Surat dari Tanah yang Berasap

Posted: 1 August 2017 by Sulaiman

Seorang lelaki berdiri mematung. Di depannya sebuah cermin, juga sebuah wajah yang menampilkan dirinya. Kumis yang tak sempat dicukur dan rambut hitamnya tinggal beberapa helai, selebihnya putih. Garis-garis senja tergurat di dahinya.

Di sudut lain, sebuah surat tergeletak di atas meja, diambilnya. Dia berjalan ke sebuah kursi, perlahan duduk. Sembari menghadap jendela yang terbuka, tangannya mulai membuka dua lembar kertas itu. Matanya mulai menggerayangi barisan kalimat yang ditulis tangan.

Ayah…

Semula aku takut melihat tayangan-tayangan asap tebal. Ia melayang-layang diarak udara menyapa warga kampung yang ramah dan mengagetkan mereka yang sebagian lena dan lupa dari segala kenikmatan yang dianugerahi alam. Semula aku bergidik ngeri membacai kebakaran-kebakaran yang melumat-lumat habis dedaunan, rerumputan, pepohonan, rumah-rumah dan segala kehidupan di Riau ini.

Semula aku berpikir sambil menggigil membayangkan terganggunya kesehatan orang-orang sekitarnya dan mayat demi mayat bergeletakan dalam hitungan per detik yang rongga dadanya dipenuhi kesesakan asap-asap itu.

Tapi, segalanya sudah demikian. Di sekitar kami, asap benar-benar tebal. Api sungguh gila menjilat-jilati hutan dan menyemprotkan asap kematian. Lebih gila lagi, api dan segala keganasannya tak berangkat dari titik hampa. Ada kondisi-kondisi yang memungkinkan alam begini. Siapa pun manusia yang membikin ini, sudah gila.

Kegilaan apa yang mengisi pikirannya?

Ayah…

Di sini, entah sebagian atau keseluruhan, orang tak lagi takut dan cemas dengan asap akut dan kebakaran. Aku tanya kenapa kalian seperti kehilangan rasa takut?

“Apa lagi yang perlu kami takutkan,” salah seorang perempuan muda di barisan pengungsi menjawab. Sepintas kupandang, wajahnya tegar, tabah, dan ramah. Kini aku berhadapan dengan seulas senyum. Dia menyilakan aku duduk di sebuah tikar di depan tendanya. Sejurus kemudian dengan cepat dan begitu halus, dia mengulurkan sebotol air. Sembari mengisyaratkan terima kasih, aku raih uluran bantuannya. Aku sadar dari tadi tenggorokan serasa kering.

“Kami, orang-orang sini, sudah terbiasa menghadapi asap dan kebakaran. Kami sudah seperti kehabisan tenaga untuk terus lari menghindari bayang ini,” tuturnya seolah begitu tenang sembari memandang ke arah lain.

Aku belum percaya. Kegagahan tuturannya benarkah mencerminkan ketegarannya? Aku pernah mendapati tuturan segagah itu, tapi dalam lembaran tebal roman-roman heroik yang fiktif belaka. Kebakaran ini bukan sebuah cerita, pikirku memprotes, kematian akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang angkanya tiap hari bertambah dan indeks standar pencemaran udara (ISPU) yang berada pada titik berbahaya (paling bahaya) bukan sebuah drama belaka. Bukan rekaan seorang novelis. Ini kehidupan nyata. Aku menyaksikan kematian, kabut asap, dan kebakaran dengan kepalaku sendiri bukan melalui sihir-sihir kalimat heroik yang membentuk serangkaian imaji.

“Sebanyak 129.229 warga Jambi menderita infeksi saluran pernapasan akut akibat terpapar asap kebakaran hutan dan lahan yang sudah berlangsung sekitar tiga bulan. …Hingga Minggu (25/10), kabut asap masih tebal,” tulis sebuah koran nasional, Kompas, 26 Oktober 2015 di bawah tajuk “Tragedi Kemanusiaan”.

Tapi aku memilih diam, menguburkan protes dan kegetiran. Aku tak perlu mengungkapkan data apa pun. Tentu dia lebih merasakan. Aku memilih mendengarkannya. Dan aku masih dalam penilaianku meski berbaur keraguan bahwa perempuan ini sungguh tegar. Aku membayangkan dalam dirinya berlapis-lapis keberanian menyelimutinya.

Aku perhatikan ke sekeliling, memang tidak ada wajah lain yang setegar dia. Tapi darimana ketegarannya memancar? Jika aku merasakan sesuatu dalam bencana kebakaran hutan ini, perasaan itu aku sebut pesimisme. Pesimisme yang muncul dari: desas-desus bahwa kebakaran hutan tak lain hanyalah kesengajaan ulah segelintir oknum, bahwa aparat kepolisian sudah mencatat oknum-oknum yang terlibat tapi tidak berani membeberkannya kepada kami, juga kelambanan penanganan hingga asap mengepung kami kurang lebih tiga bulan, dan kejadian yang berulang menunjukkan bahwa kesigapan pemerintah menyangkut hutan dan penegakan hukum pada sejumlah oknum masih kurang efektif.

Aku juga menyaksikan tiap hari percikan api selalu saja muncul dari lahan gambut seperti tiada habis-habisnya, tiada lelah-lelahnya. Setiap kali dipadamkan, api-api itu seperti sebarisan pasukan yang memilih mundur menghadapi gempuran air. Tapi diam-diam ia menjalar lagi dan membakar lagi dari dalam hingga tampak berkobar lagi ke permukaan. Aku menyaksikan itu muncul berkali-kali, lalu darimana datangnya ketegaran perempuan itu?

“Lagi pula, ketakutan tak dapat membantu kami apa-apa. Kemarin, ibuku meninggalkanku setelah dua minggu bertahan melawan ganasnya penyakit yang disebabkan asap. Kami sekarang sudah siap, kami harus mengakrabi kematian. Nasib dan segala peristiwa buruk yang menimpa kami tak bakal berkesudahan.”

Kini warna kegagahan dalam dirinya mulai berganti warna lain. Emosi kemanusiaannya tak dapat lagi tertahankan. Aku melihat riak gelisah memancar dari matanya saat ia memandang ke arah lain. Wajahnya yang tenang tak sepenuhnya seirama dengan sebaris ucapannya yang samar-samar aku dengar getarannya. Dia lengah bahwa sepandai apa pun dia menyembunyikan kegetirannya, aku dapat mengetahuinya sejak awal perjumpaan.

“Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, apa lagi yang aku takutkan?”

Kami saling bersitatap. Diam. Mata kami saling menembus kedalamannya masing-masing. Sebelum mengalihkan ke lain pandang, dia mengerjapkan matanya yang tak mampu membendung sebulir bening yang menempuh tanah.

***

Mata lelaki tua itu berkaca-kaca. Berkali-kali disekanya butir-butir yang menggelinding dari kelopak mata tuanya. Sebagian melompat membercaki suratnya. Diaturnya sekali lagi napasnya yang gaduh, matanya kembali menatap surat itu.

Ayah…!

Perempuan yang aku temui saban hari telah membuka cerita lain tentang ketakutan dan kematian. Baginya, ketakutan dan kematian sudah menyerap dan mendarah-daging demikian rupa. Aku masih ingat suatu kali Ayah pernah bercerita saat aku mau tidur tentang Marsikun, tokoh rekaan Ayah. Suatu kali, saat dia tidak dapat lagi lari dari kematiannya sendiri, dia masih sempat tersenyum dengan sepuasnya.

Dengan gagah di hadapan orang-orang yang hatinya kerdil dengan kematiannya sendiri, sebelum lehernya tuntas di tiang gantungan, dia mengatakan, “Kematian ada di mana-mana, dan dapat merenggutmu kapan saja. Belajarlah mengakrabinya.” Lalu ia tertawa sampai suaranya baru hilang ketika kematiannya datang.

Ceritamu, Ayah, membuatku bergidik. Padahal hanya sebuah cerita, sebuah rekaan. Apakah cerita Ayah berlaku pula pada perempuan muda yang harusnya memilih umur lebih panjang dan masa depan yang lebih baik?

Aku kian getir, Ayah.

Atau, mungkin saja tepat juga kata dosenku suatu kali di kelas. Dia bilang, kadangkala ketakutan – seperti nampak dalam wajah kalian saat menyaksikan api-api melahap hutan di Riau – muncul karena jarak pandang.

Pandangan yang berjarak, katanya – terlebih jarak yang begitu jauhnya – dari suatu objek peristiwa, itulah yang membikin bayangan-bayangan kengerian. Semakin terpangkas pandangan yang berjarak dari suatu objek, semakin berkurang ketakutan dan kecemasan karena semakin dekat kau mengenali peristiwa itu, semakin banyak mengenali mana di dalam peristiwa itu yang benar-benar membahayakanmu.

Ayah…!

Aku pernah melihat seorang bocah. Bocah sekali. Dia mungkin saja seusia adikku sekarang, 10 tahun, andai saja kematian tidak menjemputnya mengiringi ibu.

Di lapangan yang berkabut, memang tidak terlalu tebal, kabut ringan, mereka malah asik bermain. Mereka sudah diperingatkan. Namun nampaknya mereka tak terlalu memperhatikan peringatan. Mereka tidak nampak cemas akan efek dari asap itu.

“Ayo gabung sini,” panggil salah seorang bocah kepada teman-temannya, “kita akan bermain dengan awan-awan tipis yang lagi mampir di bumi ini. Sebentar lagi dia melayang ke langit menuju sekutunya”.

Yang dipanggil berlarian menuju arah suara. Mereka berteriak-teriak girang.

“Jangan, jangan bermain di situ, kata ayah Dinda, kabut asap tidak baik buat kita”, cegah salah seorang anak perempuan yang dari tadi memilih tidak bermain.

“Kamu tahu apa, ini awan-awan langit. Sebaiknya ke sini, gabung sama kami”.

Nggak mau, itu berbahaya”.

Dari kejauhan, aku mendengarnya. Aku rasai ada kegetiran pada diriku. Juga kecemasan memandangi anak-anak itu. Mereka tidak mengerti betapa dalam kabut asap ada kematian yang membayanginya.

Atau, aku yang terlalu ketakutan.

Ya, mungkin saja, Ayah, karena aku bukan mereka. Baru kali ini, aku hidup diantara kabut asap dan kematian. Aku belum akrab dengan ketakutan-ketakutan. Ia belum mendarah-daging dalam diriku, belum.

Ciputat, 2 November 2015

 

*foto karya Stuart Palley, kebakaran di Stanislaus National Forest dan Yosemite National Forest di negara bagian California, 27 Juli 2014

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *