[Ngibul #72] Ketika Tidak Ada Waktu dan Ide Menulis

Posted: 9 July 2018 by Fitriawan Nur Indrianto

Bagi seorang penulis atau setidaknya orang yang punya hobi menulis, kegiatan yang digemarinya itu merupakan hal yang sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Sayangnya, seringkali pula karena faktor kesibukan atau karena tidak punya ide untuk digarap ia mengalami “kebuntuan”. Pada kasus pertama, seorang tengah berjibaku dengan berbagai hal yang membuat waktu untuk menulis hanya sedikit atau bahkan tidak ada. Yang pertama itu berhubungan juga dengan yang kedua. Kalaupun sebenarnya ide sudah ada tapi karena tidak ada waktu, maka ide pun tidak bisa digarap. Sementara yang kedua, ini merupakan “penyakit”, karena tanpa ide, tulisan tak akan lahir dan kalaupun lahir, pasti tulisannya akan jelek atau bahkan tidak jelas arahnya.

Inilah yang saya alami ketika tulisan ini muncul. Saya bahkan mengalami dua masalah tersebut. Pertama tidak punya cukup waktu (sebenarnya pasti ada waktu tapi tidak cukup karena menulis adalah sebuah proses panjang) dan yang kedua adalah tidak punya ide. Yang semakin berat justru ketika dalam situasi paceklik tersebut kita tetap dituntut harus menghasilkan tulisan. Nah, pasti kita akan semakin kalang kabut. Di satu sisi kita pasti tidak ingin menghasilkan tulisan yang ala kadarnya, tidak jelas kemana arahnya tetapi di satu sisi kita pun harus tetap menjalankan kewajiban.

Lalu apa yang harus kita lakukan dalam situasi seperti itu? Beberapa orang mungkin beruntung karena tuntutan untuk menulis itu lebih fleksibel. Misalnya saja kolom ngibul bagi para redaktur kibul. Tidak ada garis yang jelas apa yang harus ditulis oleh para redaktur Kibul. Dalam situasi itu, redaktur Kibul (saya) masih bisa bernapas lega, karena saya masih memiliki kebebasan untuk menulis apa saja. Akan tetapi dalam konteks yang lebih profesional, hal semacam itu mungkin tidak akan kita temui. Saya banyak bertemu dengan para penulis yang mereka benar-benar dituntut untuk selalu dalam kondisi prima. Artinya, sesibuk apapun mereka harus menulis dan harus menghasilkan tulisan yang bagus. Ketika saya menjadi pekerja tulisan pada tahun-tahun lalu, apa yang saya kemukakaan itu benar-benar terjadi. Tidak menghasilkan tulisan atau tulisan yang kita hasilkan jelek hasilnya adalah kena gamprat bos.

Inilah yang menjadi masalah. Menulis pada akhirnya bukan sekadar merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat, paragraf dan wacana semata. Siapapun yang mengerti dunia tulis menulis dan sepenuh hati di dalamnya akan memandang kegiatan menulis dan hasilnya: tulisan, adalah sebuah hal yang harus dipertanggungjawabkan. Terlepas tulisan itu dibaca atau tidak oleh orang lain, ia bertanggungjawab akan apa yang telah dihasilkannya itu.

Dalam kondisi demikian, siapa saja yang memilih memasuki dunia tulis menulis harus sadar bahwa menulis dan menjadi penulis bukan pekerjaan yang mudah. ia memiliki resiko yang cukup besar. Menjadi penulis memang sepertinya menjadi sebuah pekerjaan yang “keren”, tapi untuk menjadi keren juga bukan hal yang mudah.

Akan tetapi, kalau kita pikirkan kembali, di dunia ini hampir tidak ada hal yang mudah meskipun juga tidak ada yang benar-benar sulit. Dalam konteks pekerjaan lain, saya kira sama halnya dengan demikian. Sesulit apapun kondisinya, kita terpaksa harus melakukan apa yang sudah menjadi tanggungjawab kita. Lalu apa kira-kira yang harus dilakukan jika kita menghadapi situasi yang demikian?

Pada akhirnya, tarik napas panjang, ambil sebatang rokok (tidak dianjurkan), pikirkan sesuatu dan lakukan dengan sepenuh hati. Dalam kondisi tertentu, ternyata ada hal-hal yang bisa dilakukan sembari berjalan. Ternyata dalam kesempitan, kita masih punya waktu dan dalam kekosongan kita menemukan apa yang nampaknya tidak ada, seperti halnya ide yang toh akhirnya muncul juga.

Apakah akan semudah itu? Saya kira yang terpenting dalam kondisi seperti itu bukan lagi hasilnya tapi prosesnya. Setidaknya, kita telah mencoba melakukan sesuatu yang sebelumnya kita anggap hampir mustahil. Toh pada akhirnya kita bisa melawan apa yang selama ini kita ragukan. Ternyata kita bisa melampaunya. Lalu bagaimana dengan hasilnya? Hem… Saya kira itu memang problematis. Melakukan suatu hal tanpa persiapan/perencanaan yang matang memang akan sulit. Hasilnya juga tidak akan terlalu memuaskan. Kalau hal itu terjadi, ya mau tidak mau kita harus menerima segala konsekuensi.

Lalu bagaimana jika kita tetap dituntut untuk menghasilkan sesuatu yang optimal/perfect sementara kita berada dalam kondisi yang tidak sempurna? Dalam dunia kerja misalnya, bos tak peduli pada keadaan kita, taunya hanyalah selesai dan hasilnya baik. Nah loh, “modarkan”?

Kira-kira apa yang harus dilakukan nih? Ada ide?

Pendapat Anda: