[Ngibul #3] Di dalam Tubuh Yang Sehat Terdapat Jiwa Yang Nyastro

Posted: 20 February 2017 by Fitriawan Nur Indrianto

Konon menurut sebuah game strategi yang memasukkan unsur mitologi dan legenda Zeus: Master of Olympus, sebuah negara bisa menjadi besar, makmur dan disegani apabila warganya dipenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Selain kebutuhan material, kebutuhan lain yang menunjang kemajuan itu adalah kebutuhan akan ilmu pengetahuan, seni dan sastra, serta olahraga. Di dalam game itu, ilmu pengetahuan diwakili oleh bangunan College dan Podium yang menghasilkan seorang filsuf. Kesenian diwakili oleh Drama school dan Theater yang menghasilkan dramawan, sementara olahraga diwakili oleh Gymnasium dan Stadium yang menghasilkan atlet. Jika kebutuhan akan ketiga hal itu terpenuhi warganya menjadi bahagia namun jika tidak, mereka akan ngambeg.

Kalau kita melihat sejarah, Yunani yang dulunya berisi negara-negara kota seperti Athena, Sparta, Olympia, dan sebagainya memang merupakan salah satu cikal bakal kebesaran peradaban Eropa. Negara-negara kota itupun terkenal menghasilkan para filsuf besar seperti Socrates, Plato, Aristoteles dan lain-lain. Sementara itu, kita juga tahu bahwa Olympia merupakan negara kota yang sejak awal sudah menggelar kegiatan olahraga. Nama ajang perlombaan olahraga internasional “Olimpiade” konon juga diambil dari nama negara kota tersebut.

Beberapa negara besar di dunia juga tidak terlepas dari ketiga unsur tersebut. Negara Inggris misalnya, memiliki universitas-universitas ternama di dunia. Inggris juga melahirkan banyak generasi sastrawan besar, sebut saja William Shakespeare, Charles Dickens dan George Orwell. Di sisi olahraga, Inggris memiliki Liga sepakbola yang paling populer di dunia, dengan klub-klub besar seperti Manchester United, Liverpool, Arsenal dan lain-lain,  pernah melahirkan nama-nama besar seperti Alan Shearer, David Beckham, atau Michael Owen. Negara Paman Sam, Amerika Serikat juga memiliki universitas-universitas besar, memiliki sastrawan-sastrawan hebat dan juga populer dengan olahraga basketnya melalui kompetisi NBA.

Memang, saya belum memiliki informasi yang akurat apakah seorang filsuf misalnya memiliki hobi berolahraga. Belum juga saya teliti lebih lanjut apakah  Plato pada masanya senang berolahraga atau tidak. Tapi saya menduga, Plato yang juga seorang pecinta sastra itu sewaktu kecil  sempat bermain sepak tekong, gobak sodor atau sepakbola (ala Yunani kuno). Kalau Shakespeare tentu sebagai seorang dramawan minimal jogging bersama kawan-kawannya sebagai pemanasan sebelum berlatih drama. Konon, Shakespeare juga senang bermain tenis. Kalau benar apa yang dikatakan oleh sahabat saya Ramayda Akmal bahwa di Eropa orang lebih senang membaca daripada ngobrol, maka saya bisa berasumsi bahwa pemain bola seperti David Beckham atau yang lain minimal juga membaca dan kemungkinan memiliki hobi yang tak diungkap seperti menulis puisi atau cerpen.

Kita tentu ingat pepatah mensana in corpore sano bahwa di dalam tubuh yang sehat terdapat pikiran yang sehat. Seringkali kita menduga bahwa para pemikir dan sastrawan lebih sering menghabiskan waktu di kamar dengan pola hidup yang tidak sehat. Tetapi dugaan itu bisa ditepis. Di Indonesia sendiri, saya ingat betul ketika membaca buku Aku karya Sjuman Djaja, bahwa penyair besar kita Chairil Anwar menyukai permainan bulu tangkis. Dalam buku itu, muncul adegan dimana Chairil Anwar merupakan pemuda yang gigih ketika memegang raket, tidak mau mengalah ketika sedang bertanding. Kalau anda sering ikut Maiyah yang dipimpin oleh Cak Nun, anda akan sering mendengar bahwa Cak Nun sejak muda selalu menghabiskan waktu berjalan, pernah juga melakukan perjalanan sunyi mengikuti gurunya Umbu Landu Paranggi.

Beberapa kawan penulis di Yogyakarta saya amati juga memiliki hobi berolahraga. Sebut saja Mario Lawi, penyair muda itu ternyata jago bermain futsal. Cerpenis Risda Nur Widia hobi bermain skateboard, penyair Indrian Koto, esais Tia Setiadi dan cerpenis Reddy Suzazyt ternyata jago olahraga beladiri Taichi. Beberapa saat yang lalu, saya pun tergabung tanpa sengaja dengan komunitas penulis muda di Yogyakarta dan sepakat untuk setiap seminggu sekali bermain futsal bersama. Beberapa nama penulis muda seperti Eko Triono, Muhammad Qadhafi, Irwan Apriansyah, dan lain-lain tergabung dalam komunitas tersebut. Saya sendiri bukan filsuf, bukan sastrawan maupun olahragawan tetapi alhamdulillah belajar dari tiga hal tersebut, berpikir, bersastra dan berolahraga. Bahkan saya sering tidak bisa menulis puisi kalau badan saya pegal-pegal. Biasanya sebelum menulis puisi atau mengerjakan penelitian ilmiah, saya menyempatkan waktu untuk melakoni olahraga favorit saya yakni bermain basket.

Di zaman yang bergerak sangat cepat dan manusia dituntut untuk lebih produktif, seringkali ruang-ruang untuk berpikir, berkreasi dan berkeringat tanpa disadari telah terbatasi. Misalkan saja pelajar dan mahasiswa sekarang sudah disibukkan dengan berbagai tuntutan akademik seperti lulus cepat dan sebagainya. Kondisi demikian menuntut mereka untuk menfokuskan diri pada satu hal, kehilangan waktu-waktu untuk mengikuti kelas drama, kelas menulis atau ikut UKM olahraga. Hal yang sama juga dialami oleh para olahragawan. Jadwal latihan yang begitu padat sering membuat mereka harus meninggalkan bangku sekolah atau perkuliahan. Tetapi pendidikan kita sebenarnya memberikan dorongan bagi para pelajar maupun atlet untuk senantiasa bisa berprestasi di bidang masing-masing tetapi tetap memiliki ruang untuk meluangkan  waktunya menyalurkan bakat lain. Dikutip dari salah satu situs online, Direktorat Jenderal Dikti Prof. Intan Ahmad mengatakan bahwa:

“Kalau tidak mempunyai pendidikan yang baik, jika masa selesai sebagai olahragawan, maka ia akan susah dapat pekerjaan yang baik. Tapi kalau ia punya pendidikan yang bagus dan menjadi seorang olahragawan, maka seseorang itu punya nilai tambah.”

Perkembangan dewasa ini juga menunjukkan bahwa ruang-ruang untuk melakukan kegiatan fisik sudah banyak berkurang. Di kampung saya dulu terdapat lapangan badminton, bola voli, sepakbola dan ruang-ruang terbuka untuk berolahraga dan bermain namun sekarang nyaris tidak ada. Saya juga melihat banyak anak kecil yang lebih sibuk ngegame di ponsel mereka. Sebenarnya, karena saya juga seorang pecinta game, hal itu sah-sah saja. Hanya, seringkali anak-anak (khususnya di kampung saya) salah dalam memilih game. Mereka cenderung memilih game yang kurang mendidik. Dan yang paling miris, mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di sana, ketimbang melakukan aktivitas yang lain. Kalau saya mengingat masa kecil, adalah kegemaran setiap sore menendang bola, nyaris kegiatan-kegiatan tersebut sekarang hanya diikuti oleh sekelompok anak kecil yang umumnya tergabung dalam sekolah sepakbola. Fenomena ini tentunya agak mengkhawatirkan. Generasi muda kita harus mulai sadar tentang pentingnya olahraga. Tentu, olahraga bukan merupakan satu-satunya elemen. Seperti apa yang dicontohkan oleh game Zeus: Master of Olympus, minimal ada tiga unsur penting yang harus ada yakni ilmu pengetahuan, seni dan sastra sekaligus olahraga.

Sebenarnya, para pemimpin negara kita sudah memberikan contoh yang bagus. Baru-baru ini misalnya, Presiden Jokowi menyempatkan diri bermain futsal bersama Menpora dan pejabat-pejabat pemerintah yang lain, bertanding melawan para wartawan istana. Selain itu, Jokowi juga ternyata menyukai kegiatan sastra, ia membeli salah satu serial Supernova: Intelegensi Embun Pagi karya Dewi Lestari dan Asal Usul Kota-kota di Indonesia Tempo Doeloe karya Zainuddin HM dalam kunjungannya ke Ambon. Nah, sekarang apakah anda mau jadi orang hebat, menjadi presiden seperti Jokowi? Kalau mau, saran saya gemarilah ketiga kegiatan tersebut. Kalaupun anda tidak menjadi filsuf, sastrawan maupun atlet dijamin anda tetap akan mendapat manfaat, minimal jadi orang cerdas dan sehat. Selain itu, dengan kegiatan-kegiatan tersebut anda juga dapat memiliki banyak relasi dan informasi, mungkin juga bisa ketemu jodoh.

Dalam beberapa hal, saya juga agak miris melihat beberapa akun instagram. Banyak teman yang lebih sering mengunggah foto wajah dan menu makan malam dibandingkan mengunggah hasil tulisannya (ya ngunggah tulisan di media massa atau kibul.in lah masa di instagram). Saya takut, kecenderungan itu membawa kita ke dalam banyak persoalan. Menurut beberapa informasi, Identitas seseorang akan terlihat dari tingkat konsumsinya atau apa yang ada di kepalanya . Tingkat konsumsi paling rendah adalah jika yang anda pikirkan hanya makan. Kemudian merangkak hanya urusan pakaian. Tetapi kalau sudah beranjak pada tingkat konsumsi buku, maka anda sudah bisa dikatakan “keren”. Sebab seperti kata sahabat Olav Iban: Manusia lebih membutuhkan cerita daripada sesuap nasi. Namun itu belum cukup, mustinya ditambah kasti dan sepak takraw.

Saya yakin betul, seperti apa yang dicontohkan oleh game Zeus: Master of Olympus, bahwa negara akan menjadi maju jika warganya setidaknya terpenuhi dan sadar akan ketiga kebutuhan tersebut. Dengan sehat jasmani dan rohani, setiap individu akan  memiliki pribadi yang baik. Mereka akan terhindarkan dari hal-hal yang negatif. Jadi, kalau kamu termasuk orang yang sibuk, maka di sela-sela liburmu, luangkanlah waktu untuk membaca, menulis dan berolahraga. Sementara bagi kamu yang memang selo, tidak ada alasan untuk tidak melakukan ketiga hal tersebut, demi kemajuan dirimu dan bangsamu. Percayalah kalau kamu rajin membaca, menulis novel dan rajin berolahraga, penggemar akan banyak. Berani jamin.

 

*Foto adalah screenshot dari film Shaolin Soccer (2001)

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *