Wisata Soliter Pengidap BPD (Borderline Personality Disorder)

Posted: 12 May 2018 by Reza Nufa

Shame Book Cover Shame
Drama
2011
1 jam 41 menit
Steve McQueen
Michael Fassbender, Carey Mulligan, James Badge Dale

Rutinitas kehidupan pribadi seorang pria terganggu ketika adik perempuannya tiba untuk waktu yang tidak terbatas.

 

Dalam karya-karyanya, Murakami, penulis yang senang jogging itu, kerap menciptakan sosok yang hidup dalam gelembung, terisolir secara emosional—bahkan terkadang fungsional—dari lingkungannya; sosok yang lebih senang mengenang masa lampau ketimbang bicara masa depan, menjalani hidup dalam rutinitas yang sama sekali tidak berharga sekaligus tidak berusaha untuk lari darinya. Dalam Shame, film yang disutradarai oleh Steve McQueen, tokoh Brandon Sullivan yang diperankan oleh Michael Fassbender, yang penisnya bergelayutan di adegan pembuka, berbagi sifat-sifat yang sama dengan tokoh ala Murakami.

Brandon bekerja di sebuah perusahaan hi-tek dengan gaji yang cukup untuk membeli sebuah apartemen mewah dengan dinding-dinding kaca lebar yang menampilkan kesibukan kota New York juga pemandangan ke arah sungai lebar yang cakep. Meski hidupnya serba berkecukupan, dia tidak punya teman selain bosnya sendiri, David, yang diperankan oleh James Badge Dale, dan tampak jelas bahwa pertemanan ini pun sebetulnya tidak dilandasi oleh hasrat untuk membangun relasi emosional, lebih ditujukan sebagai tata krama profesional. Kondisi ini terlihat jelas dari kegiatan nongkrong-nongkrong mereka yang selalu diinisiasi David, bukan sebaliknya.

Dalam kesendiriannya, Brandon kecanduan pornografi. Dia rutin menonton bokep, berlangganan cam-sex, dan sesekali memanggil pelacur dan menyaksikan mereka melucuti pakaian. Rutinitasnya kurang lebih begini: bangun pagi, membuka mailbox dan dari sana mendengar ocehan adiknya, Sissy, yang diperankan oleh Carey Mulligan, yang berulang kali ingin bertemu namun tak pernah digubrisnya, kemudian dia coli, berangkat ke kantor dengan terlambat lalu memberi alasan aneh-aneh pada bosnya, melihat perempuan seksi di kantor, jalanan, atau mana pun, lalu coli lagi di toilet terdekat, kemudian dia pulang ke apartemennya, memutar Bach dari piringan hitam, membuka laptop, dan kembali menonton bokep.

Rutinitas yang sudah terbentuk ini akhirnya terganggu oleh kehadiran Sissy—yang ingin menumpang di sana karena baru saja putus dari pacarnya. Kelakuan Sissy yang kekanakan dan menyimpan ledakan-ledakan emosi yang tak terduga, sama sekali tidak disukai oleh Brandon. Bekas-bekas luka sayatan di lengan Sissy, juga penampilannya yang kerap berantakan, menjadi penanda bahwa anak ini pun bermasalah secara psikis dan Brandon malas berurusan dengan hal semacam ini. Dia sudah merasa cukup untuk hidup dengan dirinya sendiri. Sissy sempat berkilah bahwa keberadaannya di sana untuk menolong Brandon, dan Brandon, dengan jiwa yang berkarat, berkata, “Tak mungkin kau menolongku. Kau bahkan belum bisa mengurusi dirimu sendiri. Kau cuma jadi beban.”

Film ini berjalan dengan lamban dan sederhana. Kita tidak bisa mengharapkan sesuatu yang lebih romantik atau heroik. Bahkan sesuatu semacam cinta, pada diri Brandon, sudah tereduksi sebatas pada urusan biologis yang egoistik. Saat mencoba mengencani rekan kerjanya sendiri, Marianne, yang diperankan oleh Nicole Beharie, dia bilang bahwa pernikahan bukanlah sesuatu yang realistik. Ini pernyataan yang sangat kuat dan bisa diperbincangkan semalaman suntuk. Darinya bisa saja lahir argumen lanjutan bahwa pernikahan lebih banyak dibentuk oleh imajinasi para pembohong, lantas pernikahan menjadi ilusi bagi manusia-manusia lugu. Tapi tentu saja bukan itu tujuan dari kencan mereka. Pada akhirnya Brandon selalu sendiri.

Dengan kevulgaran yang tidak melulu mengacu kepada rupa seksualitas, melainkan lebih luas dari itu, kepada seluruh realitas yang berusaha ditampilkannya, Shame menunjukkan bagaimana wajah manusia yang meninggali kota metropolitan. Brandon, dalam hal ini, menjadi gambaran paradoksal dari sosok penghuni kota yang sibuk sekaligus kosong, individualistik sekaligus enggan jauh dari keramaian, menghabiskan waktu tanpa mereproduksi makna, mencintai orang lain sebatas sebagai komplemen dari cintanya terhadap kesendirian. Kenikmatan pornografi, coli, dan seks berbayar yang juga memenjarakannya itu, tidak lain hanyalah riak dari cintanya terhadap kesendirian, sebab itulah pilihan berwisata paling mengasyikkan bagi manusia soliter.

Amat disayangkan, sebagaimana dikatakan oleh Abby Seltzer, seorang psikiatri yang membahas film ini dalam jurnalnya, orang lebih banyak menyinggung persoalan seksualitas yang digarap film ini, padahal Shame mengangkat persoalan yang lebih besar dan memberi gambaran yang tepat tentang persoalan itu. Dia sampai bilang bahwa film ini  a moving and accurate portrayal of psychopathology … (that should be) compulsory viewing for all practising clinicians. Oleh karena itu, kata “shame” yang dipakai sebagai judul film ini, lebih cocok untuk ditujukan kepada logika manusia modern yang kompleks dan tragis ketimbang sebatas kepada ketelanjangan tubuh manusia dan seksualitasnya. Dengan rating NC-17, yang artinya tidak boleh ditonton oleh orang yang masih berada diampu Komisi Perlindungan Anak, Shame meraih berbagai penghargaan dari festival film dan mendapat banyak komentar positif dari kritikus. Dia menjadi film yang tidak sekadar layak ditonton, melainkan juga layak diperbincangkan.

Keunggulan lain film ini ialah ia kerap memunculkan soundtrack sebagai bagian organik darinya, bukan sesuatu yang muncul entah dari mana (dalam film, biasanya musik muncul begitu saja seolah-olah disiarkan dari sebuah radio di langit). Seperti disebutkan sebelumnya, Bach berputar dari piringan hitam dalam apartemen Brandon. Setidaknya ada empat komposisi Bach yang dimainkan dalam film ini. “My Favorite Things”, lagu hits hasil kolaborasi Oscar Hammerstein II dengan Richard Rodger, muncul pula dalam film ini, dibawakan oleh alunan saksofon John Coltrane. Kemudian ada adegan ketika Sissy bernyanyi di bar. Carey Mulligan sendiri yang menyanyikan lagu “New York, New York” yang sebelumnya dipopulerkan oleh Frank Sinatra. “Unravelling” yang digubah oleh Harry Escott menjadi pengiring paling kuat dalam film ini. Berbeda dengan soundtrack pada film-film lain, yang biasanya menjadi enak didengar karena dibumbui kisah besar sebuah film, musik-musik dalam film ini—terutama yang saya sebutkan—sudah dan atau akan tetap indah, dengan ataupun tanpa filmnya.

Selain pengaruh kepiawaian para aktor dan aktrisnya, musik-musik ini juga menyumbang kesan yang besar dalam Shame. Musik-musik inilah yang membuat adegan-adegan banal menjadi megah. Ia menggema bahkan setelah film ini usai. Khusus bagi para pengidap BPD, sebagaimana Brandon, saya rasa, musik-musik ini bisa jadi teman penghiburan lain di penghujung hari yang melelahkan, diputar sambil berdiri menatap jendela yang kosong dan berpikir bagaimana cara memiliki sebuah hubungan yang saling mengisi, saling melengkapi, tanpa perlu betul-betul berhubungan secara intim dengan orang lain; bagaimana agar tidak terjebak dalam kondisi yang membingungkan ketika ia menyadari bahwa mencintai ataupun dicintai adalah posisi yang hangat namun merepotkan.

Kalau sempat, saya ingin mengajak Murakami menonton film ini, dan dia akan setuju bahwa film ini tidak punya aspek yang bisa dikritisi, dan Brandon merupakan bentuk dewasa dari seorang Watanabe.

 

Pendapat Anda: