[Ngibul #11] Anak Panah

Posted: 17 April 2017 by Andreas Nova

You are the bows from which your children as living arrows are sent forth

—Kahlil Gibran, On Children

 

Kahlil Gibran, penyair berkebangsaan Lebanon – Amerika menuliskan puisi On Children dalam bukunya The Prophet tahun 1923. Buku tersebut ditulis dalam bahasa Inggris dan berisi 26 prosa, puisi dan fabel. The Prophet bercerita tentang Sang Nabi, Almustafa yang tinggal di Orphalese selama 12 tahun. Ketika akan menaiki kapal yang hendak membawanya pulang, ia bertemu dengan sekelompok orang yang kemudian membahas hal-hal yang berkaitan tentang hidup dan kondisi manusia.

Buku ini dibagi menjadi beberapa bab yang membahas tentang cinta, pernikahan, anak-anak, sedekah, makan minum, bekerja, suka duka, rumah, pakaian, jual beli, kejahatan dan ganjaran, hukum, kebebasan, rasa sakit, pengetahuan, pengajaran, persahabatan, baik dan jahat, doa, agama, dan kematian. Kurang lebih banyak nasihat yang baik disampaikan oleh sang Nabi dalam buku ini. Mungkin sedikit banyak akan sama ketika anda membaca novel Alkudus karya rekan saya, Asef Saeful Anwar.

Salah satu isi dari karya yang telah diterjemahkan lebih dari empat puluh bahasa, dan terjual lebih dari satu juta kopi ini adalah On Children yang saya kutip di atas. Ia mengandaikan anak-anak adalah panah hidup yang meluncur dari busur yang merupakan metafora dari orangtua. Bagi Gibran, orangtua hanyalah busur yang akan memiliki makna ketika ia melepaskan anak-anaknya untuk meraih cita-cita si anak panah. Tugas orangtua hanya membimbing anak-anaknya supaya bisa meraih cita-cita si anak, bukan cita-cita si orangtua.

Sebenarnya saya kurang setuju dengan metafora orang tua sebagai busur. Seolah, orang tua hanyalah alat yang dipakai untuk meluncurkan anak menuju cita-cita. Saat Gibran menggunakan metafora ini, ia menghilangkan kehendak bebas (free will) yang dimiliki manusia –orangtua dalam konteks ini. Namun sepertinya Gibran memang sengaja memberikan peran lebih besar pada sang pemanah –yang merupakan metafora dari Sang Pemilik Takdir– daripada busur yang bersinggungan langsung dengan sang anak panah. Arah, tujuan, dan apa yang menjadi bidikan sang pemanah, bukanlah urusan si busur yang tugasnya meluncurkan anak panah. Jadilah si busur menjadi sekadar alat untuk meluncurkan anak-anak panah, membiarkannya melaju bebas menuju bidikan Sang Pemanah Agung.

Jika anda menolak pendapat Gibran tersebut, sudah pasti anda akan dicap sebagai orangtua yang otoriter. Anak harus menurut pada orangtuanya. Namun jika anda seratus persen setuju dengan pendapat Gibran tersebut, justru saya yang meragukan apakah anda mampu melakukan itu. Apakah anda bisa melepaskan anak panah tanpa pamrih?

Sebagian besar manusia mengharapkan adanya hubungan yang resiprokal. Jika saya memberi, maka saya harus diberi juga. Jika saya mencintai, maka saya harus dicintai juga. Jika saya keluar modal lima puluh ribu, maka saya harus mendapat keuntungan –minimal– lima puluh ribu juga. Semua mengharapkan timbal balik yang minimal sama dengan yang telah dilakukan. Ketika anda diberi amanah untuk merawat seorang anak, lalu membesarkannya dengan penuh kasih sayang, sedikit banyak anda mengharapkan kelak anak anda akan mengasihi anda dan merawat anda di kemudian hari.

Orangtua yang ideal terdiri dari seorang ayah dan seorang ibu. Keduanya memiliki perannya sendiri, namun kasih sayang kepada anak tetaplah harus sama. Kasih ibu tak terhingga sepanjang masa. Saya tidak meragukan kasih ibu, namun apakah kasih ayah juga sama tak terhingganya dengan ibu? Dengan kodrat laki-laki yang kebanyakan mendahulukan rasional alih-alih emosional, saya rasa wajar jika para ayah –dan mungkin calon ayah– menginginkan timbal balik yang –minimal– sama dengan apa yang telah diberikannya.

Dalam narasi fiksi, banyak sekali contoh keluarga yang ideal, seperty keluarga Arthur dan Molly Weasley dalam seri Harry Potter-nya J.K Rowling, atau Keluarga Little dalam Stuart Little-nya E.B White yang mengadopsi seekor tikus, atau malah beruang Baloo dan Bagheera si macan kumbang yang membesarkan Mowgli dalam The Jungle Book-nya Rudyard Kipling. Ketiga contoh tersebut mungkin adalah keluarga yang ideal meskipun ada hubungan inter–spesies di dalamnya. Hubungan tersebut justru menunjukkan bahwa keluarga itu bisa dibentuk tanpa mengenal batas. Beda spesies pun tidak menghalangi kasih sayang yang diberikan orangtua pada anaknya.

Selain orangtua yang ideal, ada juga hubungan orangtua–anak yang terkesan tidak sempurna, namun justru ada ketulusan untuk melepaskan anak panah tersebut. Saya akan memberikan contoh dari film Logan (2017) yang disutradarai James Mangold dan novel Pulang (2012) karya Leila S. Chudori. Sebenarnya saya ingin menambahkan novel Father and Son (1862) karya Ivan Turgenev, namun karena novel tersebut belum selesai saya baca sehingga saya ragu untuk bisa memberikan contoh yang utuh dari karya tersebut.

Dalam film Logan, hubungan tersebut terjadi dalam diri Logan (Hugh Jackman) dan Laura (Dafne Keen). Laura bukan anak biologis Logan, keduanya hanya memiliki hubungan genetis, karena Laura adalah klon dari Logan. Logan yang digambarkan pemberang, tidak bisa lepas dari minuman keras di masa senjanya tentu bukan karakter orangtua yang ideal bagi Laura. Bahkan jika melihat sejarah hidup Logan di media cerita bergambar, Logan bahkan menghabisi 23 klon dirinya.

Ada sebuah adegan dimana Laura akan membunuh penjaga toko, namun dicegah Logan. “Not Good!” serunya. Di sini Logan sudah meletakkan dirinya sebagai pembimbing –selain menghindari meninggalkan jejak bagi pemburunya–  namun ia masih bingung untuk mengarahkan anak panahnya. Bahkan ketika Xavier terbunuh, sebenarnya Logan sudah tidak punya alasan untuk mengantarkan Laura ke North Dakota, tempat tujuannya. Tapi Logan tetap mengantarkan Laura walaupun dengan dongkol. Bahkan ketika Logan mati-matian melindungi Laura dan teman-teman mutant lainnya, Logan tidak mengharapkan Laura juga akan bertarung saling melindungi dari The Reavers pengejarnya. Hubungan orangtua–anak yang tidak lazim ini justru membuat film Logan menjadi film bersubgenre superhero yang lebih manusiawi daripada film bertema serupa.

Lain lagi dengan novel Pulang karya Leila S. Chudori. Novel yang menceritakan kehidupan eksil Indonesia paska peristiwa 1965 ini memiliki banyak hubungan orangtua–anak diantara tokoh-tokohnya. Novel menyoroti imbas peristiwa 1965 dalam dua generasi. Generasi pertama yang merasakannya langsung dan generasi kedua yang menerima imbas dari apa yang dialami generasi pertama. Hubungan orangtua–anak terjadi pada dua tokoh yang menjadi karakter pilar dalam novel ini, Dimas Suryo, mantan istrinya Vivienne Deveraux dan Lintang Utara. Selain itu beberapa karakter sekunder juga memiliki hubungan orangtua–anak seperti Nugroho, mantan istrinya Rukmini dan Bimo, Hananto Prawiro (alm.), istrinya Surti dan Segara Alam.

Nama-nama tersebut memiliki kecacatan dalam hubungan ideal orangtua–anak. Dimas Suryo bercerai dengan Vivienne Deveraux, ibu Lintang Utara. Bahkan Lintang sendiri sempat tidak mau menemui Dimas selama enam bulan. Nugroho tidak pernah bertemu dengan Bimo yang tinggal bersama ibu dan ayah tirinya yang seorang tentara. Dalam novel tersebut diceritakan hanya sekali Nugroho bertemu dengan Bimo di Singapura, karena Nugroho tidak memiliki visa untuk kembali ke tanah airnya. Terakhir, Hananto Prawiro dihukum mati tanpa peradilan, sehingga Alam hanya mengenalnya dari cerita ibu dan kakak-kakaknya.

Namun hubungan yang cacat ini malah membuat sang orangtua –terutama ayah– dapat melepaskan anak panahnya dengan sempurna. Dimas Suryo sangat mendukung Lintang untuk melakukan tugas akhir kuliahnya di Indonesia. Meskipun kondisi politik Indonesia dalam novel tersebut diceritakan sedang memanas menjelang peristiwa Mei 1998. Ia melakukan itu tanpa pamrih, walaupun di dalam hatinya ia sangat ingin pulang dan (kelak) dimakamkan di Karet. Ia hanya ingin anaknya, darah dagingnya mengenal tanah air tempat ia dilahirkan dan dibesarkan meskipun pemerintah saat itu tidak memberikannya izin untuk kembali pulang. Dimas membebaskan Lintang untuk memetik makna dari Indonesia sendiri.

Kebanyakan orangtua menginginkan kelak di masa tua, hidupnya dijamin oleh anaknya. Orangtua membesarkan anaknya dengan kasih sayang, diberi pendidikan yang baik –dengan segala cara– sehingga mampu mendapatkan pekerjaan yang layak –dan bergaji besar, sangat besar– dinikahkan dengan lawan jenisnya yang sudah dipilah bibit, bobot, bebet-nya, sehingga hidupnya nyaman tenang dan ketika orangtuanya sudah memasuki masa senja, sang anak mampu menjamin kehidupan orangtuanya.

Pemikiran seperti itu bagi saya justru tidak menunjukkan ketulusan orangtua. Apakah anak wajib mengasihi orangtuanya? Mungkin bagi anda jawabannya adalah ya. Bagi saya justru jawabannya adalah tidak. Cinta kasih tanpa kesadaran dan ketulusan untuk mencintai, tidak akan menghasilkan kasih yang tulus. Saya mengasihi orangtua saya bukan karena saya wajib mengasihi beliau, namun karena mereka sudah mengasihi saya dan saya dengan ikhlas, tulus dan sadar diri mengasihi mereka. Begitu juga ketika saya mengasihi anak saya, saya tidak mewajibkan ia mengasihi orangtuanya, saya memberi cinta kasih sebesar yang saya mampu dan saya yakin hal itu akan kembali kepada saya tanpa memintanya kembali.

 

*Foto oleh Ika Dianti Paramitasari

**Model dalam foto adalah Budi Hermawan

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *