[Ngibul #70] Minat Menanam Sama Pentingnya dengan Minat Membaca

Posted: 25 June 2018 by Bagus Panuntun

Setelah menjadi mahasiswa sastra dan penjual buku sastra lalu sering bertemu dengan orang-orang yang mengaku menyukai sastra, ada satu anekdot menggelikan yang kerap saya dengar dari mereka: bercita-cita menjadi petani di wilayah yang jauh dari hingar bingar kota untuk menjalani hidup yang damai.

Pernah dengar mimpi semacam itu? Atau barangkali kamu sendiri yang mendambakannya?

Imajinasi macam itu barangkali hadir dari banyak penggambaran kehidupan pedesaan yang identik dengan suasana tentram, adem ayem, dan gemah ripah loh jinawi. Sejak masih SD, misalnya, kita seringkali membaca puisi-puisi tentang indahnya alam, kisah liburan di rumah nenek di desa, hingga lukisan mooi indie yang terpampang di dinding-dinding kelas, yang menggambarkan hijaunya sawah dengan latar belakang gunung, sungai jernih, pohon-pohon kelapa, dan para petani yang tengah menyemai padi dengan sumringah.

Tetapi, saya terus bertanya-tanya apa yang membuat banyak pecinta sastra—termasuk sebenarnya  banyak pecinta musik indie, aktivis kiri, dan seniman artsy— begitu mendambakan hidup menjadi petani desa. Persoalannya, kita tahu ada banyak sekali karya sastra yang justru menghadirkan desa sebagai ruang yang pelik dan penuh masalah. Karya-karya Ahmad Tohari,  Kuntowijoyo, atau Mahfud Ikhwan, misalnya, seringkali menggambarkan desa dengan penduduknya yang penuh prasangka, norma-norma yang terlalu mengikat, praktik-praktik korupsi pejabatnya, hingga orang-orang kecil macam petani, tukang batu, atau pedagang gorengan, yang kerap menjadi korban dari sistem kehidupan di sana.

Bagi saya yang lahir dan tumbuh besar di desa, dan kini juga bekerja di desa, impian jadi petani nampak lebih garib lagi. Hari ini, saya melihat bahwa kehidupan petani di desa tidak sesyahdu yang sering kita bayangkan. Kebetulan, saat ini saya sedang meneliti permasalahan pertanian di Desa Tanjungwangi, Subang. Dari penelitian ini, saya bertemu dan berbincang dengan puluhan petani. Dari berbagai perbincangan itulah, ada satu masalah yang kini sangat mereka risaukan: mereka tak lagi punya penerus yang bisa mengolah sawah atau ladang mereka. Bahkan dari cerita-cerita mereka, mereka tak punya lagi anak kandung yang bisa memegang cangkul. Alhasil, mereka memperkirakan bahwa dalam 30-40 tahun ke depan, sawah dan ladang yang saat ini mereka garap akan dijual kepada para pebisnis tanah. (Wow, bisa kita bayangkan kan betapa menggiurkannya bisnis menjadi mafia tanah dalam beberapa dasawarsa ke depan?)

Kembali ke pembahasan utama tulisan ini, ngibul kali ini tentu tidak hadir untuk menyinyiri semata mimpi aduhai para pecinta sastra. Saya malah sangat mendukung siapapun yang punya cita-cita tersebut, wong saya juga masih haqqul yaqin bahwa kelak saya akan punya kebun sayur di Wonosobo. Masalahnya, sudahkah kita punya modal atau persiapan untuk menuju ke mimpi yang namaste itu? Saya sih menduganya, belum. Bahkan, saya was-was kalau impian tersebut pada akhirnya hanya angan-angan yang tidak pernah ditindaklanjuti.

Lalu, hal kecil apa yang misalnya bisa kita lakukan?

 

Memahami Hubungan Menanam dengan Membaca

Begini, pertama kita harus memahami bahwa sedikit banyak, ada kaitan antara menanam dengan membaca. Terbuat dari apa buku yang kita baca? Yak benar, buku terbuat dari kertas, dan bahan baku kertas terbuat dari pohon, bukan dari secangkir kopi dan senja. Bicara soal kertas, sejarah dunia sebenarnya sudah membuktikan bahwa kertas memang sangat penting bagi kehidupan manusia. Kertas, misalnya, menjadi bagian dari dimensi kultural manusia untuk mengekspresikan dirinya. Lewat kertas, manusia mulai membuat puisi, cerita, surat, hingga kemudian makalah, esai, sampai berbagai penelitian. Penyebaran kitab-kitab suci di muka bumi bahkan menjadi efektif sejak ditemukannya kertas sebagai media penulisan. Singkat kata, kertas sangat berpengaruh dalam memajukan peradaban umat manusia.

Yang barangkali tidak kita tahu, ada peran ekologis dari kertas yang berpengaruh negatif dalam kehidupan manusia. Saat ini dalam kurun waktu satu tahun, ada lebih dari 400 juta ton kertas yang diproduksi di seluruh dunia. Angka tersebut membuat industri kertas menjadi industri ketiga di dunia yang menghasilkan polusi tertinggi di udara, air, dan minyak. Selain itu, kertas juga dianggap berpengaruh terhadap masalah deforestasi di muka bumi sebab, 14 persen dari hasil produksi kayu dunia digunakan untuk bahan baku kertas.

Selain itu, untuk memproduksi 1 ton kertas maka dibutuhkan setidaknya 17 pohon. Dari angka tersebut, jika dihitung-hitung, maka 1 pohon sebenarnya bisa digunakan untuk memproduksi 58 kg kertas. Berapa buku yang bisa diproduksi dari 58 kg kertas? Jika kita ambil rata-rata berat buku adalah 400 gram, maka ada 145 buku yang bisa diproduksi dari 1 buah pohon.

Maka, kini kita tahu, bahwa jika kita punya 145 buku di rak perpustakaan pribadi kita, maka setidaknya ada satu batang pohon yang sudah ditebang. Sementara itu, satu pohon setidaknya berfungsi menghasilkan oksigen untuk 3 manusia.

Melihat angka tersebut, sebenarnya kita bisa memberikan kontribusi kecil pada bumi dengan setidaknya menanam 1 pohon jika sudah punya 145 koleksi buku. Tidak berat-berat amat kan? Angka menanam satu pohon itu minimal lo. Minimal banget.

Tapi, sudahkah kita melakukannya? Ehm, jangankan menanam pohon, menanam cabai pun barangkali kita tidak pernah. Lah minat menanam kita saja masih nol?

 

Menumbuhkan Minat Menanam bagi Pecinta Sastra

Beberapa hari lalu, teman saya yang bernama Henry Satria Hutabarat mengirimkan dua video tentang dampak pembabatan hutan di Indonesia. Video pertama memperlihatkan seekor orang utan yang muncul di tengah lokasi penebangan hutan di Kalimantan. Orang utan itu nampak berusaha menghentikan traktor dan melawan para pekerja yang ada di hadapannya. Sementara video kedua memperlihatkan puluhan orang dari suku pedalaman di Maluku Utara yang terpaksa keluar hutan dan masuk ke pemukiman warga untuk mengiba-iba dan menangis meminta makan. Dua video tersebut mau tak mau membuat saya berpikir keras mengapa seiring kita bertumbuh dewasa, alam rasanya semakin diperlakukan tidak adil oleh manusia. Atas nama pembangunan dan kemajuan, alam liar berangsur-angsur dibabat untuk digantikan beton dan gedung-gedung. Dan hasilnya, hutan kita jadi kopong.

Sementara hutan semakin ditebangi, minat menanam justru makin menyusut. Di sisi lain, publik sastra masih sering menempatkan alam dalam imajinasi yang terlalu romantis. Sekadar bermimpi menjadi petani di pinggir pedesaan tanpa ada kemauan sama sekali untuk belajar menanam, saya kira adalah satu dari tindakan snob yang perlu kita ubah.

Dari permenungan ini, saya kemudian mendapat ide inovatif untuk lapak jualan saya dan kawan-kawan. Yak, bagian ini mungkin agak mengandung promosi ya, hehe. Tapi bagaimanapun, sebagai penjual buku sastra, saya menyadari bahwa saya adalah subjek yang juga berperan dalam isu yang sedang kita bahas. Maka, saya membuat satu terobosan baru dari penjualan buku di lapak kami. Insyaallah, mulai bulan Juli, kami akan berupaya menyebarkan semangat kecil untuk menyadarkan bahwa “Minat menanam sama pentingnya dengan minat membaca”. Wujud kongkritnya, kami akan memberikan beberapa benih bunga atau sayuran bagi siapapun yang membeli buku di lapak kami. Bonus benih ini akan mulai diberikan setelah launching website kami yang saat ini masih dalam proses penggarapan. Harapannya, berawal dari tumbuhnya minat menanam, maka tumbuh pula kesadaran untuk lebih terlibat dalam upaya pelestarian alam. Berawal dari menanam bunga matahari, bunga telang, atau sawi dan tomat, barangkali kerja melestarikan alam jadi lebih semangat.

Ada pelbagai jalan untuk mencintai dan menjaga alam. Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah menumbuhkan minat menanam pada orang-orang terdekat. Masing-masing dari kita bisa memberikan kontribusi kecil sesuai bidang yang kita tekuni. Toh saya kira, keterkaitan antara sastra dengan menanam juga sebenarnya sudah ada sejak jaman dahulu, sebagaimana dikatakan Voltaire dalam penutup novel klasik Candide yang terkenal itu “cela est bien dit, mais il faut cultiver notre jardin” yang mungkin bisa kita maknai lagi sebagai “sastra adalah pepesan-pepesan yang bagus, tapi bagaimanapun, kita juga harus merawat kebun kita”.

Pendapat Anda: