[Ngibul #5] Alkudus: Usaha Menulis Kitab Suci yang Fiktif

Posted: 6 March 2017 by Asef Saeful Anwar

Kitab Suci

Tulisan ini hanya semacam teaser sebelum novel Alkudus dirilis. Anda bisa berhenti sampai di sini bila tak ingin tahu mengenai novel yang berbentuk “kitab suci” itu.

Alkudus ditulis dengan asumsi dasar: apakah manusia beriman kepada Tuhan setelah membaca—bisa selesai bisa pula hanya beberapa ayat—sebuah kitab yang dianggap suci, atau mereka mempercayai kitab itu suci setelah beriman kepada Tuhan?

Pilihan terakhir adalah yang paling jamak dijalani meskipun dalam prosesnya keberadaan Tuhan—dalam batin manusia—kemudian lebih banyak dilekatkan dan dikekalkan dengan ayat-ayat kitab suci yang didaras dengan jahar. Bahkan, pada aras tertentu kitab suci itu justru dituhankan.

Demi mendukung jatidiri kenabiannya, beberapa orang menggunakan kitab suci dari sejumlah agama dengan tafsir sesuai kehendaknya. Lia Eden membaurkan petuah-petuah agama besar di dunia, Ahmad Musadeq mengoplos ajaran-ajaran agama samawi, dan Sri Hartatik mengetik wahyu—istilah yang digunakannya—yang diturunkan kepadanya lalu menjilidnya dan menyebutnya sebagai Alkitab Na’sum. Tiga orang itu menjadikan kitab suci—khusus untuk Sri Hartatik menggunakan tanda petik—sebagai salah satu media untuk menarik khalayak dalam ajaran mereka. Cara lain ditempuh dengan mengimingkan masa depan yang lebih baik sembari mengecam keadaan masa kini. Dan yang juga penting, mereka menunjukkan sejumlah kesaktian yang disebut sebagai mukjizat, atau minimal mereka menceritakan kisah-kisah ajaib yang pernah dialaminya sebagai proses dipilihnya mereka sebagai nabi. Cara terakhir diamalkan pula oleh sejumlah nabi palsu lainnya yang ada di Indonesia. Jadi, bahasa yang ilahi dan kesaktian di luar nalar adalah daya tarik utama seorang nabi.

Sebelum muncul kasus Sri Hartatik, Alkudus sudah dalam proses penulisan dengan nada bercanda: “apa yang kurang dari para nabi palsu itu adalah mereka tidak punya kitab suci, dan kalimat-kalimat yang mereka katakan sebagai wahyu terasa terlalu manusiawi sehingga sulit diakui kalau itu datang dari yang ilahi.” Sebagian dari kita mungkin masih ingat bagaimana surat Lia Eden kepada Presiden SBY yang alih-alih menggetarkan hati malah menarik bibir kita untuk terbuka.

Berangkat dari itu, saya baca sejumlah kitab suci dan kitab-kitab keimanan lainnya dari sejumlah agama. Saya pelajari juga ajaran para nabi palsu di Indonesia lewat internet maupun buku komunitas mereka. Saya tak hendak membanding-bandingkan ajaran mereka, apalagi mencari yang paling benar. Namun, sekadar ingin tahu bagaimana cara Tuhan berfirman. Dan ternyata masing-masing agama memiliki Tuhan dengan gaya berfirman yang berbeda. Lalu mana yang saya pilih untuk menuturkan kisah dalam Alkudus?

Saya memilih untuk tidak memilih, membiarkan otak dan batin bekerja sama menuntun jemari entah dalam bahasa Tuhan yang mana, yang jelas harus ilahiah, yang jelas “Tuhan” dalam novel itu tengah berfirman. Bagaimana yang ilahiah itu, apakah yang melulu mengancam dengan “janganlah” dan memerintah dengan “ikutilah”, atau yang memberitakan kabar baik dengan “sesungguhnya”? Semuanya saya baurkan tetapi lebih banyak memberitakan kabar baik, dan disusun dalam cerita, bukan poin-poin ajaran yang kebas, sebab sebagian besar ajaran agama dibabarkan melalui kisah. Lalu bagaimana dengan ayat-ayat yang sifatnya hukum agama? Saya sisipkan dalam cerita, setiap cerita melambangkan hukum tertentu: cinta, kasih, keadilan, iman, ketaatan, dan lain-lain. Apakah Alkudus nanti terasa nuansa ilahiahnya? Pembaca nanti yang akan menilai, yang jelas saya mengalami kesulitan yang amat besar ketika menjadikan Tuhan sebagai juru kisah, sebab saya tetaplah manusia, dan pada akhirnya saya harus sadar kalau apa yang saya tulis adalah novel, bukan kitab suci.

Lalu bagaimana dengan cerita-cerita di dalam novel? Ini merupakan kesulitan berikutnya. Bila alur cerita dalam agama samawi dipancangkan dalam karya sastra, ia menjadi monoton dan kaku. Alurnya seperti itu-itu saja. Satu nabi datang untuk mengingatkan kaum kibir. Mereka yang degil kena bala sedangkan mereka yang insaf terselamatkan. Berikutnya keturunan kaum yang sadar itu menjadi ingkar dan didatangkan kembali seorang nabi dengan akhir yang sama. Demikian selanjutnya, berulang-ulang, hanya ada variasi dalam bentuk pelanggaran dan jenis mukjizat sang nabi. Oleh karena itu, saya menyiasati dengan beberapa cara agar pembaca tak bosan. Salah satunya, saya masukkan kejanggalan dari sudut karya sastra ini sebagai bagian cerita, sebagai salah satu bentuk alasan pengingkaran manusia, yang memantik penjelasan tokoh sang nabi mengapa Tuhan menerapkan alur yang demikian.

Meskipun banyak kesulitan, menulis Alkudus juga cukup menghibur ketika beberapa peristiwa dalam keseharian dengan kejadian dalam novel ada kalanya bersinggungan, salah satu contohnya peristiwa berikut. Di suatu sholat Jumat, ketika mendengarkan khotbah dalam bahasa Jawa halus dari seorang guru, saya tertegun dan menemukan sebuah persoalan yang menarik. Kejadian hilangnya barang atau sandal di masjid ketika ditinggal sholat adalah peristiwa yang banyak dialami oleh umat muslim. Pagi itu Alkudus tengah sampai pada bagian akhir yang menceritakan adanya seseorang yang tidak mau beribadat dengan 3 alasan. Sebelum Jumatan baru ada 2 alasan mengapa ia tidak mau beribadat. Lha, karena ingat pada kejadian hilangnya barang saat ditinggal sholat, saya menemukan alasan tokoh itu untuk tidak beribadat dalam sebuah rumusan pertanyaan: “buat apa menyembah Tuhan kalau Ia tidak bisa menjaga terompah hamba-Nya yang tengah beribadat?” Dan Anda tahu apa dampak dari pertanyaan itu? Ketika bubar Jumatan, sandal saya hilang. Tapi dengan hilangnya sandal itu, saya jadi memikirkan jawaban pertanyaan itu dengan lebih baik dan khusyuk, untuk menjadi dasar mengapa “Tuhan” memerintahkan orang bebal tadi untuk beribadat.

Sebagai teaser, ini sudah terlalu panjang, maka saya cukupkan sampai di sini saja, yang jelas di dalam novel ini Anda akan menemukan banyak keajaiban dari tokoh-tokohnya: ada yang mampu mengubah hujan menjadi anggur, ada yang lahir dari pemijahan dalam mimpi, ada yang lahir dari batu yang pecah karena ditetesi keringat dan air mata, dan lain sebagainya. Pesan saya cuma satu: kuatkan iman Anda sebelum membaca novel ini, jangan sampai novel ini yang justru menguatkan keimanan Anda.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

2 Comments

  • Danu Saputra 7 March 2017 at 08:34

    Waini, bukunya bisa dibeli di mana ya?

    Reply
    • Redaksi Kibul.in 13 March 2017 at 07:30

      Segera ada di instagram terdekat di kota anda, Bung.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *