[Ngibul #1] Être et Avoir

Posted: 7 February 2017 by Andreas Nova

Tahun 2006, setelah membaca pengumuman hasil Ujian Masuk Universitas Gadjah Mada di surat kabar, saya malah bingung. Nama saya tertulis sebagai calon mahasiswa yang diterima sebagai mahasiswa baru Prodi Sastra Prancis. Saya bingung karena saya tidak tahu sama sekali tentang Sastra Prancis, bahkan Bahasa Prancis pun saya hanya tahu kata “pierre” yang saya nggak tahu artinya karena kata tersebut sering muncul dalam film RRRrrrr!!! (2004). Euforia masuk salah satu universitas negeri ternama di Indonesia membuat saya tidak berpikir panjang. Saya bisa kuliah, saya lebih beruntung dari sejumlah besar siswa SMA yang tidak mampu melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Hari pertama kuliah, saya mendapati ternyata sebagian besar teman-teman seangkatan juga sama dengan saya. Sama-sama nol besar tentang Bahasa Prancis. Hari itu adalah hari pertama saya mulai mempelajari ilmu yang benar-benar baru di kampus, hingga akhirnya lima belas semester kemudian dinyatakan lulus. Banyak yang saya pelajari dalam lima belas semester.

Salah satu dari sekian banyak yang saya pelajari adalah kata être (to be) dan avoir (to have) yang banyak digunakan dalam Bahasa Prancis. Pemahaman terhadap penggunaan kedua kata ini menjadi sangat penting dalam menguasai bahasa yang menjadi lingua franca di Eropa pada abad pertengahan. Être digunakan untuk mengkonjugasikan kata kerja yang menyatakan gerak, arah dan kata kerja refleksif. Sementara kata avoir yang lebih banyak digunakan untuk mengkonjugasikan sebagian besar kata kerja Bahasa Prancis. Penggunaan kedua kopula ini bisa membedakan makna dari sebuah kata kerja. Contohnya, “manger” (makan), “être mangé” (dimakan) dan “avoir mangé” (telah makan). Selain itu, être dan avoir juga memiliki pemaknaan lebih.

Di dunia ini kita pun dapat “memiliki” banyak hal, namun apakah dengan itu kita sudah “menjadi” diri kita? Memiliki sesuatu yang tidak menjadikan siapa anda. Itu semua hanya hal-hal yang kebetulan anda miliki atau pencapaian tertentu.

Erich Fromm mengupas tentang konsep being dan having lebih luas dalam To Have or To Be (1976). Fromm menyebutkan bagaimana masyarakat modern telah menjadi materialistis dan lebih suka “memiliki” daripada “menjadi”. Kemudian saya berpikir, saya telah “memiliki” gelar Sarjana Sastra, tapi apakah saya telah “menjadi” Sarjana Sastra? Apa kontribusi saya sebagai seorang Sarjana Sastra? Apa kontribusi saya terhadap dunia sastra? Apakah bukti menjadi Sarjana cukup dengan tugas akhir berupa Skripsi? Apakah hanya perlu cogito agar menjadi ergo sum? Apakah pemikiran-pemikiran idealis ala mahasiswa hanya berakhir sebagai obrolan di bangku kantin? Lalu terkubur realita rutinitas pekerjaan kantoran yang monoton.

Akhir Desember tahun lalu, saya bertemu kembali dengan teman saya, Olav Iban. Ia adalah teman sejurusan pertama yang saya kenal. Seorang teman yang sangat sering menjadi rekan diskusi (baik soal studi maupun tidak) semasa kuliah. Saat itu kami berencana “reuni” setelah sekitar dua tahun tidak bersua. Agar tak seperti dua orang laki-laki yang memadu kasih di sebuah kafe, kami menambahkan sepasang laki-laki lagi, Fitriawan Nur Indrianto dan Asef Saeful Anwar. Dua nama terakhir ini adalah teman dari jurusan Sastra Indonesia. Dalam pertemuan itu, saya mengajukan sebuah gagasan untuk membuat sebuah ruang tulisan di dunia maya.

Ide yang saya ajukan sebenarnya ide lama yang belum sempat tereksekusi. Sebuah ruang untuk mempublikasikan karya-karya yang selama ini masih malu-malu untuk muncul, yang masih belum berani untuk diapresiasi oleh publik. Memang, ini bukan ide yang original. Banyak situs web serupa dengan warna dan ceruk pasarnya masing-masing. Tidak apa-apa toh, nihil sub sole novum. Tidak ada yang baru di bawah matahari. Ruang ini difokuskan untuk tema Sastra, Seni dan Budaya. Bentuk tulisannya pun beragam, bisa berbentuk cerpen, puisi, esai, artikel bahkan terjemahan. Saya juga menjelaskan visi dan rencana ke depan yang akan direalisasikan, namun saya rasa belum perlu dituliskan di sini.

Mereka menyambut baik ide tersebut. Kami kemudian mengerucutkan apa saja yang harus diprioritaskan dan apa yang bisa ditunda untuk mengeksekusinya. Kami membagi tugas sesuai dengan kompetensi masing-masing. Olav yang otaknya sudah kritis dari lahir memilih untuk menjadi Redaktur Esai dan Resensi. Asef yang hidupnya sudah fiktif, menempatkan diri sebagai Redaktur Cerpen. Sementara Fitriawan yang merupakan stereotip anak sastra—fasih merangkai kata indah nan puitis—berposisi sebagai Redaktur Puisi.

Kemudian saya mengusulkan untuk menambahkan adik angkatan saya, Ari Bagus Panuntun sebagai Redaktur Artikel. Meskipun selisih umur kami sekitar enam tahun, Bagus memiliki ide-ide brilian, koneksi yang cukup luas dan tulisan agitatif satir nan berisi ala mahasiswa. Maklum, status mahasiswanya sudah matang dan tinggal tunggu wisuda. Ibarat gorengan yang masih hangat dan minyaknya masih belum tuntas ditiriskan. Saya berharap ia bisa memberi warna segar pada redaktur lainnya yang mungkin lebih realis daripada idealis.

Saya yang tidak punya kompetensi khusus masalah penulisan, akhirnya mlipir menjadi Redaktur Umum sekaligus menjembatani masalah teknis. Untuk urusan ini pun saya dibantu dengan seorang teman, Kurnia Sari. Seorang perempuan ceria yang rela bolak-balik dari Kabupaten Kulon Progo ke Kodya Yogyakarta demi mencari koneksi internet untuk mengotak-atik tampilan web.

Dalam proses pengerucutan ide tersebut tidak jarang kami beradu argumen panjang lebar via whatsapp. Mulai dari apa saja isinya, bagaimana desain situs webnya, media sosial apa saja yang dipakai (kami punya beberapa akun media sosial juga lho. Silakan ikuti Facebook, Twitter, dan Instagram kami.). Bahkan pemilihan nama saja bisa berlangsung beberapa hari. Sebelum akhirnya muncul nama Kibul yang mengalahkan nama-nama keren lainnya—juga memilih domain dot in, karena kibulin terdengar lebih merdu daripada kibulko, kibulkom maupun kibulid.

Bagi saya pribadi, Kibul.in adalah cara saya untuk berproses “menjadi”. Ini adalah “être” bagi saya. Dibandingkan dengan Sarjana Sastra lain, saya sadar bahwa saya belum ada apa-apanya Ada yang sudah jadi orang besar, dosen, maupun mereka yang sudah “menjadi” dengan menelurkan karya. Namun saya bergerak ke arah yang lain. Salah satu visi Kibul.in adalah memberi kontribusi pada perkembangan dunia sastra di Indonesia. Saya bersama teman-teman saya menyatukan ide dan pendapat untuk membuat ruang alternatif untuk berkarya. Bukan hanya bagi saya sendiri atau teman-teman saya. Tapi untuk siapa saja. Semua boleh berkontribusi.

Ngomong-omong ada satu kata lagi dalam Bahasa Prancis  yang tidak kalah penting dari être dan avoir. Kata itu adalah faire yang berarti to do atau to make, melakukan atau membuat. Être tidak akan lengkap tanpa obyeknya, dan tidak akan terwujud tanpa faire.

 

*Gambar komik strip dibuat oleh Nurfadli Mursyid (tahilalats), diambil dari sini

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *