[Ngibul #12] Lerok, Seking, dan Kendeng

Posted: 24 April 2017 by Bagus Panuntun

Lerok

Namanya Lerok, sebuah desa di ujung utara Provinsi Jawa Timur, yang pada awal era 1980-an menjadi desa penghasil gamping dan bengkuang dengan kualitas jempolan bin jempolan. Rakyat desa itu hidup sak madya alias sederhana. Mereka bangun sebelum subuh, menjalankan ibadah berjamaah di satu-satunya mushola yang ada di desa, bersiap-siap menuju ladang, lalu seharian akan sibuk membuat gamping dalam jubungan dan merawat bijih-bijih bengkuang, lalu pulang sebelum petang.

Rakyat Lerok tak pernah mengimpikan hidup yang berlebih-lebih. Mereka merasa cukup dengan uang hasil panen yang tak kurang untuk beli beras. Juga membayar upah guru dan kyai yang mendidik anak-anaknya. Barang paling mewah yang dimiliki mereka adalah radio yang rutin menyiarkan kisah-kisah Tutur Tinular. Sisanya, dengan 3 televisi yang ada di desa berpenduduk 300 orang itu, rakyat Lerok sudah merasa lebih dari cukup untuk menganggap hidup ini berlimpah anugrah.

Tapi sesuatu terjadi di sebuah hari pada akhir 1980-an.

Ekspansi kapital ke pasar-pasar buah di wilayah Pantura membuat bengkuang Lerok yang manis dan besar-besar tak lagi laku. Pasar tiba-tiba menawarkan bengkuang-bengkuang yang meskipun kecil dan tidak terlalu manis, namun harganya jauh lebih murah. Maka jatuhlah harga bengkuang Lerok.

Nasib gamping pun setali tiga uang. Ia dilindas oleh hadirnya semen putih yang harganya jauh lebih enteng di kocek.

Ketika ratusan rakyat Lerok mendadak kere, hadirlah satu hal yang tiba-tiba menjadi oase. Adalah Malaysia, sebuah negeri nun jauh di seberang, yang konon akan memberikan pengharapan lebih bagi siapapun yang kesana. Maka di tengah kepasrahan yang mendekati menyerah, beradu cepatlah orang Lerok membobol celengan dan mendedah dompetnya untuk mendaftar jadi buruh disana.

Tak butuh 3 tahun sampai akhirnya para perantau yang jumlahnya puluhan itu kembali ke Lerok dengan membawa pundi-pundi uang yang tak sekadar cukup untuk membayar hutang. Mereka bahkan mampu memboyong sepeda, televisi warna, hingga motor GL Pro dalam pondoknya.

Turut bersuka cita lah Lerok. Kecuali Ulid, bocah kelas 5 SD yang menjadi tokoh utama sekaligus judul dari novel karangan Mahfud Ikhwan ini. Malaysia bagi Ulid adalah tentang perginya kawan-kawan, tetangga-tetangga, juga saudara-saudara terdekatnya. Dan seiring dengan kepergian itu, maka pergi pulalah identitas Lerok yang dulu dikenalnya: gamping, bengkuang, juga ladang-ladang bermainnya.

Toh dengan kesedihan Ulid, Lerok justru makin maju dengan listrik yang mengalir di tiap rumahnya. Pada tahun 1998 ketika Indonesia mengalami krisis moneter dan harga rupiah anjlok, Lerok justru berposta pora dengan ringgit yang nilai tukarnya jadi berkali lipat. Singkat kata, Lerok jadi kaya raya.

 

Seking

Kita musti mundur ke tahun 1963 dan menyeberang melalui selat Melaka. Kita sedang menuju tempat yang jaraknya hanya sekepalan tangan dari negeri yang menjadi pengharapan tetangga-tetangga Ulid. Kini kita berada di Pulau Seking. Di sebuah desa para nelayan. Rumah-rumah panggung berdinding daun rumbia, beratap seng, berlantai papan kayu bakau, dan memiliki tiang-tiang penopang yang menancap ke dasar laut nampak berjajar dimana-mana. Di bawah rumah panggung tersebut, di antara tiang-tiang penopang, mengapung perahu-perahu yang biasa dipakai penduduk untuk mencari ikan, sumber penghidupan utama mereka.

Puluhan bocah yang telanjang bulat tengah berenang dan menyelam mencari sotong. Namun ketika bocah-bocah tengah tertawa, puluhan Pak Cik-Mak Cik justru nampak bermuram durja. Beberapa bahkan menitik air mata.

Bocah-bocah itu tentu saja tak paham tentang apa yang sedang ditangisi orang tuanya. Para Pak Cik-Mak Cik itu tengah mengumpulkan kenangan-kenangan akan perahu kayu tua, terumbu karang, dan nama-nama ikan, yang dalam waktu dekat akan mereka tinggalkan

Negeri tempat mereka tinggal tengah mempersiapkan persemakmurannya. Oleh karena itu, negerinya melakukan industrialisasi besar-besaran dengan membangun kilang-kilang minyak atau pabrik-pabrik besar di segala arah. Demi ambisi itu, para pemegang kuasa mengiming-imingi para penduduk pulau kecil seperti Seking untuk menyerahkan tanah dengan jaminan kompensasi uang yang nilainya tak kecil.

Para Pak Cik-Mak Cik yang menangis adalah bagian kecil dari warga yang menolak. Sementara itu, dengan iming-iming tempat tinggal dan pekerjaan baru, juga bocah-bocah yang tak musti bangun subuh dan menyeberang laut untuk sekolah, mayoritas warga Seking menyatakan OK untuk pindah dari tanah lahirnya.

Bocah-bocah Seking yang dulu telanjang berenang, hari ini tengah menjalani masa tuanya di salah satu negeri paling kaya dan modern di dunia. Sebuah negeri yang membuat kita kerap mengutuk ibukota sendiri sebab tak bisa mengimbangi walau seujung kukunya: Singapura.

 

Kendeng

Apa yang pernah terjadi di Lerok dan Seking saya kira hampir sama dengan apa yang tengah terjadi di Kendeng. Sebagaimana yang dialami warga Lerok maupun Seking, warga Kendeng tengah berhadapan dengan modernisasi yang kian ganas menggilas lokalitas. Lerok dipaksa kehilangan gamping dan bengkuangnya, Seking dipaksa menjauh dari air asin dan ikan-ikannya, sementara rakyat Kendeng tengah dipaksa meninggalkan sawah-sawahnya.

Iming-iming modernisasi yang selalu menjanjikan hidup yang lebih baik, kini hampir membenam di tiap kepala masyarakat Kendeng. Hal ini saya ketahui ketika 28 Oktober tahun lalu saya pergi ke Sukolilo, Pati, untuk merayakan Sumpah Pemuda bersama para Kartini Kendeng.

Hari itu lebih dari 50 warga Kendeng menunggang truk menuju Sukolilo untuk merayakan Sumpah Pemuda plus selamatan atas kemenangan tuntutan mereka di Mahkamah Agung (MA) tentang diadakannya peninjauan kembali (PK) atas pembangunan pabrik semen di Kendeng.

Tuntutan tersebut memang dipenuhi berkat hasil kajian lingkungan oleh Semarang Caver Association (SCA) dan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Rembang. Penelitian tersebut menemukan 49 goa di sekitar wilayah Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih di mana 4 diantaranya merupakan goa yang memiliki sungai bawah tanah aktif. Selain itu,  kajian tersebut juga menemukan bahwa produksi semen di Indonesia masih mengalami surplus sebanyak 30 juta ton dari kebutuhan domestik.

Akan tetapi, persoalan yang dialami para Kartini Kendeng bukan persoalan lingkungan semata. Ada permasalahan lain yang hampir sama dengan apa yang dialami Ulid juga Pak Cik-Mak Cik yang menangis di tepi pulau Seking: mereka musti berhadapan dengan tetangga-tetangganya yang memilih realistis mengikuti tuntutan zaman dibanding bertahan dengan cara hidup “terasing” à la mereka. Hal tersebut saya ketahui ketika pada hari tersebut, saya berkesempatan untuk bercengkrama dengan para Kartini Kendeng, termasuk Yu Kinah dan Almarhum Yu Patmi.

Kurang lebih, begini ceritanya.

Hari itu Sukolilo mendadak diguyur hujan setelah Mas Gun Retno dan Yu Kinah menyampaikan hasil kajian ilmiah dari SCA dan JMPPK. Ketika Momo Parabiru dan Marjinal Predator siap menghentak panggung selamatan, butir-butir air kian membesar menjatuhi venue acara yang terletak di tepian hutan. Sementara sebagian besar penonton memilih tetap moshing dan pogo di atas tanah yang becek, saya tetap memilih berteduh mengingat nanti malam saya masih harus menempuh perjalanan pulang 180 km Pati-Jogja.

Secara tak terduga, ternyata saya duduk di samping Yu Kinah. Setelah menghangatkan badan dengan menyesap sebatang rokok pemberian salah satu anak punk, saya sengaja duduk mendekati para Kartini Kendeng, menyalami mereka, dan memperkenalkan diri. Di situlah saya sempat bertanya tentang keadaan sebenarnya yang terjadi di tanah mereka.

“Yu, apakah benar bahwa ibu-ibu ini sudah dua tahun tinggal di bawah tenda perjuangan?

Nggih, benar. Leres mas.”

“Lha rumah siapa yang mengurus bu?”.

“Ya seminggu kan masih pulang satu-dua kali untuk membersihkan rumah, ambil persediaan makanan, dan lain sebagainya.”

“Oh ya, Yu, kalau warga Kendeng sendiri seratus persen menolak pabrik semen ya yu?”.

“Ya ndak to mas. Banyak warga Kendeng yang pro dengan pabrik semen. Tapi kita kan ndak bisa menyalahkan mereka mas, nah semen juga berani kasih kompensasi. Hasilnya kan sudah kelihatan kalau dikasih langsung. Lah kalau membela ibu bumi?”

Apa yang perlu kita garisbawahi dari percakapan di atas adalah pilihan sikap Yu Kinah untuk tidak menyalahkan tetangga-tetangganya yang berseberangan paham. Sebab bagi Yu Kinah, warga Kendeng yang berbeda haluan darinya adalah bagian dari korban: mereka yang hampir tak punya pilihan di tengah narasi tunggal tentang kekayaan. Narasi tentang kekayaan yang barangkali hadir dalam wujud cerita-cerita tentang Lerok dan Seking. Narasi tentang kekayaan yang diukur dan ditakar dengan uang. Sementara itu, Yu Kinah punya narasi kekayaan versinya sendiri: bahwa pepohonan, tanah, air bening, dan ikatan spiritual manusia dengan buminya yang tak akan habis sampai tujuh turunan adalah harta sesungguhnya. Dan atas itu lah mereka sudah merasa menjadi orang kaya.

Yang kini jadi masalah justru diri kita sendiri. Kita yang selama ini hidup di tengah peradaban modern dan barangkali tak pernah menyentuh gagang pacul sedikitpun. Apakah kita bisa menerima—atau bahkan membela—narasi tentang kekayaan dari perspektif yang lain? 

Tempo hari, ketika para Kartini Kendeng berhari-hari mengecor kakinya di depan istana, kita berjumpa dengan puluhan barangkali ratusan orang yang menganggap tindakan tersebut sebagai tindakan membabi buta. Barangkali kita salah satunya. Dengan enteng kita berkata bahwa persoalan Kendeng semata persoalan UUD, ujung-ujungnya duit. Anggapan bahwa ada korporat di baliknya, anggapan bahwa mereka adalah tuan-tuan tanah, atau anggapan bahwa mereka adalah orang yang tak mau menyesuaikan zaman, dengan entengnya kita arahkan pada mereka yang tengah mempertahankan keyakinannya:  keyakinan bahwa bersama alam, mereka telah kaya.

Sementara para Kartini Kendeng mau memahami cara berpikir kita, apakah kita juga bisa memahami cara berpikir mereka? Dan jika kita tetap menganggap mereka sebagai pecundang konyol yang menyerah pada zaman, maka sebaiknya kita mengingat satu kalimat yang pernah diucap cerpenis Puthut EA, “Banyak masyarakat “modern” menertawakan dan mengejek kepercayaan suku-suku “terasing” yang dianggap menyembah gunung, pohon, atau laut, sambil diam-diam mereka menyembah uang, jabatan, dan kekuasaan”.

 

* Foto karya Amalya Suchy Mustikapurnamasari.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *