[Ngibul #69] Pelajaran dari Memilih Buku Anak

Posted: 11 June 2018 by Andreas Nova

“Papa, itu buku apa?” Tanya anak saya ketika kami sama-sama membaca buku di sebuah ruang di rumah kami.

“Oh, ini buku Papa” jawab saya sembari menunjukkan buku berisi penuh tulisan.

“Buku Papa tidak bagus, tidak ada gambarnya” balas anak saya sembari kembali berkutat dengan bukunya.

Anak saya berusia dua setengah tahun. Belum bisa membaca, namun memiliki ketertarikan dengan buku. Bukunya lebih awet dari pada mainannya yang sering mengalami kerusakan pertama dalam hitungan jam. Ia selalu meminta saya menyampul bukunya dengan plastik mika, agar sama dengan buku-buku yang saya miliki.

Setiap bulan, saya meluangkan waktu dan menganggarkan isi dompet untuk membelikannya dua buah buku. Kadang kalau tidak menemukan buku yang menarik, ia hanya mengambil satu buah buku. Menarik, tentu saja bukan dilihat dari blurb yang ada di sampul belakang, juga bukan karena penulis atau tertarik pada judulnya. Sekali lagi, anak saya berusia dua setengah tahun dan belum bisa membaca. Ia memilih dengan melihat ilustrasi sampul depan.

Buku bergambar tokoh dalam animasi Tayo the Little Bus atau Robocar Poli, sudah hampir pasti masuk dalam wishlist anak saya. Saya pernah mencoba menunjukkan buku Kisah Mitologi Yunani untuk Anak-Anak. Namun, anak saya tidak tertarik. Padahal gaya tulisan di buku itu cukup sederhana, diksinya mudah dimengerti anak, kalimat-kalimatnya tidak panjang, cocok untuk anak yang sudah sedikit bisa membaca. Ukuran hurufnya cukup besar, ada ilustrasi di dalamnya. Enaklah kalau dibaca anak atau dibacakan kepada anak sebelum tidur.

“Adek mau beli buku ini?” Tanya saya sembari menunjukkan buku Kisah Mitologi Yunani untuk Anak-Anak itu.

Ia kemudian membuka buku itu (tentu saja saya menunjukkan buku sampel yang tidak bersegel plastik), melihat-lihat isinya sebentar.

“Tidak mau Papa.” Jawabnya.

“Lho, kenapa? Kan bukunya bagus? Ada gambarnya juga.” Tanya saya balik.

“Ini ada gambar monster. Takut.” Katanya sembari menunjuk Hidra (iya, yang dimaksud itu Hydra, tapi barangkali karena ditujukan untuk anak-anak ditulis seperti itu) yang sedang bertarung dengan Herkules.

“Lho tapi ini kan ada masnya yang mau mengalahkan monsternya,” saya mencoba mendongengkan spoiler dengan menunjukkan ilustrasi Herkules yang melawan Hidra.

“Lihat, monsternya kalah nih.” Lanjut saya sembari menunjukkan ilustrasi Hidra yang sudah ditaklukkan Herkules.

“Kalah karena ditembak? Masnya tidak bawa tembak (pistol), Papa?” Tanyanya memberikan harapan untuk tertarik pada buku ini.

“Ngg… jaman dahulu belum ada tembak. Lihat masnya bawa pedang.” Saya menunjukan pedang yang dibawa Herkules.

“Pedang itu apa?” Lalu saya teringat, ia belum tahu konsep pedang, dan di film yang pernah dia tonton bersama saya paling hanya ketika menyaksikan serial Voltron yang memunculkan senjata pedang. Itupun hanya satu kali nonton.

“Pedang itu senjata. Seperti pisau tapi lebih besar.” Saya berusaha menjelaskan dengan kosakata sederhana.

Ia kemudian melihat-lihat beberapa halaman di buku itu.

“Tidak Papa, Taka mau buku ini” sembari menyodorkan buku bersampul Robocar Poli kepada saya.

“Sama buku ini tidak?”

Saya coba menggoyahkan pilihannya. Sayangnya tidak berhasil. Ia tetap memilih buku seharga empat puluh tiga ribu itu. Lalu saya tiba-tiba penasaran. Berapa ya harga buku Kisah Mitologi Yunani untuk Anak-Anak? Saya melihat sampul belakang buku itu mencoba mencari label harga yang biasanya tertempel di sudut bawah. Ah, tidak ada. Saya mengambil buku yang sama, yang masih bersegel plastik. Cukup mengagetkan buku setebal delapan puluhan halaman ukuran B4 harganya seratus dua puluh lima ribu rupiah, sama dengan harga novel Cantik Itu Luka edisi softcover yang jumlah halamannya lebih dari lima kali lipat halaman buku mitologi tadi.

Saya kemudian penasaran, berapa sih harga buku anak sekarang ini? Ada buku Dongeng Nusantara untuk Anak yang dijual dengan harga seratus ribu termasuk parkir alias masih ada kembalian dua ribu rupiah. Rata-rata buku anak setebal 80-120 halaman dijual di atas seratus ribu. Paling murah harganya tiga puluh ribu, ukuran A6, full color, kertas Artpaper 90gr, 20 halaman.

Saya perhatikan, buku anak-anak dikemas dengan sama. Buku penuh ilustrasi, full color, isi menggunakan artpaper 90gr-120gr, sampul bisa hardcover maupun softcover dengan ivory 310gr. Wajar saja harganya jadi tidak murah. Namun, selama isinya juga bagus dan sesuai untuk anak-anak, saya rasa tidak akan ada keberatan dari orangtua yang sayang dengan anak atau yang anaknya merengek minta dibelikan buku karena tertarik oleh sampulnya dan kebetulan orangtuanya punya uang berlebih di dalam dompetnya.

Sampul merupakan salah satu cara menarik perhatian calon pembeli ketika buku terpajang di toko buku, bersaing dengan ratusan judul buku lainnya. Termasuk calon pembeli kecil, seperti anak-anak. Cover yang berwarna-warni dan memuat tokoh yang familiar dan mereka sukai tentu saja bakal lebih cepat menarik perhatian mereka. Apalagi kalau isi dalamnya juga ada ilustrasi berwarna. Anak-anak akan semakin suka. Yang kadang sering saya temukan ketika membaca isinya adalah kalimat-kalimat yang panjang dan diksi yang saya rasa masih terlalu berat untuk anak-anak. Rasanya anak umur 3-5 tahun akan kesulitan mengeja dan memahami kata ‘mendistribusikan’, ‘mendeklarasikan’, atau bahkan ‘bergabung’.

Melihat hal itu saya jadi punya beberapa harapan terkait buku anak yang semoga bisa terwujud ketika kelak anak saya membelikan buku untuk anaknya. Harapan pertama adalah akan ada panduan kata-kata mana saja yang cocok diperkenalkan pada anak usia 3-5, atau jenjang-jenjang berikutnya. Namun, seandainya tidak adapun saya berharap penyusun buku anak juga menggunakan ‘roso’ dan mencoba memahami apakah pembaca kecilnya akan memahami buku yang disusun ini.

Harapan saya yang lainnya adalah, ada karya sastra yang di downgrade untuk anak-anak. Ya, tidak semuluk-muluk ‘Bumi Manusia untuk Siswa SD’ gitu juga sih. Kalau cerita yang porsi roman cukup banyak minimal ya untuk anak SMP lah. ‘Bumi Manusia untuk Remaja’ kayaknya bisa jadi best seller karena katanya kisah cintanya tidak serumit kisah cinta posislamisme dalam Ayat-Ayat Cinta.

Selama ini sastra selalu identik diperuntukkan untuk dewasa. Saya sendiri baru mengenal sastra Indonesia dari pelajaran Bahasa Indonesia SMP. Itu juga dari nukilan beberapa paragraf Layar Terkembang karya ST. Alisjahbana. Saya rasa sastra perlu diperkenalkan kepada pembaca-pembaca muda kita dengan cara disadur dengan bahasa yang lebih ringan, seperti yang sudah dilakukan negara-negara dengan budaya literasi yang sudah baik.

Sastra untuk anak akan memperkaya pilihan buku anak. Sekarang, jika kita menyusuri rak buku anak, hanya akan ditemukan: 1) Buku mewarnai; 2) Buku anak tentang agama; 3) Buku anak adaptasi film; 4) Buku anak berisi dongeng. Dongeng sendiri didominasi beragam dongeng dari luar negeri dan dongeng itu-itu saja dari dalam negeri. Kenapa dongeng dalam negeri itu-itu saja? Ya karena isinya, Timun Mas lagi, Sangkuriang lagi, Malin Kundang lagi. Padahal Indonesia punya lebih dari seribu suku bangsa yang pasti punya mitos dan dongeng yang menarik untuk dibagikan dan diceritakan kepada anak-anak. Juga akan lebih baik lagi jika muncul penulis-penulis dongeng untuk anak di dalam negeri.

Sebenarnya Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud telah memiliki menerbitkan buku elektronik yang bisa diunduh gratis di halaman ini, ini, ini atau ini. Cerita dongengnya lebih beragam dari apa yang bisa kita temukan di toko buku. Ada cerita dari Kalimantan, Papua, Sulawesi, dan lain-lain. Cerita kuliner juga ada, Cuma mungkin desain dan tataletaknya barangkali belum cukup menarik minat anak-anak.

Juga saya menyayangkan buku-buku tersebut diterbitkan dalam bentuk buku elektronik (mungkin pemerintah telah mencetak terbatas dan langsung didistribusikan ke sekolah atau pustaka daerah). Barangkali jika dilakukan peningkatan mutu, lalu melakukan penerbitan bersubsidi dan didistribusikan terbuka ke toko-toko buku, barangkali kita akan menemukan lebih banyak pilihan buku untuk anak di toko buku.

Jika harapan-harapan tersebut terwujudpun saya masih punya harapan terakhir yaitu semoga harganya tidak terlalu tinggi. Buku anak mungkin memang perlu ilustrasi, tapi barangkali kertasnya tidak perlu artpaper, HVS juga sudah cukup oke. Ilustrasi toh hanya sebagai alat bantu imajinasi anak dalam menggambarkan adegan dalam narasi yang pilihan diksinya terbatas untuk anak-anak.

Masalah harga ini juga tidak bisa kita pasrahkan pada penerbit saja. Pemerintah juga bisa membantu untuk memberikan subsidi harga kertas atau mungkin ada kebijakan lain terkait menurunkan harga buku ini. Betul, ada harga ada kualitas. Tapi apakah yang layak mendapat buku berkualitas cuma mereka yang punya uang? Kan tidak.

Kadang saya membayangkan barangkali ada anak yang tertarik pada sebuah buku dari sampulnya. Lalu ia merengek pada bapaknya untuk dibelikan buku itu. Kemudian bapaknya sama kagetnya dengan saya ketika melihat label harga di sampul belakang buku tersebut. Bapaknya kemudian mengalihkan perhatian si anak, kemudian ia berjanji pada anaknya untuk membelikan mainan seharga seperlima harga buku yang diinginkan anaknya tadi di penjual mainan yang biasa berjualan di depan sekolah anaknya.

Pendapat Anda: