Tenggat

Posted: 5 June 2018 by Ifan Afiansa

Anjing. Anjing. Anji-. Umpatanmu tertahan. Kelima jarimu masih meraba-raba tuts keyboard tanpa berkeinginan mengetik apa pun. Di pukul dua dini hari, di hadapan poster film Dunkrik, pikiranmu melayang seperti pesawat yang kehilangan daratan. Tirai notifikasi menampakkan satu pesan yang belum dibaca, tapi kau benar-benar tidak ingin membacanya. Sebab pesan itu berisi dua kata, seratus persen menggunakan huruf kapital, dan dua kata itulah yang  menghancurkan hari-harimu ke depan.

Tok!Tok! Terdengar suara jendela kamarmu diketuk. Kau masih bergeming. Bola matamu menangkap getaran kecil di gorden, jemarimu perlahan gemetaran. Analogi pesawat yang kehilangan daratan menjadi pesawat berada di tengah hujan asteroid. Layar smartphone-mu kembali menyala, ada pesan masuk, masih dari pengirim yang sama, kali ini dengan retetan kata berkapital yang lebih panjang dari sebelumnya. Tak lupa tanda pentung dan angka satu saling bersilangan. Kau makin enggan membacanya.

Spotify yang sedari tadi memutar instrumental akustik, tetiba memutar “Kelam Malam”, lagu yang menjadi original soundtrack film Pengabdi Setan. Kau melempar headset-mu, dan berlari ke arah kasurmu. Ketukan di jendela kamar kembali terdengar, kau tetiba mengutuk dirimu yang menempatkan ranjangmu di bawah jendela. Kau ingin berteriak, kerongkonganmu menolak mengembuskan suara.  Segalanya menjadi gelap.

 

*

Di kesunyian malam ini. Kudatang, menghampiri.

Dirimu telah berjanji, sehidup dan semati.

 

Kau terbangun. Speaker yang terhubung dengan laptopmu memutar “Kelam Malam”. Kau melempar selimutmu, beranjak dari ranjang. Tanganmu yang bergetar memencet tombol spasi untuk membangunkan laptopmu dari mode tidur. Laptopmu dalam posisi terkunci. Bismillahirrahmanirrahim, adalah password laptopmu. Kau bersungguh-sungguh ingin mengutuk dirimu.

Lagu seram itu sudah mati. Kau masih melihat layar kertas kosong di sana. Tumpukan buku dan lembaran-lembaran teks bacaan dengan bahasa yang tidak kaupahami. Kau memilah-milah buku yang ingin terlebih dulu kaubaca. Bayangan-bayangan seram sedari tadi tidak terpikirkan lagi olehmu. Kau hanya terbayang-bayang tugas dan tenggat, tanganmu kembali bergetar. Bukan sebab ketukan di jendela atau lagu “Kelam Malam”, tetapi ketakutan mengulang mata kuliah yang diampu dosen yang kaubenci. Jam sudah menunjukkan hampir pukul empat pagi. Kau perlahan-lahan membuka kembali buku teori Sosiologi Sastra yang paling tipis, disusun oleh Prof. Sapardi. Selagi kau membaca-baca yang sekiranya bisa kaupahami, wajah berkerut dosen favoritmu terbayang-bayang, beliau duduk di bangku semen di halaman fakultas dengan rokok. Wajah yang tidak pernah tersenyum itu begitu menikmati nikotin yang disesap, tidak mengacuhkan apa pun yang terjadi di sekitarnya, termasuk asap-asap yang menyelubungi paru-paru beliau. Paling tidak, itu hal yang membahagiakan hidupnya.

Kau perlahan-lahan mengetikkan BAB I. Dalam hatimu kau memang berniat menulis babi. Lalu dilanjutkan dengan Latar Belakang. Hingga kau benar-benar mengerjakan tugasmu di tengah azan subuh yang berkumandang. Berhubung fajar akan merekah, tanda tenggat bagiku, aku sebaiknya meninggalkanmu. Aku beranjak dari sofa kecil di pojok kamar dan menembus dinding.

Pendapat Anda: