[Ngibul #39] Untuk Mereka yang Menderita di Bawah Pemerintahan Pontius Pilatus

Posted: 6 November 2017 by Olav Iban

Hari ke-14 bulan Nisan.

Akhirnya tiba sudah, disertai gugur daun zaitun dan hembusan kasar angin penggiring pasir berkapur menelusuk mata para gembala. Hari kematian sepupuku, si pencuri ternak. Si pembunuh ternak tepatnya, ia mencuri namun tanpa menikmati hasilnya. Terbunuh sia-sia dia, si domba curian, karena orang banyak telah mulai melempari batu saat sepupuku baru saja bersiap menggarami seiris besar daging di genggamannya.

Seperti kebanyakan tukang batu, sepupuku tinggal di luar tembok kota sisi timur. Ia ditangkap persis di serambi gubuknya, tak jauh dari kandang kosong milikku. Orang-orang mengerumuni dan menyeretnya setengah telanjang untuk diadili.

Hari masih terlalu pagi, matahari belum muncul dari belakang bukit, namun nampaknya tak satupun penduduk kota ini yang beristirahat. Semua terjaga. Semalam ada kerusuhan di Getsemani, taman besar tak terawat di kaki Bukit Zaitun, setengah mil dari sini. Orang-orang berbicara tentang pemberontakan, seperti kerusuhan itu bagian darinya. Banyak pemberontak yang ditangkap di persembunyiannya di Getsemani. Sebagian dari mereka bersembunyi di rumah-rumah penduduk. Ada dua kakak beradik yang minta izin bersembunyi di atap rumahku. Mereka bertahan sebentar sebelum lusinan prajurit Romawi mulai mendobrak pintu-pintu rumah.

Sepupuku yang malang memanfaatkan kejadian malam itu. Ia telah menghilang sejak sore dan kembali menjelang subuh dengan menggendong domba gemuk di pundaknya yang sepertinya sudah mati ditumbuk batu. Itu yang tetangganya katakan padaku pagi ini, di sela-sela kemirisan meratapi sepupuku yang sudah diseret ke jalan. Masih membekas di pasir; campuran peluh dan darah sepupuku yang diseret memanjang dari depan rumah menyusuri sepanjang jalan.

Ketika itu, sehari sebelum Sabat datang di ujung redup bintang terakhir, sepupuku yang malang telah digiring masuk gerbang timur Shushan. Darah masih belum kering di dahinya, belum lagi ludah puluhan orang yang terus menerus membasahi wajahnya. Aku ikuti rombongan bising serapah ini dari kejauhan. Gerbang dengan pilar-pilar masif Ratu Sheba yang menghimpit kerumunan itu seolah enggan membiarkan sepupuku lewat di selangkangannya. Pintu raksasanya mulai membuka sedikit, ukurannya 4500 hasta, bagian selatan sengaja ditutup sementara yang utara terbuka sekenanya. Ada sesuatu yang mengancam dari struktur batu yang besar dan kaku itu yang membuatku menggigil ketika menatapnya. Bab e-Tauba, Pintu Gerbang Pertobatan, begitu kami mengamininya. Tetapi entah kenapa, walau sudah melaluinya tetap saja sepupuku akan dicambuk, dilumuri cuka dan empedu, kemudian dicambuk lagi, tanpa ada kesempatan bertobat.

Mulanya sepupuku akan dibawa ke hadapan imam besar Kayafas, namun sebagian besar orang menolak. Kayafas sedang dibenci akhir-akhir ini akibat persekutuannya dengan Romawi. Oleh karenanya, mereka membawa sepupuku ke rumah Hanas, mantan imam besar sebelum Kayafas. Rumahnya di pinggiran kota atas, tepat sesudah terowongan air dari kolam Ular.

Untuk mencapainya kami harus mengitari Bait Allah sisi selatan, lalu menuruni puluhan anak tangga sampai kota bawah, kemudian menikung naik memasuki gerbang samping rumah Hanas. Tetapi belum sampai kami menikung, Hanas sudah muncul menghampiri rombongan kami dengan tergesa. Ia baru saja pulang dari rumah imam besar Kayafas dan harus segera kembali lagi ke sana ujarnya. Ada kepentingan mendesak untuk menentukan masa depan bangsa ini. Tetapi orang-orang menyorakinya, memintanya untuk menjatuhi hukuman, apapun itu, kepada sepupuku si pencuri.

Hanas bukan orang sembarangan, tubuhnya yang kurus membungkuk ditunggangi usia seolah menunjukan betapa besar pengalaman dan pemahamannya sebagai pemimpin tetua. Dilihatnya sekilas sepupuku yang terkapar lemah di tengah kerumunan, dan dengan bijak ia meminta agar tidak ada satupun yang melukai sepupuku sebelum tuduhan akan dia benar adanya. Sidang terhadapnya akan dilaksanakan lusa, setelah Sabat usai. Tetapi sekali lagi orang-orang menyorakinya, memintanya untuk menjatuhi hukuman, apapun itu. Sekarang.

Maka ia memerintahkan demikian, “Bebaskan ia, sebagai penghormatan akan hari kudus pembebasan bangsa kita! Sebagai ganti apapun yang dicurinya biar aku, imammu, yang menggantikannya bagimu.” Mungkin semua orang di situ, kecuali Hanas, sudah lupa bahwa besok adalah Paskah sekaligus hari pertama perayaan Roti Tak Beragi. Peringatan awal panen dan pembebasan dari Mesir oleh Musa sekutu Allah Ibrahim, Ishaq dan Yakub.

Namun jawab mereka kepadanya, “Apa engkau mau menggantikan cambuk baginya?”

“Kalian telah merajam dan meludahinya, apa lagi yang kalian minta,” tanya Hanas tajam.

“Yang kami harapkan darimu adalah keadilan yang disertakan-Nya di pundakmu.”

“Maka kukatakan lagi kepada kalian, bebaskan pria itu. Ia pastilah orang miskin yang tak mampu membeli roti seperti yang kalian punya. Untuk itulah ia mencuri sedikit dari apa yang kalian miliki. Lagi pula, itu hanya domba. Sudahlah, jadikan ini berkat pengharapan bagi hari persidangan kalian nanti di akhir zaman. Aku akan pergi sekarang. Kuharap kalian mengikuti apa yang aku perintahkan,” demikian tutup Hanas sambil berjalan membelakangi mereka, kemudian berlari kecil tergesa.

Kusaksikan satu persatu kebencian di wajah kerumunan itu. Jumlahnya sekarang semakin banyak akibat daya tarik kehadiran Hanas di tengah-tengah mereka. Kira-kira ada 40 orang. Dan dari raut-rautnya, mereka semua setuju menolak keputusan Hanas. Massa yang penuh ketidakpuasan ini kemudian menyeret kembali sepupuku ke arah Bait Allah di mana ia akan dihadapkan kepada imam-imam Mahkamah Sanhedrin yang sedang berada di sana.

Sekarang aku mulai yakin, sepupuku ini pasti punya banyak musuh. Entah apa karena dia sudah banyak mencuri dahulunya, atau bisa saja ia pernah menggodai istri-istri kerumunan pemarah yang mendengkinya sedemikian rupa hanya karena domba. Di satu sisi kesalahan sepupuku memang pantas. Ia telah melanggar hukum yang sudah ada sejak Musa turun dari Sinai. Ia telah mengingin harta orang lain dengan mencurinya. Itu sama saja mengingini istri tetangganya. Tentu ia pantas dihukum, walau sebenarnya tak perlu sampai diludahi sebegitunya.

Aku begitu jijik melihat kerumunan ini tidak waras. Kubiarkan mereka mereka bergegas pergi dengan pekikan kompak, meraungkan keadilan ilahiah. “Tuhan Maha Besar!” kata mereka tanpa menyadari bahwa laku mereka sendiri saat itu sedang berusaha menjadi lebih besar dari Allah.

Sementara mereka menuju Bait Allah, kuputuskan untuk tidak mengikuti rombongan itu. Dapat kupastikan mereka akan berujung di pengadilan Romawi, karena tidak boleh ada hukuman tanpa keputusan penguasa Romawi sebagai pemerintah penjajah. Maka aku segera menuju ke pengadilan, letaknya tak jauh dari istana Herodes Antipas, sebelah barat jembatan lengkung.

Dari kabar yang aku dengar, para imam di Mahkamah Sanhedrin menolak memberi keputusan karena darah sepupu tak punya hak sebagai Yahudi, biarkan hakim Romawi yang mengadili katanya. Kami orang Edom, berdarah campuran, sama seperti Herodes yang Agung. Harapanku, hakim-hakim Romawi akan sedikit membantu, tapi biasanya mereka bertingkah lebih kejam. Sebut nama, tuduhan, alasan dan kemudian, “Bersalah! 40 cambukan. Potong sehasta dari pangkal lengan kanannya. Denda 12 dirham untuk korban dan empat dinar untuk ganti rugi eksekusi. Silakan keluar.” Bedebah korup. Mencuri satu domba seharga satu dirham dipaksa membayar 16 kali lipatnya.

Memang keluarga kami bukan berdarah murni. Leluhur kami sepertinya jauh dari Ishaq maupun Ismail. Mungkin dari keturunan tetangga terjauh Ibrahim, dari gundik yang paling tidak dihormati. Tapi bagaimanapun kami juga manusia.

Sekali lagi, keluargaku bukan berdarah murni dan tentu saja bukan orang kaya. Menolak denda sama saja dengan mengikhlaskan nyawa pada algojo Romawi. Keluarga terpidana dicari-cari, tapi tidak ada dari kami yang akan mengaku. Terang saja tidak. Satu hal, kami tidak akan, pernah selama sisa umur, memiliki dirham lebih dari dua keping. Lain hal, siapa yang mau membayar empat dinar untuk mengganti biaya mencambuk keluarganya sendiri.

Hukuman ini seharusnya berlangsung cepat, dan menjelang siang sepupuku itu akan sudah berbaring di ranjang kamarku untuk kubalut luka-lukanya. Itu yang seharusnya terjadi seandainya ia tidak berbuat konyol memohon kematiannya. Dia memang terkenal paling tolol di antara saudara-saudaranya.

Ia tahu keluarga kami tak akan sanggup membayar denda. Dan ia lebih tahu lagi bahwa hidupnya akan lebih terpuruk tanpa satu tangan. Tak ada wanita yang mau menikahinya, dan tak ada tuan tanah yang mau mempekerjakan pencuri, bahkan tuan Nikodemus yang baik hati. Ini artinya tak akan ada masa depan bagi sepupuku. Pilihan terbaiknya saat ini adalah mati. Konyol dan tolol, tapi melegakan.

Di depan pengadilan, puluhan penonton yang ribut menyumpahinya. Dengan bibir berdarah sepupuku membuka kesaksian yang aku yakin sengaja dibuat-buatnya untuk melapangkan niat matinya. Katanya, dua hari yang lalu ia membunuh seorang wanita tua penjual garam dalam perjalanan melintasi Emaus menuju Yoppa. Sontak saja seisi ruangan bergemuruh, cacian dan kutuk tak berhenti. Semua orang tahu siapa wanita yang meninggal dua hari lalu, terkapar di jalan berdebu sampai ditemukan seorang Samaria. Pelakunya telah ditangkap hari itu juga, Gesmas namanya, dan ia akan dieksekusi mati tengah hari ini.

Sepupuku berkelit bahwa ia telah membantu Gesmas menghabisi nyawa wanita itu. Niat mereka hanya merampok, tapi wanita itu terlalu angkuh untuk menyerahkan harta bawaannya. Maka dibunuhlah ia, tiga kali pukulan mematikan di tengkuk dengan kayu. Tak hanya itu, besertanya juga dibunuh dua orang anak kecil. Jasad keduanya telah dibuang ke lembah sebelum Emaus.

Begitu kesaksiannya. Tentu saja semuanya tipu belaka karena ia bersamaku dua hari lalu. Hakim-hakim Romawi bukan sekelompok pembenci berpikiran pendek. Tak sederhana bagi mereka menjatuhkan hukuman mati. Lebih murah biaya mencambuk daripada membunuh seorang terpidana.

Persidangan tidak dapat membuktikan apapun kecuali kenyataan bahwa kerumunan mulai membeludak, terpupuk keinginan untuk merajam mati si pencuri sekaligus pembunuh saat itu juga. Maka begitulah persidangan berlalu. Kulihat sekilas raut sepupuku dari sela-sela pundak banyak orang. Seolah ia meredup di tengah-tengah nyala merah massa di lingkarnya.

Seharusnya sepupuku akan diseret ke podium Sang Prefek Negeri Yudea, Yang Terhormat Pontius Pilatus, untuk diputuskan bagaimana seharusnya ia dihukum. Namun kudengar ada kriminal lain yang lebih tenar, lebih bermasalah, dan lebih banyak musuh telah dibawa ke hadapan Pilatus. Maka, sepupuku langsung digiring ke pelataran penyiksaan tanpa surat resmi dari pemerintah. Dengan demikian ia sudah dijatuhi hukuman mati, bukan oleh hakim-hakim Romawi yang korup, tapi oleh mereka yang meludah dengan serapah.

Sepupuku yang sudah benar-benar telanjang diikat bersujud di altar kecil dengan tangan menyilang. Tempat penyiksaan tak lebih berupa lapangan kecil, menyerupai teras ladam. Bagian kasutnya diselimuti pasir untuk menyerap darah siksaan. Tiga perempat keliling lapangan disekati tembok batu tinggi, sisanya terbuka dan menjorok naik, sebagai area penonton. Di situlah aku, sambil bersandar miring di tembok, menyaksikan sepupuku yang malang meraung-raung menyayat hati.

Pencambukan adalah peristiwa brutal. Semua penduduk negeri jajahan Romawi tahu inilah alat penyiksa paling mengerikan yang pernah ada. Hukum rajam secara resmi dilarang oleh penguasa Romawi, mengingat eksekusinya yang tidak terstruktur dan terorganisir rapi, tak sesuai dengan keteraturan ala orang Romawi. Sebagai gantinya, mereka memperkenalkan cambuk.

Cambuk terbuat dari pilinan kulit binatang yang disatukan dengan kayu sebagai gagang. Panjangnya sekitar tiga kaki, terdiri dari empat helai tali pilinan memanjang. Sepanjang talinya diikatkan sejumlah paku, pecahan kaca, logam kecil, potongan tulang dan butiran timah yang runcing. Setelah dicelupkan ke darah kambing, cambuk itu siap digunakan. Setiap bekas cambukan akan meninggalkan setidaknya dua puluh lima luka yang bentuknya bundar dan dalam, lalu secara pararel menyeret keluar dan mengoyak kulit beserta dagingnya. Luka-luka cabikan akan sangat dalam sehingga putihnya tulang iga orang yang dicambuk biasanya dapat terlihat. Itulah pencambukan yang mampu mengubah punggung telanjang menjadi bubur.

Pencambukan jenis ini biasanya selalu mendahului hukuman salib, dari situ aku tahu bahwa sepupuku akan mati hari ini. Sudah banyak orang yang mati setelah dicambuk sedemikian rupa. Ada pula yang menjadi gila kehilangan akal karena rasa sakit yang melebihi kemampuan tubuhnya. Sedikit orang bisa tetap sadar sampai akhir pencambukan. Sedihnya, sepupuku adalah salah sedikit dari jenis yang disebutkan terakhir. Sebagai tukang batu, tubuhnya diselubungi otot-otot keras yang setidaknya mampu menahan akalnya tetap terjaga sampai cambukan terakhir.

Demikianlah hukum cambuk berlalu, dibarengi darah meluber di lantai pasir sekitar tubuh sepupuku ketika rantai pengikatnya dilepas dan tubuhnya terkulai di pasir yang memerah. Algojo berhenti di cambukan ke-39. Cambukan terakhir memang tidak pernah dilaksanakan. Gunanya untuk membiarkan luka terus meradang, memaksa si terhukum tetap bernyawa dengan tersiksa dalam kesadaran menuju kematian.

Setelah disiram cuka dan empedu, setelah teriakan-teriakan kesakitan menyakitkan telinga, setelah punggung sepupuku mulai mati rasa, tempat penyiksaan menjadi bertambah ramai. Jumlahnya mencapai ratusan. Awalnya kupikir hukuman cambuk menarik minat banyak orang. Namun dari apa yang aku dengar dalam bisik-bisik, mereka menuntut sepupuku untuk disalib tengah hari ini bersama Gesmas. Ya Allah, sial sekali nasibnya.

Dari bisik-bisik yang lain, kabarnya ada seorang lagi yang juga disalibkan bersamaan dengan sepupuku dan Gesmas. Ia adalah seorang rabi yang dihukum karena menghujat Tuhan. Ini level dosa yang mengerikan. Hanya orang gila yang berani menistakan Tuhan di kota ini.

Kudengar rabi ini dikasihi banyak orang karena keberpihakannya kepada kaum terbuang, namun sebagian kaum dari kelas yang lebih tinggi menyebut rabi ini berkawan dengan pencuri, penyamun dan pelacur. Entah apalagi alasannya. Jujur saja, aku agak kurang peduli. Yang jelas dalam bisik mereka meminta agar sepupuku turut disalib bersamanya.

Perwira Romawi yang bertugas di situ telah disuap agar meloloskan permintaan mereka untuk menyalib sepupuku. Lagi pula tak ada seorangpun yang menentang, semua sepakat akan penyaliban, termasuk sepupuku sendiri yang tolol. Wajahnya justru tampak bersyukur mengetahui kematiannya segera tiba. Kesengsaraan dunia sudah meniadakan pengharapan untuk terus hidup.

Maka digiringlah sepupuku, yang telah dijubahi karung, keluar dari tempat penyiksaan menuju lokasi penyaliban di bukit tengkorak Golgota, di sisi utara tembok kota. Sebelumnya ia diwajibkan memanggul palang lebar seukuran tiga kali panjang lengan. Penyaliban gaya Romawi demikian adanya. Pertama, tiang pancang dibiarkan tetap di bukit-bukit penyaliban sebagai peringatan bagi yang hidup. Kedua, palang lebar harus dibawa oleh terpidana dengan memanggulnya dari dalam tembok kota menuju tiang pancang. Letaknya kira-kira setengah mil jika dihitung lurus dari gerbang Domba. Namun jalan dibuat berkelok-kelok mengikuti tekstur perbukitan, dan di ujung jalan sengaja dibuat melingkari tiang pancang terlebih dahulu sebelum menanjak naik dari sisi selatannya.

Aku ikut iring-iringan paling depan menuju gerbang Domba yang terbuka lebar. Terlihat dari pandanganku orang-orang mengantri masuk menggiring ternaknya, pertanda pasar ternak di luar gerbang sudah usai. Kutinggalkan sepupuku beberapa langkah jauh di belakang. Dan kini mataku disuguhkan lanskap menyedihkan. Tanahnya miring ke bawah setelah pasar, kemudian makam-makam mewah, lalu kebun anggur luas membentang mengitari kaki gundukan batu-batu kapur yang meninggi, menyilaukan dipantul matahari siang. Pegunungan Moria, inilah tempat di mana Ibrahim mempersembahkan anaknya sebagai tanda kesetiaan manusia terpilih, dan di salah satu bukit kecilnya, sepupuku akan disalibkan sebagai tanda kesengsaraan manusia tidak terpilih. Ironi kaum rendahan.

Aku telah sampai duluan di lokasi penyaliban. Bentuknya seperti gundukan meninggi yang datar di bagian atasnya. Di mana-mana berserakan batu kapur di atas pasir gurun yang kering. Ada tiga tiang pacang di situ. Tiang paling timur sudah ada seorang terpidana disalibkan di atasnya, sepertinya itu Gesmas. Beberapa prajurit Romawi ada di kaki salib, sebagian lagi tersebar di tiap sisi area ini. Di sisi paling jauh di selatan, komandan mereka duduk di kudanya yang tenang menatap ke tembok kota. Dari kejauhan aku bisa melihat panjangnya iring-iringan sepupuku yang sepertinya berbarengan dengan si rabi, si terpidana yang sedang tenar. Tidak mengherankan begitu banyak prajurit Romawi dari arah iring-iringan itu setelah kerusuhan semalam di Getsemani. Menurut salah satu prajurit yang kutanyai, kerusuhan itu ada kaitannya dengan usaha pemberontakan murid rabi ini. Kabarnya, si rabi ini sudah diincar sejak kerusuhan yang pernah dibuatnya di Bait Allah pada Paskah tahun kemarin.

Iring-iringan sudah sampai dan berubah menjadi kerumunan-kerumunan kecil yang mencari tempatnya masing-masing. Palang kayu yang dipanggul sepupuku sudah dibawa ke bawah tiang pancang, sementara ia sendiri segera diikat melintang di palang tadi. Aku mengambil posisi agak jauh, berusaha menghindari kontak mata dengan sepupuku.

Mula-mula tali diikat sangat kencang di kedua pergelangan tangan sepupuku. Itu membuatnya mati rasa. Kemudian di tiap pangkal telapak tangannya ditancapkan dua buah paku seukuran jempol kaki dengan panjang sekitar satu hasta. Aku tidak berani melihat proses ini, namun tangis kesakitannya begitu keras tak mungkin membohongi telingaku. Betapa mengerikan rasa besi tajam menggesek tulang, merobek urat telapang tangan.

Dua prajurit kemudian mengangkat palang kayu tadi sehingga memaksa sepupuku, yang entah masih sadar atau sudah pingsan, untuk berdiri. Dengan bantuan dua tangga yang disandarkan di kedua sisi tiang pancang, palang kayu dan tubuh sepupuku dinaikan sampai ke bagian paling atas tiang pancang yang membentuk ceruk penyangga. Kaki sepupuku disatukan dan diikat, dengan setengah ditekuk disandarkan di atas kayu penyangga di bagian bawah, kurang lebih setinggi pinggul dari permukaan tanah. Sebelum prajurit terakhir turun, di leher sepupuku, ia mengalungkan sebuah papan kecil bertuliskan tindak kriminal apa yang dituduhkan.

Nasib buruk tidak memberi sedikit iba bahkan hingga di ujung masa hidup sepupuku. Mungkin dalam lamunan kematiannya ia mengkhayal bertukar peran dengan domba curiannya, yang mati lebih mudah. Atau hidup lebih mudah, karena hanya perlu mengunyah rumput. Mungkin ia mengkhayal apa yang akan terjadi setelah nafas terakhirnya. Mungkin ia mengkhayal akan ada kekosongan dan kehampaan setelah kematian. Paling tidak, ketika saat itu tiba, ia terbebas dari penyiksaan dunia yang menjemurnya tanpa ampun di kayu salib. Mati kelelahan yang mengenaskan.

Semua mata menyaksikan tiga salib membentang dari timur ke barat. Waktu itu kira-kira sudah lewat dua jam dari tengah hari. Orang-orang masih tersisa di situ, sebagian besar adalah keluarga atau teman dekat para terpidana, si rabi khususnya karena keluarga Gesmas dan sepupuku jelas tak ada yang berani datang. Sebagian lagi pihak imam-imam yang bertugas mengawasi hukuman, dan sisanya prajurit Romawi.

Ketika hari mendekati sore, para imam meminta salah seorang prajurit untuk mematahkan kaki-kaki terpidana agar kematian cepat datang, sehingga para imam bisa segera pulang karena—terhitung sinar terakhir meredup—hari Sabat dimulai, dan mereka harus sudah ada di rumah sebelum itu.

Entah atas dasar apa, semua terpidana dipatahkan kaki-kakinya dengan palu godam kecuali si rabi. Sepertinya seorang ibu, yang kuyakini sebagai ibunda si rabi, memohon untuk tidak mematahkan tulang anaknya. Sebagai ganti, prajurit Romawi hanya menusuk lambung si rabi untuk meyakinkan malaikat kematian agar segera datang menjemput.

Saat kerumunan mulai lengang, kuberanikan untuk lebih mendekat. Pertama kulihat sepupuku, terdiam dan terpejam. Kaki-kakinya yang sudah dipatahkan oleh palu godam berdenyut rancak. Lebam hitam biru tanpa darah. Lebih baik biarkan ia menikmati ketenangan terakhirnya, pikirku sambil berjalan lambat-lambat melaluinya sambil mencoba mengintip kelopak matanya. Tak ada tanda kesadaran. Puji Tuhan, itu lebih baik. Apa yang lebih kejam daripada membiarkan ia sadar melamun tentang kematian, tentang kesengsaraan dan kebosanan batin yang mengerikan menunggu di alam tanpa tubuh. Kuharap sepupuku memimpikan neraka sebagai kebebasan baru, paling tidak lepas dari siksaan manusia.

Aku berhenti di salib kedua, paling tengah, di samping kiri sepupuku. Kira-kira empat kaki dari salib, ibundanya masih setia menunggu nafas terakhir anaknya, bersiap mengubur sebelum gelap. Tak ada satupun orangtua yang pantas mengubur anaknya.

Di atas salibnya, rabi ini mengangkat wajah ke langit yang mulai menebar awan petang. Aroma garam yang dibawa angin pananda badai bercampur dengan bau kencing dan amis darah. Bau mengiba dari tubuh tak berdaya dan dipermalukan. Bunyi nafasnya keras sekali, datang dari suatu tempat jauh di dalam dadanya. Lazim bagi orang-orang yang akan merenggang nyawa. Sesekali ia mengerang pilu menggeser-geser jemari di telapak yang terpaku, seolah mengeluarkan sakit dari tubuhnya. Perut kirinya berlubang mengeluarkan cairan bening bercampur darah. Ia mengerang lagi, kini dengan merunduk. Ada lingkaran duri dari ranting pohon Unab yang diikat dengan semak Baltik di kepalanya sebagai olok-olok atas kejahatannya. Ditatap wajah ibundanya, kemudian sejenak bola matanya bergeser menyisir ke penjuru arah. Mimiknya kecut seperti pengkhianat yang terkhianati. Buruk sekali. Namun yang lebih buruk adalah ketidakberdayaannya, sementara ia disalib tegak di kaki bukit ini dengan kami semua yang menyaksikan.

Aku ingat pernah bertemunya di pasar ikan Kapernaum. Kini wajahnya lebih tua dan kurus. Rahang bawahnya kaku seperti orang menahan muntah. Rautnya penuh goresan umur memberi kesan bijak seolah sesuatu yang kekanak-kanakan telah habis terbakar oleh penderitaannya. Dan ibundanya, tegap berdiri, di barisan depan kerumunan kecil wanita yang terisak-isak. Wanita itu berbeda, ia nampak bersinar-sinar. Ia tenang sekali. Ini luar biasa, seakan sudah lama ia siap untuk pemandangan ini. Seolah ia tahu ini akan terjadi. Mata kami bertemu pandang. Sama sepertiku, ia tidak menangis. Walau ada rembesan air mata berkilau tersiram cahaya, aku yakin itu adalah keteguhan bukan tangisan.

Aku memalingkan muka, memandang mengitar sekelilingnya. Baru kusadari wanita itu memang benar-benar berbeda. Dibanding yang lain, ia mengenakan pakaian indah: jumbai-jumbai gelap dengan sulaman mengkilat di tiap puncanya. Aku tak yakin ia orang kaya. Ada pesan penderitaan dan kemiskinan dari alas kaki yang dikenakannya, atau dari kerak-kerak kulit yang mengeras kasar mengitari telapak kakinya. Aneh memang, tapi kupikir-pikir lagi apakah ada kesempatan yang lebih baik memakai kemewahan itu daripada sekarang ketika ia masih berkumpul dengan anak laki-lakinya. Mungkin wanita itu sedang bertanya dalam hati, mengapa harus rahimnya yang mengandung pria menyedihkan yang disalib di hadapannya. Sayangnya di dunia ini tidak ada jawaban bagi banyak pertanyaan mengapa.

Hampir tiga jam setelah tengah hari. Walau masih terbilang sore, matahari sudah sepenuhnya tidak terlihat, tertutup awan gelap yang sangat besar berbentuk keriting seperti janggut Harun namun menakutkan karena kemasifannya. Awan ini semakin gelap, menghitam tidak tembus cahaya matahari. Wujudnya membentuk spiral seperti cincin dengan rongga besar di tengahnya. Badai akan segera datang. Ini hal yang biasa di daerah yang mengantarai dua lautan dengan lanskap pegunungan yang mencuat tidak menentu di sana-sini.

Tidak ada yang bergeming. Semua mata masih tetap tertuju pada ketiga salib di hadapan kami. Sementara tiga pasang mata, sebaliknya, menatap ke arah kami. Dua pasang tepatnya, karena nyawa Gesmas sudah tercabut sejak dua jam yang lalu. Tidak ada suara selain gemuruh di kejauhan dan serak nafas sepupuku dan si rabu.

Wajah sepupuku semakin mengenaskan. Kuperhatikan lebih lekat, matanya seperti orang mabuk, merah abu-abu. Ia tetap membuka matanya. Aku paham niatnya, ia ingin mati dengan percaya diri. Sebagai manusia yang bebas, bukan manusia yang sengsara. Ia memaksa kesadarannya untuk tetap siaga kapan saja maut menghampiri. Kepalanya menoleh kiri-kanan-kiri-kanan, memaksa agar terus terjaga.

Aku bukan satu-satunya yang mendekat di kaki salib. Ada dua orang lagi, yang satu ibunda si rabi dan satu lagi pria muda gempal dengan janggut pendek. Mungkin dia saudara si rabi. Mulut sepupuku tampak berkomat-kamit melafalkan semua doa yang diingatnya semasa hidup.

Si rabi lebih menyedihkan. Ia berdoa dengan berseru memanggil Elia yang pernah menurunkan hujan badai di langit yang sama seribu tahun lalu. Wajahnya menghitam pahit. Dari jauh ia seperti membentak-bentak langit. Seketika itu tanah tempat aku berdiri bergetar pelan. Ada kilat yang memancar seperti ranting di kejauhan, di balik bayang-bayang Gunung Moria. Mungkin goncangan akibat petir yang terlalu besar menyentuh tanah di daerah sana. Tak ada yang bergeming dari tempatnya masing-masing.

Hujan gerimis mulai datang yang seakan-akan memerintahkan para prajurit Romawi untuk menurunkan, tapi mereka berteguh menunggu sampai dua terpidana ini mati. Sepupuku sepertinya sudah mulai tiba di ujung hayatnya. Ia menangis menunduk menatapku. Aku memberanikan diri datang mendekat. Apalagi yang bisa kuberi untuk mengurangi penderitaannya selain mendengar kata-kata terakhirnya.

“Apa salahku?” begitu kalimat yang keluar dari mulut bengkaknya sambil terisak.

“Aku tidak pernah memilih dilahirkan sebagai manusia paling merana. Bahkan sampai matiku pun merana!” sepupuku mengucapkan itu dalam kemarahan dan kedengkian yang amat sangat, tapi bukan kepadaku walau matanya menusukku.

Salah seorang dari imam yang masih bertahan di sana membalas ucapan sepupuku, ujarnya, “Di sampingmu ialah rabi yang membangkitkan anak muda yang meninggal di Nain, di Yairus, dan juga di Betania. Ia mengaku diri sebagai anak tunggal Tuhan. Kalau benar pertanyaanmu itu untuk Tuhan, dan bila benar rabi itu anak Allah Yang Maha Tinggi, maka salahkanlah dia atas penderitaan hidupmu yang tak pernah adil itu!”

Semua orang otomatis langsung menatap salib paling tengah, menatap ke mulut rabi itu, menunggu apa yang akan dikatakannya.

Suaranya berat, ada gelembung darah di sela-sela giginya ketika ia berucap demikian, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga pria ini akan ada bersama-sama denganku di rumah Bapaku.”

Kematian sudah datang, jasad sudah diturunkan, dan hari sudah semakin siap menuju malam menandakan datangnya Sabat.

Dengan berat hati aku membopong jasad sepupuku. Aku tidak punya kafan untuk membalutnya. Uangku hanya cukup untuk membeli roti, tak sanggup membeli setengah panjang kafan sepupuku. Ia pencuri, jelas bukan orang kaya, dan tentu bukan orang terpandang, tidak ada yang membantunya selama hidup, apalagi setelah mati. Tidak ada yang menawarkan makam kosong untuk segera menguburkan jasadnya agar tak lewat hari Sabat. Tidak ada pula yang repot-repot menangisinya. Ia bukan siapa-siapa bagi siapa saja.

Aku membawanya turun gundukan semampuku. Masih jauh perjalanan menuju tembok kota di hari yang mulai meredup begini. Hujan yang semakin lebat seperti memaksaku untuk meninggalkan begitu saja jasad sepupuku di pinggir jalan. Bayangkan sedihnya, bahkan kuasa alam pun tidak mempedulikan sepupuku ini.

Di depan sana samar-samar kulihat rombongan orang yang membawa jasad rabi tadi ke daerah pemakaman elit di timur laut tak jauh lokasi penyaliban. Aku mencoba berteriak memanggil mereka, tapi tak ada jawaban. Rombongan mereka berpencar, sebagian besar menuju ke pemakaman, sebagian lagi ke arah tembok kota. Aku mengikuti yang kedua, mereka berjalan lebih lambat sehingga ada kemungkinan menyusulnya.

Setelah dekat, kucoba berteriak lagi memanggil mereka. Kali ini mereka menoleh, dan bergegas berputar ke arahku. Mendekat, mengambil posisi membantu, lalu mengusung jasad sepupuku yang malang. Kami berjalan tanpa berbicara. Mereka juga sedang berduka.

Di akhir pemberhentian, setelah kelelahan dan basah kuyup, seorang yang paling gempal dari mereka mendatangiku. Ia menepuk pundakku, membuka pembicaraan sambil menyatakan dukanya. Ia menyebut-nyebut sepupuku turut menggenapkan apa yang sudah dinubuatkan Yesaya delapan ratus tahun yang lalu. Tapi apa peduliku. Aku membayangkan sepupuku berada di istana megah dengan anggur dan daging domba bukan curian, dengan bidadari aduhai, dengan dawai paling merdu, dengan sungai penuh ikan, dengan langit penuh burung, dengan tanah penuh rumput hijau. Tapi itu sudah terlalu jauh. Kenyataannya adalah jasad anak bibiku ada di gendonganku, masih hangat, masih basah, masih berdarah, masih bau kencing ketakutan. Apa peduliku? Berapa lama lagi kemiskinan dan kesengsaraan akan mendesakku di keputusasaan hidup yang sama seperti sepupuku?

 

*Gambar adalah Lukisan Ecce Homo (1871) karya Antonio Ciseri

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *