[Ngibul #36] Nostalgia Literasi

Posted: 16 October 2017 by Andreas Nova

nostalgia

“Pourquoi nier l’évidence nécessité de la mémoire?”

—Marguerite Duras, Hiroshima Mon Amour

 

Jumat pertama bulan ini, kantor saya mengadakan jamuan makan siang untuk semua karyawan di sebuah hotel yang berlokasi tepat di sebelah selatan Stasiun Tugu. Restoran hotel terdapat di Sky Lounge di lantai teratas. Dari situ lalu lalang, sibuk, dan ramainya stasiun terlihat dari ketinggian. Sesaat kemudian, serangkaian kereta merayap keluar dari stasiun, sembari memandangnya pikiran saya bernostalgia teringat mendiang ayah yang sering mengajak ndelok sepur di Palang (kereta) Srago, Klaten. Ketika sedang asyik memandangi kereta, seorang kolega menyapa dan bercerita bahwa anaknya sangat antusias ketika diajak melihat kereta api. Saya mengangguk menyetujui apa yang ia katakan. Pasalnya anak saya juga memiliki antusiasme yang sama terhadap kereta api—setelah meninggalkan antusiasmenya terhadap eskalator. Lalu ia menceritakan anaknya yang mengkoleksi berbagai macam pernak pernik Thomas, tokoh utama animasi Thomas and Friends. Well, anak saya tidak mengenal Thomas dan kawan-kawannya, ia lebih mengenal trio Wilson, Brewster dan Koko dalam animasi Chuggington—selain menggemari Robocar Poli dan Tayo, the Little Bus.

Anak saya dan anaknya hanya terpaut tiga tahun. Namun ada perbedaan selera di antara keduanya. Anaknya generasi Thomas dan Barney, sedangkan anak saya generasi Wilson, Brewster dan Koko, kwartet Poli, Roy, Amber, Heli dan Tayo beserta kawan-kawannya Rogi, Lani, juga Gani. Jika kita tarik mundur—dan menggunakan kartun/animasi sebagai acuannya—ke generasi adik saya yang lahir menjelang pergantian millenium. Adik saya generasi Naruto, sedangkan saya yang lahir 1987 bisa jadi disebut generasi Doraemon atau Dragon Balls. Saya membayangkan, mungkin lima atau sepuluh tahun lagi, apakah anak saya akan bernostalgia dengan kesukaan masa kecilnya?

Kenangan akan masa kecil tentu saja sangat subyektif. Ada yang suka mengenang masa lalu karena memang masa kecilnya cukup menyenangkan, ada pula yang memang tidak mau mengingat masa kecil karena suatu sebab tertentu yang terjadi di masa kecilnya. Lingkungan sekitar mempengaruhi ingatan dan kenangan masing-masing orang. Namun lingkungan bukan variabel tunggal dalam menentukan hal tersebut. Dalam tulisan ini saya ingin mencoba berbagi kenangan seputaran literasi yang saya alami. Bagi saya akan menjadi nostalgia yang menarik, dan mungkin bagi anda akan memantik kenangan akan buku-buku yang pernah anda baca.

Saya ingat betul waktu SD saya sering menyewa komik di persewaan komik langganan di Klaten. Saya sering bertemu dengan pakdhe saya di tempat itu. Beliau menyewa sebuntel buku karya Kho Ping Hoo, sesekali Api di Bukit Menoreh karya SH Mintardja untuk dibaca di sela waktu luangnya mengajar. Maklum, pada masa itu guru belum dibebani kewajiban untuk mengajar sekian jam per minggu sehingga waktu luangnya cukup banyak digunakan untuk memberi les maupun membaca. Saya sesekali mencoba membaca Kho Ping Hoo, sedangkan untuk Api di Bukit Menoreh, saya sudah jiper duluan karena sudah tertinggal sekian puluh seri. Untuk serial silat, tentu saja saya menggemari Wiro Sableng karya Bastian Tito apa lagi saat itu serial televisinya juga diputar setiap hari Minggu.

Di rumah, mendiang kakek saya menyukai membaca majalah berbahasa jawa seperti Panjebar Semangat, Djoko Lodhang, ataupun Jaya Baya. Sesekali saya mencoba membacanya, sekalian memperdalam Bahasa Jawa. Beliau tidak pernah berlangganan, hanya sesekali membeli jika ada edisi yang menarik kepada Pak Koran—saya memanggilnya demikian dan sampai sekarang tidak tahu nama aslinya—yang mengantarkan majalah Bobo dan sesekali menawarkan tabloid Fantasy setiap pekan.  

Beranjak SMP, saya mulai membaca novel-novel yang tidak terlalu tebal. Trio Detektif, karya-karya S. Mara GD menjadi favorit saya, sembari sesekali membeli majalah Hai!. Komik tetap menjadi kegemaran saya, namun dengan genre yang mulai bergeser. Doraemon (Fujiko F. Fujio), Dragon Balls (Akira Toriyama), Kung Fu Boy (Takeshi Maekawa) mulai saya tinggalkan beralih ke genre remaja seperti Kenji (Ryuchi Matsuda), Samurai X (Nobuhiko Watsuki), Samurai Deeper Kyo (Kamijyo Akimine), atau genre sepakbola seperti Offside (Natsuko Heiuchi) dan seri Shoot! (Tsukasa Ooshima). Kalau mau lucu-lucuan ya baca Kariage Kun (Masashi Ueda) dan Kung Fu Komang (In Seo Park). Karena saya suka genre detektif, tentu saja Detektif Conan (Aoyama Gosho) dan Detektif Kindaichi (Youzaburou Kanari) tidak boleh ketinggalan.

Masa puber ternyata juga mempengaruhi selera saya terhadap buku. Saya mencoba membaca teenlit-teenlit populer pada masa itu semacam Fairish (Esti Kinasih), Dealova (Dyan Nuranindya) juga Confeito (Windhy Puspitadewi). Lumayan buat modal mbribik. Sebagai tambahan modal mbribik pula, saya belajar bermain gitar dan sesekali ikut main basket—walaupun tidak sejago bung Indri. Semua itu gara-gara komik Desperado (Daiji Matsumoto) dan Harlem Beat (Yuriko Nishiyama). Tidak lupa komik “wajib” remaja puber saat itu, Golden Boy (Egawa Tatsuya)!

Awal kuliah adalah masa peralihan dari bacaan literatur populer ke literatur serius. Pada intinya saya suka membaca, apa saja saya lahap. Kalau memang suka dan berkenan di hati ya saya selesaikan, kalau misalkan tidak sesuai selera tentu tidak saya paksakan. Kecuali memang tugas kuliah dan diwajibkan membaca.

Nostalgia akan komik dan buku-buku bacaan memang menyenangkan. Sayangnya, karena sebagian besar saya hanya menyewa di persewaan, maka saat ini saya kesulitan jika ingin bernostalgia dengan membaca buku atau komiknya lagi. Sebagian besar komik yang saya tulis di atas sudah tidak di cetak ulang. Sekalipun ada pasti harganya gila, apalagi buku preloved kini terkadang lebih mahal dari buku baru. Untungnya, sebagian komik populer bisa didapatkan secara (rasanya) ilegal dari situs web scanlation. Namun tetap saja rasanya berbeda.

Nostalgia pastilah melibatkan emosi dan proses pikir. Saat bernostalgia, ia membutuhkan proses kognitif dalam mengingat, dan secara bersamaan melibatkan perasaannya. Nostalgia dapat membawa perasaan manis sekaligus pahit. Manis, karena Anda teringat kejadian yang menyenangkan bagi anda, namun juga pahit karena anda tidak lagi mengalaminya. Jadi, apakah dengan bernostalgia kita akan terjebak dalam masa lalu? Apakah dengan nostalgia kita menafikan masa kini—mungkin juga masa depan?

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *