[Ngibul #6] Garis Kuning di Eskalator

Posted: 13 March 2017 by Andreas Nova

Anak saya Janantaka —biasa dipanggil Taka—berusia sekitar lima belas bulan. Layaknya anak seusianya, rasa keingintahuannya sangat tinggi. Banyak tingkahnya yang kemaki, namun justru membuat saya tertawa. Seperti mencoba meniru ibunya minum dari gelas —namun malah tersedak dan kemudian menangis— atau menirukan suara dengkuran saya. Di usianya sekarang ia sedang senang belajar berdiri dan berjalan.

Ada beberapa tempat yang menjadi tempat favorit Taka untuk belajar berjalan —selain di rumah. Yang pertama di Magangan, halaman belakang Kraton, kedua Plaza Pasar Ngasem, dan terakhir, pusat perbelanjaan. Lebih tepatnya pusat perbelanjaan yang memiliki tangga berjalan. Rasanya Taka memiliki keingintahuan yang tinggi terhadap benda tersebut. Mungkin baginya, benda itu ajaib sekali, mampu membawa banyak orang ke tempat lebih tinggi tanpa perlu berjalan. Tidak perlu terengah-engah menaiki undakan seperti di depan rumah simbah buyutnya atau bersusah-susah naik ke lantai dua di rumah omanya. Ia selalu merengek turun dari gendongan ibunya untuk melangkah sendiri menaiki tangga berjalan —dengan digandeng tentu saja.

Taka selalu melakukan hal yang sama ketika menaiki tangga berjalan. Ia selalu menginjak garis kuning yang ada di sana. Awalnya saya pikir wajar ia menginjak garis itu. Garis kuning itu mencuri perhatiannya. Taka selalu tertarik pada warna yang mencolok. Tapi bukankah sebagai orangtua, selayaknya kita mengajarkan dan membiasakan hal yang baik pada anak. Saya tidak mau ia tumbuh menjadi sosok yang abai terhadap peringatan dan peraturan yang telah disepakati. Perlahan saya mencoba melarangnya. Awalnya —seperti biasa— ia mengamuk. Taka tetap ngotot menginjak garis kuning itu, tapi lama kelamaan —entah ia mengerti atau tidak kata-kata yang saya gunakan untuk membujuknya— garis kuning itu tidak lagi diinjaknya.

Seberapa sering kita menginjak garis kuning ketika naik atau turun melalui tangga berjalan di pusat perbelanjaan? Garis kuning yang ada di tangga berjalan merupakan garis yang menandai batas area aman ketika kita menginjakkan kaki di anak tangga tersebut. Peringatan untuk tidak menginjakkan kaki di garis kuning selalu ada di salah satu sisi tangga berjalan, namun entah karena tidak terbaca atau memang sengaja diabaikan, nyatanya terkadang kita malah coba-coba menginjaknya.

Saya kira siapapun yang membaca peringatan tersebut juga sudah berpikir kemungkinan terjadinya kecelakaan. Meskipun barangkali kita yakin kemungkinan itu tidak lebih dari 10%. Tapi namanya saja kemungkinan, tetap saja ia memiliki “mungkin” bukan?

Banyak berita yang bertebaran di situs berita maupun media sosial tentang kecelakaan di eskalator akibat kelalaian mengabaikan peringatan tersebut. Korbannya tak hanya anak kecil, banyak juga orang dewasa. Jika kita mau mengindahkan peringatan tersebut, barangkali kemungkinan terjadinya kecelakaan bisa diminimalisir, atau bahkan nol. Tentu saja kita tahu peringatan tersebut dibuat bukan hanya sekadar untuk dipajang, ia bahkan dipampang dengan ukuran huruf yang tak bisa disebut kecil ataupun kurang jelas. Namun terkadang ketidakdewasaan lah yang membuat kita tak mau luput menginjaknya. Seandainya saja kita mau sedikit lebih dewasa, maka kita tak akan seperti anak kecil yang melihat segala sesuatunya dengan sekilas lalu mengabaikannya. Barangkali kita perlu lebih merenungkan peraturan-peraturan lain yang tertulis seperti “Mohon mendampingi anak-anak ketika menaiki tangga berjalan”. Padahal kita sendiri terkadang masih seperti anak-anak.

***

Hal-hal remeh yang seringkali luput dari mata kita terkadang justru menunjukkan kedewasaan kita. Dewasa terkadang tidak selalu berbanding lurus dengan bertambahnya umur. Masih banyak di sekitar kita orang tua yang mengizinkan anaknya yang masih di bawah umur untuk mengendarai kendaraan bermotor. Ada juga ibu-ibu yang menyalakan lampu sinyal ke kiri, tapi berbelok ke kanan. Bahkan hal sesederhana mengantri saja mungkin masih terasa berat bagi sebagian orang. Sadar atau tidak sadar, tahu atau tidak mau tahu, hal tersebut merugikan orang lain.
Sudah pasti kita tidak bisa menolak umur yang selalu bertambah setiap detiknya. Kita bukan superhero yang bisa beregenerasi dan bertahan hidup selama yang kita mau. Hidup kita bukan berada di lembaran komik Marvel atau DC. Menolak tua adalah omong kosong. Namun kedewasaan harus bertumbuh seirama dengan umur yang bertambah. Mulai dari hal-hal kecil, remeh dan terabaikan, perlahan tapi konsisten.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

1 Comment

  • Danu Saputra 16 March 2017 at 21:52

    Dalam banyak hal, orang dewasa memang sudah seharusnya berbesar hati untuk belajar dari anak kecil.

     

    Sepertinya sudah saatnya orang tua istirahat, anak muda yang memimpin dan anak kecil yang memberi pelajaran.

     

     

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *