[Ngibul #29] Kepada Sahabatku Oei

Posted: 28 August 2017 by Olav Iban

 

Kepada sahabatku Oei Soerjaningrat,

Attende, Oei, quid fuisti ante ortum et quod eris usque ad occasum.

Legi keempatbelas setelah mahapralaya di timur tanah Jawa, kami pulang dari Demak menuju selatan. Kuda-kuda kelelahan setelah dihela paksa mengejar matahari yang terdesak tenggelam. Kami harus segera sampai sebelum malam. Tak ada satu pun dari kami membuka mulut di pemberhentian dekat pesanggrahan Garijawati. Semua membisu, dengan telinga meruncing dan mata terpicing ke segala arah. Jaga-jaga kalau silap tidak waspada. Abu masih turun tipis dari langit. Perlu kau ketahui, Oei, yang bersamaku adalah tujuh tamtama tanpa tombak. Kulit mereka putih pucat terkena abu terus-menerus. Pakaiannya lusuh, namun wajah mereka tak takut bahaya, tak getar dirundung sengsara.  

Negari kita mendesak hancur, Oei. Sinuwun terlalu kalem pada menteri-menterinya. Janjinya, yang adalah jasmani dan rohaninya, sudah semestinya terpatri di jidat rakyat, kita-kita ini. Tapi Sinuwun lupa. Aku ingin kau membantunya, tapi sudikah orang yang seperti kau mengulur tangan memberi rizki kepada Raja yang buta? Terserah kau. Tugasku hanyalah membaca lalu mengingatkan. Tegur tetangga jika ia terlalu keras menampar istrinya, tapi tidak membalas tamparannya.

Tadi siang di bawah pohon randu alas pinggir Kali Gadjahwong, ada gelandang setengah telanjang menatapku tajam. Seolah Qadhi Rabbun Jalil al-Akbar. Semakin kudekat, mulutnya komat-kamit. Tahu apa yang tuturnya? Tak ada. Tak sepatah pun. Telingaku seketika tuli sampai matahari kembali tertutup awan. Kau tentu tahu maksudku. Tak perlu juga kurasa menjabarkannya di surat ini.

Ampun aku melompat bercerita.

Gulden dan rerempahan sedang keluar masuk di gerbang belakang Astana. Para satria sepuh sepertinya akan melakukan impertere. Makin cepat mahkota jatuh, makin cepat sungai harta mengairi sawah mereka. Anehnya, puluhan telinga yang kupasang di dinding-dinding ndalem tak ada yang menyebutkan pasokan senjata. Curiga kemudian kuarahkan pada gerak-gerakan massa kecil-kecilan. Pasti kau sudah dengar bagaimana pisowanan tak lagi mentas di alun-alun, malah di griya kaum atas sayap kanan, bahkan juga kiri. Kurasa ini periode di mana kita tidak bisa percaya semua orang, Oei.

Ingat ini. Yusuf, yang dahulu tangan kanan Sinuwun, jangan lagi kau beri tembusan, saranku, tidak selalu ia orang baik. Rohadji pun begitu. Ia orang bersih di lapangan berlumpur tahi. Lalu si putri Kumbokarno lebih memperhatikan apakah tanamannya sudah disiram daripada perut rakyat yang kempis-kembang-tipis, tak perlu juga kau serahkan kepercayaanmu padanya. Ada baiknya kau sedikit melirik pada Kinanti dan Sun Yat Teng, mereka punya kartu bagus di kantongnya. Atau mungkin kau hadaplah sedikit menjauh ada Mulyani, mungkin ia mau pulang dari mancanegari atas bujukmu.

Oei, sahabatku, pantik agamawi sedang diusung memecah-belah Negari kita. Tak bijak jika kau berpihak pada kelompok ageming aji yang tidak bisa jadi panuntun marang tingkah laku lan ngatonake sapa sejatining diri.

Kau bagai saudaraku sendiri, Oei. Aku percaya. Kugadang-gadang kau menjadi menteri, tapi kau menolaknya. Kupisah-pisahkan semak dari belukar, tapi kau malah menepi dan bersemedi. Di dalam ruji penjara pula. Ayolah, Oei. Ini juga Negarimu. Salah jika kau hanya diam saja menatap manusia ndableg yang lalu lalang memakai kebijaksanaanmu. Kau biarkan mereka mencuri, Oei!

Sekali ini, tak kuharap balasan darimu. Cukup hafal aku atas tiap alasanmu. Kau pasti cuma tertawa dan menunjuk jari ke pemuda-pemudi di Negari kita ini. Lihat mereka, Oei, yang saja tak mau peduli pada Negarinya sendiri. Mereka hidup di buwana baru penuh gemilang warna, tidak selalu batu, kayu dan tanah liat seperti kita dulu. Mereka tak tentu arah. Sujud tak punya kiblat. Memetik harpa kidung cinta tapi ingus di hidung saja masih berkerak. Ugal-ugalan congkak keliling kampung dengan tingkah seperti Walanda, tapi lupa memakai pantalon. Kurang ajar lagi. Sok pintar bicara faculteit.

Sudahlah, Oei. Semua dari kita punya giliran menuju liang kubur. Jangan sisakan budi hanya bagimu. Kau berlagak. Menyanyi dengan telinga tuli. Bagilah untuk kami, mereka yang kau hina. Beri kami makan, Oei. Non audit praecepita venter. Perut yang kosong tak punya kuping untuk mendengar perintah. Alih-alih berbalas surat, aku menunggu turun gunungmu. Jumpa nanti kita di pasamuan.

Sahabatku, Oei, ada satu lagi yang ingin kubincangkan: perihal perjalanan ini. Ada seorang frater mengundangku bertemu. Sebelumnya empat kiai dan enam bhiku telah tiba atas kehendaknya. Belum mampu khayalku mengira-ngira apa maksud mereka, sepertinys ada risalah yang ingin diluruskan. Tentang pembakaran biara serta gereja kurasa. Oleh sedikit pihak yang mengaku mukmin namun berpedang, agama dibiangkerokan. Aku bukan membela, tapi hidup kedamaian adalah hakikat mukminin, dan makhluk beragama ialah mereka yang menyediakan ruang damai bagi kiri-kanannya. Kita semua menanti suatu Asamkhata yang akan membantu memahami samsara.

Negari kita punya beragam balok yang wajibnya mampu saling mengisi membangun candi Negari, bukannya saling tempur. Semoga pasamuan nanti membawa hasil.

Kuda kami sudah selesai minum dan makan. Perjalanan segera berlanjut. Abu masih terus berjatuhan dari langit, semoga Allah segera menghentikannya. Keletihan tamtama pengawalku mulai terpancar dari mata mereka, maka kukirimkan satu orang dari mereka kepadamu untuk hantarkan surat ini sekaligus melepaskan derita dari matanya itu. Tapi hanya satu orang saja. Sisa kami bertujuh yang akan mendekati Desa Pucung, tiga ratus randu lagi Sungai dari Opak. Kelak bila kau mengiang ingin membalas, sampaikan ke sana. Lurahnya dapat dipercaya.

Kalau bukan mengingat bahwa kau sahabatku, haram aku berani menulis ini. Aku kenal santun hatimu. Kata-katamu sangat berpengaruh pada Sinuwun, itulah sebabnya kusampaikan warta pendahulu padamu.

Kuakhiri surat ini. Sangat ingin aku bertatapan muka denganmu, tapi kau tahu tugasku selalu berlari dan selalu kukejar. Pikirkan pesan dalam suratku ini. Meskipun hari ini kau tolak, di belakang nanti akan ternyata juga kebenarannya.

Ut sementes faceris ita metes.

 

Salam,

Sahabatmu Mu’aith Yalad

 

 

Lukisan Potrait of a Nobleman (circa 1915) karya Isaac Israels (1865-1934)

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *