[Ngibul #14] Mozes Gatotkaca

Posted: 8 May 2017 by Olav Iban

Tulisan ini didedikasikan untuk saudara sepupu saya, Ferry Lawin Iban. Satu dari ratusan nyawa tidak berdosa yang tewas dalam rangkaian kerusuhan 1998 menggulingkan hegemoni Orde Baru.

 

***

Hari ini, 19 tahun lampau, Mozes Gatotkaca tewas mengenaskan pada Jumat malam tanggal 8 Mei 1998. Tubuhnya ditemukan tergeletak di simpang jalan sisi utara Hotel Radisson (sekarang Jogjakarta Plaza Hotel) sekitar pukul 21.50 WIB dengan kondisi miris. Lengannya patah tertikung ke belakang. Kepalanya luka parah. Wajahnya penuh darah yang mengucur deras dari kuping dan hidungnya. Beberapa anggota Palang Merah Indonesia yang kebetulan membuka pos di dekat lokasi itu segera membawa Mozes ke RS Panti Rapih menggunakan ambulan. Sayangnya, Mozes meninggal di perjalanan. Dan ia pun menjadi korban jiwa pertama di Kerusuhan Mei 1998.

Sebelumnya, tanggal 5 Mei 1998, Yogyakarta dirundung demonstrasi mahasiswa besar-besaran. Kendati bukan kota yang pertama (Medan lebih dahulu pada 4 Mei), gerakan mahasiswa Yogyakarta sangat katarsis memberi efek domino ke kota-kota lain, hingga mencapai klimaksnya di Jakarta.

Meski saya bukan mahasiswa di era itu, namun pengalaman saya dua kali menjadi mahasiswa UGM membawa kenangan tentang kedinamisan pemikiran kritis-konstruktif mahasiswa Yogyakarta. Pertama, karena letak antar-perguruan tingginya sangat dekat sehingga memungkinkan pertukaran gagasan yang kompulsif. Kedua, ruang-ruang diskusi terpapar gamblang di mana-mana. Di rumah kosan, di warung burjo, di angkringan, di pos kamling, di perpustakaan, di sanggar seni, di tempat bikin tato, di manapun, kapanpun, dan oleh kalangan manapun. Adalah hal biasa jika Anda menemukan mahasiswa UNY satu kos dengan mahasiswa Atma Jaya, atau Sanata Dharma. Di kantin UGM, Anda bisa saja mencuri dengar diskusi antara mahasiswa UIN Suka dengan mahasiswa ISI—yang letaknya jauh di Sewon, Bantul. Alasan yang ketiga adalah keterbukaan pemikiran penduduk lokalnya. Dari kusir andong, warga kampung sekitar kosan, dosen, sampai seniman atau budayawan akan dengan sadar dan aktif membalas pertanyaan-pertanyaan mahasiswa bila ditantang berdiskusi. Ketiganya itu terakumulasi pada olah-pikir para mahasiswa Yogyakarta.

Demonstrasi 5 Mei 1998 masih belum apa-apa dibanding tiga hari setelahnya. Pagi tanggal 8 Mei, sekitar pukul 09.00 WIB, di hampir semua perguruan tinggi di Yogyakarta sudah tampak kelompok-kelompok mahasiswa bergerombol mendiskusikan satu hal: good governance. Ini bukan bahan obrolan yang membosankan karena turunan dari good governance adalah topik yang sedang panas: partisipasi masyarakat, supremasi hukum, transparansi, kesetaraan, sampai efektivitas dan efisiensi ekonomi—yang semuanya merupakan anti-tesis dari kondisi Indonesia waktu itu.

Menjelang waktu sholat Jumat, kelompok-kelompok diskusi mulai mengecil dan bubar. Gelombang mahasiswa terlihat kembali setelah sholat usai. Kurang lebih ada 5.000 mahasiswa UGM berkumpul melakukan demonstrasi besar di Bundaran UGM sampai sekitar pukul 17.00 WIB. Segalanya berlangsung tertib. Orasi disampaikan dengan lancar tanpa kekerasan. Isinya memokokkan pada pernyataan prihatin terhadap kondisi ekonomi Indonesia yang saat itu dilanda krisis moneter—dan mahasiswa menganggap keadaan itu akibat mismanajemen di pemerintah, sehingga mahasiswa pun menawarkan solusi lumrah berupa Reformasi (sampai sekarang saya masih bingung mengapa penguasa-penguasa yang sudah bertahta selama 32 tahun bisa marah pada tawaran yang wajar itu).

Pada pertengahan tahun 1997, krisis finansial melanda Asia. Sebenarnya krisis itu dipercaya tidak berdampak berat bagi Indonesia. Tidak ada yang salah dengan kondisi ekonomi Indonesia yang inflasinya rendah. Perdagangan surplus lebih dari US$ 900 juta. Cadangan devisa Indonesia di atas US$ 21 miliar. Sektor perbankan pun baik. Saat itu pemerintah menerapkan sistem nilai tukar mengambang terkendali (managed floating exchange rate) dengan mendepresiasi rupiah. Setidaknya kebijakan tersebut memberi posisi aman.

Lalu, entah atas pertimbangan apa, dan entah untuk keuntungan siapa, pemerintah mengikuti saran IMF menerapkan free-floating exchange rate sebagai gantinya. Dan tiba-tiba saja pada 14 Agustus 1997 perekonomian yang dibangun selama tujuh kali Kabinet Pembangunan dan lima kali Repelita hancur begitu saja, seakan Indonesia kembali ke tahun-tahun 1960an. Rupiah melemah terhadap dolar, dan terus merosot drastis. Dari yang sebelumnya hanya Rp 2.100-2.300/US$ (tahun 1996) melorot menjadi Rp 4.600/US$, bahkan pernah mencapai Rp 15.000-17.000/US$ (tahun 1999).

Bayangkan bagaimana imbasnya. Baca sendiri buku-buku sejarah perekonomian Indonesia jika ingin tahu, atau tanyakan kepada orangtua di era itu bagaimana beratnya menafkahi keluarga. Mungkin atas dasar kesusahan rakyatnya itu Presiden Soeharto, pada 20 Januari 1998, tanpa basa-basi menandatangani kesepakatan dengan IMF yang menawarkan pinjaman US$ 43 miliar diikuti perjanjian ekonomi (Letter of Intent), yang semakin membuat marah para mahasiswa (tentu mahasiswa Fakultas Ekonomi lebih marah ketimbang mahasiswa Fakultas Sastra).

Sekitar 1,5 km dari Bundaran UGM, mahasiswa dari perguruan tinggi lain juga memiliki kemarahan yang sama. Sedari pagi, mahasiswa Sanata Dharma telah melakukan aksi demonstrasi di halaman kampus mereka di Jl. Gejayan, terpisah satu jalan dengan Bundaran UGM. Mahasiswa IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) yang letaknya berseberangan dengan kampus Sanata Dharma juga berdemo, dan kemudian saling menggabungkan diri. Begitu pula mahasiswa Atma Jaya, STTNAS, dan perguruan tinggi lain di daerah itu. Massa mahasiswa di Jl. Gejayan pun semakin membesar—atau tepatnya memanjang karena jalannya sempit (diperkirakan ada sekitar 10.000 manusia tumplek bleg di sana). Mereka kompak menuntut turunnya tiga hal: 1. Harga sembako, 2. Harga BBM, 3. Presiden Soeharto.

Cuaca yang terik ditambah orasi yang memanas menghasilkan ide-ide aneh. Salah seorang orator menyerukan mahasiswa melakukan long march ke Gedung DPRD di Jl. Malioboro yang langsung disetujui massa. Tapi, belum sampai massa itu mencapai ujung pertigaan Jl. Colombo mereka dihadang oleh pasukan Pengendalian Massa (Dalmas) Polres Sleman. Tidak ada benturan berarti. Mahasiswa pun duduk di jalan. Ini karena Kapolres Sleman cukup cerdas dengan mendatangkan Ketua DPRD Yogyakarta, alih-alih membiarkan massa ke kantor sang Ketua DPRD itu. Sayangnya, mahasiswa selalu punya ide. Tiba-tiba sang Ketua DPRD tadi mereka sandera, dan diminta ikut berorasi mendukung Reformasi. Merasa serba salah, sang Ketua DPRD berdiri gelisah sambil memegang spanduk berisi cercaan kepada Presiden Soeharto.

Di sini ada simpang siur informasi. Entah benar atau tidak, sepertinya kumpulan mahasiswa di Jl. Gejayan ingin membelok melalui Jl. Colombo untuk bergabung dengan mahasiswa UGM di Bundaran UGM namun keburu dihadang polisi.

Sekitar pukul 17.20 WIB, mahasiswa di Jl. Gejayan mulai bubar. Begitu pula mahasiswa di Bundaran UGM telah menutup diri di kampus masing-masing. Di saat inilah terjadi keganjilan. Ketika mahasiswa Sanata Dharma dan IKIP Yogyakarta kembali masuk ke kampus mereka dan bersiap pulang ke rumah masing-masing, massa non-mahasiswa justru bertambah banyak. Beberapa sumber menyebut mereka adalah warga, tapi banyak kasak-kusuk yang menyebutkan bahwa massa anonim itu hanyalah manipulasi bentukan pendukung Orde Baru. Mungkin seperti Pam Swakarsa (yang sekarang sudah berevolusi menjadi salah satu ormas radikal paling terkenal). Yang lain menyebutnya “pengacau yang mengail di air keruh”. Memanaskan situasi dengan membenturkan ABRI dan mahasiswa. Entahlah, tidak ada kajian yang akurat mengenai hal itu, yang jelas banyak provokasi. Maka dimulailah aksi lempar-melempar, dan ketika ada lempar-lemparan tentu ada pula bakar-bakaran.

Bentrokan antara campuran massa dan aparat keamanan tak bisa dihindari. Suasana magrib sangat tegang. Lemparan batu dan gas air mata saling berbalas. Pada pukul 20.40 WIB, polisi dan tentara menarik diri hingga ke simpang tiga Jl. Adi Sucipto. Massa yang sudah tercampur baur semakin beringas. Merusak gardu PLN. Merobohkan tiang-tiang lampu jalan. Menghancurkan telepon umum. Aparat keamanan kemudian diterjunkan lagi dalam upaya penertiban.

Bentrokan semakin mengerikan terjadi sampai pukul 23.30 WIB, dan meluas sampai ke areal dalam kampus dan perkampungan penduduk. Massa kocar-kacir. Kos mahasiswa digeledah. Warga sekitar berupaya menyembunyikan mahasiswa-mahasiswa yang ketakutan. Banyak pula yang bersembunyi di asrama puteri sehingga aparat kurang berkenan menggeledahnya. Peristiwa ini berlangsung hingga dini hari. Penerangan Jl. Gejayan yang mati digantikan kobaran api. Semua akses telekomunikasi di Yogyakarta Timur terputus akibat dibakarnya 2.400 sambungan telepon. Dealer Yamaha, KFC, dan Bank BHS (Jl. Jend. Sudirman), serta lusinan sepeda motor ikut dirusak massa—entah apa salahnya.

Di tengah keruhnya situasi Jl. Gejayan, aparat pun mengamuk membuat massa mundur kalang kabut. Semua berlarian ke arah utara. Selain sandal, sepatu, dan atribut demo, ada satu orang yang tertinggal di belakang. Dialah Mozes Gatotkaca. Terkapar sendirian. Badannya babak belur. Mungkin dipukuli pentungan aparat, atau tendangan sepatu lars, atau dikeroyok habis-habisan, atau mungkin tergilas kaki massa yang kocar-kacir, atau malah keempat-empatnya. Visum dari RS Panti Rapih menyebutkan korban meninggal karena retak tulang tengkorak akibat pukulan benda tumpul.

Banyak informasi yang sulit ditelusuri sumbernya (Wikipedia dan blog amatir) menyebutkan bahwa Mozes Gatotkaca adalah mahasiswa Sanata Dharma Fakultas MIPA. Namun saya lebih percaya pada sumber-sumber literasi, bahwa Mozes Gatotkaca adalah alumni Akprind Yogyakarta tahun 1995 kelahiran Banjarmasin, 13 November 1958 (40 tahun) yang merupakan teknisi komputer dan anggota Tim SAR DIY.

Mozes berada di tempat dan waktu yang sial. Malam itu, Mozes bersama temannya, Zulkifar, sedang mencari makan malam sepulang kerja dari rumah kosnya di Jl. Brojolamatan (dekat perempatan Condong Catur-Gejayan). Sayangnya mereka terjebak ketika petugas sedang mengejar massa. Beberapa kesaksian menyebutkan Mozes terpisah dengan temannya, kemudian tertangkap dan dipukuli sampai mati. Beberapa hari setelah kematiannya, nama Mozes Gatotkaca diabadikan sebagai nama jalan di mana tubuhnya ditemukan sekarat menanti ajal.

Meski berat, tetap wajib saya sampaikan di sini bahwa Mozes Gatotkaca bukanlah martir, bukan juga aktivis yang memperjuangkan Reformasi. Ia hanyalah orang biasa yang menjadi korban sebuah kerusuhan, kekasaran, kebebalan manusia yang menyelesaikan masalah dengan jalan kekerasan. Adu otot alih-alih adu otak, berdiplomasi, bermusyawarah dengan kepala dingin. Masih banyak cara selain turun ke jalan. Semoga tulisan ini menjadi pengingat, bahwa tidak perlu lagi ada nyawa tidak berdosa karena kebodohan di jalan kekerasan.

 

Palangkaraya, 2017

 

 

 

Referensi:

Djumini, Tino. 2008, Indonesian Dreams: Reflections on Society, Revelation of the Self. Jakarta: Yayasan Obor.

Harahap, Muchtar Effendi dan Andris Basril. 2000, Gerakan Mahasiswa dalam Politik Indonesia. Network for South East Asian Studies.

JA, Denny. 2006, Democratization from Below: Protest Events and Regime Change in Indonesia 1997-1998. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Tugiman, Hiro. 2007, Budaya Jawa dan Mundurnya Presiden Soeharto. Yogyakarta: Kanisius.

Rafick, Ishak. 2008, Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia. Jakarta Penerbit Ufuk.

Saunders, Joseph. 1998, Academic Freedom in Indonesia: Dismantling Soeharto Era Barriers. New York: Human Rights Watch.

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *