[Ngibul #59] Wawancara di Kelas dan di Layar Kaca

Posted: 2 April 2018 by Danu Saputra

Beberapa waktu lalu, dalam suatu pertemuan pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas lima SD, saya menyampaikan materi  tentang wawancara. Materi wawancara itu sebenarnya merupakan anak bagian dari materi laporan pengamatan yang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran memiliki porsi kedua paling besar dalam satu semester setelah drama.

Sebelum mulai memberi materi, saya meminta anak-anak membaca buku pelajaran dan memberi mereka tugas untuk menentukan narasumber yang sesuai dengan suatu tema tertentu yang sudah saya tentukan. Jawaban mereka cukup mengejutkan saya, pertama karena ada dua jawaban yang paling banyak dipakai; orang tua dan guru sebagai narasumber. Kedua, dan ini jawaban yang membuat saya geli, narasumber paling tepat sebagai tempat bertanya adalah Google.

Berdasarkan jawaban-jawaban mereka, maka mulailah saya menyampaikan hal-hal terkait wawancara dan laporan pengamatan yang tidak ada dalam buku pelajaran mereka. Jurus andalan saya dalam menyampaikan materi pada anak-anak adalah dengan memberikan contoh. Menurut saya, segala hal tentang definisi, konsep, dan penjelasan lain sudah cukup lengkap ada dalam buku pelajaran, tapi contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari yang dekat dengan mereka kadang kurang tersedia dalam buku pelajaran.

Melalui contoh kasus dalam keseharian mereka saya mencoba menyampaikan bahwa selain membuat daftar pertanyaan yang sesuai dengan tema wawancara, menentukan narasumber yang sesuai tepat untuk diwawancarai juga merupakan hal penting yang harus dilakukan. Salah satu contoh yang saya berikan pada anak-anak dalam kelas adalah hal yang saat itu sedang terjadi, yaitu tanya jawab di dalam kelas, antara guru dan muridnya.

Segala sesuatu yang saya beri sebagai materi di kelas adalah materi yang tidak ada dalam buku pelajaran. Begitu pula dengan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh anak-anak murid di dalam kelas, adalah pertanyaan yang meskipun sesuai dengan materi yang sedang dipelajari tetapi jawabannya tidak ada di dalam buku pelajaran. Pertanyaan-pertanyaan itu tentu bertujuan untuk mendapatkan kejelasan tentang suatu materi, mendapatkan informasi dan data, sehingga dapat menambah pemahaman. Jika ada salah satu anak di dalam kelas yang kemudian bertanya pada guru tentang suatu hal di luar materi yang sedang dipelajari atau tentang sesuatu yang sudah ada jawabannya di dalam buku, anak-anak yang lain biasanya akan memperingatkan anak tersebut, atau paling tidak akan menyindir anak itu dengan kalimat-kalimat yang kira-kira seperti ini “Apaan sih, gak jelas banget deh pertanyaannya” atau seperti ini “Itu kan ada sudah ada di buku” atau terkadang seperti ini “Itu nanti aja nanyanya, pas pelajaran Social Studies.”

Mengingatkan kembali murid pada apa yang pernah mereka alami dan mengaitkannya dengan materi pelajaran ternyata cukup efektif untuk meningkatkan pemahaman mereka. Setelah menyadari bahwa mereka selama ini ternyata telah sering melakukan semacam wawancara yang baik di kelas, mereka tidak lagi merasa bahwa wawancara adalah perkara yang sangat sulit. Beberapa pertanyaan yang saya ajukan untuk menguji pemahaman mereka tentang wawancara secara umum dapat dijawab dengan baik. Ketika saya meminta mereka untuk melakukan wawancara dengan tema yang mereka tentukan sendiri, ternyata mereka mampu melakukannya. Saya cukup lega karena mereka dapat mengerti pentingnya mencari narasumber yang tepat, menyusun pertanyaan-pertanyaan yang sesuai tema untuk mendapat data dan informasi tambahan, dan kapan harus melakukan wawancara.

Hari berganti hari, tak terasa materi tentang wawancara dan laporan pengamatan dalam satu semester sudah selesai saya sampaikan semuanya. Materi-materi yang lain sudah menanti untuk disampaikan. Begitulah, waktu berjalan begitu saja. Meninggalkan yang sudah, menuju yang belum, tak pernah menunggu. Hingga suatu malam, sesampai di rumah, sepulang mengajar, saya menonton acara berita di salah satu stasiun televisi swasta. Kebetulan acara berita tersebut sedang membahas kasus pembunuhan terbuka yang terjadi di salah satu kafe, tempat minum kopi. Dalam acara tersebut hadir banyak ahli dengan beragam bidang keahlian, di sana mereka diwawancarai. Seketika itu saya teringat dengan pelajaran wawancara yang pernah saya dan anak-anak murid pelajari bersama di sekolah.

Ketika pertama kali melihat jawaban anak-anak murid saya terkait narasumber, saya cukup terkejut. Sekarang, saat saya melihat wawancara di dalam acara berita di televisi, saya jauh lebih terkejut. Bagaimana tidak terkejut, ternyata wawancara yang dilakukan dalam acara berita, sekali lagi, acara berita, mempertontonkan bentuk wawancara yang tidak baik. Spontan saya berharap (lebih tepatnya berdoa) agar anak-anak murid saya tidak meniru cara-cara wawancara yang baru saja saya tonton.

Beberapa hari setelah itu, saya kemudian memperhatikan wawancara-wawancara di televisi dan ternyata saya semakin terkejut, banyak wawancara-wawancara yang dilakukan secara tidak baik. Saya sunggu merasa heran, bagaimana bisa, suatu acara berita yang menjadi sumber banyak orang mendapatkan data dan informasi terkait suatu kasus dapat mempertontonkan bentuk-bentuk wawancara yang tidak baik. Salah satunya seperti ini, keluarga atau seorang karib, yang dekat dengan korban pembunuhan akan diwawancarai, menjadi narasumber dan diberikan pertanyaan tentang firasat atau petanda akan datangnya ajal. Ketika narasumber memberikan jawaban ada firasat atau tanda ini itu dan lain sebagainya, seakan-akan itulah bukti bahwa korban memang akan menemui ajalnya. Firasat atau tanda itu pasti benar, karena ada korban, korban ada karena sudah memberi tanda, begitulah terus, muter dan mbulet. Sebenarnya apa sih manfaat para penonton mengetahui jawaban dari pertanyaan firasat itu? Apa sih faedahnya? Wawancara yang dipertontonkan itu bentuk jurnalisme data atau jurnalisme firasat? Atau kalau dalam bahasa anak-anak murid saya, “Apaan sih, gak jelas banget deh pertanyaannya.”

Selain pertanyaan seperti itu, ada juga keanehan lain dalam model wawancara yang saya tonton, yaitu pemilihan narasumber. Beberapa narasumber yang seharusnya dapat memberi informasi yang sesuai dengan suatu permasalahan yang sedang berlangsung, ternyata tampak tidak benar-benar menguasai permasalahan. Mereka dijadikan narasumber hanya karena memiliki daya tarik lebih di masyarakat, entah karena mereka artis, bertampang menarik, atau karena mereka mampu memberi sensasi bagi masyarakat. Tentu boleh saja mereka menjadi narasumber, tetapi tolonglah disesuaikan dengan kapasitas mereka, jangan sampai dipaksa hadir menjadi narasumber tetapi tidak menguasai permasalahan yang sedang terjadi.

Misalnya, dalam suatu kasus hukum yang masih berlangsung, dihadirkan seorang narasumber yang kemudian diperkenalkan memiliki kemampuan membaca mimik wajah sehingga dapat mengetahui seseorang berbohong atau tidak dalam menyatakan pengakuan. Boleh saja menghadirkan narasumber seperti ini, tapi tolong yang mengerti proses hukum juga. Dalam tayangan yang saya tonton, narasumber ahli ini menghadirkan dirinya dapat membaca segala kebohongan ataupun kejujuran, dengan segala dasar ilmu pengetahuan yang dimilikinya seakan-akan apa yang dikatakannya merupakan kebenaran mutlak sehingga dia bisa memutuskan seseorang bersalah atau tidak, bahkan pendapatnya itu mendahuli keputusan hakim. Hal-hal seperti ini bukankah sudah menggiring opini sehingga wawancara menjadi tidak lagi berfungsi untuk mengumpulkan data serta informasi?

Saya jadi membayangkan, bagaimana jika anak-anak murid saya melihat wawancara-wawancara itu di televisi? Apakah mereka akan mempertanyakan cara awak media tersebut melakukan wawancara? Ataukah malah menyalahkan saya karena materi yang saya berikan di kelas ternyata tidak sama dengan apa yang mereka lihat di televisi? Atau malah tidak memedulikan itu semua karena menyadari ada yang berbeda antara apa yang dipelajari di kelas dan apa yang dilihat di televisi. Tapi bisa saja mereka menganggap bahwa itu semua hanyalah pemanis dalam berita, seperti adegan-adegan pemanis yang juga mereka pelajari dalam materi tentang drama.

Informasi semakin deras, hampir tidak ada filter. Semoga kita dan orang-orang di sekitar kita terlindungi dari segala marabahaya dan tipu daya. Aamiin.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda: