Variasi Asal Mula Peradaban

Posted: 4 July 2017 by Thoriq Aufar

“Hana, apa kamu percaya kita adalah hasil evolusi kera yang diasingkan dari kelompoknya? Tentu, setelah bebas dari kutuk sunyi berabad-abad melalui proses seleksi alam yang ketat dan perpaduan genetik yang rumit.”

“Apa maksudmu seperti kera itu, Arya?”

Hana menunjuk ke arah utara, seekor kera kurus dengan letih turun dari pohon pinus. Sesampainya di permukaan tanah, kera itu menoleh ke seluruh penjuru arah seolah memastikan semuanya aman. Gayanya seperti pencuri amatiran. Sesaat kemudian kera itu lari tergopoh-gopoh. Sekitar lima meter dari tempatnya beranjak, ia berhenti untuk kedua kalinya, kembali menelusur sekitar sambil tangan kanannya menggaruk-garuk kepala, sedang tangan kirinya memegangi perutnya yang kempis. Dengan separuh membungkuk, kera berjenis ekor panjang itu berjalan ke arah bak sampah. Ia tumpahkan bak bekas ember cat tembok berkapasitas duapuluh lima liter itu dengan kedua tangannya. Dengan teliti ia pilah satu per satu benda-benda yang berserak di depannya. Ia cari apa saja yang dapat mengisi perutnya atau setidaknya yang dapat disesap sarinya.

Dua muda-mudi yang melihat adegan itu tertawa getir. Mereka merasa seperti melihat pertunjukan opera.

“Bukan. Bukan itu yang kumaksud. Meski kera itu berasal dari leluhur yang sama dengan kita, hominoid. Meski juga barangkali ia lebih mirip dengan garis keturunan moyang kita. Tapi bukan itu, Hana,” jawab si lelaki.

“Jadi kera itu kurang diasingkan dari kelompoknya hingga gagal jadi manusia?” tanya si gadis dengan nada seloroh. Namun, Arya hanya menimpali dengan senyum di bibirnya.

Dua remaja itu duduk di atas perahu kecil berbentuk bebek yang hanya dapat diisi dua penumpang. Masing-masing mengayuh pedal penggerak mini boat yang ditumpanginya untuk menjelajah ke seluruh danau. Tempat itu memang tak begitu lebar, tapi cukup untuk membuang waktu dengan berputar-putar di atasnya. Di sebelah utara dan timur danau terdapat bukit yang menjadi habitat kera dan hewan-hewan lainnya.

Sesaat Arya melihat jauh sekitar 200-an meter ke arah barat. Terlihat seseorang yang sedang menggendong senapan angin pada pundaknya. Sekilas terbersit dendam di hati pemuda itu. Dulu pernah ia diajari memburu oleh kakak-kakaknya, tapi Arya tak memiliki bakat menembak sama sekali sehingga ia menjadi bahan olok-olok. Waktu itu kedua kakaknya membawa pulang hasil buruan masing-masing. Kakak pertama membawa sejenis rusa alas dan kakak keduanya membawa empat tupai. Sedang Arya pulang membawa luka pada kedua lututnya karena beberapa kali tergelincir di dalam hutan. Begitu sampai di rumah, kedua kakaknya dielu-elukan bak koboi, sementara Arya disambut dengan dingin seperti pejuang yang kalah perang.

Aku lahir pada tempat yang salah, pikirnya. Arya merupakan satu-satunya anak yang terlahir dengan fisik yang rapuh dalam keluarganya. Sebagai anak tentara yang semua urusan keluarganya diatur dan ditata dengan kedisiplinan tinggi ala militer, Arya merasa terasing. Sejak kecil ia dijuluki sebagai si cengeng, bahkan oleh adik perempuan dan ibunya. Pada saat berkumpul, ayahnya selalu menceritakan pengalamannya sebagai prajurit. Kisah yang selalu dikenangnya adalah bagaimana sang ayah bertahan hidup di medan perang yang disampaikan dengan gaya patriotik. ‘Aku pernah membunuh 10 orang,’ kata ayahnya bangga. Pada saat seperti itulah, Arya selalu menggigil membayangkan darah. Kelak kakaknya yang pertama menjadi perwira angkatan darat, dan kakak keduanya menjadi pilot angkatan udara. Sementara adik perempuannya mengikuti jejak kakak pertama bergelut di angkatan darat.

Tanpa sadar, pandangan mata Arya mengikuti orang yang menggendong senapan angin di punggungnya itu hingga jauh, hingga hilang di balik barisan bangunan penduduk. Ia melupakan Hana yang duduk di sampingnya. Sedang gadis itu asyik melihat kera-kera yang bergelantungan dari pohon ke pohon. Dilihatnya juga seekor anak kera yang tengah digendong induknya. Sementara sang induk meloncat dari pohon ke pohon dengan kelincahan yang luar biasa. Pemandangan itu telah mencuri perhatian Hana.

“Kira-kira sekitar 64 ekor,” kata Hana seolah bicara pada dirinya sendiri. Tentu bilangan itu adalah bilangan asal ucap dengan maksud; ada banyak kera yang hidup bebas di Bukit Plawangan. Mungkin kera-kera itu tengah saling berkelakar seperti manusia dengan bahasa mereka sendiri. Tapi siapa yang bisa membuktikan bahwa kera-kera itu sedang tidak menertawakan tingkah manusia yang tengah memperhatikannya? pikir Hana.

Gadis berambut ikal yang jatuh di pundaknya itu menikmati keliaran kera-kera yang lincah. Takjub sebab yang biasa ia temui hanyalah kera lesu dalam pertunjukan topeng monyet. Betapa mereka menderita karena drama singkat yang menyesakkan dengan rantai berkarat melilit perutnya dan bekas luka karena pukulan saban kesalahan tindak.

Arya kembali memandang gadis di sampingnya sebentar, lalu melemparkan pandangannya ke sekitar danau. Seekor ikan mas muncul ke permukaan, kemudian kembali ke dasar.

“Bayangkan, Hana. Manusia dari ordo primata mengalami perubahan drastis dari bentuknya yang purba. Padahal, sekitar tujuh juta tahun yang lalu, moyang kita masih merangkak persis seperti kera-kera itu,” Arya menunjuk beberapa kera yang berhamburan di permukaan tanah lalu melanjutkan, “dari Pliopithecus membutuhkan waktu kira-kira dua setengah juta tahun untuk beradaptasi dengan alam yang terus berubah. Mereka terseleksi oleh zaman. Kemudian berubah bentuk menjadi jenis Australopithecus. Dalam proses adaptasi itu, yang kuatlah yang bertahan hidup. Seluruh komponen tubuhnya dituntut untuk menyesuaikan diri dengan keadaan geografis yang ditinggali. Mereka yang hidup terus melakukan kombinasi genetik pada proses reproduksinya yang akan menghasilkan varian-varian baru. Sementara pewarisan gen dari induknya terus berkembang dan setiap generasi membentuk sifat baru. Lama-kelamaan, dari generasi ke generasi, perubahan ini akan meninggalkan bentuk aslinya dan melahirkan spesies baru. Maka berjuta-juta tahun kemudian terbentuklah spesies seperti Homo Erectus, Solo Man, Neanderthal, Cro Magnon yang hampir sempurna sebagai manusia, lalu yang terakhir Homo Sapiens. Hmm… jutaan tahun yang penuh perjuangan agar menjadi manusia. Butuh waktu panjang agar hewan-hewan itu dapat memiliki otak.”

“Jadi kita pun akan berubah? Aku jadi membayangkan berjuta tahun yang akan datang, barangkali manusia memiliki sayap dan bisa terbang ke mana mereka suka. Semoga saja tak ada bocah senakal Ikarus.”

“Kurasa tak sesederhana itu, ” kata Arya datar.

Langit kemudian jadi gelap. Gerimis turun dengan lirih. Kera-kera masuk ke dalam hutan, bersembunyi di bawah rimbun dedaunan. Hana melihat anak kera yang tadi tergendong di punggung induknya, kini pindah pada dada sang induk. Sementara sang induk bergegas mendekati kera yang lain. Beberapa ada yang telah mengigil. Maka berdekapanlah mereka dalam kelompok-kelompok kecil antara tiga sampai lima ekor. Sementara Arya mencari-cari seseorang yang tadi menggendong senapan angin di punggungnya. Lelaki itu tak nampak di mana pun.

Kedua muda-mudi itu masih mengayuh mini boat-nya yang dilengkapi payung kecil berwarna-warni. Cukup untuk menghalau gerimis tipis.

“Jadi kamu percaya pada Darwin sepenuhnya dan menganggap bahwa Adam dan Hawa hanyalah cerita romantik yang paling purba? Jauh sebelum Qois-Laila, Romeo-Juliet, dan Sampek-Engtay?”

“Kau berlebihan, Hana. Aku percaya mereka berdua adalah manusia pertama. Aku punya iman, Hana. Adam yang lahir dari tanah dan Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk kekasihnya.” Arya melirik ke arah Hana. Gadis itu mengernyitkan dahi. Kedua alisnya terangkat ke atas, tiap ujungnya hampir saling bertemu.

“Di manakah letak surga itu, Hana? Tentu kau tak akan menjawab di bawah telapak kaki ibumu, bukan? Aku membayangkan surga secara ruang sangatlah jauh. Tempat itu dapat dikatakan berada dalam dimensi lain.”

“Lalu?” sela Hana yang mulai penasaran dengan isi pikiran lelaki di sampingnya.

“Bayangkan dari tempat yang sejauh itu, bagaimana Adam dan Hawa terlempar ke bumi jika mereka berupa darah dan daging? Pyaaar!” Arya memeragakan adegan kejatuhan itu dengan tangan kanan yang dibenturkan dengan tangan kirinya. Plaaap. “Benturan material dengan material akan merusak satu sama lain, Hana. Apalagi dari jarak yang sangat jauh.”

Hujan makin deras. Mereka menepikan mini boat-nya dengan gegas. Di dermaga kecil, keduanya lari menuju warung Mbok Yanah yang tak jauh dari danau. Begitu terlindung oleh atap warung Mbok Yanah, mereka menepuk-nepuk bagian tubuhnya masing-masing pada bagian yang basah.

“Mbok, jahe susu,” pesan Arya pada penjaga warung separuh baya itu. Ia segera melirik Hana, “Kamu?” tawarnya.

“Sama.”

“Dua, Mbok.”

“Ayo, lanjutkan ceritamu!” pinta Hana sembari duduk di bangku sebelah pintu warung. Arya menyusul kemudian.

“Jadi kupikir tak mungkin Adam dan Hawa dilemparkan ke bumi dalam bentuk darah dan daging. Mustahil kedua kekasih itu berwujud seperti kita sekarang ketika tinggal di surga. Bukankah ia bersinggungan dengan yang gaib, jin, malaikat, dan setan. Bahkan yang Maha Ghaib sendiri. Kukira di surga mereka berupa ruh, bukan susunan atom seperti semesta ini. Mereka gaib. Maka ketika mereka melanggar sumpah Tuhan untuk tak memakan buah khuldi, ruh mereka dilemparkan ke bumi. Sejauh dan sekencang apa pun ruh tak akan luluh lantak sebab mereka tak memiliki massa. Dan ruh itu masuk ke dalam dua ordo primata yang telah berevolusi menjadi spesies baru, yakni Homo Sapiens. Begitulah spesies itu disempurnakan melalui masuknya jiwa pendosa. Sementara bagi Adam dan Hawa, kejadian tersebut menjadi awal mula kutukan atas perbuatannya. Peta nasib yang membentang ke arah ketidakpastian. Begitulah kira-kira yang kubayangkan. Kita adalah bagian dari kutukan yang belum selesai, Hana.”

“Kapankah selesai kutukan itu?”

“Entahlah.”

Sejenak hening. Tak ada pengunjung lain di warung Mbok Yanah selain dua muda-mudi itu. Hanya terdengar siaran pesawat televisi yang memberitakan penurunan ekonomi nasional. Sesaat kemudian Mbok Yanah datang membawa dua susu jahe. Wanita paruh baya itu meletakkan pesanan mereka tepat di hadapannya, pada meja kayu dengan pelitur yang telah mengelupas. Dilihatnya dua gelas itu mengepul, tipis dan lembut.

Dari arah bukit terdengar letusan senjata api, disusul teriakan liar para kera. Daun-daun bergoyang. Mereka saling bergelantungan tanpa arah. Ada yang jatuh karena ranting yang menopangnya patah. Ada yang turun ke jalanan, lalu naik ke atap genting rumah warga. Ada induk yang mendekap dua anaknya di bawah pohon pinus dengan gigil. Sementara hujan telah menipis. Hana mengenggam tangan Arya dengan kuat. Dirasakannya tangan lelaki itu bergetar. Sesaat kepala Arya pening. Pikirannya tertuju pada lelaki yang menggendong senapan angin di punggung. Bayangan lain yang muncul dalam kepalanya adalah saat-saat perburuan bersama kakak-kakaknya. Kedua gambar imajiner itu menjadi baur dan bias.

Bersamaan dengan suara letusan senapan, stasiun televisi menyiarkan berita pembunuhan seorang demonstran di ibu kota. Kabut menutup segalanya. Jarak pandang jadi sangat terbatas. Langit pun berkabung. Ada rantai yang membawa kemungkinan lahirnya spesies baru telah patah dan luruh.

“Mbok, bukankah berburu di tempat ini dilarang?” tanya Arya pada penjaga warung.

“Iya, Mas. Tapi satu-dua orang masih melakukannya.”

“Pernah ada yang ketangkap, Mbok?”

Ketangkap paling juga sebentar, terus dibebasin, Mas.”

Lho kok gitu, Mbok?”

“Kalau musyawarahnya jelas, bisa diurus secara kekeluargaan, ya bisa saja, Mas. Biasanya di mana-mana, urusan apa saja, juga seperti itu.”

Arya memalingkan wajahnya. Ia tak suka dengan jawaban seringkas itu. Dilihatnya Hana tengah khusyuk menyimak berita yang disiarkan televisi. Berita-berita itu didominasi oleh kabar kematian yang disiarkan secara bergantian, tentang korban perang Timur Tengah yang masih berjatuhan, tentang pembunuhan seorang tukang becak di Sidoarjo yang didalangi oleh seorang tukang ojek dengan motif dendam karena istrinya tertangkap selingkuh, tentang pembunuhan berantai yang melibatkan beberapa politikus Bekasi, tentang pembunuhan yang ganjil di Banyuwangi karena si pelaku sedang mencari tumbal untuk kesaktiannya, dan sebagainya, dan sebagainya.

Tak jauh dari mereka, seekor kera kecil berlarian menembus gerimis dengan sisa darah yang terguyur. Hana yang hafal betul pada kera kecil yang tadi digendong induknya itu, tak melihat ada luka di sekujur tubuhnya. Dengan lekas Hana berlari ke arahnya. Insting telah menguasai dengan cepat. Ia paham, sang induk telah mati tertembak. Tapi kera kecil itu tak tahu Hana ingin menyampaikan perasan dukanya sehingga ia makin ketakutan dan lari secepat kilat. Hana mencoba mengejar, tapi Arya bergegas menyusul dan menahannya sebelum makin jauh.

“Han, apa yang kamu lakukan?”

Hana membisu. Ia teringat bentuk mata si anak kera sebelum lari kembali ke belantara. Ia seakan karib dengan mata itu. Sepasang mata yang sendu. Tapi, ia tak sanggup menyampaikannya pada lelaki yang kini menggandengnya kembali ke warung.

2015

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *