[Ngibul #49] Orang yang Bersyukur, Tidak Membenci

Posted: 22 January 2018 by Olav Iban

Ada sebuah peribahasa lama: orang yang tak bisa marah ialah orang pandir, tetapi orang yang tak mau marah, itulah orang yang arif.

Persoalan marah kerap dikaitkan pada hal-hal psikologis. Jarang persoalan ini disinggungkan dengan hal-hal sosiologis apalagi filosofis. Marah memang muncul dari dalam diri seseorang sebagai gejolak ombak batin. Namun, yang terkadang dilupakan orang adalah sifat sosiologisnya, bahwa lautan teduh di hati kita menjadi dahsyat berombak karena angin badai yang dihembuskan oleh orang lain, dari suatu kondisi di luar diri. Sementara yang paling sering dilupakan orang adalah sifatnya yang filosofis, bahwa emosi marah, benci, atau pun ketidaksukaan berawal dari oposisi biner filsafati: “ada dan tiada”.

Khusus kalimat terakhir di atas, saya belum tahu benar-tidaknya secara saintifik. Namun setidaknya ada dua tokoh filsafat—Schopenhauer dan Erick Hoffer—yang meyakini bahwa, “Kita jarang ingat kepada apa yang kita punyai, akan tetapi kita selalu saja ingat kepada apa yang tidak kita punyai.” Manusia cenderung mengingini apa yang tiada, sambil membiarkan yang telah ada. Kecenderungan ini, bila tidak dipenuhi, akan menjadi bibit kebencian di ladang iri dengki yang disirami air kecemburuan sampai di kemudian hari bertunaslah pohon amarah.

Dalam pengertian yang luas, perang adalah contoh terbaik. Para prajurit garis depan memang bertempur atas alasan abstrak-patriotik; membela bangsa dan negara, melawan penjajah, dsb., namun pada tataran terdalam, sesungguhnya mereka bertempur untuk mencapai cita-cita filsafati yang lebih fundamental dan empirik, yakni terbebas dari perasaan dimusuhi. Suatu keadaan di mana tak ada lagi rasa khawatir, was-was, atau tidak tenang yang selama ini timbul karena kehadiran sang musuh (penjajah, misalnya), dan—sebagaimana esensi dari semua perang di dunia—perasaan dimusuhi itu hanya akan musnah bilamana sang musuh telah ditumpas (ditiadakan).

Maka dimulailah sebuah perang mengusir penjajah, atau dari kacamata penjajah: perang membuyarkan pemberontak. Keduanya sama-sama merupakan upaya peniadaan dari yang ada.

Berkebalikan dengan perang, perdamaian memilih cara lain. Perang dan perdamaian sama-sama terlahir karena konflik, namun alih-alih saling memusnahkan (meniadakan), perdamaian memilih untuk mengurangi hasrat keberadaan (eksistensi) masing-masing pihak sampai terciptalah satu titik netral yang membebaskan kedua pihak dari perasaan dimusuhi—dan oleh karena tak ada lagi objek yang dimusuhi, maka tak ada pula keinginan untuk membenci.

Di ranah yang lebih personal, rasa benci lahir setidaknya karena dua sebab pokok. Pertama, adanya sesuatu di luar kita (individu, kejadian, situasi) yang menyinggung sesuatu di dalam kita. Dan kedua, karena premature judgement dari diri kita sendiri terhadap sesuatu di luar kita.

Sebab pokok pertama rasa-rasanya tak perlu saya jabarkan. Sementara untuk pokok kedua bisalah kita andaikan seperti kala pertama jumpa seseorang yang raut mukanya kemaki atau kemampleng. Seketika muncul rasa memusuhi dari dalam diri kita kepada orang itu, padahal bertukar sapa saja belum. Kurang lebih begitulah premature judgement. Biasanya gejala seperti ini ada di kalangan genk perempuan SMA manakala orang baru masuk ke lingkaran mereka. Apalagi jika orang baru itu berpenampilan lebih menarik daripada mereka. Judgement yang prematur itu seringnya salah, seiring dengan keterbukaan untuk saling mengenal. Kasak-kusuk buruk selalu mendahului kenyataan yang baik.

Kita, sebagai sesama manusia, kerap condong untuk mengerdilkan sesuatu yang baru. Ada kekhawatiran bahwa sesuatu yang baru itu nantinya dapat merusak tatanan yang telah ada. Uniknya, kita juga memiliki keinginan untuk tidak berpuas diri. Selalu lapar. Selalu mau lebih dari yang sekarang.

Kondisi unik ini—yang paradoks namun juga sinambung—tak bisa jauh dari peribahasa “rumput tetangga selalu lebih hijau”. Kehadiran orang lain menjadi sebab munculnya keinginan untuk lebih, sekaligus keinginan untuk membenci apa yang lebih yang dipunyai orang lain itu (dan akhirnya si orang itu turut dibenci pula).

Kehadiran yang liyan dalam persoalan kebencian adalah sebab pokok pertama seperti yang saya sebut di atas. Belakangan ini, media sosial kita dibanjiri ujaran kebencian. Dari awal postingan sampai scroll down paling bawah kolom komentar semuanya hujatan. Kadang diselipi komentar orang-orang iseng yang ingin mengakurkan walau hatinya turut meradang. Dari mana kebencian ini berakar? Dari si pengujar kebencian kah? Dari sesuatu yang dibenci pengujar kebencian itu kah?

Sepertinya kebencian itu menular. Biasanya, kebencian jenis ini bermula dari premature judgement. Stereotipe ras atau agama misalnya. Ras Tionghoa dipandang sebagai representasi keculasan sebagaimana orang Dayak merepresentasikan ketertinggalan. Agama Kristen juga pernah dipandang mewakili kolonialisme hanya karena ia merupakan agama yang dianut Kompeni, sebagaimana pula Agama Islam sempat dipandang mewakili kekerasan hanya karena satu-dua kelompok menghancurkan cagar sejarah di Mesopotamia.

Seperti yang saya sebut tadi, premature judgement acap kali salah. Tapi ini bukan tentang salah atau benarnya. Kebencian yang menular amatlah berbahaya. Ia adalah wabah bagi kehidupan, dan kehidupan yang sakit adalah syarat dimulainya peperangan: suatu upaya memusnahkan yang liyan. Dengan tiadanya yang liyan, maka hilanglah perasaan dimusuhi (dibenci), padahal semuanya itu diawali oleh kebencian itu sendiri. Berputar-putar, ya. Tapi memang begitulah adanya. Kita perlu menyadari dan juga memahami perputaran ini supaya tidak terjebak di pusarannya.

Ilustrasi menarik saya kutipkan dari kisah Dale Carnegie (1964:58-59) berikut ini. Di lereng bukit Long di Colorado, terdapat berserakan sisa-sisa pohon raksasa. Umur pohon itu kira-kira empat ratus tahun. Ia sudah ada ketika Colombus mendarat di San Salvador. Selama umurnya yang lama itu ia pernah disambar petir empat belas kali, dan sudah beberapa kali diterjang angin puyuh dan topan. Pohon itu tetap berdiri tegak. Akan tetapi akhirnya datanglah segerombolan hama kayu yang berhasil merobohkan raksasa itu. Serangga-serangga itu berhasil menembus kulit pohon itu, dan lambat laun membinasakan tenaga raksasanya dengan serangan-serangan kecil tapi bertubi-tubi. Raksasa rimba yang menempuh masa berabad-abad, tak gentar disambar petir, tak mau tunduk dilanda topan, akhirnya roboh oleh hama kayu yang kecil, yang bisa dibinasakan orang dengan sekali memlites-nya.

Bukankah ini bisa dikiaskan pada wabah kebencian pada kehidupan kita? Bukankah kita ini (sebagai bangsa) sedikit banyak adalah raksasa rimba yang telah berjuang dan bertempur? Bukankah kita telah berkali-kali diterjang topan dan samberan gledek kehidupan? Sudikah kita menyerah pada hama kebencian yang bisa kita plites dengan jari kita?

Bagi sebagian orang yang peragu, ia akan balik bertanya, benarkah kebencian bisa diplites begitu saja? Jawabnya, iya. Iya, ketika ia masih tunggal. Akan tetapi jika ia telah menjadi wabah, perlakuannya akan lain.

Bilamanakah kebencian yang tunggal itu menjadi wabah? Biar Shakespeare yang menjawab, Heat not a furnace for your foe so hot / That it do singe yourself (Henry VIII, Act I, Scene I). Jangan memanasi musuhmu sedemikian rupa, sehingga kamu sendiri terbakar karenanya. Dengan tidak membalas kebencian dengan kebencian, kita bisa menghentikan kebencian itu.

Hasrat hidup damai sudah jauh lama ditanam leluhur kita. Banyak kebudayaan di Indonesia memiliki tunjuk ajar yang sedemikian itu. Ambillah contoh di kebudayaan Melayu yang memiliki ungkapan, “Adat hidup orang beradat: kasih tidak memilih kerabat, sayang tidak memilih sahabat, baik tidak memilih umat, elok tidak memilih pangkat, ramah tidak memilih tempat, adilnya sama jauh dan dekat.”

Ajaran tentang hidup berdampingan jauh dari kebencian juga diajarkan lewat pendekatan yang lain. Ambillah contoh kebudayaan Jawa yang mengajarkan sikap “Nrimo ing Pangdum”. Konsep nrimo dalam falsafah Jawa memiliki makna yang sangat dalam dari sekadar kata menerima. Ia lebih dekat dengan gabungan antara kesiapan, keikhlasan, kesanggupan, kesediaan memperoleh sesuatu. Bila sesuatu itu baik akan dijaganya dengan sungguh-sungguh, dan bila yang diperolehnya buruk akan diterimanya dengan kelapangan hati. Ajaran ini seperti upaya mewibawakan hati laksana samudera raya yang takkan hambar dimuarai jutaan sungai, tapi juga tidak manis kendati dihujani madu. Ia mengajari hati untuk selalu bersyukur, teguh apa adanya.

Konsep menerima seperti ini tidak hanya mekar di kebudayaan Jawa. Kebudayaan-kebudayaan yang lebih arkaik seperti India dan Cina memiliki konsep yang serupa. Konsep menerima seperti ini kerap disalahpahami sebagai fatalisme, namun sebenarnya ia jauh berbeda, terutama dari dasar epistemologisnya. Seperti kata Lao Tzu, “Wu-wei!” yang kurang lebih artinya serupa dengan nirkarya (non-action). Ia bukanlah keadaan pasif, tetapi sebuah tindakan untuk “membiarkan ada”. Suatu sikap siap menghadapi realitas. Tetap tenang, hidup dengan apa yang dimiliki. Sikap untuk menerima apa yang tidak dapat diubah, dan berusaha mengubah apa yang dapat diubah—tentu dengan cara yang ksatria dan penuh kehati-hatian.

Masih banyak lagi tunjuk ajar di perbagai kebudayaan—dengan berbagai pendekatan berbeda, yang dapat kita gunakan sebagai penangkal wabah kebencian. Di kebudayaan Bugis ada konsep Ati Mapaccing, Huma Betang di Dayak Ngaju, Tenggang Raso di Minangkabau, Tepo Seliro di Jawa, dan sebagainya. Semua berinti pada sifat altruistik yang memikirkan perasaan orang-orang lain di luar dirinya. Tindakan altruis ini—yang telah lama ada di dalam darah nenek moyang bangsa kita—selalu mengalir dalam nadi orang-orang yang telah selesai dengan dirinya. Orang-orang yang bersyukur dengan apa yang ada, apa yang dipunyainya. Karena orang yang bersyukur, tidak membenci. Ya, to?

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

1 Comment

  • Danu Saputra 22 January 2018 at 23:51

    Schopenhauer dan Erick Hoffer pasti ora tau caturan, nek tau mereka pasti ingat kepada bidak catur yang mereka punyai, ora nggagas bidak yang sudah tidak dipunyai. Ehehehehe… 

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *