[Ngibul #25] Perkara Buang Air

Posted: 31 July 2017 by Asef Saeful Anwar

Buang Air

Eni marah kepada Sepat, ibunya yang sudah berusia lanjut, karena masih saja buang air besar di saluran irigasi desa meskipun di rumahnya telah dibuatkan WC. Sepat biasa buang air besar dini hari di atas jembatan pintu saluran irigasi. Tetangga sudah mafhum—tapi tak kunjung maklum—bahwa bila pagi hari ada tinja yang menempel di tebing dinding pintu saluran irigasi berarti milik Sepat. Beberapa orang menjadi saksi, Sepat-lah satu-satunya orang yang masih buang air besar di saluran irigasi, dan Eni yang menanggung malu karena bisik-bisik tetangga itu.

Pada saat yang lain, ketika ibunya dirawat di rumah sakit, justru Eni yang kena marah pegawai rumah sakit karena ketahuan jongkok di atas kloset duduk. Barangkali kualat karena sering marah-marah kepada ibunya, ia jatuh saat jongkok hendak BAB. Ia terpeleset dari kloset dan menimbulkan gaduh hingga pegawai rumah sakit menolongnya lalu memarahinya. Ketika ditanya mengapa jongkok di atas kloset, Eni bilang: “Kalau duduk nggak keluar-keluar.” Saat itulah Eni baru sadar jawabannya mirip dengan jawaban ibunya ketika ia marah-marah: “Kalau di rumah nggak keluar-keluar.”

Buang air besar adalah masalah personal. Masing-masing orang memiliki kebiasaan yang kadang tak bisa diterima oleh nalar orang lain. Termasuk kebiasaan Sepat dan Eni di atas. Tapi itulah yang berlaku sebab buang air besar memang masuk pada kategori aktivitas yang manja-manja-gimanagitu. Bagaimana tidak, hanya untuk mengeluarkan sesuatu yang sudah ditakdirkan keluar pun orang masih butuh prasyarat. Maka, ada orang yang bisa pups kalau sambil merokok, ada yang harus beristinja dengan air karena merasa kurang afdhal menggunakan tisu, ada yang malu pada suara buang angin atau jatuhnya feses sehingga butuh WC yang memiliki kran untuk meredam kegaduhan itu dengan suara air yang mengalir, ada yang harus sambil membaca, ada yang harus sambil bermain ponsel, bahkan ada yang harus sambil ngemil! Dan segala prasyarat lainnya yang mengacu pada kebutuhan akan kenyamanan. Tapi, faktor kenyamanan yang pertama dirasakan adalah tempat, sebelum masuk pada kebiasaan-kebiasaaan manja seperti dicontohkan di atas.

Data Joint Monitoring Program WHO/UNICEF 2015 mencatat bahwa sebanyak 51 juta penduduk Indonesia masih berperilaku BAB sembarangan. Jumlah ini naik dari penelitian sebelumnya melalui Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan tahun 2012, yakni sebanyak 39—40 juta orang. Padahal, sebagian dari mereka yang BAB sembarangan itu sudah memiliki WC di rumahnya. Diksi sembarangan dalam data itu sebenarnya bisa dipersoalkan bila melihat tempat “pembuangan” yang dijadikan lokasi adalah tempat terpilih seperti sungai, saluran irigasi, atau tepi pantai. Adapun mengapa mereka memilih tempat-tempat itu dibandingkan WC mengantarkan pada pertanyaan: sejak kapan WC ada di rumah mereka? Pertanyaan itu yang perlu dijawab sebab orang yang dalam masa pertumbuhannya tidak bersinggungan dengan kakus cenderung akan merasa tidak nyaman dikurung dalam ruang yang disebut kamar kecil itu. Seperti halnya orang yang sudah terbiasa berbasuh dengan air tiba-tiba dipaksa menggunakan tisu, secara praktik mungkin tak masalah, tapi secara psikologis itu mengganggu, ada perasaan jorok, merasa masih kurang bersih, takut masih berbau, dan lain sebagainya.

Selain pertanyaan itu, apabila WHO atau Kemenkes akan mengadakan survei kembali sebaiknya juga mulai mencari variabel lain terkait aktivitas BAB penduduk Indonesia. Misalnya, mencari data perbandingan antara penduduk yang BAB dengan cara duduk dan cara jongkok, antara yang cebok dari depan dan dari belakang, antara yang punya kakus siram dan kakus pencet, antara yang pakai tisu dan pakai air, dan lain sebagainya. Baiklah kalau WHO dan Kemenkes punya cara pandang bahwa BAB yang benar adalah dengan duduk, cebok yang bersih itu dari depan, kakus yang hemat air itu yang pakai pencetan dan ada tisunya, tapi pandangan itu akan mentok pada penyuluhan-penyuluhan tak berkesudahan bila tak mampu memahami pola pikir masyarakat dan menempatkan mereka selalu dalam posisi salah. Dengan data-data sekitar perilaku BAB yang nanti didapatkan akan diketahui cara paling mangkus mengubah perilaku buruk mereka yang sudah terlanjur dalam kebiasaan “sembarangan” sekaligus mengajarkan generasi mendatang tentang adab buang air yang baik dan sehat.

Yang jelas, jangan terlalu gegabah menyimpulkan bahwa penduduk Indonesia telah banyak menggunakan tisu untuk cebok hanya dari naiknya penjualan tisu toilet dari tahun ke tahun. Percayalah tisu itu lebih banyak untuk mengusap mulut daripada buat mengelap onderdil pembuangan. Sebab kita sama-sama tahu ada begitu banyak tisu toilet yang tersesat di warung makan dan kita senantiasa enggan bin segan menyadarkan dan mengembalikan mereka ke tempat yang benar.

Lalu bagaimana dengan perilaku buang air kecil sembarangan? Nah, kalau kegiatan ini memang sembarangan karena dilakukan dekat tembok, bawah pohon, roda bus, rel kereta, selokan, dan segala tempat lainnya yang diyakini tidak dihuni jin. Maka untuk ini, tidak perlu saya sertakan data. Cukup lihat lingkungan sekitar Anda, terutama pasar, terminal, dan stasiun, adakah di sana tulisan yang melarang untuk tidak pipis sembarangan? Bila masih didapati, berarti aktivitas itu masih nyata.

Ketersediaan fasilitas publik berupa toilet umum memang terbatas. Toilet bandara dan stasiun khusus disediakan bagi penumpang, sementara di terminal toilet justru seperti dibisniskan. “Kencing aja bayar” adalah kalimat yang menunjukkan kegagalan negara mengurus masalah buang air kecil. Di sisi lain, masih banyak warga yang ketika buang air kecil tidak tertib, seperti tidak disiram atau mencoret-coret tembok toilet dengan tulisan-tulisan jorok. Bahkan, di sebuah mal di Kota Malang, saya pernah mendapati tulisan untuk tidak pipis di lantai pada pintu sebuah bilik (lihat gambar). Tidak mungkin imbauan itu muncul bila petugas cleaning service di sana tak sering mendapati orang yang mengarahkan air seninya pada lantai, bukan pada lubang kloset. Atau bisa jadi lapisan urine di lantai sangat tebal yang tidak mungkin terjadi bila pipis dilakukan dengan baik dan benar sesuai kaidah pertoiletan.

Sebab lain selain kurangnya fasilitas toilet umum adalah masih adanya anggapan bahwa buang air kecil sebagai perkara darurat sehingga dilakukan di mana pun dianggap tak jadi masalah. Buang air kecil dianggap lebih sulit ditahan daripada saudara besarnya. Pelaku pipis sembarangan tak akan mempan dengan larangan-larangan melalui tulisan. Mereka juga kebal dengan penyuluhan tentang dampak buruk dari perilakunya. Segala penyakit dengan nama ilmiah yang sulit diingat tak bisa jadi gertakan. Bahkan, ancaman-ancaman siksa kubur juga diabaikan. Sekali lagi, karena mereka menganggap buang air kecil adalah persoalan darurat yang tak bisa diundur sehingga segala hukum menjadi gugur.

Padahal, kalau mau, pipis bisa diatur. Bila tak percaya perhatikan toilet di bioskop yang ramai sebelum jam pemutaran, juga toilet saat acara wisuda yang diisi oleh para wisudawan yang tidak sekadar ingin mengalami sensasi pipis sambil pakai toga, tapi juga agar tidak ingin pipis saat acara berlangsung. Cara mencegah keadaan “darurat” demikian lebih baik daripada upaya yang banyak dilakukan penumpang pesawat atau kereta api yang memilih menahan pipis sepanjang perjalanan meskipun ada fasilitas toilet di dalamnya, dan ketika tiba di bandara atau stasiun, mereka akan langsung ke toilet hingga menyebabkan antrean.

Perkara buang air telah lama disinggung oleh nenek moyang kita dalam peribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Sayangnya, peribahasa itu lebih banyak ditafsirkan—bahkan seperti diseragamkan sehingga saat ada tafsir lain dianggap salah—dari sisi pendidikan tentang pentingnya guru sebagai tauladan. Jika dikaji lebih dalam, peribahasa itu juga menyiratkan betapa pendidikan adab buang air itu juga penting. Ada banyak analogi tentang keteladanan, tapi mengapa justru kencing—sesuatu yang dekat dengan najis—yang dipilih dalam peribahasa itu? Silakan direnungkan. Dan bila Anda adalah seorang lelaki, silakan dicerna apakah peribahasa itu menyindir cara kencing berdiri?

Itu saja, saya mau cebok dulu.

 

*foto karya Bambang Priantono, diambil dari sini

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *