[Ngibul #50] Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sastra Indonesia

Posted: 29 January 2018 by Asef Saeful Anwar

Kesulitan pertama menulis tentang beliau dalam hubungannya dengan sastra Indonesia adalah justru mengolah emosi, bukan mengolah materi. Mungkin ini juga yang dialami teman-teman yang kontra dengan sejumlah langkah dan pernyataan beliau sehingga yang keluar adalah cacian dan makian–sesuatu yang saya keluarkan pada dinding kamar yang tak salah apa-apa. Saya merasakan itu dan dapat mengerti, meski demikian saya mengajak teman-teman yang kontra untuk bisa mengolah emosi dengan lebih tenang, tetap berpikir jernih, dan tetap menentang dengan lantang, agar kritiknya tak mendapatkan sikap antipati dari orang-orang yang sebenarnya punya satu niat untuk melakukan perlawanan yang sama dengan cara yang berbeda.

Jujur saya memendam rencana untuk menulis ini selama berpekan-pekan. Setiap kali membaca pernyataannya, baik di situs yang berafiliasi dengannya maupun sejumlah media daring lainnya, saya harus mengelus dada—tentu dada saya sendiri, bukan dada ayam goreng—dan menahan mulut agar tak misuh-misuh—yang sayangnya lebih banyak gagalnya sehingga harus disusul istighfar. Barangkali di balik segala pernyataannya yang “nggateli”—astaghfirullah saya misuh—ada juga manfaatnya, yaitu membuat saya rajin melafal istighfar.

Bismillah saya mulai saja tulisan ini—eh bukannnya udah dimulai dari tadi?

 

Mengapa buku, bukan laporan survei?

Ketika mengemuka kontroversi buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, apa yang pertama kali muncul dalam kepala saya adalah pertanyaan: mengapa klaim pengaruh itu berwujud dalam sebuah buku, bukan laporan hasil survei? Semisal pun wujudnya buku, kenapa tidak ditulis berdasarkan hasil survei? Bukankah survei adalah salah satu keahlian salah seorang dari 33 tokoh tersebut yang awalnya menulis sesuatu-yang-diklaim-sebagai-puisi-esai setelah melakukan survei kepada pembaca di Indonesia dengan objek puisi?

Dengan lembaga yang dimilikinya beliau bisa mengadakan survei dengan responden yang memenuhi kriteria tertentu: penulis yang karyanya telah tersebar di sejumlah media massa, penulis yang mendapatkan penghargaan atas karyanya, akademisi sastra, dan lain-lain. Taruhlah nama beliau, sandingkan dengan beberapa nama tokoh sastra lainnya sebagai pilihan bagi responden, dan apakah hasilnya akan sama dengan 33 tokoh itu? Atau cuma hilang satu orang? Sepengetahuan saya, sampai sekarang beliau tidak melakukan survei macam itu. Sebab saya yakin beliau tahu bahwa hasil survei tidak akan mampu memberinya gelar tokoh sastra, apalagi dengan predikat “berpengaruh”.

Dunia sastra adalah ruang yang memiliki aturan permainan sendiri, yang tidak bisa disamakan dengan dunia politik. Orang-orang yang menulis dan menerbitkan banyak buku puisi belum tentu akan diakui sebagai penyair, apalagi yang cuma menerbitkan satu buku dan atas biaya sendiri. Gelar penyair, cerpenis, novelis, atau sastrawan itu ibarat gelar kiai dalam masyarakat muslim Jawa, ia mengada ketika masyarakat mengakuinya, mengerti jasanya, dan menerima berkat kehadirannya.

Seseorang yang mengaku dirinya sebagai kiai di tengah masyarakat muslim Jawa lebih banyak ditertawakan daripada dihormati. Begitupun dalam jagat sastra Indonesia, mereka yang mendaku sebagai sastrawan kerap mendapatkan cibiran daripada sanjungan, dan biasanya orang yang mengaku adalah orang yang tak diakui. Seperti mantan yang mengaku: “dia masih pacarku”. (Atau dalam guyon para santri: ia seperti nun mati yang bertemu lam dan ro, ada tapi tak diakui kehadirannya. Duh, nyesek.)

Dunia sastra, atau arena sastra dalam istilah Pierre Bourdieu, adalah medan yang otonom. Ia sangat alergi pada modal ekonomi. Ia seperti punya perisai atau semacam sistem imun bagi siapa pun sehingga mereka yang tidak menuruti aturan permainannya maka akan terpental. Apa yang bisa beroperasi secara maksimal di dalamnya adalah modal simbolik atau modal sosial, modal ekonomi cenderung tertolak, bahkan seolah sebagai medan yang berlawanan. Hasilnya bisa dilihat bahwa karya-karya bestseller yang memiliki keuntungan ekonomi tinggi kerap kali bukan karya yang mendapatkan penghargaan secara simbolik dari segi estetika. Begitupun sebaliknya, karya yang mendapatkan hadiah sastra dengan puja-puji dari kritikus atau pers cenderung minim angka penjualannya. Karya adalah simbol utama seseorang untuk diakui sebagai penulis atau sastrawan. Simbol yang lain adalah pengakuan ahli dan penulis senior yang sudah mapan sebagai sastrawan. Simbol yang lain adalah pemuatan atau pembicaraan di media massa. Ketika beliau menerbitkan buku kumpulan sesuatu-yang-diklaim-sebagai-puisi-esai, beliau memanfaatkan tokoh-tokoh sastra kenamaan untuk memberinya simbol lewat serangkaian pengakuan dalam endorsement.

Alih-alih mendapat pengakuan, buku itu tidak mendapatkan banyak respons di dunia sastra. Lalu dibuatlah serangkaian kerja untuk mendukung bahwa karyanya diterima oleh publik sastra: diunggah di media daring jaringannya, diklaim telah banyak dibaca dengan menunjukkan jumlah viewers, dibuat versi teaternya, dibuat film pendeknya, diadakan lomba sesuatu-yang-diklaim-sebagai-puisi-esai, merangkul sebuah jurnal sastra untuk pemuatan dan pembicaraan terkait sesuatu-yang-diklaim-sebagai-puisi-esai, dan serangkaian kerja lainnya guna mengumpulkan modal simbolik yang berujung pada terbitnya buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Gemparlah dunia sastra Indonesia dan kita tahu kemudian ada kasus merembet ke ranah hukum. Sepi beberapa jenak. Dan gempar lagi dunia sastra ketika beliau melalui media daring jaringannya mengumumkan proyek penulisan sesuatu-yang-diklaim-sebagai-puisi-esai dari 34 provinsi di Indonesia. Tulisan yang sangat jelas, terang, dan penuh kejujuran itu menunjukkan kesadaran langkahnya untuk mengklaim pengaruhnya itu sungguh menyesakkan. Astaghfirullah al‘adzim….

Kembali mengalirlah kontroversi itu, bergulir pada poin-poin yang kadang jauh dari apa yang dikritik: mengapa orang tak boleh menulis sesuatu-yang-diklaim-sebagai-puisi-esai? (Et dah, sapa nyang ngelarang?) Sastra mestilah santun, jangan diisi caci maki. (Apakah jejaring sosial itu dunia sastra? Bacalah karya-karya orang yang dianggap mengeluarkan caci maki itu, apakah isinya caci maki? Beberapa karya mereka bahkan pernah menjadi unggulan dan ada yang mendapatkan penghargaan). Lawanlah buku dengan buku. (Hmm…jaman saiki gampang nerbitke buku, nggur nganggo duit isa, melebu percetakan dadi. Semboyan buku lawan buku hanya bisa berlaku selama penerbit bersikap netral dan tidak memihak pada yang bermodal. Kenyataannya kini banyak buku terbit tanpa adanya kerja keredaksian yang ketat dan tepat). Mari berkarya, jangan sibuk mencaci dan memaki. (Memangnya para penanda tangan petisi yang lantang menyuarakan penolakan itu tidak berkarya? Karya mereka tersebar di sejumlah media massa, bahkan beberapa telah dan akan terbit bukunya setelah melalui tahap seleksi yang ketat, tanpa perlu mengeluarkan modal ekonomi sendiri). Apakah salah membayar seseorang untuk menulis? Bukankah itu bagian dari profesionalisme? (Bagus itu, penulis wajib dibayar. Tapi, yang kemudian salah adalah klaim keterpengaruhan atas kerja itu. Bahwa banyak orang menulis sesuatu-yang-diklaim-sebagai-puisi-esai karena terpengaruh oleh karya beliau itu sungguh tidaklah tepat. Seolah-olah mereka dengan sadar menuliskannya tanpa ada pesanan dan bayaran. Bukankah ini salah satu bentuk penipuan? Duh, dusta manalagi yang kau nikmati? Seandainya mereka dibebaskan menulis puisi tentang daerah masing-masing dengan bentuk yang dibebaskan apakah mereka akan menuliskannya dalam bentuk sesuatu-yang-diklaim-sebagai-puisi-esai?)

Mohon maaf bila paragraf di atas terlalu emosional, saya ambil wudlu dulu biar lebih tenang.

 

Tonggak Angkatan Baru

Tersiarlah sejumlah kabar yang kembali membuat mengelus dada. Beliau mengatakan tahun 2018 ini adalah tonggak lahirnya angkatan baru sastra Indonesia. Astaghfirullah al-‘adzim innallaha ghofururrohim

Ketika menyatakan lahirnya angkatan baru dalam sastra Indonesia, HB Jassin dan Korrie Layun Rampan telah tekun dan teliti mengikuti perkembangan karya sastra di sejumlah media massa dan karya-karya yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku. Mereka melakukan kajian yang cukup mendalam dengan sejumlah alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun beliau mak jegaguk, tanpa melakukan survei terlebih dulu sebagaimana sering beliau lakukan, memberikan pernyataan bahwa tahun 2018 ini segera menjadi tonggak lahirnya angkatan baru dengan landasan karya-karya yang belum diterbitkan. Ya, belum diterbitkan. Bila HB Jassin dan Korrie Layun Rampan merumuskan ciri-ciri angkatan baru dari karya-karya sastra yang sudah tersiar dan tersebar di masyarakat, beliau dengan “saktinya” merumuskan ciri-ciri karya sastra angkatan baru terlebih dulu sebelum ditulis oleh para penulis yang diklaimnya merupakan generasi baru sastra Indonesia. Astaghfirullahal ‘adzim innallaha ghofururrohim la haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyiil ‘adzim….

Karya-karya yang dikatakannya sebagai puisi panjang yang mirip cerpen serta bercatatan kaki sehingga mirip makalah—lalu kenapa tidak disebut sebagai cerpen makalah?— menurutnya adalah salah satu bentuk baru bagi sastra Indonesia. Ia mengatakan hal ini dengan menyinggung sejumlah pencapaian sesuatu-yang-diklaim-sebagai-puisi-esai: telah ada buku yang khusus membahasnya, telah lahir puluhan buku kumpulan sesuatu-yang-diklaim-sebagai-puisi-esai, dan telah pula diseminarkan di Malaysia—di Indonesia belum ada? Kenapa? Apakah nanti akan jadi pula sebagai pembaharu sastra Melayu?

Dengan segala pernyataan yang diberikannya, beliau seolah menggambarkan bahwa sesuatu-yang-diklaim-sebagai-puisi-esai telah diterima dengan baik oleh publik sastra. Dengan cara semacam itu, publik sastra, terutama para penanda tangan petisi, kontan menolaknya. Sekali lagi, khusus bagi saya, keberatan dan kritik bukan diarahkan pada sesuatu-yang-diklaim-sebagai-puisi-esai—meskipun beberapa pihak juga mengkritik dan menolak klaim kebaruan tentang hal ini—tetapi lebih ditujukan pada klaim-klaim yang diberikannya dan langkah-langkah berlumpurnya ketika masuk dunia sastra Indonesia.

Berita tentang tonggak lahirnya angkatan baru itu muncul di sejumlah media daring. Apa yang janggal, berita tersebut tak mendeskripsikan bagaimana pernyataan itu muncul dari beliau. Bahkan, masalah kapan dan di mana pernyataan itu disampaikan pun tak ada keterangannya. (Apa kabar 5W 1H?) Apakah beliau mengundang sejumlah wartawan untuk konferensi pers lalu yang datang cuma media daring yang menyiarkan berita tersebut atau banyak yang datang tapi yang memberitakannya cuma satu-dua media daring itu? Atau beliau mengirimkan press realese kepada media-media daring yang menyiarkan itu atau mengirimkan ke seluruh media dan hanya mereka yang menyiarkannya? Atau media daring itu mengambil berita dari situs jaringan beliau? Ah rasanya tidak, di sana terulis: “Ketika ditanya bagaimana soal munculnya banyak petisi yang menolak kehadiran…. di banyak komunitas?”. Tapi, kapan pertanyaan itu dilontarkan, bagaimana cara bertanyanya, apakah langsung atau jangan-jangan cuma lewat WA? Atau bagaimana sih kok berita itu bisa muncul? Perlu dicari tahu pula apakah media daring yang menyiarkan berita itu memiliki rubrik sastra? Bila punya, apakah selama ini pernah memuat sesuatu-yang-diklaim-sebagai-puisi-esai atau tulisan mengenai itu?

Hal-hal tersebut perlu diperjelas untuk mengetahui apakah berita tersebut memang muncul karena ketertarikan pers pada gagasan dan kontroversi seputar beliau, atau sebaliknya, berita itu merupakan dampak dari salah satu langkah yang ditempuh beliau demi klaim-klaim yang dikeluarkannya dengan cara mengirimkan bahan berita ke sejumlah media massa yang kebetulan tengah butuh berita. Kecenderungannya ke arah yang mana, publik bisa menilainya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: apakah selama ini pernah ada media massa, baik cetak maupun daring, yang memuat sesuatu-yang-diklaim-sebagai-puisi-esai tanpa ada afiliasi dengan beliau? Apakah ada sebuah perlombaan menulis puisi yang membebaskan tema dan bentuk, yang minimal menerima naskah berbentuk sesuatu-yang-diklaim-sebagai-puisi-esai, atau malah sempat memenangkannya tanpa ada afiliasi dengan beliau? Apakah ada penerbit buku yang secara sukarela menerbitkan kumpulan sesuatu-yang-diklaim-sebagai-puisi-esai tanpa ada afiliasi dengan beliau? Apakah ada seseorang yang pernah menulis sesuatu-yang-diklaim-sebagai-puisi-esai tanpa niat mengikuti perlombaan atau proyek penulisan yang digagas beliau? Apakah ada? Jika ada, sudah seberapa banyak? Apakah lebih banyak dari karya teman-teman yang kontra pada cara bagaimana beliau masuk ke dalam dunia sastra?

Seandainya memang selama ini beliau melakukan serangkaian kerja dan mengeluarkan serentetan pernyataan seperti yang sudah disinggung di atas demi diakui pengaruhnya, barangkali kita memang harus mulai mengakuinya. Munculnya kontroversi, petisi, kekecewaan, permusuhan, kekesalan, caci-maki, istighfar, tulisan ini, dan lain-lainnya terkait masalah itu sejatinya karena pengaruh beliau.

Semakin kita mengelak bahwa kita tidak dipengaruhi beliau semakin menegaskan bahwa kita dalam pengaruhnya. Mau tidak mau, jalan terakhirnya, kita tidak bisa mengelak bahwa beliau untuk saat ini—nggak tahu besok malam—memang tokoh paling berpengaruh bagi sastra Indonesia. Tapi, sepertinya bukan pengaruh yang baik. Wallahu a’lam.***

 

Yogyakarta, Ahad Pon 11 Rabiulakhir 1439 H

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *