[Ngibul #35] Membedakan Kesan dengan Kritik *

Posted: 9 October 2017 by Asef Saeful Anwar

kritik

Can you read a text without wondering what reading is?

(Bourdieu, In Other Words).

 

“Kamu memandang sastra seperti agama. Padahal, sastra itu kibul. Sastra cuma bualan.” Aku tak berani memalingkan muka ke arahnya. Hanya mampu kutatap ombak sembari kulempari laut dengan kerikil.

“Apakah ada yang lebih baik mengajarkan kebenaran selain dengan kebohongan?” Meskipun tak melihat wajahnya saat itu, aku tahu dia memandang ke arahku dengan tatapan menuntut.

“Pertanyaanmu tidak butuh jawaban,” ucapku sembari memandangnya dan menaikkan pundakku.

“Kau tahu Teeuw?” ini akan menjadi membosankan. Setiap kali ia menyebut nama seseorang pastilah akan membahas masalah yang harusnya tak ia keluarkan di tempat seindah ini; pantai pasir putih. Dan kali ini Teeuw.

“Dalam salah satu bukunya,” ya benar kan ia mulai berceramah, “Teeuw mengatakan bahwa sastra adalah salah satu jalan menuju kebenaran selain ilmu pengetahuan, agama, dan filsafat.”

“Tapi aku masih menganggap sastra sebagai noda di dunia ini,” sanggahku tanpa pikir panjang agar ia tak omong panjang.

“Bukankah noda justru membuat indah?”

“Ya jika noda itu teratur letaknya,”

“Ya itulah sastra.”

“Tapi ia tak mengajarkan kebenaran,”

“Bagimu, dan bagimu hanya agama yang mengajarkan jalan menuju kebenaran. Bagaimana mungkin kamu akan menerima dalil-dalil tentang sastra jika bersikukuh memandangnya selalu dalam koridor agama? Kamu tahu Taufik?” ah, mulai lagi ia menyebut nama seseorang, pastilah ini dokter hewan yang pandangannya selalu berbeda dengan kawanku ini, “Dia banyak menilai sastra dalam sudut pandang agama. Ia bahas Langit Makin Mendung dengan agama, karyaku juga, dan dulu, Saman dan Jangan Main-main Dengan Kelaminku dia kaitkan juga dengan agama,”

Seseorang datang mendekati kami. Rachmat rupanya, kawan kami yang botak kepala depannya tapi lebat kumis dan jenggotnya hingga banyak yang meyakini ia memang seorang empu sastra.

“Kalian harus baca ini! Ini masterpiece-ku.”

“Ah Rachmat… Apa kabar?” kata Hud, temanku.

“Masih ngutak-ngatik sastra? Tumben tidak bawa kresek?” tanyaku.

“Saya bawa kresek kalau di kampus saja.” ia agak dongkol.

“Bukumu bicara tentang apa?”

“Sebuah ajaran bahwa kalian sering hanya menilai karya sastra secara impressionistik.”

“Begitukah?”

“Bisa tahu judulnya?”

Prinsip-Prinsip Kritik Sastra.”

Ah! Aku dan Hud saling pandang.

 

***

Seorang penulis mengejawantahkan pikirannya ke dalam kata-kata. Melalui kata-kata itulah pikirannya ditawarkan kepada pembaca. Dengan berbekal pengetahuan serta perbendaharaan khazanah yang dimilikinya, seorang pembaca yang mulanya penikmat akan menjelma penilai. Sebagai seorang penilai, ia memanfaatkan horison harapan yang ada dalam benaknya juga pandangan dunianya untuk memahami dan menilai teks yang tengah dibacanya.

Cerita fiktif pembuka tulisan ini hanyalah abstraksi bagaimana sastra dinilai oleh masing-masing individu. Tokoh Hud mungkin akan menilai karya-karya berbau seksualitas sebagai karya yang asyik dengan dirinya sendiri hingga mengetepikan persoalan kerakyatan, tokoh Taufik akan menabukan dan melarang karya-karya semacam itu dengan pertimbangan mengundang syahwat dan berahi. Dan tokoh Rachmat kemungkinan besar tidak akan menyetujui pendapat tokoh Taufik dan Hud di atas. Menurut Rachmat, kritik secara imperessionistik hanya kesan sekilas yang tak mendalam dan kurang mendasar (bagaimana akan mendalam jika mendasar saja tidak!). Lebih jelas ia berpegang teguh pada pendapat T.S. Eliot bahwa kritik impressionistik hanya penceritaan kembali apa yang dibaca dan memberi sedikit tafsiran. Itu pun dengan kesan-kesan personal.

Penilaian mereka pasti didasarkan pada latar pengetahuan yang berbeda. Tokoh Hud penganut paham seni untuk seni menganggap sastra—salah satu bagian dari seni—merupakan alat yang paling mumpuni untuk mencapai kesejahteraan manusia. Kesejahteraan manusia ini pun berbeda dengan apa yang diyakini Taufik. Kesejahteraan versi Hud adalah saat manusia sudah tidak memandang kelas pemisah dan hidup berasaskan sistem sosialis, sedangkan Taufik memandang manusia sejahtera jika ia dekat dengan Tuhan. Dengan pertimbangan kepada Tuhan ini pula maka Taufik mengharapkan hanya sastra yang memiliki keindahan saja yang boleh hadir karena Tuhan menyukai keindahan, tetapi ia sendiri mengukur keindahan sastra berdasarkan rasa manusia dan bukan rasa Tuhan (atau jangan-jangan ia sudah menyatu dengan Tuhan?!). Untuk permasalahan itu, Rachmat menawarkan sebuah kritik yang ia namakan kritik objektif yang mendekati karya sastra sebagai sesuatu yang bebas dari pengarang, audience, dan dunia yang mengelilinginya.

Namun, solusi yang diberikan Rachmat hanya membatasi ruang lingkup sastra. Rachmat memenjarakan karya sastra, padahal kehadiran pengarang, audience, dan lingkungan tempat karya sastra itu lahir adalah faktor penting penilaian karya sastra. Bagaimana jika Saman lahir tahun 1920-an? Tidak mungkin. Bagaimana jika Sitti Nurbaya lahir 2000-an? Tidak hebat.

Karya sastra awalnya benih yang dikandung lingkungan sosial sebelum lahir melalui rahim penulis dan diasuh pembaca. Karya-karya sastra yang mengandung (diksi ini pasti digunakan Hud) atau mengumbar (digunakan Taufik) seksualitas bukan lahir tanpa sebab. Misalnya, tentang karya sastra para penulis perempuan pasca-Saman tidak bisa dilepaskan dengan sejarah feminisme. Gerakan feminis yang mulai populer di Amerika pada awal 1970-an merupakan salah satu sebab. Latar belakang gerakan ini dimulai ketika pemerintah Amerika mengobarkan perang Vietnam pada awal 1960-an. Perang itu mengakibatkan terjadinya  gejolak sosial di negara itu. Generasi muda yang tidak puas dengan pemerintah melakukan perlawanan. Keterbukaan seks menjadi tema perlawanan mereka. Rasa takut akan mati dan kekhawatiran akan perang mereka lawan lewat semboyan mereka “Make love, not war!”. Gelombang pergerakan feminis menjadi semakin besar bersamaan dengan kebebasan berkelamin dan kebebasan mengekspresikannya. Saat itu muncul istilah “This is my body. I’ll do whatever I like with my body” yang seolah menjadi sebuah pernyataan sikap dalam melakukan hal apa pun.

Gelombang ini sampai di Indonesia pada tahun 1998. Dimulai dengan novel Ayu Utami dan dilanjutkan oleh cerpen-cerpen Djenar Maesa Ayu, gerakan feminis jenis ini kemudian menjadi populer pada awal 2000-an ditandai dengan bertambahnya penulis-penulis yang mulai mengeksplorasi tubuh tokohnya. Selain sebab itu, lingkungan pembaca tempat karya sastra itu lahir juga ikut memiliki andil. Masyarakat yang sudah mulai terbuka dan menolak sejumlah tabu menerima karya-karya tersebut sebagai sebuah bacaan yang menawarkan inovasi di bidang penulisan.

Itu hanya salah satu contoh bagaimana konteks dibutuhkan untuk menilai teks secara utuh dan menyeluruh. Dengan demikian, karya sastra tidak dapat dinilai secara objektif tanpa mempertimbangkan pengarang, pembaca, dan lingkungan tempat dan waktu sastra itu terbit. Apa yang dikhawatirkan dan patut dicegat adalah penilaian yang berbau politis. Lebih-lebih bila penilaian terhadap karya sastra itu dilakukan atas sejumlah tulisan yang membahasnya tanpa membaca langsung karya yang dimaksud. Di sinilah mungkin apa yang dimaksud Rachmat sebagai pembacaan pertama yang tanpa kaitan dengan pengarang, lingkungan sastra, dan pembaca sendiri, perlu dilakukan. Dan pembacaan itu harus disempurnakan dengan mempertimbangkan ketiga unsur tersebut sebagai modal menuju penilaian yang utuh dan menyeluruh. Membaca teks tanpa memahami konteks jutru lebih tendens untuk jatuh pada kesan semata.

Pertanyaan dari Bourdieu yang membuka tulisan ini barangkali dapat dijadikan analogi dengan mengganti “membaca” dengan “mengkritik: apakah kita bisa mengkritik bila kita tidak tahu apa artinya mengkritik? Yang akan bersambut pada pertanyaan-pertanyaan lain: Apakah menilai karya sastra dari sudut pandang agama itu kritik? Apakah kritik sastra berbeda dengan kritik sosial? Apakah kritik sastra harus sesuai dengan teori sastra? Apakah sastra yang mengkritik kehidupan sosial itu yang justru disebut kritik sastra? Jangan-jangan apa yang kita yakini sebagai kritik sastra itu hanya kesan biasa, yang siapa pun bisa melakukannya asal telah membaca karya sastra? Dan seterusnya, dan lain-lain.

Demikian. Saya tidak tahu apakah seseorang yang tengah asyik mendaku dirinya sebagai kritikus sastra nan agung dan buku hasil kritiknya itu dibagikan ke banyak orang telah melakukan cara kerja kritik sastra yang objektif, atau hanyut dalam kesan subjektif yang cuma memuji-muji pengarang buku yang seharusnya ia kritik.***

 

*Tulisan ini adalah pemantik untuk acara “Mari Menulis Kritik Sastra” yang akan dihelat oleh Balai Bahasa Yogyakarta, 17 Oktober 2017.

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

1 Comment

  • Ganjil Priyatman 10 October 2017 at 20:44

    Dengan demikian, karya sastra tidak dapat dinilai secara objektif tanpa mempertimbangkan pengarang, pembaca, dan lingkungan tempat dan waktu sastra itu terbit. Apa yang dikhawatirkan dan patut dicegat adalah penilaian yang berbau politis. Lebih-lebih bila penilaian terhadap karya sastra itu dilakukan atas sejumlah tulisan yang membahasnya tanpa membaca langsung karya yang dimaksud. Di sinilah mungkin apa yang dimaksud Rachmat sebagai pembacaan pertama yang tanpa kaitan dengan pengarang, 

    Membaca kalimat ini mengingatkan saya pada tokoh hermeunetika modern yaitu schleiermacher. Beliau memiliki pendapat bahwa dalam menafsir sebuah teks, baiknya juga mempertimbangkan kondisi yang mempengaruhi psikologi penulis ketika membuat teks tersebut (budaya dan sosial politik). Terlebih jika teks tersebut adalah teks-teks yang dianggap suci seperti Kitab suci, tentu harus ada upaya “empati” dan “kontekstualisasi” terkait ruang waktu, ketika teks itu ditulis dan ketika teks it dibaca.

    Nice 🙂

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *