Sang Dalang

Posted: 13 June 2017 by Ferry Fansuri

Kau tak akan tahu siapa aku karena hanya bayangan dalam bayanganmu. Aku bergerak sangat cepat, tapi terkadang amat lambat. Aku mampu menyelinap dalam desah napas manusia, mencium bau busuk, atau parfum murahan perek jalanan. Aku hidup lebih lama daripada negara ini. Tapi bukan iblis, bukan pula dajjal. Aku manusia seperti kalian yang mempunyai nafsu dan akal.

Aku hadir dalam tiap peristiwa yang berlangsung di negari ini. Kerusuhan, demo anarki, taktik politik, kisruh partai bahkan hal terkecil macam naik turunnya harga cabai keriting di pasar induk. Semua hal aku jamah, kuotak-atik sesuka hatiku sesuai yang kumau tanpa tersentuh siapa pun. Apakah aku membela suatu golongan? Atau benci dan dendam terhadap suatu etnis? Atau aku tak punya agama dan tak mengakui keberadaan Tuhan? Oh tidak, aku tidak mewakili lembaga atau membenci etnis apa pun, aku percaya pada Tuhan yang menciptakanku dengan tujuan yang khusus. Apa yang kulakukan hanya sebuah kesenangan, dan terkadang aku tak suka ketenangan.

Aku menguasai ribuan bahasa dengan berbagai dialek. Aku bisa berubah wujud sesukaku. Seorang kakek, anak kecil polos, pemuda tampan, atau wanita bahenol sexy dengan payudara yang menyembul.

Di negeri ini aku hidup dari zaman ke zaman. Masih kuingat peristiwa saat kali pertama kaki ini mendarat di tanah Jawa Dwipa Gemah Loh Jinawi, subur dan kaya. Negeri yang mampu menarik berbagai bangsa untuk datang sekadar mencicipi palawija dan cengkeh, berebut membangun benteng dan menancapkan kuku monopoli di sini. Aku yang membisikkan ke telinga Albuquerque, seorang Portugis, untuk mencaplok Malaka dan Sunda Kelapa. Aku berubah wujud sebagai ajudan kapalnya untuk mengeruk kekayaan negeri ini, terkadang aku berubah menjadi bangsawan priyayi untuk menghasut Fatahillah menyerbu dan merebut Sunda Kelapa.

Aku begitu mudah memainkan mereka karena manusia mempunyai hasrat dan nafsu yang begitu membuncah. Semua terjadi seperti aku inginkan. Perang dan saling bunuh demi kehormatan dan ego, taktik adu domba ala devide at impera adalah senjata mematikan di dunia ini. Kulihat kekacauan itu di tepi pantai saat Fatahillah menghantam Albuquerque, pemandangan begitu indah layaknya kembang api yang disulut di tengah malam berpijar dan mengagumkan. Segala kenikmatan itu mendesir di aliran darah bak opium yang terhisap membuat sakau.

Sebelum ini pengaruhku lebih purba lagi, kata-kataku jadi belati mematikan dan ampuh. Kubisikkan ke telinga Gajah Mada untuk mengucapkan sumpah Palapanya dan menjadikan Nusantara sebagai kekuasaaan Majapahit.

“Kau ucapkan sumpah itu maka Nusantara bisa engkau satukan dalam genggamanmu. ”

Saat itu Gajah Mada melancarkan aksinya, perang berkecamuk, dan pemberontak di mana-mana. Perang Bubat yang legendaris dilegalkan demi kekuasaan, pemberontakan macam Ranggalawe dipadamkan tanpa ampun.

Setan atau iblis tidak pernah ada untuk membisikkan secara gaib ke telinga manusia, Iblis itu sebenarnya sudah ada dalam jasad manusia dan tubuh manusia adalah wadahnya. Mereka tinggal dibangkitkan dengan sekali tiupan.

Darah dan airmata adalah tumbal untuk semua itu. Aku suka pada manusia yang mempunyai ambisi karena kelemahan mereka bisa aku setir seenaknya. Turun naik takhta pemerintahan buat aku bagaikan menjentikkan jemari. Aku pernah juga menurunkan seorang proklamator berwibawa negeri ini dengan emngandalkan seorang jendral yang selalu tersenyum.

Aku menciptakan momentum, mencari kelemahan, dan mendorong menjadi bahan bakar. Aku begitu gampang merekrut pengikut setia di bawah panji-panji kegelapan dan selalu menjalankan perintahku dengan titik darah penghabisan.

Apakah kau sudah mengumpulkan data tentang dia?”

Benar tuan, ia akan terbang besok”

Baik, laksanakan eksekusi itu”

Aku dan pengikutku bekerja secara rahasia. Jampi-jampiku sangat kuat hingga menuruti segala yang kusuruh. Sama seperti tugas esok untuk menghabisi seorang aktivis HAM yang akan pergi study ke Holland. Aku sendiri tak kenal orang ini tapi ia harus dikorbankan karena mengusik permainanku yang sudah aku rancang dan akan kubuat ia menjadi pahlawan negeri ini.

Pembunuhan itu begitu cepat, racun arsenik jadi pemicu. Skenario sudah aku rekayasa, waktu dan tempat kematian beserta kambing hitamnya. Bisakah kau berimajinasi bagaimana aku menghabisinya? Baik, aku jelaskan padamu. Saat ia transit dalam bandara, aku berubah wujud menjadi seseorang yang menyeduh kopinya. Kau mungkin belum tahu bahwa racun arsenik itu sudah ada di tubuhnya sebelum ia diberitakan meninggal dalam pesawat.

Esoknya berita bombatis memenuhi headline media massa dan elektronik

Aktivitas Ham tewas diracun!”

Konspirasi kongkalikong pemerintahan”

Keadilan telah mati suri”

“Kita kehilangan anak bangsa terbaik”

Aktivis HAM itu mati menjadi pahlawan sebab tiap negeri butuh seorang pahlawan untuk dielu-elukan.

Jika aku bosan dengan sebuah permainan, aku akan menggantinya dengan permainan yang baru. Seperti ketika sebuah rezim tiran yang telah lama tenang mulai aku koyak sebab sang jenderal pemimpinnya telah lama memerintah.

Aku dapat menyamar sebagai aktivis mahasiswa untuk membakar semangat menentang kebijaksanan dan arogansi pemerintahan ad interim. Aku juga berkolaborasi dengan tengkulak-tengkulak mata uang asing untuk membuat ekonomi negeri ini turun di ambang batas. Muncul-lah demo di mana-mana, mahasiswa dan masyarakat bersatu turun ke jalan.

Ah..ini momentumku, demo aku tunggangi dan sirami bensin kemarahan agar semakin membara.

“Bunuh beberapa mahasiswa”

“Tembak di tempat, jangan sampai meleset”

Kubisikkan pada seorang sniper di atap gedung mengincar bayangan-bayangan berkerumunan di bawah sana.

“Door..Baamm!!”

Satu dan dua mahasiswa tumbang, demo menjadi panas dan semua kamera televesi menyorot. Para redaktur sibuk mencari berita penembakan mahasiswa untuk meningkatkan rating mereka, aku juga berubah wujud menjadi seorang redaktur yang berambisi untuk mengangkat peristiwa pembunuhan mahasiswa itu untuk dijadikan makanan stasiun televisi yang dulu hanya menayangkan telenovela itu.

“Bakar..Bakar..Sampai habis”

“Jarah….Jarah !!”

Mei itu membara membakar negeri dan memperkosa anak bangsa itu. Manusia akan menjadi beringas hanya karena urusan perut tapi lebih berbahaya urusan di bawah perut, jika keduanya lapar maka apa yang dilihat semua gelap dan hanya untuk memenuhi napsu belaka.

Aku ada di balik gedung berselubung kobaran asap membubung tinggi, aku saksikan gerombolan itu mencabik-cabik kelamin seorang wanita yang hanya karena mereka bermata sipit dan suka makan babi. Mulutku menyeringai puas.

Permainanku selalu bagus, maka kau tak akan bisa menyaingi aku. Kau tak akan bisa menemukanku. Aku hidup di belakang layar dan panggungku adalah negeri ini. Penduduk negeri terlalu gampang dipecah dan digesek, isu-isu SARA disusupi dan dibumbui. Persatuan yang digadang-gadang oleh founding father itu sia-sia, hanya sebuah logo yang nangkring di tiap instansi atau sekolah.

Duapuluh tahun setelah Mei itu, ada seorang bermuka kuning dari kaum minoritas muncul sebagai pemenang di negeri ini yang mana mereka dulu yang membantai kaumnya. Dijadikan kambing hitam atas keterpurukkan negeri biarpun mereka yang menggiatkan roda-roda ekonomi negeri ini tapi pada akhirnya reformasi butuh korban.

Apakah aku seorang pemilih? Mayoritas atau minoritas? Aku tidak memilih siapapun, aku suka kedamaian tapi dalam versiku. Si muka kuning ini sebenarnya aku suka, tipe langka di antara manusia-manusia negeri ini. Tapi ia mengganggu permainan yang telah kubangun, bagai lalat yang hinggap di makanan yang harus disingkirkan.

Aku sempat kesulitan untuk menggoyang si muka kuning ini, tak terlihat kelemahan di matanya. Semua mencintai dan mengelu-elukan si muka kuning. Tapi aku tak kehabisan akal, manusia negeri ini mengganggap minoritas adalah pelengkap semata bukanlah untuk menjadi superior. Mereka membencinya biarpun tidak mengakui akan kekalahan sebagai mayoritas. Mereka tak rela si muka kuning mengangkangi negeri ini dan itu bisa aku manfaatkan.

Berminggu-minggu aku pelajari tentang si muka kuning itu, bagaimana ia berbicara dan berinteraksi dengan kawan atau lawannya. Si muka kuning terkenal ceplas-ceplos dalam menanggapi semua permasalahan. Kata orang “mulutmu harimaumu”, dan ia tak sadar bahwa kata-katanya telah menyakiti orang-orang yang membencinya.

Keajaiban dunia maya dengan berbagai tool di dalamnya adalah bom nuklir sesungguhnya di masa depan, antara nyata atau hoax beda tipis. Suatu ketika si muka kuning itu terpeleset akan ucapannya dan menyinggung agama mayoritas negeri ini. Dan kulihat itu sebagai sebuah kesempatan untuk menjatuhkannya.

Aku bisikkan para ulama garis keras yang memang sudah lama mengincarnya dan bisa aku tebak terjadi demo besar-besaran untuk menggulingkan.

“Seorang Penista Agama”

“Adili!”

“Pengadilan Terbuka”

Riuh dan bergemuruh, ratusan manusia dari kaum mayoritas negeri ini turun ke jalanan dan bersatu.

Aku tertawa terbahak-bahak, kalian sebelum ini tercerai-berai dan sekarang bersatu. Sebenarnya si muka kuninglah yang menyatukan kalian. Tanpa dia apa yang kalian yakini tak akan kuat. Persatuan memang butuh pemicu, sebagai seorang dalang aku hanya menyulut saja untuk sebuah cerita yang telah kususun sebelumnya.

Kudengar si muka kuning itu kini telah dicebloskan ke penjara, dan di beberapa tempat ribuan lilin dinyalakan untuknya.

 

Dumai, Mei 2017  

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *