Harga Sebuah Mitos

Posted: 26 April 2017 by Batari Oja

mitos

Tahukah Anda berapa harga yang harus Anda bayar untuk sebuah mitos? Jika Anda belum tahu, maka datanglah berkunjung ke Beringin Kembar di Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Saya datang ke Alun-alun Kidul berbekal pertanyaan tentang apakah orang-orang masih melihat Beringin Kembar sebagai pohon yang angker atau sakral? Setelah mewawancarai beberapa orang; baik pengunjung dan penjual setempat, saya menyadari bahwa mereka melihat saya sebagai turis, jadi alih-alih menjawab pertanyaan saya, mereka lebih sibuk mendeskripsikan kesakralan beringin ini dan Kraton. Mereka mencoba mengekspresikan betapa sakralnya dan betapa istimewanya Beringin Kembar ini, sembari terus meyakinkan saya bahwa saya tidak menyia-nyiakan waktu berkunjung kemari dan ber-“main” masangin.

Usaha mereka dalam menjamu saya sebagai turis dengan mitos kesakralan Beringin Kembar itu membuat saya menemukan fenomena menarik di Alun-alun Kidul; yakni bukan perspektif orang-orang dalam melihat Beringin Kembar itu sendiri sebagai objek sakral. Fenomena yang lebih menarik adalah bagaimana usaha orang-orang lokal merekonstruksi mitos kesakralan Beringin Kembar itu. Rekonstruksi mitos tersebut menopang aktivitas turisme di Alun-alun Kidul. Secara ekonomis, ini adalah pertanda baik bagi pekerja lokal, orang-orang yang mencari nafkah di tempat tersebut, seperti supir becak, tukang parkir, orang yang menyewa kain penutup mata untuk masangin, penjual makanan, dan pengemis (atau pemandu) yang duduk di bawah beringin yang menceritakan kesakralan Beringin Kembar.

Ringin Kurung (Beringin Kurung) ditanam sejak Keraton berdiri pada tahun 1745. Ada 64 pohon beringin yang ada di Kraton, kedua Beringin Kembar yang merupakan pusat dari Alun-alun adalah pohon beringin yang paling disakralkan. Dahulu kala, tidak ada orang yang berani berjalan di antara kedua Beringin Kembar di Alun-alun Kidul, tapi kini, “ritual” berjalan di antara dua beringin tersebut menjadi “permainan” yang terpopuler di Alun-alun Kidul, yang disebut masangin.

Seorang perempuan tua yang tengah duduk di bawah pohon beringin menawarkan untuk mencoba masangin, yang dia sebut sebagai ritual dan juga sebagai permainan. “Kalau bisa lewat, nanti cita-cita mbak akan terwujud,” katanya. Demi melewati Beringin Kembar itu, saya harus menutup mata dengan sehelai kain gelap. Kain penutup mata untuk masangin disediakan oleh seorang pria yang duduk di tepi Alun-alun. Saya hanya perlu mengeluarkan Rp. 5.000 untuk menyewa sehelainya. Kemudian, saya mencoba berjalan melewati Beringin Kembar hingga tiga kali tanpa pernah berhasil melewatinya sekali pun. Karena saya tidak pernah berhasil, perempuan itu lantas menyuruh saya berjalan dengan rute yang lebih pendek, yakni dari beringin satu ke beringin yang lainnya saja–yang akhirnya berhasil.

Saya bertanya pada perempuan itu, apakah cita-cita saya benar akan menjadi kenyataan, padahal saya tidak bisa melewati Beringin Kembar. Perempuan itu tetap meyakinkan saya bahwa cita-cita saya pasti akan terwujud karena saya sudah berjalan dari beringin yang satu ke beringin yang satu lagi. Terlihat sekali dia ingin menyenangkan hati saya, dan tidak membiarkan saya pulang dengan kecewa. Dia mengubah peraturannya supaya saya bisa berhasil atau “menang”. Jadi saya beri dia Rp. 5000 untuk usahanya.

Dengan menceritakan kembali tentang kesakralan Beringin Kembar, sekaligus menjamu para wisatawan dengan mitosnya, para pekerja lokal di Alun-alun Kidul terus-menerus memberikan nafas kepada mitos Beringin Kembar, agar tetap hidup dan diterima oleh para wisatawan. Oleh karena itu, para turis harus berhasil melewati Beringin Kembar itu dan pulang dengan pertanda baik. Pada akhirnya, ini bukan masalah rasa percaya atau tidak percaya, melainkan persoalan bagaimana mempraktikkan dan menghidupkan mitos tersebut. Kata “main” yang sering digunakan para pekerja di Alun-alun Kidul untuk menyebut “ritual” masangin, juga merupakan istilah yang istimewa. Ritual yang tadinya sakral bertransformasi menjadi sebuah “main”, suatu permainan, aktivitas yang tidak serius yang dilakukan oleh para wisatawan. Bagaimanapun dalam kasus ini, kesakralan bukan lagi hal yang krusial dalam turisme. Mitos tidak perlu lagi menjadi sakral, selama mitos tersebut laku dijual.

Pertanyaan yang saya bawa ke Alun-alun Kidul: apakah orang benar-benar masih melihat Beringin Kembar sebagai pohon yang sakral atau sudah tidak? Belum terjawab. Sebaliknya malah menambah pertanyaan, memangnya kenapa jika Beringin Kembar tidak lagi sakral? Kesakralan mereka toh tidak bisa dirasakan oleh para wisatawan. Di saat Alun-alun Kidul berubah menjadi tempat wisata, tidak ada lagi ritual sakral, yang ada hanya permainan–yang disebut masangin.

Akhirnya, berapa sih harga sebuah mitos? Harganya sekadar Rp. 5.000, untuk penutup mata dan asik-asikan. Jadi, bagaimana mungkin saya tidak berhasil dalam masangin ketika saya sudah membeli mitosnya.

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *