker kepada Bathara Kalarahu agar diizinkan mengobrak-abrik undian grup, atau kepada Bathara Kalagumarang agar diizinkan berbuat apa saja termasuk memakai ilmu hitam L1 + X.

Bocah-bocah seperti Adip Praja, Bayu Dirgantara, dan Prama Anggara tidak lahir dari keluarga kaya Orde Baru yang mampu menggelimangi anak-anaknya dengan Spica dan Sega. Mereka justru datang dari keluarga bersahaya; pedagang kelontong, sais, atau setinggi-tingginya kerani golongan III/a.

Kepemilikan alat produksi (konsol Playstation) di rumah sendiri, dalam kasus ini, tidak membuat seorang bocah menjadi ahli dan menguasai pasar arena pergaulan. Anak-anak rental lebih matang dan jenius memainkan Winning Eleven karena ada pengorbanan uang yang harus dibayarkan untuk menyewa. Hal ini memantik semangat mereka untuk mendapat impas dengan cara berlatih sekeras mungkin, melawan musuh sebanyak mungkin, hingga mengatur formasi setakterduga mungkin. Dan, sebisa mungkin, menantang mas-mas penjaga rental. Tentu akan berbeda bilamana—seperti para pemilik alat produksi—hanya bertanding melawan komputer (atau adik-kakaknya) dan bermain Master League bersama Miranda, Castolo, dan Jaric.

Walau tidak selalu, tetapi biasanya pemain jenis pertama akan kalah jika diajak ke rental Playstation dan diadu melawan pemain jenis kedua. Seiring dengan kekalahan itu, Winning Eleven telah berevolusi tidak lagi sekadar permainan bola virtual, melainkan wahana social climbing efesien di arena pergaulan anak-anak 90-an.

Ketertarikan anak laki-laki Sekolah Dasar di tahun 1990-an kepada Winning Eleven awam dijumpai. Ini semacam pengayaan hiburan-pengetahuan alternatif ketika Paman Kikuk, Husin, dan Asta tak lagi menyenangkan. Winning Eleven adalah pilihan murah yang bisa dimainkan jauh lebih lama dibandingkan Street Fighter dan Mortal Combat di papan dingdong. Selain itu, Winning Eleven mampu menciptakan masyarakatnya sendiri di tempat rental Playstation.

Pengunjung rental Playstation secara sangat sederhana bisa dibedakan menjadi dua; yang ingin bermain Winning Eleven dan yang tidak. Jika ada seorang anak datang sendirian bersepeda Polygon membawa memory card, lalu duduk memainkan Harvest Moon atau Metal Gear Solid, bisa dipastikan ia bukan anggota genk Winning Eleven. Sedangkan bila dijumpai seorang anak datang sendirian bersepeda BMX, lalu duduk memainkan Metal Slug atau CTR atau Tekken, bisa dipastikan ia sedang menunggu lawan tanding Winning Eleven-nya datang. Ini wajar mengingat di masa nirhandphone janji pertemuan ditentukan di sekolah dan dilandasi rasa saling percaya.

Sebenarnya ada satu jenis pengunjung lagi, yakni pemain bola virtual dari kubu FIFA, namun mereka langka dan ditengarai punah (waktu itu). Di tingkat yang lebih tinggi ada pula kubu WWF Smackdown, hanya saja kubu ini tidak punya pemain setia.

Kembali ke pemain Metal Slug atau CTR atau Tekken tadi. Bilamana kawannya sudah datang ia akan segera beralih ke Winning Eleven. Karena kejadiannya di Indonesia, di kota-kota kecil di Jawa pula, biasanya pihak rental menyediakan opsi Winning Eleven bajakan yang sudah dimodifikasi mengikuti bursa transfer teraktual.

CD masuk, tombol dinyalakan, tapi pertandingan tidak semerta-merta dimulai. Pertanyaan-pertanyaan dasar berikut ini haruslah disepakati dahulu: (1) Boleh pakai ilmu one-two atau tidak? (2) Pemainnya merah semua atau tidak? (3) Pakai radar atau tidak? (4) Pakai negara atau klub? (5) Tim mana yang tidak boleh dipakai? dan (6) Roberto Carlos boleh dijadikan striker atau tidak?

Namun, bagi pemain sekelas Adip Praja, Bayu Dirgantara, dan Prama Anggara, dua pertanyaan terakhir tidaklah penting. Apapun timnya, bagaimanapun rupa formasinya, pokoknya siap tanding!

Memang sebagian besar pemain Winning Eleven masuk ke kategori pemain pragmatis. Keindahan gameplay, pengaturan formasi menyerang dan bertahan, bukan hal utama. Pundi-pundi gol adalah yang kemutlakan. Mereka biasanya menempatkan pemain dengan speed 19, shot power 19, dan dribbling 19 di barisan depan. Jarang mereka memperlihatkan umpan lambung, kebanyakan adalah umpan dekat dan terobosan. Begitu menguasai, bola diarahkan ke sisi sayap. Lari sekencang-kencangnya hingga ujung bendera corner kick, lalu membalikkan badan dan berlari diagonal ke tengah lapangan mengincar celah yang sudah lowong ditinggal bek yang tadi ikut mengejar ke sudut lapangan, kemudian tendang ke arah gawang tanpa tedeng aling-aling. Komentator pertandingan akan berteriak, “Shuuutoo…!” yang kemudian diikuti suara “Gol gol gol gol gol gol gooool!” Lalu muncullah sosok zoom in yang kalau bukan Shevchenko, Batistuta, Adriano, ya Ryan Giggs.

Trik culas seperti di atas tidaklah mempan menandingi skill dewa bocah-bocah jawara. Mereka tidak terjebak bermain menggunakan ilmu kejar R1 + X. Alih-alih mengejar, mereka pandai menyusun pertahanan. Lilian Thuram tidak dipakai sporadis sebagaimana para pragmatis memanfaatkan speed dan shot power Roberto Carlos. Thuram diatur sejajar bersama Canavaro menciptakan jebakan offside. Atau memberlakukan man marking di kotak 16 dengan Jaap Stam dan Nesta. Tidak, trik culas tidak akan mempan.

Keruntuhan Adip Praja, Bayu Dirgantara, Prama Anggara, dan kompatriotnya bukan karena kekalahan di medan laga atau dipermalukan di turnamen-antar kecamatan, tetapi akibat diri mereka sendiri sudah terlalu tinggi tak teraih. Di puncak menara gading, alih-alih bertumbuh dinamis, mereka stagnan dalam gilang-gemilang kejayaannya—menolak perubahan.

Mulanya hanya ihwal sederhana seperti keengganan memenggunakan stik gentar. Menurutnya terlalu berat, tuas bundarnya terlalu mengganggu, terlalu licin dan liar. Sampai kemudian datanglah konsol PS2 dengan Pro Evolution Soccer (yang sebenarnya cuma variasi nama Winning Eleven). Di balik tampilan realistisnya, Winning Eleven di PS2 menyajikan alur yang lebih lambat, kelokannya lebih halus, karakter AI-nya lebih beragam, formasinya lebih rumit, dan alhasil kemudahan mencetak gol tak sefoya-foya di Playstation pendahulunya. Pola ini berulang di PS3 dan PS4 demi membuat Winning Eleven semanusiawi mungkin.

Tentu tidak semua bocah jenis Adip Praja, Cs. tergusur posisi kedewaannya. Masih ada beberapa bocah jawara yang mampu menyelamatkan muka. Biasanya para dewa penyintas ini adalah mereka yang pandai dalam teknik umpan lambung. Skill dewanya tumbuh bersama-sama dengan Oliver Bierhoff, Sami Hyppia, Nwanko Kanu, atau Van Nistelrooy, lalu bersemi kembali bersama David Trezeguet, Peter Crouch, dan Klose.  

Perlu diketahui, gol sundulan tidak sesederhana menekan tombol L1+O dua kali. Ada pembentukan momentum dari pemain selevel Paul Scholes, Dietmar Hamann, atau Patrick Viera sebelum digocek Fredrik Ljungberg—sembari Asley Cole maju menipu—berpindah sisi lapangan menuju Dennis Bergkamp, diumpan terobosan ke Marc Overmars, diteruskan ke Emmanuel Petit yang langsung memakai celah offside ke Asley Cole. Umpan lambung dari ¾ akhir lapangan dan disambar sengit oleh tandukan Nwanko Kanu.

Kelihaian ini lebih ditentukan oleh pengaturan formasi ketimbang skill individu pemain di lapangan. Baik itu PS2, PS3, maupun PS4 kekuatan team work adalah keniscayaan tak terkalahkan.

Seiring zaman berlalu, hiburan makin beragam, kebutuhan dan tuntutan hidup juga berubah. Rental-rental Playstation satu nasib dengan Wartel. Winning Eleven (melalui Pro Evolution Soccer) memang masih merajai permainan sepakbola virtual, tapi gempitanya takkan pernah semeriah yang lalu. Dua-tiga puluh tahun lagi orang-orang akan mengenang Clash of Clans dan Mobile Legend. Mereka akan merindu Angry Bird atau Plant vs Zombie dengan cara yang sama seperti bocah BMX menunggu datang lawannya menyeruput es teh plastikan sambil terlena bertualang bersama topeng Akuaku Bulubadak di Crash Bandicoot. Winning Eleven pun menjadi hikayat. Adakah yang lebih indah dari itu?

Namanya juga hikayat, ia dibaca untuk pelipur rindu, pembangkit nuansa sendu, sembari melamun masa lalu, tersenyum mengenang yang telah silam.

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *