[Ngibul #24] Air Mata Buaya

Posted: 24 July 2017 by Olav Iban

air mata buaya

Alkisah, jauh di pedalaman Kalimantan, di pinggir Sungai Kahayan sekitar tahun 1930an, tinggallah kakek saya bernama Iban Ribu. Ia memiliki adik perempuan bernama Manyan Ribu yang menikah dengan Umat Kamis. Manyan dan Umat memiliki tiga orang anak laki-laki: Pied Umat, Hardeman Umat, dan Helmut Umat. Pied mati disambar buaya. Ayahnya, Umat Kamis, marah besar. Ia menghabiskan bertahun-tahun hidupnya untuk memburu buaya di Sungai Kahayan yang membunuh anak sulungnya itu. Kurang lebih 200 ekor buaya dibunuhnya. Ini bukan sekadar cerita, kisahnya dicatat dan dibukukan oleh antropolog Jerman. Salinan bukunya sendiri masih tersimpan dengan baik oleh keturunan keempat Umat Kamis di perpustakaan pribadinya.

Di lain kisah, kakek saya tadi memiliki sepupu bernama Dais Baga. Dais Baga memiliki anak perempuan bernama Hane. Hane, seperti anak kecil lainnya di pedalaman Kalimantan masa lampau, suka berlama-lama bermain ketika mandi di sungai. Di satu sore mendung, Hane tewas disambar buaya ketika sedang bermain-main di sungai bersama anak-anak kecil lainnya. Ayah Hane murka dan ramai-ramai mengajak orang sekampung berburu buaya. Banyak sekali buaya yang mati.

Namun, apakah semua buaya yang mati itu membunuh anaknya?

Dua kisah di atas dituturkan ulang oleh Ayah saya (73 tahun) dengan bersemangat. Di penghujung cerita, Ayah memberi selipan menarik. Ayah saya bilang, buaya bisa menangis. Ia pernah melihat buaya yang ditangkap oleh Ayah Hane meneteskan air mata. Menurut Ayah saya—merunut pada penuturan Ayahnya Ayah kepada Ayah, dan kini kepada saya—bilamana ada seekor buaya menangis ketika ditangkap oleh manusia yang sedang murka, itu tandanya si buaya bersedih. Bersedih karena bingung hatinya. Mengapa ia diperlakukan begitu oleh manusia, padahal bukanlah ia yang memakan anak mereka. Jika tidak percaya, belah saja perut buaya itu. Dan memang begitu kenyataannya. Setiap kali Ayah saya menyaksikan buaya tertangkap lalu menangis meneteskan air mata, memang di dalam perutnya tidak ditemukan sisa-sisa tubuh manusia.

Sebenarnya, anekdot tentang air mata buaya sudah lama ada. Pemakaian pertama yang tercatat sejarah susastra ada pada catatan Santo Photius (810-893 Masehi). Namun, yang paling terkenal ada pada Tragedi Othello karya Shakespeare. Ketika Othello sadar bahwa istrinya telah berlaku selingkuh, ia berujar,

“If that the earth could teem with woman’s tears, each drop she falls would prove a crocodile.”

Buaya memang memiliki kemampuan “menangis”. Menurut beberapa penelitian, adalah normal bagi buaya menitikkan air mata saat menelan mangsanya. Kemungkinan reaksi tersebut sebagai bentuk reaksi kelenjar matanya yang mengalami tekanan. Kemungkinan lain karena adanya udara yang memaksa keluar melalui sinus, ketika rahang buaya melakukan aktivitas makan, lalu bercampur dengan air mata di dalam kelenjar air mata, dan ketika dikosongkan, maka isinya tertumpah ke mata. Entahlah, yang jelas buaya bisa meneteskan air mata—walau itu belum tentu dapat ditafsirkan sebagai tindakan menangis.

Telah dari Taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi, saya memahami air mata buaya sebagai reinterpretasi dari simpati superfisial, bentuk kemunafikan, atau upaya tipu-tipu romantik. Saya yakin, hampir semua orang juga mengartikan air mata buaya seperti demikian. Tafsiran umum ini kemungkinan besar dipopulerkan oleh sebuah buku petualangan berjudul The Travels of Sir John Mandeville yang tidak diketahui pasti siapa penulisnya. Teks tertua buku ini ditulis dalam bahasa Prancis yang mengisahkan catatan perjalanan seorang John Mandaville pada tahun 1357-1371. Sebagaimana kebanyakan karya sastra yang mengisahkan catatan perjalanan di masa itu, ia memakai pendekatan fantastical nature dan amat oksidentalis. Di dalamnya diceritakan demikian.

“In that country and by all Inde be great plenty of cockodrills, that is a manner of a long serpent, as I have said before. And in the night they dwell in the water, and on the day upon the land, in rocks and in caves. And they eat no meat in all the winter, but they lie as in a dream, as do the serpents. These serpents slay men, and they eat them weeping; and when they eat they move the over jaw, and not the nether jaw, and they have no tongue.”

Buaya disebut sebagai makhluk mengerikan sekaligus licik seperti ular. Ia memangsa manusia, memakannya bulat-bulat sambil menangis. Mungkin perspektif ini—sembari ditautkan dengan fakta buaya memang dapat meneteskan air mata—tercampur baur dengan kisah kosmogoni yang banyak dianut masyarakat Barat tentang kelicikan ular menipu manusia sehingga jatuh ke dalam belenggu dosa.

Kembali pada peristiwa penangkapan dan pembantaian buaya yang dilakukan oleh keluarga kakek saya dahulu kala, saya menjadi bertanya-tanya, apakah jika saya ada di masa itu, akankah tampak air mata si buaya itu sebagai kemunafikan? Ataukah ia menjadi raut kesedihan batiniah si buaya yang merelakan perutnya dibelah demi menunjukkan ketidakberdosaannya? Entahlah, paling tidak kini saya mempunyai tafsir liyan mengenai air mata seekor buaya.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *