[Ngibul #37] Bridesmaid, Bridalshower, Babyshower: Praksis Teori Bunglon Couple Zaman Now?

Posted: 23 October 2017 by Bagus Panuntun

“Sejak kapan istilah pagar ayu berubah jadi bridesmaid?.”

Pertanyaan tersebut terlontar begitu saja ketika beberapa hari lalu saya menemukan sebuah undangan cantik di atas meja sepupu saya, dengan warna pink motif bunga daisy dan sebuah kalimat “Will you be my bridesmaid?”.

Sebagai seorang pemuda yang baru saja lulus S1 dan masih memasuki tahap usia-orang-tanya-kerja-dimana, barangkali cukup aneh jika saya mengakui bahwa saya begitu tertarik pada obrolan seputar, ehm, pernikahan. Terlebih jika dipikir lagi, saya bahkan belum genap berumur 23 tahun. Wong dari seluruh redaktur Kibul yang rata-rata sudah berkepala tiga saja, nyatanya baru Andreas Nova yang sudah meminang istri. Kok saya yang ribut menulis tema ini?

Akan tetapi di zaman kiwari seperti sekarang, pertanyaan soal menikah nyatanya tak melulu menghantui pria-pria matang usia. Terlebih jika kamu misalnya mengenal baik seorang gadis keturunan Betawi yang mengapresiasi prinsip hidup “halalkan atau tinggalkan”, mengidolai Payung Teduh sejak menciptakan lagu Akad, dan yang paling pas, hidup di tengah era bisnis wedding organizer tengah begitu menggeliat.

Bisnis wedding organizer tengah begitu menggeliat. Ia menawarkan pada kita paket-paket yang seringkali nampak begitu indah. Foto prewedding dengan latar bangunan-bangunan bersejarah, pesta pernikahan dengan menu makanan dari lima benua, hingga video dokumenter yang pakai drone segala.

Couple zaman now bahkan rela merogoh kocek ratusan juta rupiah demi merayakan hari besarnya. Tentu saja hal tersebut sah-sah saja. Toh banyak orang menganggap pernikahan adalah hari terindah dalam hidupnya. Hari terindah harus dirayakan dengan cara yang maksimal dong? Saya pribadi seandainya punya uang ratusan juta rupiah, saya tak akan eman-eman kok memberikan mas kawin seperangkat gedung perpustakaan dibayar tunai.

Akan tetapi dari sekian prosesi pernikahan yang ditawarkan wedding organizer, saya justru menggelisahkan penggunaan istilah-istilah seperti bridesmaid atau bridalshower yang hits akhir-akhir ini. Kenapa mesti pakai bahasa Enggris?

Saya kira ini merupakan sebuah gejala kebudayaan yang menarik. Adanya bridesmaid dan bridalshower pada pernikahan sepasang pengantin dari Desa Kalipetung, misalnya, tentu tak bisa dipandang sebagai bagian dari prosesi sakral pernikahan saja. Hal ini bahkan bisa dilihat sebagai gejala bahwa banyak couple zaman now begitu terobsesi pada segala hal yang memiliki citra ‘internasional’. Dan tentu saja kita tahu bahwa ‘internasional’ di sini tak akan merujuk pada negara  macam Lesotho, Gabon, atau Tanzania, namun jelas merujuk pada sesuatu yang berasal dari Barat: Eropa atau Amerika.

Kata bridesmaid, misalnya, ia merujuk pada perempuan-perempuan yang menjadi pendamping mempelai wanita di hari pelaksanaan pernikahan. Dalam budaya Jawa, konsep bridesmaid sebetulnya sangat mirip—kalau tidak serupa— dengan apa yang kita kenal sebagai putri domas atau pagar ayu.

Selanjutnya ada pula bridalshower. Apa lagi nih? Ketika pertama kali mendengar istilah tersebut, saya pun mencoba menebak arti harafiahnya. Jika bridal berarti bunga untuk pengantin, dan shower berarti pancuran untuk mandi, maka bridalshower adalah mandi bunga.

“Owalaah, padusan to”, batin saya.

Namun praduga saya ternyata meleset total. Bridalshower nyatanya tak ada hubungannya sama sekali dengan prosesi siraman air apalagi mandi kembang tujuh rupa. Usut punya usut, bridalshower ternyata merujuk pada pesta lajang pengantin perempuan beberapa hari menjelang pernikahan. Pada saat bridalshower, pengantin perempuan akan mengundang teman-teman terdekatnya untuk berkumpul dan saling ngobrol dengan akrab(girls talk). Selanjutnya teman-teman pengantin perempuan akan memberikan kenang-kenangan tertentu sebagai kado pernikahan. Dalam budaya Jawa, sekilas acara ini mirip dengan tradisi midodareni.

Melihat menanjaknya popularitas istilah bridesmaid dan bridalshower –plus tindakan praksisnya— yang menggantikan istilah pagar ayu dan midodareni, mau tak mau saya jadi mengingat teori ‘membunglon’ alias teori mimikri dari seorang pakar teori pascakolonial bernama Homi K. Bhabha. Dalam esainya “Of Mimicry and Man: The Ambivalence of Colonial Discourse” (The Location of Culture, 1994), Bhabha–seperti para teoritikus paskolonial lainnya—membahas tentang kecenderungan masyarakat bekas negeri jajahan (Timur) yang suka meniru identitas tertentu dari negeri yang pernah menjajahnya (Barat). Meskipun demikian, Bhabha tidak sepenuhnya memandang fenomena ini dengan nada pesimistis. Bagi Bhabha, mimikri tak bisa selalu dipandang sebagai pertanda inferioritas orang Timur terhadap orang Barat. Bhabha justru  menyoroti bahwa sebagian besar praksis mimikri yang dilakukan masyarakat bekas jajahan, justru cenderung tidak murni atawa 100 persen meniru cara Barat. Dalam bahasa Bhabha, subjek yang melakukan mimikri ini bersifat “almost same but not quite”, “hampir serupa tapi tak sama”. Lebih jauh lagi, Bhabha bahkan meyakini bahwa tindakan mimikri yang hanya sebagian (metonimis) itu, justru memberi kesempatan pada subjek terjajah untuk menemukan ‘ruang antara’ sebagai tindak resistensi atau perlawanan.

Hal tersebut sekilas dapat kita lihat dari praksis bridesmaid dan bridalshower di Indonesia. Meski jelas memilih kata bridesmaid dibanding pagar ayu, namun couple zaman now nyatanya cenderung memilih model pakaian khas Indonesia sebagai kostum bridesmaid mereka. Alih-alih memilih dress model Barat, kebanyakan bridesmaid masih memakai kebaya bahkan berhijab. Begitu pula dalam hal bridalshower. Meski bagi saya hal ini nampak genit dan tidak penting-penting amat, namun perlu diakui bahwa couple zaman now cenderung melakukan pesta lajang ini dengan hal-hal yang positif. Jangan bayangkan mereka melakukan pesta lajang seperti di tiga seri film The Hangover. Sebagian besar bridalshower Indonesia saya kira masih menghindari laku hidup perempuan Barat seperti minum anggur alias mabu-mabu.

Sampai di sini kemudian muncul pertanyaan, benarkah praksis bridesmaid dan bridalshower di Indonesia merupakan tindak ‘membunglon’ yang bisa dipandang positif atau bahkan semacam tindak resistensi?

Dengan sedikit menyesal, saya mesti meragukan hipotesa awal tersebut. Mengapa? Hal ini saya simpulkan setelah saya mempelajari sejarah dari bridalshower.

Singkatnya begini. Sejarah bridalshower bermula dari sebuah kisah rakyat yang berasal dari Belanda.

Alkisah, pada saat itu hiduplah sepasang calon pengantin berbeda latar belakang. Yang perempuan adalah keturunan bangsawan, sementara yang lelaki hanya seorang anak petani. Meski hanya seorang anak petani, namun sang lelaki sangatlah baik hati dan suka berderma. Hal tersebut membuat sang lelaki tak hanya dicintai calon istrinya, namun juga semua masyarakat desanya.

Malangnya, hubungan mereka tak direstui ayah dari pihak perempuan. Sang ayah justru bersikeras untuk menikahkan anaknya dengan seorang bangsawan yang bertubuh mirip babi. Mengetahui hal tersebut, masyarakat desa pun merasa tak terima. Mereka lalu berinisiatif mengumpulkan sebagian harta mereka sebagai pengganti mahar yang sesuai dengan tuntutan sang ayah. Berkat bantuan dari para warga, akhirnya kedua calon pengantin pun bisa menikah dan hidup bahagia.

Dari kisah rakyat tersebut, kita mengetahui bahwa bridalshower sebenarnya memiliki makna filosofis berupa ‘menyiram’ rezeki untuk pasangan pengantin yang rudin alias kurang mampu. Sementara itu, bridalshower hari ini justru lebih sering dirayakan oleh pasangan-pasangan yang relatif memiliki modal ekonomi berkecukupan. Kan fals jadinya? Maka dari kontradiksi inilah, saya mengira bahwa banyak couple zaman now sebenarnya tak paham-paham amat dengan budaya Barat yang dipilihnya. Pada akhirnya, sulit untuk menyebut bahwa ada tindak resistensi dalam pernikahan tersebut. Sebab, setiap resistensi selalu diawali dengan pemahaman yang kuat dan utuh terhadap (budaya) yang ‘dilawannya’. Sementara praksis bridesmaid-bridalshower zaman now justru dipilih tanpa pemahaman latar historis yang kuat alias copas, copy-paste, saja.

Maka sampai di titik ini, saya justru curiga bahwa praksis pernikahan couple zaman now justru lebih cocok disandingkan dengan teori “black skin, white mask” dari Frantz Fanon. Dalam teorinya tersebut, Fanon juga membahas tentang kecenderungan kita, masyarakat bekas negeri jajahan (black skin), yang merasa bahwa segala sesuatu yang berasal dari Barat (white skin) adalah sesuatu yang lebih superior. Kepercayaan ini bahkan telah tertanam di alam bawah sadar sehingga kita secara suka rela tak hanya meyakininya, namun senantiasa berusaha menyerupainya. Namun untuk melakukan ‘penyerupaan’ tersebut, kita membutuhkan ‘white mask’, sebuah ‘topeng’ yang membuat sebagian dari diri kita dapat menyerupai orang kulit putih. Bridesmaid-bridalshower dalam hal ini saya kira adalah ‘white mask’ tersebut. Sebuah ‘topeng’ yang meskipun berasal dari luar diri kita, namun kita yakini memiliki fungsi untuk membuat kita ‘setara’ dengan ‘mereka’. Perkara perasaan ‘setara’ tersebut berdampak positif atau negatif tentu perlu pemahaman kontekstual yang utuh dan tidak bisa disamaratakan. Tapi poin intinya, jika mimikri atau ‘membunglon’ membutuhkan pemahaman dan teknik kamuflase tingkat tinggi, maka ‘bertopeng’ cenderung lebih praktis karena ia tinggal pasang saja

Benar tidaknya praduga yang penuh suudzon tersebut tentu masih bisa diperdebatkan. Masih banyak faktor yang saya kira sangat berpengaruh membentuk budaya ‘membunglon’ atau ‘bertopeng’ di sekitar kita. Peran media sosial dan upaya pembentukan citra barangkali adalah alasan yang juga masuk akal – selain dampak trauma pascakolonialisme. Tetapi yang jelas, saya mesti segera menutup Ngibul saya yang sudah kelewat panjang ini. Untuk itu saya ingin menyampaikan tiga hal sebagai bentuk pernyataan sikap.

Pertama, tulisan ini tentu tidak bertujuan untuk mengajak seluruh pembaca, wa bil khusus, couple zaman now, untuk menjadi seorang tradisionalis yang kolot dan membosankan. Sebagai manusia yang hidup di negeri beragam identitas, bersikeras menjadi totok Jawa, murni Batak, atau 100 persen pribumi tentu sesuatu yang konyol dan menyebalkan. Tapi yang perlu diingat, jika bersikeras menjadi murni ‘tradisional’ bukanlah sesuatu yang baik, maka menjadi ‘internasional’ tanpa sungguh paham esensinya adalah sesuatu yang sama lucunya.

Kedua, Jacques Derrida berkali-kali meneriakkan, “Dekonstruksi. Hancurkan. Konstruksi sesuai dengan keinginan. Jangan terjebak pada mitos leluhur!”. Saya percaya bahwa setiap orang berhak bertindak kreatif. Maka, berkreasilah. Leburkan batas-batas identitas. Menikahlah dengan caramu sendiri: mengundang seniman lintas bangsa sebagai pengisi hiburan, membuat seratus macam masakan berbahan jamur sebagai menu hidangan, atau mengganti mahar emas dengan seribu ekor onta atau llama. Semua sah-sah saja selama kita paham alasan dan tujuannya.

Ketiga, jika kamu pernah mengadakan bridesmaid dan bridalshower di pesta pernikahanmu, tentu itu juga bukan masalah. Pernikahan selama telah memenuhi hakikatnya untuk menghalalkan pasangan dan mampu menyatukan dua keluarga, toh sisanya adalah hal-hal yang baik. Lagipula kamu tidak merugikan orang lain dan bahkan membuat banyak orang berbahagia. Saya pun turut berbahagia dan akan mendoakan setiap pasangan yang halal untuk menjadi samawa. Bahkan jika itu mantan atau bribikan tersayang saya.

Akan tetapi, plis, jika esok kamu sudah hamil, kamu tak perlu mengunggah foto di instagram dengan sebuah tagar bertuliskan babyshower.

Apa itu babyshower? Babyshower adalah acara merayakan usia kehamilan yang sudah menginjak tujuh bulan.

Ealah, jebul mitoni.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

2 Comments

  • Ariq 23 October 2017 at 14:06

    Bagus bang! Sama, saya juga konsern dengan masalah ini. Terima kasih atas teori2 barunya yang dipaparkan.

    Hanya, mungkin ada yang lebih tepat dr teori bunglon untuk hal ini bang, karena sepertinya mereka tidak latah pada budaya belanda (yang mungkin bahkan mereka tidak tau), tetapi latah pada budaya amerika, yang faktanya kita tidak pernah dijajah olehnya.

    Teori hegemoni mungkin akan lebih cocok. Meski kolonialisme sudah tidak ada, namun superior-inferior masih ada, dan kita menganggap suatu bangsa lebih tinggi dari kita secara sadar, dan itulah hegemoni. Maka posisi kita bukan bekas jahahan amerika, tapi sekarang pun sebenarnya sedang terjajah secara sadar dan sukarela.

    Kenapa saya bilang mereka latah budaya Amrik? Karena saya yakin mereka dapat itu semua dari eksotisme film, atau kehidupan seleb2 hollywood, bukan dari bekas jajahan.

    Pop culture seperti musik, film, dsb memegang peranan penting dalam hal hegemoni ini. Kita akan secara sukarela mengikuti apa yang kita suka. Hal ini juga dicontohkan oleh resistensi K-pop yang sedang menguat. Kita tak pernah dijajah korea, namun sekarang bahasa dan budaya korea sedang digandrungi masyarakat kita, bukan karena bekas dijajah, namun karena pop culturenya.

    Sukses selalu bang! 👊 saya suka org2 yg konsern akan hal ini. Sebagai sarjana sastra inggris, justru saya menjadi org di garda terdepan yang menolak penggunaan bahasa inggris di Indonesia. 😁

    • Bagus Panuntun 23 October 2017 at 16:15

      1. Bridalshower dll memang bukan warisan Belanda, tapi cara pandang bahwa Bridalshower dll (tradisi kebaratan) terasa keren adalah warisan Belanda. Disinilah saya kira pendekatan pascakolonial masuk untuk membahas fenomena ini, sebab teori pascakolonial memang digunakan untuk membahas segala gejala pasca penjajahan. Bukan hanya dlm bentuk warisan fisik, tapi juga warisan cara berpikir.

      2. Kacamata oposisi biner, Timur-Barat (bukan negara terjajah-negara penjajah) memang sering dipakai dlm membahas isu pascakolonial, sebab kita tahu: kolonialisme, entah kolonialisme Belanda, Inggris, Spanyol atau Prancis, sama-sama meninggalkan warisan cara berpikir yang sama, inferioritas Timur terhadap Barat.

      3. Terlepas dari hal itu, saya setuju sekali kalau fenomena ini juga bisa dilihat dengan kacamata teori hegemoni atau bahkan masyarakat konsumeris Jean Baudrillard. Tentu Kibul sangat senang kalau Bung bersedia menuliskannya.

      4. Terima kasih banyak atas saran dan masukannya bung. Salam kenal ya, Bagus Panuntun.

Comments are closed.