[Ngibul #28] Jakarta Under-koper

Posted: 21 August 2017 by Fitriawan Nur Indrianto

Tahun 2017 ini, release film berjudul Moammar Emka’s Jakarta Undercover yang merupakan film buah karya sutradara Fajar Nugros. Film yang dibintangi oleh Oka AntaraBaim WongTiara EveGanindra BimoTio Pakusadewo, dan sederet nama beken lainnya ini diangkat dari buku Jakarta Undercover karya Moammar Emka, seorang jurnalis yang juga merupakan mantan santri Pesantren Mamba’ul Maa’rif, Jombang.

Jakarta Undercover mengungkapkan berbagi realitas seksual  yang terjadi di Jakarta. Dengan menyebut nama-nama kawasan secara gamblang, buku tersebut sebenarnya bisa saja disalahgunakan menjadi sebuah ensiklopedi untuk menengok dunia malam Jakarta yang penuh dengan hiburan “selangkang” dengan berbagai varian. Meskipun begitu, penulisnya sebenarnya  ingin menyampaikan pesan sosial di balik tulisan-tulisannya. Dari membaca buku tersebut kita mungkin bisa bertanya, Seperti itukah wajah ibukota? Apakah memang suram, muram, dan buram?

Apa yang ditulis oleh sang jurnalis mungkin saja memang merupakan sebuah realita. Tapi barang tentu, itu hanyalah potret kecil dari Jakarta yang memang memiliki jutaan lanskap dengan cerita masing-masing. Masih banyak realitas lain yang bisa kita lihat, sudut-sudut lain yang barangkali dari kacamata moralis jauh lebih “baik”.  Tapi sungguh berdasarkan pengalaman saya berada di kota itu selama satu minggu ini, kenyataan yang gelap itu ternyata memang ada di depan mata. Walapun saya tidak benar-benar nyemplung, namun saya bisa melihat dengan cukup jelas betapa Jakarta memang punya cerita.

Saya punya beberapa cerita. Tidak melulu soal seks. Mungkin tidak kalah buram dari apa yang tergambar dalam buku Jakarta Undercover. Kisah-kisah ini boleh saja hanya dianggap sebagai kumpulan kisah-kisah konyol saja. Meski terkesan subjektif kisah-kisah di bawah ini sebenarnya berdasarkan fakta di lapangan juga.

Cerita ini saya dapat dari pengalaman tinggal di Jakarta selama seminggu. Ya mulai minggu ini saya bekerja di sebagai jurnalis bola. Beberapa tokoh ini menceritakankan secara langsung pengalaman mereka kepada saya. Untuk menutupi identitas mereka anggap saja mereka itu si Asef, si Nova, si Bagus, si Olav dan si Dede.

  1. Asef dan pengalaman Buruk mencari Pekerjaan di Jakarta

Sejak sebulan yang lalu, Asef mengadu nasib di Jakarta. Ia datang ke kota itu untuk memenuhi undangan interview dari sebuah “tempat kerja” yang berada di daerah Jakarta Timur. Ia datang pasca lebaran di tengah arus balik “Jawa”- Jakarta. Dari komunikasi dengan  pegawai HRD yang meneleponnya, Asef  harus sudah berada di Jakarta pada jam sembilan pagi esok hari, tanpa tolerasi. Artinya Asef hanya punya waktu semalam saja untuk memutuskan apakah ia akan hadir atau tidak. Dengan berbagai pertimbangan, ia akhirnya memenuhi undangan itu. Sore jam 5, ia pergi ke stasiun yang ada di pusat kota untuk mencari tiket berangkat malam itu juga. Sayang, tiket sudah habis. Ia pun “berlari” menuju terminal bus dan akhirnya berangkat dengan bus yang tujuan utamanya ke pulau Sumatera (karena memang dadakan sehingga tidak ada bus yang beroperasi malam itu dengan tujuan Jakarta). Asef pun akhirnya terpaksa naik bus apapun yang mampir ke ibukota.

Sampai di lokasi, Asef kemudian melapor pada security, menanyakan jadwal interview. Namun tak habis pikir, namanya tidak ada dalam daftar orang yang akan melakukan interview. Asef pun segera menghubungi kembali HRD melalui telepon langsung karena entah mengapa sang HRD tidak membalas pesan sms yang ia kirim. Telepon diangkat dan terjadi dialog antara mereka. Usut punya usut, si Asef salah lokasi interview. Kesalahannya pun fatal, Asef seharusnya tidak interview di Jakarta tapi di kota Cirebon. What???? Praktis karena tidak bisa hadir saat itu juga, interview gagal.

So, Asef sudah berada di Jakarta. Pulang? Rasanya gak enak banget membawa kabar buruk itu kepada kedua ortunya. Maka ia pun mengambil keputusan untuk tetap tinggal di Jakarta dan mencari pekerjaan baru. Sampai saat ini, Asef tidak tahu siapa yang salah. Apakah si HRD judes yang tidak memberi keterangan dengan lengkap dan malas membalas sms padahal bersedia memberikan konfirmasi, atau Asef yang kelewat nggak ngeh.

  1. Kisah Nova yang ditawar Bencong

Beda cerita dengan si Nova. Laki-laki ini sudah cukup banyak makan garam di Jakarta. Sayangnya ia masih saja apes. Suatu malam, sepulang kerja ia dihentikan langkahnya oleh seorang waria. Awalnya si waria cuma berdalih meminjam korek. Selepas itu sang waria menanyakan hal-hal yang “seolah-olah” penting. Eh lama-lama ketagihan dan si waria makin ganjen. Melihat wajah Nova yang manis dan mungkin sensual, si waria kini makin horny. Ia mulai mencolek si Nova, mulai dari tangan, perut sampai hampir “anunya”. Kontan si Nova kaget. Hampir saja si Nova berang dan mendorong si waria itu ke sungai. Tapi ia urung melakukannya karena si waria belum berbuat kasar. Tak butuh waktu lama sampai si waria makin menggila dan menawar harga si Nova. Busyeeeet… karena sudah tidak tahan, si Nova pun meninggalkan waria itu sambil geleng-geleng kepala, antara emosi tapi tertawa geli juga.

  1. Bagus yang Marah pada Ahok

Si Bagus, yang punya tampang kece juga punya cerita. Ia memang gemar dengan dunia malam dan perempuan. Ia bisa jadi adalah orang pertama yang menentang kebijakan Gubernur Ahok karena mengalihfungsikan Kalijodo. Kini kawasan itu sudah tertata rapi dan bersih dari pekerja seks komersial.

Setelah penggusuran tersebut, Bagus pun mencoba memenuhi hasrat seksualnya dengan lebih sering mampir ke daerah pesing tepatnya di sepanjang jalan Tu Bagus Angke. PSK di wilayah itu bisa dikatakan kelas rendahan. Pelanggannya rata-rata golongan menengah ke bawah. Sayangnya meskipun senang sama yang begituan, si Bagus gak berani jajan di sana entah dengan alasan beda kelas atau kurang nakal. Bagus akhirnya lebih senang nongkrong di dekat diskotik dan  karokean dekat tempat kerjanya. Banyak perempuan pendamping bertubuh sintal nan aduhai yang bekerja di sana. Sayangnya, bos perusahaan melarang karyawannya berurusan dengan diskotik itu. Selain urusan bakal panjang bila terkena masalah, image perusahaan juga dipertaruhkan jika anak buahnya teryata bermoral bejat. Kebijakan Ahok kah yang membuat Bagus tobat?

  1. Olav dan Orang-Orang Kecil yang Dilihatnya

Sementara itu, si Olav punya cerita lain. Hampir setiap malam ia berjalan kaki dari kantornya menuju tempat ia mendapatkan angkutan kota. Ia musti berjalan kaki sejauh 1 km. Sebenarnya ia bisa saja naik KRL yang tarif sekali jalan 3000 rupiah. Tapi karena gajinya kecil dan ingin irit, Olav pun memilih berjalan kaki. Dari berjalan kaki itulah Olav dapat melihat nasib orang-orang kecil. Ia sering bertemu dengan pedagang Tionghoa yang berjualan mie ayam dengan lapak seadanya di pasar dekat sana. Olav juga sering melihat bagaimana pasukan oranye bekerja keras membersihkan sampah di sungai dan di jalan-jalan. Tapi, kisah yang paling membuat Olav meneteskan air mata adalah ketika ia selalu melihat para sopir angkot bermain judi di pinggir jalan besar, ramai-ramai heboh, tanpa dosa dan tanpa rasa takut. Olav sering berpikir bukankah pendapatan mereka tidak seberapa. Jika kalah, bagaimana nasib anak istri di rumah yang tidak dapat nafkah. Tapi itulah pemandangan yang setiap malam dilihat Olav sepulang pulang kerja.

  1. Dede dan Masjid di Jakarta

Sebenarnya Dede adalah tokoh paling bejat diantara tokoh-tokoh lain di atas. Tapi ia gemar pergi ke masjid. Ia adalah saksi hidup tentang fenomena tidak mau menyolatkan jenazah si pemilih penista agama. Di berbagai masjid saat momentum jelang pilkada, berbagai spanduk yang bernada provokatif bermunculan. Bahkan beberapa orang memiliki rasa takut untuk mencoblos pasangan x karena takut dianggap sebagai pendukung penista agama. Padahal pemilu menjamin kebebasan memilih dan rahasia pemilih pun dijamin. Dede mendengar narasi itu dari bapak kosnya yang terpaksa memilih pasangan Z karena takut. Padahal sungguh tak ada yang mengintervensi dan mengancam bapak kosnya itu secara langsung.

 Kembali ke soal masjid, nyatanya Dede juga hanya bisa menemukan kedamaian di rumah Tuhan itu. Beberapa masjid di Jakarta ternyata ada yang terbebas dari unsur nuansa politik. Dengan sering datang ke masjid, Dede akhirnya melihat bahwa masih tetap ada kutbah-kutbah Jumat terdengar memberikan pesan yang menyejukkan, terutama tentang indahnya islam.

Penutup

Karena terlampu sibuk, saya lupa membubuhkan catatan pembuka bagi tulisan ini. Tapi saya akan tetap memberikan catatan penutup.

Cerita-cerita di atas mungkin sangat umum dan biasa saja bagi orang Jakarta. Tapi, untuk seorang pendatang baru seperti saya, beberapa cerita di atas bisa membuat shock dan tidak habis pikir. Terlebih bagi mereka yang tidak terbiasa dengan kehidupan kota atau desa yang teratur dan damai.

Apa yang saya tuturkan di atas boleh anda percaya boleh juga tidak. Jika anda penasaran dengan apa yang saya ceritakan, saya sarankan anda untuk datang sendiri ke Jakarta, menghabiskan minimal seminggu. Bersama saya juga boleh. Insyaallah anda akan betah, kecuali anda tipe orang yang mudah menyerah. Anda bisa belajar dari tokoh-tokoh saya, meskipun mungkin tidak ada yang menarik dari mereka, terlebih cerita soal mereka juga biasa-biasa saja.

Akhirnya tulisan “ngaco” ini saya tutup dengan sebuah kata

Ibu….

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *