[Ngibul #44] Yerusalem: Dari Ratapan Sampai Kebangkitan Orang-orang Mati

Posted: 11 December 2017 by Olav Iban

Fakta bahwa terdapat lebih dari 2.000 situs arkeologis di Yerusalem membuat saya bertanya-tanya, seberapa panjang sejarah sebuah kota. Telah berapa juta jiwa manusia yang pernah hidup dan mati di kota ini. Atau di kota-kota lain seperti Athena Yunani, Aleppo Suriah, Luoyang Tiongkok, Varanasi India, yang lebih tua dari Yerusalem. Seorang kawan arkeolog pernah berkata kepada saya, “Satu gempil saja artefak gerabah bisa mengungkap ribuan kisah. Bayangkan kalau artefak itu berupa sebuah kota utuh!”

Walau terdapat bukti-bukti arkeologis Mata Air Gihon yang menunjukkan adanya pemukiman sejak 4500 SM, namun Yerusalem baru menjadi Yerusalem ketika tahun 1055 SM Raja Daud menaklukan suku Yebus—yang sebelumnya mendiami daerah itu—dan memindahkan ibukota kerajaannya dari Hebron (30 km di selatan Yerusalem) ke Bukit Sion.

Sejarah kota ini sudah sejak pertama dimulai dengan peperangan, pengepungan, dan penaklukan. Sulit ditentukan pihak mana yang lebih berhak. Bagi penganut keyakinan Abrahamik (dengan segala turunannya), invasi ke dataran Yudea dilandasi atas janji Tuhan sendiri yang diimani dengan teguh lewat hijrahnya Abraham dari Ur-Kasdim. Bagi penduduk sebelum era monotheisme, tanah itu adalah tanah di mana mereka dilahirkan, dan penentuan tempat lahir sudah barang tentu urusan Tuhan, alih-alih kehendak si bayi.

Perang yang selalu pasang surut di Yerusalem menjadi perhatian banyak orang. Kekhawatiran yang paling mendalam mungkin dirasakan oleh para arkeolog dan para pemerhati budaya. Apalagi sejak hancurnya Patung Budha Bamiyan di Afganistan, Masjid Nabi Yunus di Niniwe, hingga Patung Singa Assyria di Suriah.

Yerusalem, atau dalam bahasa Ibrani disebut Yerushalayim dan Al-Quds dalam bahasa Arab, memiliki banyak situs berusia ribuan tahun yang akarnya masih sangat kuat menggenggam hati masyarakat modern di abad 21 ini.

Kotel (atau Tembok Al Buraq, Tembok Barat, Tembok Ratapan), misalnya, yang merupakan satu tembok dari empat sisa reruntuhan kecil Bait Suci Allah generasi kedua (Bait Suci Pertama hancur akibat penyerangan Kekaisaran Babilonia), telah dibangun sejak era Kekaisaran Persia menaklukan Babilonia dan menguasai dataran Yudea. Kendati tidak memeluk agama Yahudi, Kaisar Koresh dari Persia menginisiasi pembangunan ulang Bait Suci tersebut dan dilanjutkan oleh putranya Kaisar Darius I pada tahun 516 SM, sampai kemudian dikembangkan lagi secara masif oleh Herodes Agung 400 tahun kemudian.

Namun, sepertinya mendung peperangan tidak bosan datang ke Yerusalem. 50 tahun setelah Herodes menyelesaikannya, Bait Suci generasi kedua itu luluh lantak oleh penyerbuan pasukan Romawi di bawah kepemimpinan Kaisar Titus sebagai reaksi atas pemberontakan rakyat Yahudi terhadap penjajahan Romawi. Monumen Arco di Tito, yang sekarang bisa kita lihat Jalan Sacra di Kota Roma, didedikasikan untuk kemenangan ini. Konon, inkripsi di dinding Colosseum yang menyebut bahwa bebatuan Colosseum dibangun dari hasil jarahan perang 79 M merujuk pada Bait Suci generasi kedua.

Kotel

 

Kotel sendiri hanyalah tembok sisa dari kejayaan dan kelimpungan peradaban Yahudi di Yerusalem. Meski begitu, kekayaan unsur narasi kisahnya melebihi dari semua itu. Tembok ini menjadi sedemikian suci bagi umat Yahudi karena sifatnya yang ironis. Kotel, atau Tembok Ratapan, pada prinsip fungsinya bukanlah tempat paling suci umat Yahudi. Letak tersuci justru berada persis di balik tembok tersebut, yakni Temple Mount (Bukit Bait Suci) bagian darinya yang diyakini dahulu adalah Ruang Maha Suci dari Bait Suci Allah, tempat diletakkan Tabut Perjanjian berisi dua loh batu Musa sebelum hilang setelah peristiwa penyerangan bangsa Babilonia tahun 587 SM.

Ironisnya lagi, di balik tembok itu adalah wilayah Islam kompleks Masjidil Aqsa yang menerapkan larangan masuk bagi seluruh umat non-Muslim selama ratusan tahun lamanya sewaktu masa Kesultanan Utsmaniyah. Apalah daya, selain meratap dan berdoa dari balik tembok batu gamping sepanjang 500 meter.

Yang menarik, pemakaian terma Tembok Ratapan tidak dipakai oleh umat Yahudi, serta tidak datang dari umat Islam. Terma ini berawal dari tradisi lama ketika Kekaisaran Kristen Romawi menguasai Yerusalem (324 – 638 M). Di masa itu seluruh umat Yahudi dilarang memasuki Yerusalem kecuali untuk satu hari saja. Hari itu adalah Tisha B’Av, yakni hari berpuasa nasional bagi umat Yahudi untuk menangisi hancurnya Bait Suci Pertama dan Kedua. Pada hari itu, umat Yahudi meratapi segala kemalangan sejarah mereka.

Papan Pengumuman Temple Mount

Kini, terma Tembok Ratapan sudah jarang digunakan dan cenderung dianggap menghina. Pembatasan Masjidil Aqsa pun juga tak seketat dahulu. Umat Yahudi dan Kristen diperbolehkan masuk pada batas-batas tertentu sebagai wisatawan dan dilarang melakukan aktivitas peribadatan. Kendati demikian, masih ada larangan keras berdasarkan Hukum Halakha atas rujukan Taurat yang melarang umat Yahudi biasa memasuki Temple Mount karena sifat kesakralannya, dan hanya memperbolehkan Imam Besar saja.

Bagi umat Islam, Temple Mount lebih dikenal sebagai Masjidil Aqsa atau Haram Al-Sharif. Wilayah Islam ini adalah yang terluas di Yerusalem. Di dalamnya terdapat Masjid Al Qibli yang pernah dijadikan Istana Templum Solomonis oleh tentara Kristen pada Perang Salib I dan direbut kembali oleh Sultan Saladin pada Perang Salib II. Terdapat pula Kubah Silsilah yang oleh beberapa kalangan diyakini sebagai tempat dimulainya Hari Kiamat, hari ketika semua silsilah akan terputus.

Mungkin bagian terpenting dari Haram Al-Sharif adalah Kubah Al-Sakhrah atau Kubah Batu. Bangunan ini merupakan landmark paling terkenal yang menjadi skyline ikonik Yerusalem modern dengan warna emas bersinar dari atap kubahnya. Beberapa orang non-Muslim kerap salah mengiranya sebagai sebuah masjid. Nyatanya, Kubah Batu dibangun pada masa Khalifah Abdul Malik (selesai 691 M) yang fungsinya untuk menaungi suatu bongkahan batu besar. Batu ini diyakini sebagai pijakan Nabi Muhammad SAW saat melakukan perjalanan menembus langit menuju Sidratul Muntaha dalam peristiwa Isra Mi’raj. Peristiwa ini dipandang sangat penting bagi umat Islam mengingat inilah kala Tuhan memberikan perintah shalat lima waktu. Sementara menurut tradisi Yahudi, batu tersebut diyakini sebagai batu persembahan Abraham ketika ia mempersiapkan Ishak untuk dikorbankan kepada Tuhan. Pusat Kubah Batu inilah yang diyakini umat Yahudi sebagai bagian tengah dari Bait Suci Allah.

Konon, setelah Bait Suci generasi kedua hancur, pemerintah Romawi mendirikan Kuil Jupiter tepat di lokasi Kubah Batu. Ketika Kaisar Konstantin memeluk agama Kristen, daerah ini kurang mendapat perhatian. Di masa Kaisar Julianus (363 M), pernah diadakan upaya pembangunan kembali Bait Suci tersebut. Namun tidak jelas apa yang terjadi sampai membuat pembangunannya berhenti total. Dalam beberapa catatan disebutkan banyak terjadi kecelakaan seperti bola-bola api berjatuhan di lokasi proyek. Diyakini terdapat sabotase dalam proses pengerjaannya. Di satu sisi, ada pula yang mengira hal itu akibat gempa bumi Galilea di tahun yang sama (18-19 Mei 363 M).

bersambung ke halaman berikutnya

Pendapat Anda:

Pages: 1 2

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *