Televisi Pilkada

Posted: 21 March 2017 by Wahyu Budi Utomo

Cempluk sudah beberapa kali memecahkan televisi di musim pilkada ini. Seperti wajarnya, kebencian itu mulanya tumbuh dari kekaguman. Awalnya ia kagum dengan tabung kaca yang dapat memberikan banyak informasi dan hiburan sehingga ia bisa mengenal budaya yang berbeda. Ia juga suka film-film India yang ditayangkan di sana. Salah satu yang terus terpancang di ingatannya pada film-film itu adalah polisi yang hampir selalu datang terlambat setelah sang penjahat babak belur dihajar sang tokoh utama.

Entah mengapa kemudian televisi di waktu pilkada mulai menyebarkan virus yang membuat kedua orangtuanya sering bertengkar. Padahal, sebelum pilkada berlangsung dan beritanya disiarkan televisi, ia tak pernah melihat orangtuanya berteriak atau saling melempar perabotan rumah tangga. Kini, ia tak tahan bila mendengar suara teriakan kedua orangtuanya dan benda-benda yang membentur tembok atau terjatuh di lantai, berpecahan. Suara-suara benda pecah itu mirip bunyi hatinya yang berkeretak mendengar suara permusuhan orangtuanya. Seandainya ia dahulu diizinkan untuk belajar ilmu politik mungkin ia akan tahu mengapa politik pilkada yang disiarkan oleh televisi mampu membuat kedua orangtuanya kerap bertengkar dengan menjadikan ruang tamu rumahnya sebagai medan perang.

Namun, orangtuanya justru mengharapkan ia bisa segera dapat kerja selepas lulus kuliah sehingga ia tak akan mengalami kesulitan ekonomi seperti keluarganya. Sebagai anak yang baru lulus SMA ia pun menuruti pilihan orangtuanya untuk masuk jurusan ekonomi. Semasa kuliah, banyak temannya yang mengatakan bahwa ia seperti orang yang kerasukan belajar demi mencapai harapan orangtuanya: cepat lulus dan langsung kerja. Tak sekalipun ia meluangkan waktu untuk sedikit bersantai seperti teman-temannya yang lain; nongkrong di kafe, dugem, belanja, jalan-jalan, camping, atau traveling.

Cempluk masih mendengar suara-suara tumbukan benda dengan tembok dan lantai yang merambat lewat dinding kamarnya menuju telinganya. Di dalam kamar, ia terdiam dan membayangkan masa lalu sebelum ia beserta kedua orangtuanya pindah menempati rumah ini. Dahulu, ia sering bersama orangtuanya ke rumah tetangga untuk menonton televisi. Kadang ia juga mengerjakan PR di rumah tetangga, sambil menunggu televisi dihidupkan dan menampilkan program kesukaan masa itu.

Saat itu ia benar-benar merasa memiliki orangtua dan teman-teman. Ketika semua orang berkumpul menonton televisi rasanya mereka semua menjadi bagian darinya. Apalagi ketika mereka menonton film hantu-hantuan (maksudnya banyak hantu dan hantunya tidak betulan). Mereka bisa merasakan bulu kuduk mereka bergidik. Kalau ada bagian yang lucu mereka juga akan tertawa serentak. Entah mengapa ia merasakan keriduan yang sangat tentang hari-hari itu. Hari-hari yang mengikutinya tumbuh sampai lulus SMA.

Ia sedih ketika harus pindah dari rumahnya yang dulu. Rasa kehilangan dengan teman-teman sepermainan dan para tetangga membuatnya semakin berat melangkahkan kaki. Baginya semua yang ia miliki dan lingkungan di sekitarnya cukup membuatnya bahagia. Tetapi, bapaknya harus berpindah tempat tugas dan mereka menempati rumah baru. Waktu itu ia berharap bisa dirawat oleh orangtua bapaknya. Tetap tinggal di desa itu. Menikmati sungai, sawah, bermain di kolam lele, bersepeda di lapangan, atau ikut teman-temannya menggarap sawah.

Di dalam kamar Cempluk merasakan lengannya linu. Beberapa hari yang lalu ia baru saja memecahkan televisi yang membuat kedua orangtuanya bertengkar. Sebelum mereka bertengkar televisi itu menayangkan acara pilkada. Cempluk memahami bahwa pilihan kedua orangtuanya kerap berbeda. Perbedaan itu akan meletus menjadi pertengkaran karena tersulut perbedaan dalam memilih calon kepala daerah. Para tetangga sudah terbiasa dengan pertengkaran kedua orangtuanya dan tindakan Cempluk yang suka memecahkan televisi. Kepada tetangga yang bertanya, kedua orangtuanya menjelaskan apa yang terjadi di rumah mereka bukanlah pertengkaran betulan melainkan latihan drama. Dan para tetangga cukup mengerti mengingat kedua orangtua Cempluk anggota kethoprak kampung.

Cempluk berjalan mendekati pintu. Ia berusaha menahan semua gerak yang bisa menimbulkan suara. Suara-suara yang ditimbulkannya akan membuatnya tak tenang, takut terdengar orangtuanya, walaupun sebenarnya detak jantungnya juga telah berdegup dengan cepat. Hatinya sesak mendengar suara yang bermusuhan itu. Ia ingin memastikan bahwa suasana yang tenang di ruang keluarga itu adalah sebuah tanda perdamaian di antara kedua orangtuanya. Sebab, selepas suara-suara yang saling bermusuhan itu biasanya akan diikuti suasana lengang di ruang tamu.

Apabila pertengkaran sudah sampai puncaknya dengan segala perabot yang pecah. Kedua orangtua Cempluk akan duduk terdiam lalu saling memandang. Ada rasa cinta yang merambat di dada mereka. Saling senyum dengan tulus. Selanjutnya keduanya terlihat seperti sedang pacaran. Bermanja-manjaan. Ujung-ujungnya mereka bercumbu di kamar dan merambatkan suara desah yang menandakan rumah Cempluk telah selesai melewati masa perang. Meski demikian, ketika suara desah itu telah merambat, hati Cempluk tetap sesak, pikirannya tertuju ke televisi yang masih menyiarkan acara pilkada. Maka, dalam kesumat yang mulai naik ke ubun-ubun ia melangkah ke ruang keluarga mengangkat televisi yang masih menyala dan membantingnya hingga menimbulkan sedikit ledakan berapi. Ia merasa puas, dadanya yang sesak bisa diobati dengan kehancuran sebuah benda.

Setiap pulang dari kerja kedua orangtuanya menghabiskan waktu di depan televisi. Bagi mereka televisi bisa menghilangkan sejenak rasa capek bekerja. Dari televisi itu pula mereka menghibur diri sewaktu ditinggal merantau Cempluk untuk kuliah di luar kota. Meski mereka sering bertengkar gara-gara televisi yang menyiarkan pilkada, mereka tak akan marah pada Cempluk yang telah menghancurkan benda kesayangan mereka itu. Setiap benda yang pecah sehabis pertengkaran atau televisi yang pecah karena ulah Cempluk selalu diganti dengan yang baru. Mereka tak bisa kehilangan benda-benda itu, terutama televisi. Mereka juga sudah lupa berapa jumlah televisi yang sudah mereka beli.

Sewaktu masih tinggal di rumah yang dulu mereka memperhitungkan segala hal yang ingin dibeli. Ketika punya cukup duit pun tak mereka gunakan untuk membeli televisi. Mereka lebih suka menonton bersama para tetangga. Mereka bisa ngobrol sambil nonton acara televisi dan memperhatikan anaknya belajar bersama teman-temannya. Kalau sudah mengantuk mereka baru akan pulang. Cempluk digendong oleh bapaknya dan ibunya membawa buku serta alat tulisnya.

Cempluk masih di belakang pintu mencuri dengar keadaan yang ada di ruang keluarga. Kedua tangannya mengepal. Otot-ototnya menegang. Darahnya panas. Napasnya kembang kempis. Mukanya merah. Di pikirannya hanya televisi si sumber petaka pertengkaran orangtuanya. Ia ambil tongkat base ball. Televisi itu harus hancur berkeping-keping. Tidak cukup hanya dibanting. Kalau perlu diremukkan sampai menjadi debu. Genggaman tangannya menguat pada tongkat base ball-nya. Dengan kesumat yang sudah di ubun-ubun telinganya tajam mendengar setiap pergerakan atau suara yang muncul dari ruang keluarga.

Terdengar suara langkah kaki menuju kamar orangtuanya. Ada suara-suara manja ibunya terhadap ayahnya. Ayahnya pun terlihat ceria dari suaranya. Pintu kamar orangtuanya terbuka. Seperti yang sudah Cempluk perkirakan, desahan itu akan merambat sampai ke dinding kamarnya. Ia pun berusaha membuka pintu tanpa mengeluarkan suara. Perlahan-lahan langkahnya menuju ruang keluarga. Tapi suasana yang hening kamar itu memperdengarkan suara pertengkaran dari jauh. Suara itu bukan dari kamar orangtuanya.

Ia melangkah di dekat jendela ruang keluarga, suara pertengkaran itu semakin keras. Suara itu menarik perhatiannya untuk keluar rumah. Cempluk melihat tetangganya bertengkar. Mereka saling melempar perabotan. Kursi itu melayang di udara. Menabrak kaca lemari dan jatuh bedebam di lantai. Anak-anak mereka yang masih kecil tak terlihat di tempat mereka bertengkar. Tetapi, Cempluk mendengar suara tangis di kamar anak-anak tetangganya itu. Cempluk merasakan apa yang juga dirasakan oleh anak-anak tetangganya pada pertengkaran orangtua. Beberapa saat kemudian tetangga di depan rumahnya juga bertengekar.

Cempluk merasa bingung, marah, dan sedih melihat apa yang sedang dilihatnya saat ini. Dalam keadaan yang seperti itu pikirannya tertuju kembali ke televisi. Ia melihat dari tempat tersembunyi di dekat rumah tetangga sebelahnya yang bertengkar televisi itu menyala. Menyiarkan acara pilkada. Ia curiga dengan tetangga depannya yang bertengkar. Apakah juga bertengkar dalam keadaan televisi menyala menyiarkan acara pilkada? Ia pun berlari menuju depan rumah. Suara desah orangtuanya masih bertahan merambat di udara. Cempluk bersembunyi di balik pohon nangka. Televisi di rumah tetangga yang bertengkar itu menyala dan menayangkan acara pilkada. Hati cempluk semakin gusar. Mengapa televisi menjadi kejam dengan menyiarkan acara pilkada? Bukankah harusnya televisi menghibur orang-orang bukannya menyebarkan virus permusuhan.

Cempluk mendengar ada suara yang memanggilnya. Itu adalah suara anak tetangga yang ada di depannya.

“Pluk, kenapa kamu membawa stik base ball?”

“Lha, kenapa kamu dan adikmu membawa linggis?”

Terlihat senyum kedua kakak beradik itu. Cempluk bisa menduga mereka akan melakukan apa yang juga akan dilakukannya terhadap televisi.

“Apakah ini yang pertama kali?” tanya cempluk.

“Tidak, sudah ketiga kalinya.”

“Bagaimana aku bisa tak tahu kalau ada pertengkaran di rumahmu dan kelakuanmu itu?”

“Emangnya, aku harus memberitahumu. Beberapa kawan juga melakukannya. Ini penyakit. Televisi itu sudah seperti penyakit ganas.”

Cempluk merasa bingung. Apa yang dilakukannya selama ini juga dilakukan oleh teman-temannya seperumahan. Mengapa ia tak menyadari bahwa terjadi peristiwa yang sama-sama dialami? Apakah ia terlalu larut dalam dirinya sendiri sehingga tak memperhatikan lingkungan sekitarnya?

Terdengar desah. Bersahutan di udara, sumbernya dari mana-mana. Setiap mereka melihat rumah mereka akan mendengar suara pertengkaran, televisi menyala, kemudian suara desah. Suara itu seperti suara alunan nyanyian para malaikat yang berpesta pora. Lenguh-lenguh saling berkejaran setelah pelampiasan kepada dendam yang tersulut oleh televisi pilkada. Malam begitu ramai dengan nyanyian pesta pora. Awan-awan putih berarak di kelam malam menutupi rembulan. Desah serta lenguh itu menutupi kenyataan anak-anak, tak terkecuali Cempluk, merasa sesak dengan pertarungan yang disebabkan televisi pilkada.

***

Setelah puas menghancurkan televisinya berkeping-keping Cempluk berjalan menuju kamar kedua orangtuanya. Dalam kamar waktu membeku. Tubuh kedua orangtuanya diam layaknya patung. Benda-benda diam pada posisinya. Ia mengamati seluruh tubuh kedua orangtuanya. Tak ia temukan sedikit pun sisa pertempuran yang menempel di tubuh mereka. Mimik mereka terlihat jujur. Otot-otot itu masih menegang. Rambut ibunya yang panjang sebahu masih melayang. Tak dilihatnya sisa air mata yang keluar bersama tangis dan teriak sewaktu bertengkar.

Di udara ia masih mendengar desah dan lenguh orang-orang bercinta. Dalam bayangan ia melihat teman-temannya menghancurkan televisi dengan kesumat yang sudah memuncak di ubun-ubun. Mereka berpeluh, tetapi tak menyurutkan mereka mengobati sesak di dada akibat televisi yang menayangkan acara pilkada. Mereka semua beringas. Darah mereka panas. Napas mereka tak keruan. Detak jantung mereka kencang berbunyi. Urat saraf mereka menegang. Tangan mereka kuat menghantam televisi dengan palu, linggis, besi, kayu, gagang pintu, maupun segala benda yang bisa merusak.

Cempluk masih di dalam kamar orangtuanya dalam waktu yang membeku. Ia melangkah mendekati sebuah dinding yang memajang foto usang keluarga. Ia ada di sana duduk di antara kedua orangtuanya. Senyumnya mengembang. Begitu pula senyum kedua orangtuanya.

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *