Seseorang yang Memilih Tinggal dan Berbagi dengan Kesepian

Posted: 28 November 2017 by Muhammad Ikhsan

Ia pernah punya cita-cita mengadakan pesta pernikahan di sebuah negeri yang indah dalam sebuah gedung besar lengkap bersama suguhan berkelas nan mewah. Jika dihelat di luar ruangan, ia akan memilih pantai atau pegunungan untuk merayakannya. Ia dan kekasihnya harus jadi raja dan ratu sehari yang sempurna. Sempat ragu, kemudian ia berpikir-pikir lagi dan bertanya: berapa biaya yang mesti ia sediakan? Lalu seperti sebelum-sebelumnya, akan ia ungkit kembali uang kuliah yang mendekati tenggat, biaya untuk segala kerepotan menjelang yudisium, belum lagi ia yang masih menganggur.

Mendadak kamu jadi sering merenungkan pertanyaannya itu. Barangkali kita sudah harus bersiap-siap sejak awal pertanyaan itu kita pikirkan. Sebab sudahlah tentu penikahan adalah prosesi yang semua orang inginkan, bahkan kebanyakan orang tak ragu menikah berkali-kali, ucapmu suatu waktu saat udara di pantai petang itu masih kalian hirup bersama-sama. Sejak saat itu ia mulai menabung tatkala mendapat kekasih baru.

Di satu pesta pernikahan teman, padamu ia pernah bertanya: di usia berapa kamu ingin menikah? Sebelum menjawab, kamu bergumam-gumam mencari angka yang terbayang di kepala dan secara asal mengatakan: “Tiga puluhan.”

“Apa itu tidak terlalu lama?”

“Kenapa?”

“Kamu sudah tua saat punya anak nanti. Lalu sakit-sakitan ketika anakmu sedang butuh biaya banyak.”

“Kalau begitu sebelum menikah, aku akan cari pekerjaan dengan penghasilan yang cukup seumur hidup, juga menabung seperti kamu,” kalimat klise itu seolah berarti jika kamu bisa mengatur-ngatur hidupmu sesuka hati. Lalu kamu teringat tentang ia dan mimpi-mimpi dalam tabungannya. Kamu menambahkan, “Sudah terkumpul berapa tabunganmu?”

Wajahnya menekuk, gelagat yang kamu hafal kala ia tengah merasa kesal.  Hal yang sudah lama kamu duga pun terjadi: kekasihnya pergi bersama orang lain. Dengan kasar ia berikrar tak akan lagi melakukan hal sia-sia seperti itu. Ia mengumpat, hampir saja merugi karena berkorban banyak untuk orang yang tidak bisa setia. Kamu tertawa terbahak-bahak, merasa lucu. Bukankah setiap harinya adalah melakukan, melalui, juga menanti hal yang sia-sia? Bagaimana jika tidak akan pernah kamu dapatkan orang yang bisa bersetia denganmu? Ungkapmu di sela tawa yang mulai terasa pahit.

Ia dengan nada bercanda, tetapi menunjukkan raut wajah paling serius yang pernah kamu lihat selama duapuluh tahun pertemanan kalian: berjanji tidak akan menikah, barangkali selibat. Kamu sempat takjub, kemudian mengajukan taruhan bahwa ia tidak akan sanggup. Kalau kamu menang, aku akan menikahimu daripada menjadi perjaka tua dan mati sendirian, enteng ia berkata demikian sebagai lawakan yang menyakitkan. Tawanya sontak meledak saat menyadari betapa konyol percakapan tentang tidak menikah, selibat, dan ide menikahimu itu. Sementara kamu menyusup dalam keramaian, menyembunyikan air mata.

Di lain hari, dalam tabung kaca yang menjemukan, pesta pernikahan pasangan selebriti yang diadakan berhari-hari tengah disiarkan di beberapa stasiun televisi. Pesta pernikahan kaum konglomerat yang bahkan mengalahkan pesta pernikahan anak Presiden dan keluarga Keraton, ujar pembawa acara yang sepertinya cemburu. Saat menyaksikan siaran itu, ia berharap semoga pernikahan sepasang selebriti itu tidak cepat berakhir seperti kebanyakan pernikahan para pesohor di negeri ini. Seandainya perceraian terjadi, barangkali rekaman video acara pernikahan yang semarak dan mewah itu dapat ditonton ulang sebagai pengingat banyaknya biaya yang telah dihabiskan. Agar mereka mengurungkan niat bercerai dan kembali mempertahankan hubungan.

Apakah perayaan yang mewah adalah syarat untuk hubungan yang abadi?

Bagaimana jika kamu tidak perlu melakukan itu semua? Setelah mengurus berkas-berkas dan seusai akad, bukankah kamu sudah dikatakan menikah tanpa harus menggelar pesta? Tapi ia protes karena pernikahan hanya sekali dan seumur hidup. Apalagi jika itu adalah pernikahan bersama seseorang yang kamu merasa ingin mati saja jika tidak bisa menikah dengannya. Dalam pernikahan kita tahu akan ada kecewa dan rasa sakit, tapi kita tetap boleh memulainya dengan perayaan dan harapan, demikian pendapatnya waktu itu. Sedang bagimu pernikahan hanya merupakan kontrak panjang yang disepakati agar kamu dapat legal tinggal bersama seseorang. Ia mencibirmu saat kamu ungkapkan pemikiran ganjil itu yang sudah jelas tak masuk dalam daftar ‘hal-hal yang ia percayai’.

Pernikahan mewah telah menjadi tujuan utama dalam hidupnya. Ia meneruskan kembali menabung setiap kali mendapat kekasih baru, seolah hal itu telah jadi kebiasaan yang jika tidak ia lakukan, ia merasa tidak memiliki tujuan hidup. Tentu saja ide menabung selalu gagal acapkali kekasihnya malah pergi dengan orang lain, atau meninggalkan ia tanpa alasan. Tabungan itu akhirnya ia habiskan untuk menghibur diri. Ia akan jalan-jalan, karaokean, membeli segala hal yang tidak bisa ia beli sewaktu menabung, dan anehnya ia selalu mengajakmu untuk menghamburkan tabungannya. Sulit menghabiskan tabungan itu sendirian, akan lebih cepat jika menghabiskannya berdua, ungkapnya ketika kamu tanya alasannya. Kamu jadi berpikir, mengapa tidak sekalian saja ia mengajakmu tinggal bersama. Bukankah sejak dahulu, tidak ada yang lebih setia daripada kamu? Kamu tidak pernah pergi dengan orang lain, atau meninggalkannya tanpa alasan——kamu tidak mengatakan itu.

Setelah usai menyelesaikan studi, ia putuskan pergi merantau ke Kota Hujan, kota yang pernah diimpikannya untuk ditinggali. Ia suka di sana. Jarang merasa kepanasan dan senang dengan sensasi gigil saat kehujanan. Meskipun setelah itu ia akan mengeluh pilek dan demam. Begitulah ia yang kamu kenal, fakta tubuhnya menolak air hujan, tak jadi penghalang untuknya. Ia bahkan tak peduli jika untuk menikmati air hujan ia jadi mengabaikan kesehatan. Kamu kerap iri, bagaimana ia bisa melakukan itu? Tidak peduli pada apa pun, jika sudah menginginkan sesuatu maka hanya ada satu pilihan, ia harus mendapatkannya!

Sedangkan kamu tetap di pulau kelahiranmu. Menetap dan tidak ke mana-mana. Sesekali mendatangi rumah lamanya. Mengunjungi orangtuanya sembari mengingat masa kanak-kanak saat kalian masih sering bermain bersama. Kadang kamu meminta izin ibunya untuk melihat masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang masih tidak banyak berubah. Ibunya sengaja tetap mempertahankan keadaan kamar, berharap kalau-kalau ia pulang, ia bisa kembali menempatinya sebagai salah satu ruangan yang memberinya ketentraman. Lihatlah, di atas meja belajarnya masih ada foto kalian sewaktu bermain hujan-hujanan. Foto yang diambil ayahnya saat mencoba kamera baru. Esoknya, sampai berhari-hari ia demam dan kamu bersedih sebab hanya melihat ia berbaring seharian, tidak bisa lagi diajak bermain hujan.

Semakin lama, kalian semakin jarang bertukar kabar. Terakhir yang kamu tahu dari akun facebook-nya ia telah mendapat pekerjaan tetap di Kota Hujan, sebagai manager di salah satu perusahaan real estate terbesar di sana. Ia selalu mendapatkan apa yang ia usahakan. Mestilah ia akan lebih leluasa menabung tanpa perlu menahan hasrat saat ingin membeli atau menginginkan sesuatu. Kamu menerka-nerka bakal semewah apa pesta pernikahannya kelak.

Di kota kelahiranmu, kamu pun telah mendapat pekerjaan. Menjadi editor di satu harian online. Memang tidak bergaji sebesar gajinya. Tapi kamu rasa cukup untuk memenuhi kebutuhanmu sehari-hari. Ia pun tahu, kamu suka sekali menulis cerita. Meski kerap ia katakan, cerita yang kamu tulis terlalu muram, tidak memiliki alur, ide plot yang datar sehingga hampir-hampir tidak mampu ia cerna. Sesekali cerita muram tidak tercerna itu dimuat di koran Minggu. Kamu dapat uang tambahan dari sana. Apakah ia pernah membaca koran yang memuat ceritamu? Kamu meyakini sebab ia tentu adalah pribadi yang suka membaca koran di Minggu pagi sambil meminum kopi, khas orang-orang besar, khas dirinya yang kamu kenal. Setelah sekian lama tidak berinteraksi dengannya, kamu semakin sering menulis kisah-kisah sendu. Mungkin karena rindu. Mungkin karena hal lain. Kamu sendiri tidak mengerti.

Bagimu cerita-cerita muram itu adalah usaha untuk meramu sosok seorang teman baru. Seperti dirinya walau tidak tepat betul. Rasa kehilangan menyebabkan kamu menciptakan sosok imajiner, yang anehnya, bersama sosok itu kamu ingin tinggal bersama. Kamu meramu sosok itu dari berbagai kenangan, khayalan, imajinasi, mimpi, juga ingatan. Sering pula ia datang dari hujan yang kamu lihat di jendela kantor; tetes embun pagi di halaman rumah; senja yang kamu saksikan saat pulang bekerja; atau dari dedaunan dan bunga-bunga kuning pohon angsana yang berguguran di pinggir jalan.

Sosok itu memperkenalkan dirinya padamu sebagai Kesepian. Awalnya kamu pikir Kesepian adalah sosok yang menakutkan. Seperti rasa menyakitkan saat kamu tak punya seorang pun teman, dan ketika kamu dewasa, Kesepian semakin membuatmu debil, jeri, dan sendirian. Ternyata baru kamu tahu setelah lama bersamanya, Kesepian adalah sosok teman paling setia. Tiada yang bisa lebih setia daripada Kesepian yang ada bersamamu ketika kamu sendiri. Yang paling mengerti alasanmu menangis. Mengusir pergi gigil di tubuhmu dari AC kamar yang sengaja kamu nyalakan dengan suhu 16°C, sambil memelukmu erat dalam selimut kala kamu menakar dunia. Dunia yang normal dan wajar, tempatmu eksis sebagai manusia seimbang. Tanpa orang-orang di sekitarmu pernah tahu betapa rapuh dan limbungnya dirimu selama ini. Setiap malam menarik selimut kasurmu, menutupi seluruh tubuhmu untuk bersembunyi dari dunia karena merindukan seseorang dan secara sadar menginginkannya habis-habisan, sementara di saat yang sama merasa tak layak mendapatkan apa pun.

Hingga teman paling setiamu itu menularimu penyakit ganjil yang telah kamu derita selama tiga tahun belakangan. Diagnosa semua dokter di semua rumah sakit selalu sama: “Anda stres dan memerlukan penanganan serius”.

Seorang teman wanitamu mengajakmu bermeditasi. Lihat wajahmu tampak suram dan kelam, katanya dengan wajah paling imut yang semua teman pria di kantormu gandrungi. Yang malah biasa kamu lihat dengan tatapan jengah. “Kalau kamu tak ingin pergi denganku, kamu bisa pergi sendiri.” Anehnya frasa “pergi sendiri” itu kedengaran menyebalkan. Seperti penegas bahwa kamu sebatang kara dan menyedihkan. Kamu ingin memberitahu teman wanitamu itu, jika manusia pertama di dunia juga telah sendirian sejak awal. Beruntungnya oleh Sang Kekasih ia diberi tulang rusuk untuk menjadi temannya yang sepadan. Sedangkan kamu manusia pertama di dunia yang berlari-larian di taman, bukan bersama teman dari tulang rusuk yang sepadan, melainkan bersama seorang teman bernama Kesepian. Tak akan pernah bersama seorang yang kamu cintai dan mencintaimu. Begitu Sang Kekasih menuliskan pada lembar kehidupanmu yang ingin kamu bakar alih-alih kamu perbaiki.

Kamu pun mulai mengubah kebiasaan. Menuruti ajakan teman wanitamu bermeditasi kilat, yang sebenarnya adalah berciuman kilat yang menjadi ciuman panjang dan berakhir di ranjang. Sehingga sampai di rumah yang kamu dapatkan hanya bayanganmu di cermin yang kamu tatap dengan hampa.

***

Pada akhir musim hujan. Kampus kalian mengadakan acara reuni tahunan. Awalnya kamu berpikir untuk tidak hadir. Namun, setelah mendengar kabar jika ia akan pulang, sekalian melepas kangen pada orangtua dan kampung halaman——kamu putuskan untuk ikut serta, berencana memberi kejutan untuknya di sana.

Acara reuni itu sudah jelas bukan pesta pernikahan, sebab tak ada yang terlalu istimewa. Hanya terdengar sorak kawan-kawan lama saling bertukar kabar. Obrolan basa-basi seputar kegiatan masing-masing. Ketika itu kamu melihatnya datang sambil menggandeng tangan seorang bocah perempuan bermata indah. Yang kemudian kamu ketahui adalah putri pertamanya yang akan segera duduk di bangku Sekolah Dasar. Kamu yang ingin memberi kejutan malah yang menjadi terkejut kala mendengar darinya bahwa ia sudah menikah dan punya satu anak. Sejenak kamu berpikir bahwa hidupmu kini benar-benar sebagai lelucon.

“Kenapa tidak mengirimkan undangan? Keterlaluan!” keluhmu.

Ia memohon maaf dan mengaku saat itu pernikahannya serba mendadak. Lalu bagaimana dengan cita-citamu: mengadakan pesta pernikahan di sebuah gedung besar dengan suguhan berkelas nan mewah? Atau apakah ke sebuah negeri yang indah? Di sebuah pantai ataukah pegunungan, tempat kamu merayakan pernikahan? Ia bilang hanya mengadakan pesta pernikahan sederhana dan mengundang hanya beberapa kerabat dekat saja. Kamu sedikit kecewa, apakah aku tidak lagi menjadi kerabat dekat, sehingga aku tidak mendapat undangan? Ia meminta maaf lagi. Lalu memperkenalkanmu pada istrinya. Wanita cantik yang membuatmu iri.

“Kamu sendiri tak banyak berubah. Selain bertambah tua. Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Dua belas tahun?” Ia bertanya.

“Dua belas tahun… empat bulan… enam hari.”

Ia tertegun.

Masih berbasa-basi ia bertanya, bagaimana keadaanmu sambil mengungkit janji menikah di usia tiga puluhan: “Sudahkah kamu menikah?”

Kamu menggeleng.

Raut wajahnya heran.

“Kenapa? Belum ada jodoh? Mau aku kenalkan seseorang?”

Kamu menggeleng.

Ia bertambah heran.

“Kenapa? Teman-teman istriku banyak yang cantik. Jangan khawatir, aku kenalkan dengan yang terbaik.”

Kamu menggeleng.

“Jangan bilang kamu betah melajang. Atau kamu sudah selibat sekarang?”

Kamu tertawa. “Bukan. Bukan karena itu.”

“Lalu?”

“Hhhmmm…. Aku tidak bisa menikah.”

“Urusan biaya? Tenang, aku bantu. Sahabatku harus mendapat pernikahan termewah yang akan dikenang sepanjang masa. Ingat artis yang acara pernikahannya disiarkan di televisi dulu? Akan kubuat jauh lebih mewah daripada itu!”

“Bukan juga masalah biaya. Aku hanya tidak bisa menikah. Banyak yang tidak mengizinkan aku menikah.”

“Pernikahan macam apa yang sampai tidak mendapat izin orang banyak?”

Perlahan kamu mendekatkan wajahmu ke telinganya. Pelan-pelan kamu berbisik bahwa kamu tak diizinkan menikah sebab kamu ingin menikah dengan sosok yang tidak ada.

Sosok yang tidak ada itu bukan berarti benar tidak ada. Apakah kamu pernah mengalami masa ketika daya imajinatifmu menciptakan sosok yang memenuhi syarat idealmu? Di saat sendiri, kerap kamu akan mengkhayalkannya. Kadang kamu tersenyum, merasa diperhatikan juga dicintai. Sosok imajinatif itu adalah refleksi dari orang-orang di sekitarmu yang kamu cintai atau tokoh idola yang kamu kagumi. Fantasi memainkan fungsi paling penting dalam keseluruhan struktur mentalmu. Fantasi menghubungkan lapisan tak sadar paling dalam dengan produk kesadaran paling tinggi——mimpi dan realitas. Pada sosok itu kerap kamu mendiskusikan hal-hal remeh atau hal-hal penting dalam hidupmu. Kerap pula kamu mengambil keputusan dengan seolah-olah meminta saran padanya. Yang barangkali sebenarnya adalah kamu dan dirimu sendiri.

“Bukan karena benar tidak ada. Orang-orang hanya tidak bisa melihatnya.”

Kamu tertawa, ia pun ikut terbahak. Kelak kamu akan menyadari jika sebenarnya kalian sedang menertawakan dua hal yang berbeda.

Ia kembali ke Kota Hujan bersama istri dan anak perempuannya. Kamu kembali bekerja seperti biasa. Tidak keluar pulau. Tidak ke mana-mana. Masih merangkai cerita muram. Tentang sosok yang tidak ada. Sosok yang membuatmu sadar, ia tertawa sebab menganggap cerita-ceritamu sebagai cerita muram tak tercerna. Sedang kamu tertawa sebab bahagia bisa mengingat wajahnya dengan lebih jelas setelah sekian lama. Dan bagaimana kamu mampu mengatakan itu, agar ia percaya cerita-ceritamu? Barangkali ia tidak akan mengerti, seperti orang lain juga tidak bisa mengerti——sehingga Kesepian menjadi sesosok teman yang dengannya kamu ingin tinggal bersama dan berbagi.

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

1 Comment

  • Haloiyik 28 November 2017 at 19:45

    Alurnya terasa klimis. Kusuka.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *