[Ngibul #65] Hidup di Jakarta

Posted: 14 May 2018 by Danu Saputra

Rumah dan tempat saya bekerja berjarak sekitar 35 kilometer. Rumah di Sawangan, Depok, tempat kerja di Duren Sawit, Jakarta Timur. Jarak itu saya tempuh antara 1,5 sampai 2 jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor. Waktu tempuh dari tempat kerja sampai rumah kurang lebih sama.

Pada awal-awal bekerja, ketika saya belum tahu jalur pintas, waktu tempuh bisa 2 sampai 2,5 jam. Karena jam kerja di tempat saya bekerja dimulai pukul 7 pagi hingga pukul 4 sore, saat itu saya berangkat sebelum pukul 5 pagi agar dapat sampai pukul 7 (bisa kurang, bisa juga lebih). Saat ini setidaknya lebih santai, asal berangkat tidak lewat pukul 5.30 dari rumah, saya bisa sampai tempat kerja pukul 7.

Saya adalah satu dari ratusan ribu pekerja di wilayah Jabodetabek yang melakoni kehidupan menjadi tua di dalam perjalanan menuju tempat kerja, rumah, tempat bersosialisasi, dan tempat-tempat hiburan baik yang esek-esek ataupun bukan. Bedanya mungkin hanya pada pilihan tempat menjadi tua. Di moda transportasi umum atau pribadi. Di atas motor, mobil, bus, atau KRL alias Kereta Rel Listrik.

Kehidupan yang menurut SGA alias Seno Gumira Ajidarma adalah kehidupan yang mengerikan. Dalam sebuah kalimat, SGA menggambarkan betapa mengerikannya kehidupan di Jakarta.

Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.

– Menjadi Tua di Jakarta, Seno Gumira Ajidarma

Tapi, apakah benar kemacetan jalan dan ketakutan datang terlambat ke kantor itu sangat mengerikan? Apa benar tugas-tugas rutin tidak selamanya tidak menggugah semangat dan akan membuat para pelakunya memiliki kehidupan seperti mesin? Apa pantas semua itu diukur hanya dengan besaran jumlah pensiun?

Meskipun apa yang disampaikan oleh SGA dalam kalimatnya itu ada benarnya, saya sendiri tidak sepenuhnya setuju dengan itu. Di Jakarta, saya kira justru para pekerja yang berhasil mengatasi tantangan kemacetan dan datang terlambat itulah yang akan menjelma menjadi sosok yang tangguh, bertanggung jawab, dan lihai mengatur waktu. Sosok masa muda seperti itu tentu bukanlah sosok yang mengerikan untuk dikenang ketika sudah tua kelak.

Tentang tugas-tugas rutin, manusia seperti apa dan di belahan bumi mana sih yang tidak memiliki tugas-tugas rutin? Bukankah semua manusia tidak ada yang kalis dari rasa bosan, sesuatu yang tidak menggugah semangat, lantas apa bedanya Jakarta dengan kota-kota lainnya? Apa bedanya manusia-manusia yang hidup di Jakarta dengan yang hidup di kota-kota lainnya? Mungkin kita memiliki jawaban yang berbeda untuk ketiga pertanyaan di atas. Tidak mengapa, justru pada perbedaan itulah kita dapat mengetahui bahwa tidak ada faktor tunggal yang memberi efek yang sama pada manusia. Tugas-tugas rutin tidak melulu membuat seseorang kehilangan semangat dan serta merta mengubah kehidupannya menjadi seperti mesin. Perbedaan kebutuhan dan kemampuan beradaptasi membuat setiap orang akan meresponnya secara berbeda.

Bagi saya, yang paling menarik dari kalimat SGA di atas adalah pada bagian yang menyinggung nilai pensiun yang tidak seberapa. Pada bagian itu, SGA menjadikan nilai pensiun–yang dengan mudah saya artikan sebagai jumlah uang–adalah puncak dari segala pencapaian kerja di Jakarta. Bagian ini lah yang membuat saya berpikir cukup lama lalu menyadari bahwa sesungguhnya yang paling menakutkan dari tinggal di Jakarta bukan pada apa yang disebutkan SGA sebelumnya, tetapi pada perubahan cara pandang.

Tidak ada kehidupan tanpa masalah, semua orang memiliki masalahnya masing-masing. Seharusnya, semakin banyak masalah yang dimiliki seseorang maka semakin banyak pula pilihan cara untuk menyelesaikan masalah-masalahnya. Itu yang seharusnya, tapi pada kenyataannya–paling tidak yang terjadi dan menyerang pikiran saya selama bekerja di Jakarta–adalah semakin banyaknya masalah yang di hadapi oleh seseorang di Jakarta, cara menyelesaikannya semakin mengerucut pada satu hal: uang. Seakan-akan tanpa uang, segala masalah tidak akan terselesaikan. Abraham Maslow tidak perlu repot-repot membagi lima tingkat kebutuhan manusia karena semua kebutuhan itu sudah cukup diganti dengan satu saja kebutuhan, kebutuhan akan uang. Seakan-akan uang adalah tujuan, padahal uang hanyalah alat untuk mendapatkan kebutuhan.

Untuk makan sambel saja, di Jakarta, saya hampir tidak pernah berpikir untuk membuat sambel sendiri dengan mengambil cabai dari pekarangan kecil di belakang rumah. Atas nama hal-hal yang tidak bisa saya jelaskan, saya lebih memilih untuk membeli sambal siap saji. Sebenarnya saya masih beruntung karena saya menyadari ada pilihan cara lain untuk menikmati sambel, beberapa teman saya bahkan tidak tahu kalau mereka punya pilihan cara lain untuk dapat menikmati sambel.

Saya menyadari ada perubahan dalam cara pandang saya ini setelah setahun lebih saya bekerja di Jakarta dan tidak perlu menjadi tua untuk membuat saya ngeri dan ketakutan pada diri saya sendiri atas perubahan yang terjadi itu. Mungkin sudah saatnya saya ke luar dari Jakarta karena ternyata Jakarta terlalu cepat mengubah cara padang saya, sebelum saya berakhir dengan pensiun yang tidak seberapa padahal pikiran sudah terlanjur rakus pada yang tidak seberapa itu.

 

Pendapat Anda: