[Ngibul #26] Memaknai Kematian, Menghargai Kehidupan

Posted: 7 August 2017 by Andreas Nova

Hari itu selepas shalat subuh, terkadang dilanjutkan oleh adanya berita kematian yang diumumkan dari masjid. Tidak mengagetkan Pakdhe ketika hari itu mendengar kabar Mbah Darmini meninggal dunia. Mbah Darmini memang sudah berusia lanjut. Meskipun beliau suka berkelakar, namun selalu terselip keluhan tentang sakitnya. Namanya orang yang sudah sepuh, ada saja penyakitnya.

Mbah Darmini tidak menikah. Ia hidup dengan dua keponakannya, Salim dan Marlina yang ia rawat sejak kakak dan kakak ipar mbah Darmini meninggal karena kecelakaan kapal ketika melintasi Laut Jawa menuju Kalimantan. Kedua keponakannya sangat menyayangi mbah Darmini seperti orang tuanya sendiri. Kedua keponakannya sudah berkeluarga dan sudah memiliki momongan. Salim kemudian tinggal di kampung halaman istrinya di Magelang. Mbah Darmini, Marlina, juga suami dan kedua anaknya tinggal di satu rumah. Salim sebulan sekali datang bersama anak dan istrinya untuk menengok dan melepas rindu kepada adik dan pengganti orang tuanya itu.

Malam hari setelah Mbah Darmini dimakamkan, diadakan tahlilan. Pakdhe selalu mendengar isak tangis Marlina ketika ada tamu—atau mungkin sanak keluarga—yang datang dan mengungkapkan bela sungkawa. Memang sehari-hari Marlina lah yang merawat mbah Darmini. Tangisnya tulus, tidak palsu, seolah seperti kehilangan sesuatu dan takkan menemukan penggantinya. Dan memang demikianlah adanya, hari itu Marlina kehilangan orangtua untuk ketiga kalinya.

Ingatan Pakdhe menerawang kembali ke masa lalu, ketika bapaknya meninggal dunia. Tidak ada tanda-tanda sakit, hanya batuk-batuk yang jamak dialami para perokok berat. Tiba-tiba saja di suatu malam, beliau terjatuh dari tempat tidur dan tidak bisa menggerakkan sisi kanan tubuhnya. Kepanikan membuat Pakdhe dan ibunya membawanya ke rumah sakit. Sebuah tempat yang akan dibencinya dua pekan kemudian, tepat ketika bapaknya menghembuskan nafas di sana untuk terakhir kalinya. Saat itu pula Pakdhe yang baru berusia seperempat abad harus kehilangan bapaknya, sosok lelaki yang paling dekat dengannya. Tangisnya lepas. Sampai-sampai ia harus ditenangkan oleh Mak Titi, tetangganya yang kebetulan membesuk, namun Yang Maha Kuasa memintanya menyaksikan saat-saat bapaknya pakdhe menghembuskan nafas terakhirnya.

Pakdhe tidak pernah sesedih itu sepanjang hidupnya. Ibunya mengajarkan sepahit apapun hidup, haruslah dikunyah dan ditelan. Tidak boleh dihindari ataupun dilepeh. Pakdhe tahu betul kematian—juga rezeki dan jodoh—adalah rahasia Gusti Allah. Kematian adalah siklus yang harus dialami oleh manusia, dan itu adalah hak prerogatif-Nya. Bahkan ketika manusia mencoba melangkahi hak-Nya dengan mengambil nyawanya sendiri. Matinya dikabulkan, nyawanya dicabut. Namun konon Gusti tidak menyukai tindakannya yang tidak menghargai anugerah kehidupan yang diberikan-Nya, sehingga Gusti melemparkannya ke neraka.

Setelah kematian bapaknya, Pakdhe perlahan berubah. Di dalam hatinya ia sadar, kini ia harus menjadi tulang punggung keluarga. Ia harus bisa mencari nafkah untuk ibu dan adiknya, minimal tidak merepotkan ibunya kala itu mengais rezeki dengan membuat nasi liwet setiap pagi untuk dititipkan ke sekolah-sekolah. Pakdhe tidak lagi bermalas-malasan dan nongkrong sampai malam di pos ronda. Pakdhe mulai mengirimkan surat lamaran pekerjaan sambil berdoa supaya ada perusahaan yang mau mempekerjakannya.

Namun memang benar kata ibunya, Gusti tidak pernah memberikan pencobaan yang melebihi kekuatan manusia. Sebab Gusti setia dan tidak akan membiarkan umat yang beriman kepada-Nya dicobai melampaui kekuatannya. Ia selalu memberikan jalan keluar dari cobaan yang dialami manusia. Tinggal manusia mau keluar dari cobaan atau tenggelam di dalamnya. Pakdhe pun ditarik keluar dari cobaan. Ia mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan kecil sebagai staf administrasi. Hal itu sudah cukup baginya. Namun Gusti juga mengulurkan tangannya kepada ibunya. Nasi liwetnya yang enak membuat salah satu orang tua siswa mencari tahu siapa yang membuatnya. Dari situ pesanan mulai ramai berdatangan, bahkan ibunya sampai mempekerjakan mbok Sumi dan Maryati tetangganya untuk memenuhi pesanan. Bahkan kini ibunya membuka usaha katering kecil-kecilan. Perlahan keterpurukan mulai sirna. Pakdhe dan ibunya bahkan mampu menguliahkan adiknya yang kini berkuliah di sebuah kampus swasta jurusan pendidikan.

Ibunya Pakdhe memang seorang perempuan yang luar biasa. Biarpun ia dan suaminya adalah orang yang kurang mampu, namun ia dan suaminya bertekad menguliahkan kedua anaknya. Ia yakin pendidikan anaknya akan mampu mengangkat derajat keluarganya. Bahkan dalam hal memaknai kematian pun Pakdhe banyak belajar dari perempuan yang melahirkannya ini. Ibunya pernah kehilangan bapak, ibu, saudara—kakak tertuanya juga adiknya yang bungsu, anaknya—yang terlahir prematur dan hanya bertahan hidup 3 jam—juga suaminya. Bayangkan sudah berapa banyak air mata yang ia curahkan untuk menangisi kematian-kematian itu? Pakdhe tahu betul kesedihan ibunya. Namun semangat hidup ibunya terus terpancar di matanya.

Pakdhe ingat betul ibunya pernah berucap kalau kematian memang akhir dari hidup manusia, tapi bukan berarti akhir dari hidup manusia di sekitarnya. Selama manusia masih dianugerahi nafas untuk hidup, hidupnya harus berarti. Tidak harus untuk orang banyak, setidaknya untuk keluarga dan sekitarnya sehingga hidupnya menjadi hidup. Jika ia tidak mengenal ibunya, mungkin akan sulit dipercaya kata-kata sebijak itu keluar dari mulut bakul nasi liwet. Namun memang kebijaksanaan bukan milik para pemikir dan cerdik cendekia saja, terkadang dari obrolan kere bersama tukang becak dan kuli bangunan juga dapat ditarik pelajaran.

Setelah tamu Marlina pulang, ia mendekatinya dan menepuk bahunya.

“Yang sabar, sekarang kamu harus hidup untuk suami dan anakmu. Selalu ada alasan untuk mengisi hidup. Maknailah hidupmu.”

Setelah mengucapkan hal tersebut, Pakdhe pulang ke rumahnya yang hanya berjarak tiga rumah dari situ. Ia kemudian merebahkan badannya ke kasur kapuk. Ia menutup matanya, tanpa tahu esoknya setelah shalat subuh berita kematiannya diumumkan.

 

 

*Lukisan Laura Kranz berjudul Drink of Death

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *