Warok Saimun

Posted: 14 November 2017 by Wahyu Budi Utomo

warok saimun

Saimun terlihat berjalan tergesa-gesa. Ia tak memedulikan kanan atau kirinya dan jalanan batu yang berdebu. Yang ia pikirkan hanya segera berada di rumah. Beristirahat sejenak lalu mempersiapkan sesuatu. Tak banyak waktu untuk keadaan yang mulai terasa genting ini. Jika ia tak segera bersiap maka orang-orang itu yang akan mendahului dan memenangkannya. Meskipun apa yang ia yakini selama ini sudah kalah, orang-orang itu tak boleh seenaknya sendiri. Apalagi sampai mencabut nyawanya atau anggota kelompok reog lainnya.

Kabar tentang para tentara dan masyarakat yang berada di pihak pemerintah bergerak untuk menumpas golongan merah telah menyebar. Mereka bahkan mulai menculik orang-orang yang selama ini berafiliasi dengan Partai Komunis. Mereka juga menyasar kalangan seniman. Sebagai seniman reog yang tergabung dalam golongan merah Saimun tentunya tinggal menunggu waktu saja untuk dijemput. Meskipun memiliki ilmu kanuragan kebal senjata, ia khawatir dengan anak buahnya. Mereka bisa terbunuh semuanya. Jika mereka mati, mereka akan meninggalkan keluarga, anak, orang tua, atau sanak saudara. Siapa nantinya yang menanggung kehidupan mereka. Yang ditinggalkan pun bisa juga menjadi korban karena mereka dicap punya hubungan dengan anak buahnya yang juga golongan merah.

Dalam pikiran Saimun terbesit nama Kyai Junaidi. Seorang warok yang lelakunya sesuai syariat agama. Kyai itu tak seperti kyai-kyai lain yang menentang orang-orang golongan merah secara keras. Dulu sewaktu komunis menguasai wilayah Madiun dan sekitarnya, banyak kyai-kyai yang menjadi keganasan orang-orang komunis. Sekarang keadaan terbalik. Sejak militer mulai unjuk kekuatan, kekuatan kiri mulai diberangus.

Kyai Junaidi sebagai warok dikenal linuwih. Kelompok reognya sering tampil di mana-mana sekalian untuk menyebarkan syiar agama. Tak ada kelompok reog golongan merah yang berani mengganggunya. Di masyarakat, jika ada pertikaian antar kelompok reog itu kelompok-kelompok reog yang merasa ingin dikenal. Atau, karena ada permasalahan pribadi. Masalah itu bisa dimulai dari perebutan gemblak oleh para warok.

Menurut Saimun untuk menyelamatkan anak buahnya Kyai Junaidi bisa menjadi jalan keluar. Akan tetapi, selama ini ia tak mengenal kyai tersebut secara langsung. Ia hanya mengenalnya dari cerita orang-orang yang di sekitarnya. Orang-orang itu walaupun secara aliran berseberangan mereka tetap mengakui kelinuwihannya. Selain itu, Saimun juga tak pernah mendengar bahwa Kyai Junaidi terlibat pertikaian dari dua poros kekuatan yang selama ini bertikai.

Ada kemungkinan nyawa anak buahnya selamat dari kekacauan ini sehingga keluarga, anak, orang tua, dan sanak saudaranya ikut terselamatkan juga. Tak apa jika nanti ia harus menebusnya dengan nyawa. Sebab, anak buahnya tak memiliki cela seperti dirinya. Seorang mantan perampok dan pembunuh yang kemudian menekuni dunia pereogan. Ia sudah cukup dengan dunianya. Tak ada lagi yang ia inginkan kecuali menyelamatkan anak buahnya. Orang-orang itu nanti masih bisa bermain reog dengan bergabung dengan kelompok reog milik Kyai Junaidi. Siapa tahu setelah ikut kyai tersebut mereka semakin berkembang kemampuannya bermain reog.

Di rumah tengah Saimun bercakap-cakap dengan salah seorang gemblaknya, Yono.

“Yon, tolong habis ini kamu ke rumah Kyai Junaidi? Ini urusan penting.”

“Ya, romo,” sedikit kaget karena selama ini Yono tak pernah melihat Saimun berhubungan dengan kyai itu.

“Kamu membawa tanggung jawab besar.”

“Maksudnya gimana?”

“Waktuku sudah tidak banyak lagi. Sebentar lagi mereka akan datang dan jika kamu tak segera ke tempat Kyai Junaidi maka akan banyak nyawa yang tercerabut dari tubuhnya.”

Saimun mencoba melirik jam yang ada di dinding rumahnya.

“Yon, nanti kalo sudah ketemu Kyai Junaidi bilang ke beliau bahwa aku minta tolong padanya untuk menyelamatkan anggota kelompok reog kita. Beliau pasti sudah tahu maksudku. Selain itu, nanti minta tolong kyai untuk mengajarkan ilmu agama ke mereka.”

“Apakah hanya itu saja pesannya, romo?”

Saimun terlihat mengingat-ingat sesuatu. Lalu matanya tertuju pada kepala reog yang ada di rumah itu.

“Oya, bilang juga untuk mengikutkan mereka dalam kelompok reog pak kyai.”

Yono langsung bergegas mencari sepedanya dan melaju ke arah timur.

Rumah Saimun dari luar tampak sepi. Joglo yang besar itu terlihat kotor dengan debu-debu dan dedaunan kering yang diterbangkan angin. Angin kering musim kemarau menggoyang-goyang pepohonan dan menimbulkan suara yang menakutkan. Sebenarnya pagi tadi Yono sudah membersihkan rumah itu, tetapi di musim kemarau seperti ini rumah akan segera kotor kembali. Sebab, angin suka bepergian dengan kecepatan yang kencang. Keadaan seperti itu sering membuat jengkel si empunya rumah atau orang-orang yang kebagian tugas membersihkannya. Debu-debu dan daun-daun kering seolah-olah datang untuk menguji seberapa kuat niat menjaga kebersihan itu ada. Walaupun tak setiap detik niat itu ada, tetapi kebersihan sebuah rumah itu menunjukkan siapa pemiliknya.

Sambil menikmati klobotnya Saimun mendengarkan siaran radio. Rakyat yang tidak suka dengan golongan merah bergerak mengambil orang-orang yang dianggap punya hubungan dengannya. Orang-orang itu dibawa ke beberapa tempat penampungan. Mereka dijaga militer. Tak selamanya mereka berada di tempat penampungan itu. Nantinya mereka dioper ke tempat penampungan lain. Mereka tak tahu nasib apa yang akan menimpa mereka. Akan tetapi, ada desas-desus bahwa mereka dibawa ke sebuah daerah pinggir hutan. Di sana mereka dieksekusi.

Wajah Saimun tampak bergidik dengan siaran berita itu. Sebagai mantan perampok dan pembunuh Saimun tiba-tiba terjangkiti rasa ngeri. Jika dia dulu membunuh satu atau dua orang. Hari ini ia mendengar berita puluhan bahkan ratusan nyawa dengan mudahnya terlepas dari tubuhnya. Orang-orang yang kehilangan nyawanya itu tentu juga memiliki keluarga. Sebentar lagi mereka pun akan ikut menjadi korban.

Dari luar terdengar suara-suara langkah kaki yang menuju rumah Saimun. Dugaan Saimun tepat. Orang-orang itu datang pada waktu yang diperkirakannya. Saimun beranjak dari kursi dan mengintip lewat celah pintu. Orang-orang itu bersenjata. Para tentara juga terlihat hadir di sana membawa senapan laras panjangnya. Mereka kemudian menyebar mengepung rumah Saimun. Salah seorang yang dituakan tampak berbicara dengan komandan tentara. Orang-orang yang membawa senjata matanya menunjukkan sinar penuh amarah dan siap untuk mencincang siapa saja. Beberapa orang bersenjata yang berada di bawah pohon mangga terlihat gelisah dan mengacung-acungkan pedangnya. Lalu, salah seorang itu berjalan mendekati orang yang dituakan dan komandan tentara. Ia ikut menyumbang obrolan. Ketika pembicaraan itu selesai orang yang dituakan dan komandan tentara berjalan memasuki pendopo. Beberapa orang bersenjata berjalan bersama seorang yang tadi ikut berembuk menuju belakang rumah Saimun.

Saimun merapal mantranya. Ruangan itu tampak sunyi. Mata Saimun tertutup dan mulutnya komat-kamit. Seekor cicak jatuh di atas kepala Saimun. Tangan kanannya mencoba mencari-cari cicak yang jatuh itu. Namun, cicak itu sudah lari entah kemana. Dengan segenap keberanian yang ada di dada Saimun membuka mata. Ia membenarkan penadon hitam dan iket kepalanya. Lalu, melangkah menuju ke pendopo.

Ketika orang-orang melihat Saimun mereka terperangah. Tak ada rasa gentar pada diri warok itu. Ia berjalan dengan tenang menuju pendopo, tempat seorang komandan dan orang yang dituakan berdiri. Kedua orang itu melihat sorot mata yang tegas. Sorot mata yang mampu menundukkan. Akan tetapi, dua orang itu tak gentar, mereka datang dengan ratusan orang bersenjata yang siap mencincang-cincang tubuh. Dua orang itu mulai mengatur posisinya dan siap untuk bernegosiasi dengan orang yang dikenal kesaktiannya itu. Mereka harus berhasil mengeksekusi Saimun. Sebab, jika ia mati maka warok-warok lain dan kelompok reog lainnya akan mudah ditangani.

Para tetangga yang mengetahui pengepungan itu mulai khawatir. Mereka takut nantinya juga akan terkena imbasnya. Mereka hanya berani mengintip dari balik pintu atau jendela. Yang lainnya memilih dari celah-celah kecil yang ada di tembok kayu mereka. Mereka melarang anak-anak mereka mengintip dan memintanya sembunyi di kamar atau di bawah kolong tempat tidur.

“Mun, waktumu sudah habis.”

“Iya, aku tahu, tetapi aku ingin tahu apa kalian mampu menghabiskan waktuku.”

“Tak ada yang tak mampu, Mun. Kamu juga bukan tuhan.”

“Jika kami tak mampu, maka tuhan yang mampu menghabiskan waktumu.”

“Omong kosong, bilang saja kalau kalian ini hanya ingin kematianku. Tidak usah bawa nama-nama tuhan. Sudah lama kalian mengincar nyawaku, kan?”

“Kamu sombong, Mun!”

“Aku tak sombong, tapi kalianlah yang sombong. Bertindak seenaknya sendiri memutuskan nasib saudara-saudaramu.”

“Mereka berkhianat. Dan, sepantasnya yang berkhianat dan ingin mengganti dasar negara ini mendapat perlakuan seperti itu.”

“Sudah berapa nyawa yang kalian ambil hari ini?”

“Kami tak mengambil nyawa. Itu perintah. Demi keutuhan republik ini.”

Saimun memandang kursi yang ada di tengah pendopo. Ia pun duduk dan diikuti dua orang itu. Sementara itu, orang-orang yang bersenjata di halaman tidak melepaskan sedetikpun pandangan matanya ke Saimun. Sesekali terdengar hujatan kepada Saimun atau seruan untuk menyudahi hidup Saimun.

“Kalau kalian menginginkan kematianku, maka akan kurelakan. Namun, itu jika kalian mampu.”

“Kapan kami bisa memulainya?”

“Sekarang pun aku siap menjemput ajalku. Kalau kalian mau. Lakukan saja di pendopo ini!”

“Pendopo ini terlalu bagus untuk menjadi tempat kematianmu.”

“Ini rumahku. Sejak kecil aku sudah tinggal di sini. Aku ingin rumah inilah yang mendekap tubuhku ketika nyawaku tercabut. Itu pun kalu kalian mampu.”

“Kau terlalu sombong, Mun. Itulah kemudian yang menjerumuskanmu kepada jalan yang salah selama ini.”

“Tak ada yang salah dari suatu pilihan. Janganlah kamu menghakimiku dari sudut pandangmu.”

Dua orang itu masih bernegosiasi supaya Saimun mau meninggalkan pendopo rumahnya dan menuju halaman. Saimun tetap kukuh pada pendiriannya bahwa ia mempersilakan mereka untuk mengeksekusinya di pendopo. Mereka mulai menaikkan suaranya dan terdengar mengancam. Orang-orang pun bersorak-sorai dan meneriakan ancaman-ancaman kepada Saimun. Saimun tak menggubrisnya. Ia melangkah ke tengah pendopo dan berdiri tegap sambil memandangi orang-orang yang ada di halaman. Ia tersenyum.

Orang-orang mulai merangsek maju sambil mengacung-acungkan senjatanya. Mereka begitu geram melihat sikap Saimun yang tak terlihat ada takutnya. Mereka semakin marah melihat warok itu tersenyum memandangnya. Usaha mereka untuk menerjang dihalang-halangi tentara. Tak ada yang melawan. Komandan tentara dan orang yang dituakan menghampiri massa. Mereka mengajak beberapa orang yang dianggap hebat dalam olah kanuragan berdiskusi untuk mengeksekusi. Orang-orang yang di dekat mereka menguping dan menunggu hasil kesepakatan. Beberapa orang yang berada di sebelah timur pendopo mencoba mengintimidasi Saimun dengan kata-katanya. Mereka mengatakan kesalahan-kesalahan Saimun sewaktu golongan merah masih kuat. Mereka menyalahkan Saimun yang menggunakan kelompok reognya untuk memperdaya anak-anak muda desa untuk ikut dalam barisan golongan merah. Mereka menyumpahserapahi Saimun yang suka sama anak lelaki daripada wanita. Mereka terus berteriak-teriak. Mendengar itu semua Saimun hanya tersenyum saja.

Saimun duduk bersila di tengah pendopo dan menutup matanya. Ia tak peduli dengan orang-orang yang menginginkan kematiannya. Ia juga tak menerka-nerka tindakan seperti apa untuk mengeksekusinya dan siapa eksekutornya. Dalam keriuhan Saimun mengatur nafasnya dan berkonsentrasi. Wujudnya seolah-olah seperti tiang jati di pendopo itu, kukuh dan keras.

Salah seorang yang berusia sekitar empat puluhan tahun mendapat kesempatan pertama untuk mengeksekusi. Ia menenteng sebuah golok besar. Orang-orang bersorak sorai. Ketika ia mengayunkan goloknya ke leher Saimun terasa golok itu menghantam benda keras. Tak ada luka yang menggores. Saimun tetap diam memejamkan mata. Golok pun ditusukkan ke area ulu hati. Sama saja. Golok tersebut terasa menumbuk benda keras. Untuk percobaan selanjutnya, sebelum ia mengayunkan goloknya, terlebih dahulu merapal doa. Akan tetapi, sabetan itu tetap saja tak ada yang melukai tubuh Saimun. Orang-orang menjadi heran. Beberapa orang yang memang mengakui kesaktian Saimun tidak kaget dengan hal itu. Kejadian itu semakin membuat mereka yakin jika Saimun benar-benar menguasai ilmu Rogowojo. Ilmu kebal yang terkenal di dunia persilatan.

Selanjutnya seorang yang lebih tua maju dan mulai mengayunkan pedang katana peninggalan Jepang. Tubuh Saimun tetap saja tak lecet sedikit pun. Orang itu mengulanginya berkali-kali. Saimun pun membuka mata sebentar untuk menatap orang tersebut. Sebelum matanya memejam lagi Saimun melempar senyumnya.

Dua orang sudah tak berhasil melukai Saimun. Setelah kegagalan itu beberapa kali orang-orang yang merasa sakti mencoba mengeksekusi, tapi tak ada yang berhasil juga.

Komandan tentara dan orang yang dituakan bingung cara untuk mengeksekusi Saimun. Lalu, keramaian itu tersibak. Seorang kyai tiba-tiba datang diiringi lelaki yang selama ini ikut dengan Saimun. Kyai itu berdiskusi sebentar dengan komandan tentara dan orang yang dituakan, lalu berjalan menuju tempat Saimun.

“Assalamualaikum.”

“Wangalaikumsalam, kyai.”

“Dik Saimun, aku sudah menyanggupi permintaanmu. Jangan kau risaukan anak didikmu. Seluruh keluarganya juga akan selamat.”

“Terima kasih, kyai. Dengan begini akan segera kubuka pintu bagi malaikat maut untuk menjemputku.”

“Ya, dik. Lakukanlah yang bisa kau lakukan.”

Dengan berakhirnya percakapan singkat itu, maka saat-saat kematian Saimun pun tiba. Saimun mula-mula mencopot ikat kepalanya. Selanjutnya mencopot penadon dan tali kolornya. Dalam keadaan mata terpejam Saimun merapal mantra. Beberapa saat kemudian tubuhnya mulai lemas dan jatuh di lantai tegel pendopo. Kyai Junaidi memastikan nadinya. Tak ada denyut lagi. Saimun mati di pendoponya sendiri.

 

*Cerpen ini adalah Cerpen Pemenang Pertama Lomba Sastra dan Seni UGM 2017

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *