The Grand Budapest Hotel: Holocaust, Nazisme, dan Ilmu Meraga Sukma

Posted: 9 June 2018 by Titis Anggalih

The Grand Budapest Hotel Book Cover The Grand Budapest Hotel
Adventure, Comedy, Drama
28 Maret 2014
99 menit
Wes Anderson
Ralph Fiennes, F. Murray Abraham, Mathieu Amalric, Adrien Brody, Tilda Swinton, Willem Dafoe, Edward Norton

 

Dear ES,

Menulis pengalaman menonton sebuah film tentu mudah andai, sebagaimana biasa, kuketik dengan jariku sendiri. Namun tidak pun. Aku sedang belajar meraga sukma dan belum tahu caranya pulang ke badan fisikku sehingga aku mendatangi mimpi salah satu redaksi Kibul dan memaksanya dengan sedikit ancaman agar bersedia mengetik resensi film The Grand Budapest Hotel ini untukmu (barangkali nuansa tulisannya tidak begitu mirip dengan tulisanku. Harap maklum).

Setelah membaca tulisan ini, kau akan mengerti mengapa karya-karya Wes Anderson begitu mewarnai gaya tulisanku, setidaknya kau temukan muncul sebagai sekedar potongan atau fragmen. Beberapa kali kusadari hal itu dan ingin kuhilangkan, ES, tapi impresinya sudah lekat macam permen karet yang secara tak sengaja diinjak oleh sol sepatu. Kau juga akan mendapati kesimpulan unik betapa film komedi bisa lahir bahkan ketika para pemerannya tak berusaha tampil lucu!

Jadi begini, ES, menurutmu kesintingan macam apa yang bisa ditimbulkan oleh seorang manager hotel legendaris berpembawaan necis, ceriwis serta perlente yang memiliki kecenderungan seksual pada wanita lansia berusia 2 kali usianya sendiri? Fakta bahwa semua wanita yang menjadi teman tidurnya harus memiliki ciri fisik blonde nan tajir sebaiknya kita abaikan, sebab negara ini rentan terhadap isu sosial macam itu.

Sudah kubilang abaikan. Stop! Ya, diam begitu dan lanjutkan membaca saja (sebagai bentukan ruh, aku tidak terikat waktu : cara kerja waktu tak lagi linear, ES, maka aku akan tahu jika kau hendak menginterupsi).

Sebagai ruh, kemampuan mengingatku turun dan mudah linglung, tak tajam-tajam amat. Meski berusaha mengingat aku tetap lupa nama asali pemeran tokoh utama : Sang Manager Hotel Legendaris. Yang kuingat, ia adalah orang yang sama yang memerankan Si Lucknut Voldemort favoritmu (kekasihnya, Madam D, dimainkan oleh orang yang jadi guru spiritual Doctor Strange, ya, yang botak itu). Ini menunjukkan kualitas berperan yang tak main-main, ES : ia mampu berperan se-lucknut itu sebagai Voldemort namun tak bercela juga menjadi Sang Manager yang sedikit-sedikit menyemprot minyak wangi dan bersajak. Oh, bahkan ia bersajak di depan seorang Bocah Lobi bertampang polos (atau bodoh) bukan kepalang. Kelak Si Bocah Lobi menjadi sahabat terbaik Sang Manager Legendaris.

Aku tak akan menceritakan banyak-banyak tentang sinopsisnya, ES, sebab yang begitu-begitu sudah banyak ditulis di Google kalau kau mau sedikit berusaha mencari, mengingat kau agak malas dan suka menunda dan membuat orang jengkel demi terus-terusan mengingatkanmu. Terserah kau saja.

Apa? Kembali ke topik? Baik.

Yang tidak banyak diketahui orang tentang film ini, selain meraih 9 Nominasi Academy Awards 2015, secara subtil pamanku Wes Anderson menampilkan adegan yang sesungguhnya merefleksikan kejadian sebenarnya. Ya, setting Negara Zubrowka di tahun 1968 adalah fiksi, namun yang terjadi pada tahun-tahun itu adalah benar demikian adanya : representasi Perang Dunia II dan penggambaran sejati tentang Holocaust.

“One of the smartest and most sophisticated movies ever made about both the causes of the Holocaust and its consequences,” tulis The Atlantic.

Itu bukan tanpa alasan. Kau bisa lihat konflik dimulai ketika Dmitri kesal tak ada ampun sebab mendiang Madam D justru mewariskan lukisan agung era Renaissance ‘The Boy With Apple’ kepada Sang Manajer Hotel, bukan pada dirinya sebagai anak kandung. Ia lantas menuduh Sang Manager sebagai homoseksual dengan kebencian dan rasa jijik tak main-main. Dmitri sendiri menampilkan sosok khas tentara Nazi : seragam hitam nan bengis maharaja (diperankan secara tidak mengecewakan oleh Om ganteng Adrien Brody). Belum lagi bawahan Dmitri yang sedikit-sedikit main bunuh, si Jopling itu, yang menimbulkan perasaan ingin membedil dirinya tiap kali ia muncul. Jopling memang sedikit muncul dan tidak dominan, tapi sekali muncul bawaannya bikin hasrat berdoa minta keselamatan pada Tuhan. Salah satu yang dia bunuh adalah seorang deputi Yahudi bernama Kovacs setelah menjepit keempat jari Kovacs dengan daun pintu terkutuk sehingga putus sekonyong-konyong pada saat itu juga, meninggalkan sedikit ceceran darah sebelum akhirnya membaringkan bangkai Kovacs ke dalam sarkofagus dengan pose yang sama sekali tak cemerlang.

Fix. Nazi betul.

Dan tidak seperti nasehatmu, ES, bahwa hanya orang sinting yang tak mampu bercerita dengan baik, sebab Wes Anderson terbukti menyuguhkan kolaborasi ganjil antara kejeniusan dan kesintingan dengan formulasi perbandingan yang hanya Tuhan yang tahu. Banyak tokoh yang nampaknya kontras nyatanya berhasil saling menguatkan karakter satu dengan yang lain. Atau yang tidak kontras dan tetap epik, macam Si Bocah Lobi dan pacarnya si gadis pembuat kue, Agatha, yang memiliki tompel besar berbentuk Negara Meksiko di pipi kanannya.

Yah, namanya juga dark comedy. Dan sebagaimana dark comedy lainnya, dark comedy itu pahit, ES. Pahit!

Pendapat Anda: