[Ngibul #9] Setelah Tuhan

Posted: 3 April 2017 by Olav Iban

Dalam buku The Girl Who Saved The King of Sweden karya Jonas Jonasson, terkisah seorang figuran bernama Ingmar, seorang rakyat jelata gila tapi lucu yang seluruh masa mudanya dihabiskan untuk mencari cara bersalaman dengan Raja Gustaf V. Sampai suatu hari, ia akhirnya berjumpa Sang Raja yang diidolakannya sedang berjalan sendirian di taman, yang malah memukul kepala Ingmar dengan tongkat karena sudah muak harus bersikap rendah hati di hadapan seluruh rakyatnya selama 80 tahun. 

Ingmar mengalami syok. Bukan cuma karena kepalanya yang memar, tapi hatinya juga terluka. Sejak itu ia beralih haluan menjadi seorang republikan, dan mendedikasikan sisa hidupnya untuk menistakan Sang Raja—beserta seluruh bangsawan di muka bumi—sambil berusaha menggulingkan monarki, baik sebagai fenomenologi maupun ideologi, dan digantikan dengan pemimpin yang dipilih oleh rakyat dengan cara yang sebisa mungkin demokratis.

Dalam satu lamunannya, Ingmar bersungut-sungut mengambinghitamkan Martin Luther karena berpikir bahwa, “Kita harus takut kepada Tuhan.” Menurut jiwa republikan Ingmar, setidaknya ada dua kesalahan dalam pemikiran Luther itu. Pertama, Tuhan tidak dipilih oleh rakyat. Dan, Dia tidak bisa bisa digulingkan. Benar, boleh-boleh saja orang pindah agama kalau mau (atau kalau tidak setuju dengan kebijakan-Nya), tapi percuma, toh semua Tuhan sama saja memiliki dua turunan sifat seperti tadi itu. 

Pendapat Ingmar yang demikian—meski konyol, sepele dan humoris—menjadi dalam dan misterius bila dibawa larut pada perenungan pencarian makna tentang Tuhan. 

Terlepas dari doktrin agama dengan segala wahyu dan hukum-hukumnya, setiap manusia memiliki kesadaran tentang adanya sesuatu di luar dirinya yang sangat mempengaruhi eksistensi roh, jiwa dan raganya. Ada sesuatu yang bukan-dirinya yang mengantarnya masuk ke dunia, mengawasi batinnya selama hidup, dan yang menunggunya di ambang pintu kematian. 

Uniknya, kendati gejala kesadaran ini sifatnya universal terjadi pada semua umat manusia, ia memiliki sifat distingtif (unik dan berbeda) di masing-masing benak orang. Seolah-olah ada keintiman yang diberikan oleh zat ilahiah itu. Sentuhan personal dari Tuhan yang tidak sama di antara manusia satu dengan manusia lain. 

Ada cerita tentang Batara Krishna yang menjelma menjadi gembala sapi. Setiap malam dia mengundang gadis-gadis pemerah susu untuk menari dengannya di padang rumput. Mereka pun datang dan menari. Semakin malam, semakin meriah. Gadis-gadis itu menari, menari, dan terus menari dengan Batara Krishna yang telah membuat dirinya berlipat ganda, sehingga bisa menari dengan setiap gadis. Tapi gadis-gadis itu mulai posesif. Setiap gadis menganggap Krishna hanya untuk dirinya sendiri, sampai kemudian sang batara pun menghilang.

Ketika seseorang (atau sekelompok) mulai posesif kepada Tuhannya, maka pencapaian makna Tuhan akan menjadi sempit terbatas pada kemampuan pemahaman orangnya. Di fase ini biasanya yang terjadi adalah dua kemungkinan. Pertama, ia akan mati-matian membela Tuhannya —yang sebenarnya bukan, melainkan membela pengetahuannya tentang Tuhan. Dan kedua, menjadi kecewa karena ternyata Tuhan hanya seperti itu-itu saja —yang sebenarnya bukan, karena yang ‘hanya seperti itu’ adalah pengetahuannya tentang Tuhan.

Jenis yang pertama cenderung kolot. Keras kepala pada pendiriannya. Untuk mencapai kebenaran/kemenangan absolut, mereka seperti paslon pilkada yang tidak punya program sehingga cenderung menjatuhkan lawan tandingnya. Mereka pun menyalahkan yang liyan, yang berbeda dengannya. Dan ketika yang liyan kalah, otomatis diri merekalah satu-satunya yang menang (dan yang benar). Posesivitas macam ini mengerdilkan makna Tuhan yang mulanya universal dan tak berbatas. Tuhan tidak lagi berdiri agung sendirian, tapi hanya sekadar proyeksi sifat-sifat manusia yang dilebih-lebihkan: maha ini itu. Dan pada titik ini —seperti Batara Krishna— Tuhan pun menghilang bersama makna-makna sejati-Nya.

Sementara kebanyakan orang menjadi posesif dan menginginkan Tuhan yang seperti/sesuai dengan apa yang diinginkannya, Ingmar menjadi jenis yang kedua. Ingmar mengalami cobaan paling rumit di hidup ini: patah hati dikecewakan Tuhan. Maka ia pun berusaha menggulingkan-Nya, yang malah menjadi jalan pintas bagi Tuhan untuk cepat-cepat menghilang.

Kekecewaan dan posesif adalah hal wajar-wajar saja yang dialami manusia. Tidak penting. Justru masalahnya adalah apa yang kemudian muncul untuk menggantikan-Nya.

Jawabannya bisa banyak macam. Yang paling menarik ada pada kegelisahan Piscine Molitor Patel (atau Pi) dalam novel Life of Pi karya Yann Martel. Di umur 14 tahun, Pi memeluk tiga agama sekaligus: Hindu, Katolik, dan Islam. Suatu kali seorang pandita bersama seorang pastor, dan seorang guru TPA mengadu kepada ayah Pi, kata mereka, “Pi tidak bisa menjadi penganut Hindu, Katolik, dan Islam sekaligus. Itu tidak mungkin. Dia harus memilih.” Ayah Pi menanggapi diplomatis, “Menurut saya, apa yang dia lakukan tidaklah salah, tapi saya rasa Anda benar.”

Pi sendiri kebingungan, “Aku tidak mengerti, kenapa aku tidak boleh jadi tiga-tiganya sekaligus? Mamaji punya dua paspor. India dan Perancis. Kenapa aku tidak bisa?”

Keistimewaan pilihan spiritual Pi ini mendapat ujian hebat ketika kapal yang ditumpanginya bersama ayah, ibu dan kakaknya harus karam di Samudra Pasifik. Semua anggota keluarganya mati tenggelam. Dan dia pun terapung-apung di atas sekoci di tengah Samudra Pasifik selama delapan bulan, sendirian —atau setidaknya bersama Richard Parker, seekor harimau Bengal dewasa.

Dalam kesulitan bertahan hidup, Pi melakukan apa yang tabu (atau malah terlarang) bagi ketiga agamanya. Ia membunuh dan memakan daging penyu setelah sekian lama hidup vegetarian sebagai penganut Hindu. Memakai dagingnya sebagai prasad dalam puja. Melaksanakan sholat tanpa memedulikan kiblat dan lupa semua bahasa Arab penuntun sholat. Melakukan misa tanpa pastor dan roti komuni.

Guncangan iman ini muncul dalam diri Pi setelah Tuhan hilang dari hidupnya. Iman yang mengalami krisis akan menuntun kebijaksanaan diri. Tentu sebelumnya ia harus melewati sesi depresi, meratap, menangis, marah, dan benci karena Tuhan meninggalkannya sendirian di tengah Samudra Pasifik tanpa penjelasan. Tapi setelah emosi-emosi itu mereda, kebijaksanaan pun muncul. Para psikolog menyebut fase ini sebagai acceptance—menerima.

Seberapa cepat seseorang menerima bergantung pada seberapa bijaksana ia. Yang jelas, pada hakikatnya semua manusia memiliki gen kebijaksanaan itu dalam darahnya. Manusia punya kompetensi alamiah—bukan dalam artian fundamentalis, tapi materialis filosofis—untuk mencari esensi makna Tuhan.

Spesies manusia modern oleh para ilmuwan disebut Homo sapiens (manusia yang bijaksana) bukanlah tanpa sebab. Nama spesies ini sengaja dibedakan dengan pendahulunya seperti Homo erectus (manusia yang berdiri tegap), homo habilis (manusia yang memiliki keterampilan), atau Homo neanderthalensis (manusia dari Neandertal Jerman). Kata sapiens menjadi ciri manusia modern yang membuatnya berbeda dengan manusia purba, karena terdapat perbedaan tingkat kedewasaan spiritualitas berpikirnya.

Kebijaksanaan (dalam artian yang paling sederhana) yang dimiliki oleh Homo sapiens memungkinkannya menjadi makhluk paling maju dalam spesies Homo, bahkan dalam ordo Primata, kelas Mamalia, maupun kingdom Animalia. Manusia modern ini bisa menjadi penguasa bumi karena telah berhasil melepaskan sifat primitif hewaninya. Dan sebaliknya, ketika tabiat primatanya muncul, manusia kembali menjadi sama seperti hewan. Fabel Animal Farm karya George Orwell dapat menjelaskan ini lebih jauh tanpa perlu digambarkan di sini.

Sayangnya, manusia bukan satu-satunya makhluk superior dengan kekuatan spesial. Bumi hanyalah setitik pasir di pinggir samudra raya alam semesta. Bahkan orang Yunani kuno paling bodoh pun tahu bahwa Zeus harus berperang dulu melawan Titan sebelum menguasai dunia. Maksudnya, selalu ada kekuatan yang lebih besar. Dan kekuatan itu—karena sulit didefinisikan—mudahnya disebut sebagai Tuhan.

Kebijaksanaan yang dimiliki secara alami dalam diri manusia tidak berguna apa-apa bila diramu tidak dengan bumbu langka bernama kerendah-hatian, yang hanya bisa dimiliki jika manusia dekat dengan Tuhannya. Kebijaksanaan tanpa rendah hati adalah kedunguan, seperti menghitung anak ayam sebelum telur-telur menetas.

Mungkin karena begitu besar kasih Tuhan kepada manusia, maka sebelum menghilang, Dia memberi warisan berupa kerendah-hatian. Asyiknya, warisan ini tidak siap saji.

Seperti Pi Patel yang mesti hancur rohani dan jasmaninya teronggok di sekoci kecil yang dengan konstan diterjang badai rasa lapar, kesepian, dan ketidak-tahuan mengapa ia harus mengalami kisah naas itu, Pi dipaksa untuk menerima itu semua. Bahwa ia hanyalah 50 kg daging bercampur lemak, tulang, dan otot-otot. Bahwa akalnya amatlah terbatas. Bahwa cara terbaik untuk bahagia di atas sekocinya adalah dengan melupakan siapa seharusnya dirinya, akan seperti apa seharusnya kapal yang ditumpanginya bila tidak tenggelam, akan sebahagia apa seharusnya Pi dan keluarganya ketika sampai di Kanada. Dan ketika Pi telah belajar membedakan mana yang seharusnya mana yang senyatanya, ia mengetahui betapa ia sangat rendah.

Lalu, sampailah ia ke pulau rendah hati dengan dibawa arus bernama acceptance.

Di pulau itulah semua orang kecewa dan posesif yang pernah ditinggalkan Tuhan akan bertemu kembali dengan Dia. Hanya saja kali ini berbeda. Manusia sudah menjalani proses pendewasaan sifat sapiens-nya setelah kepergian Tuhan.

 

Palangka Raya, 2017

 

P.S. Bayangkan jikalau Ingmar yang republikan yang menjalani kisah Pi itu, mungkin Ingmar akan menghabiskan semua cadangan makanan di sekoci pada minggu pertama sambil mengutuki Tuhan atas kesialan yang menimpanya, lalu mati kelaparan —atau mungkin Richard Parker memakannya duluan sebelum ia sendiri sempat lapar.

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *