[Ngibul #54] Warna dalam Puisi Naya

Posted: 26 February 2018 by Fitriawan Nur Indrianto

Berkali-kali saya membolak-balik buku puisi Abinaya Ghina Jamela (selanjutnya disebut Naya) berjudul “Resep Membuat Jagat Raya”. Buku itu berisi 59 puisi yang merupakan hasil cipta dari gadis kecil berusia 8 tahun. Tentu ada banyak hal “ajaib” dalam puisi-puisi Naya, mulai dari imaji sederhana namun cukup membuat kita heran bagaimana bisa anak sekecil itu membayangkannya, perumpaman-perumpamaan yang “nyeleneh”, hingga kekayaan teks dalam puisi-puisi itu (Banyak puisi Naya yang diambil dari teks mitologi, sebagian besar didapatnya dari kegemaran membaca buku dan menonton film layar lebar). Tapi saya justru tertarik perihal warna-warna dalam puisi Naya.

Warna menjadi salah satu bagian yang sering muncul dalam puisi-puisi Naya. Ada beberapa jenis warna (dalam definisi yang eksplisit) dan umum didengar, antara lain hijau, kuning, oranye, putih, merah, hitam, cokelat, dan biru. Tetapi ada juga warna lain semisal silver atau bening di dalam puisi Naya. Selain itu ada juga warna lain yang tidak disebutkan secara eksplisit seperti: warna pelangi, mata yang cerah, berwarna seperti langit sore hari, atau warna daun kering.

Menurut sebuah artikel yang pernah saya baca, anak usia 18 bulan konon sudah mulai mengenal warna. Tetapi menurut sebuah penelitian, seorang anak baru benar-benar mengenal warna pada usia 3 tahun meskipun masih dalam taraf pengetahuan tentang warna dasar. Saya sendiri tidak ingat kapan pertama kali mengenal warna dan kapan bisa membedakan warna satu dengan yang lain. Hal yang saya ingat adalah waktu kecil, saya sudah bisa membedakan bungkus jajanan Anak Mas ada yang berwarna kuning dan berwarna cokelat (belakangan saya tahu bahwa identifikasi warna yang saya lakukan itu tidak benar-benar tepat ketika menyebutkan warna bungkusnya). Selain itu, saya juga ingat bahwa pelajaran tentang warna secara ilmiah pertama kali saya pelajari kelas 5 SD ketika bertemu dengan pelajaran IPA, mengenai spektrum cahaya (waktu itu, usia saya mungkin 10 atau 11 tahun (?)).

Kembali ke puisi Naya, diksi-diksi warna yang sering muncul dalam puisi-puisinya sebagian besar digunakan untuk menggambarkan benda konkret, misalnya salju berwarna putih, langit berwarna biru, kuning telur, putih seperti awan, bertopi hitam, sepatu berwarna biru dan lain-lain. Jika dirasa, warna-warna itu nampaknya lahir dari pengalaman empirik penulisnya secara langsung. Pengalaman empirik ini bisa didapat dari pengalaman melihat langsung benda-benda yang dimaksud, misalnya ketika mengatakan topi berwana biru atau awan berwarna putih, maka ada kemungkinan Naya memang melihat benda-benda itu secara langsung. Tetapi, ada juga warna yang didapat dari pengalaman empirik lain. Artinya, ia tidak melihat benda itu secara langsung, tetapi pengetahuan mengenai warna suatu benda ia dapat dari gambar atau video. Dalam sajak “Di Luar Angkasa” misalnya, Naya mampu menggambarkan garis ekor komet dengan menyebutnya berwarna hijau. Pengetahuan tentang warna garis ekor komet ini tentu ia dapat tidak dari pengamatan langsung.

Salah satu bagian yang menarik adalah pengetahuan warna Naya bisa dikatakan kaya. Dalam sajak “Dori Si Pelupa” misalnya, Naya telah mampu mengidentifikasi warna pelangi. Naya pun tahu bahwa pelangi didominasi oleh warna-warna cerah, seperti merah, kuning, hijau bukan warna gelap atau buram. Dalam sajak ini pula ia mampu mengenal warna langit senja yang ia katakan tatkala menggambarkan tokoh Nemo. Dalam sajak “Wafer”, Naya bahkan melukiskan adonan wafer yang dipanggang berwarna daun kering. Menurut anda seperti apakah warna daun kering itu? Apakah ia coklat, abu-abu, hitam, kombinasi warna-warna tersebut ataukah warna daun kering itu sendiri?

Dalam pengamatan saya, penggunaan warna dalam puisi Naya nampaknya hadir sebagai mana adanya. Ia masih setia untuk mengatakan bahwa warna salju adalah putih, warna stroberi adalah merah, atau warna lemak telur adalah kuning. Agaknya Naya belum terlalu liar dalam menggunakan imajinasinya. Misalnya saja ia tidak melukiskan misalnya sayap angsa berwarna pink, atau awan berwarna hijau misalnya. Tetapi saya kira itu wajar saja. Pertama, hal ini justru menunjukkan dirinya sebagai anak-anak yang masih polos dalam melihat segala sesuatu. Penggambaran apa adanya itu mungkin juga sengaja dilakukan untuk melukiskan sesuatu sama seperti realitas yang ia temui. Tentu aneh juga kalau Naya menggambarkan sesuatu tidak sesuai kenyataan, misalnya angsa berwarna pink atau yang lain sementara hal tersebut memang tidak dibutuhkan dalam puisinya. Bisa dikatakan penggambaran warna itu ia gunakan sejajar dengan apa yang ia lukiskan. Dari penggambaran warna ini, dapat saya katakan bahwa gaya puisi-puisi Naya adalah “realis” bukan surealis atau yang lain. Tapi bukan tidak mungkin suatu hari Naya akan menulis karya sastra (entah puisi atau prosa) dengan gaya yang lain.

Yang terakhir, saya melihat bahwa penggunaan diksi warna dalam puisi Naya terkait pula dengan kegemarannya melukis. Dalam salah satu puisinya, Naya memang menceritakan hal tersebut. Yang perlu kita pelajari dari Naya, barangkali sebagai orang dewasa, kita bisa belajar bagaimana mendidik anak dengan mengenalkan pada mereka keindahan dunia yang penuh dengan warna, salah satu metodenya misalnya dengan melukis. Tulisan ini pun akan saya tutup dengan salah satu puisi Naya yang menceritakan pengalaman melukisnya tersebut. Tapi sebelum itu, saya sarankan bagi anda yang senang pada puisi untuk membeli dan membaca buku puisi Naya berjudul “Resep Membuat Jagat Raya.” Konon, penyair Joko Pinurbo pun menyarakan orang-orang untuk membacanya. Demikian.

Pahlawan

-buat Nermi Silaban

Seorang lelaki bernama Mimo
selalu mengantarku ke mana saja.
Perutnya gendut seperti bola.
sangat menggemaskan. Suaranya
lembut seperti baju kaos kesayanganku
dan pelukannya hangat seperti air
yang ku minum ketika batuk.
Dia suka mengajakku melompat seperti kelinci dan kodok
hingga bunda berteriak seperti suara kodok.
Dia mengajariku melukis, menulis puisi, berenang, membaca, berdiskusi, dan menonjok anak-anak yang nakal padaku.
Ketika aku sakit dia akan merawatku
seperti pangeran, aku suka ceritanya tentang perpustakaan Naya dan monster.
Dia pahlawan superku yang keren
dan kami akan pergi ke Paris.

2015

 

 

Tambahan informasi:
Abinaya Ghina Jamela lahir di Padang, 11 Oktober 2009. Buku Resep Membuat Jagat Raya (Kabarita, 2017) adalah buku puisi pertamanya yang telah cetak lima kali. Ia mulai menulis puisi sejak usia 5 tahun.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *