Pingsan

Posted: 10 October 2017 by Fajar Laksana

Pingsan

“Sial! Aku tetap harus ikut menolong!” batinku mengumpat.

Kalau saja aku kenal tentu sudah kuingatkan dia mengenai perilakunya itu. Permasalahannya adalah, jangankan kenal, melihat saja belum pernah. Sehingga aku tidak perlu merasa bersalah ketika mendapati seonggok tubuh seksi ditiduri becak dengan begitu mesra, tergeletak lemas di trotoar. Air merah dan botol pecah turut serta menumpangi dada montoknya. Lampu perempatan berkedip, menimpakan sinar redup warna kuning, lelaki tua susah payah berdiri sambil memegangi kaki kiri, diglak-digluk memaksakan diri untuk menghampiri .

Baru saja aku memegang sedikit bagian dari sadel becak, lelaki tua pemilik becak malah berhasil mengangkat becak sendirian. Bisa dikatakan niat untukku menolong menjadi sia-sia.

“Dasar wanita zaman sekarang !!” Lelaki tua pemilik becak itu mengumpat pada tubuh yang tak bisa mendengar dan merespons.

“Bangun, Mbak !!” kugoyangkan tubuh wanita itu.

“Biarkan saja Mas, nanti juga bakal bangun sendiri karena matahari atau karena diangkut Satpol PP !” katanya ketus.

“Ah, jangan ngawur, Mbah !”

Wanita macam apa yang berjalan sendirian merunut jalanan Yogya kalau bukan seorang wanita yang sedang ditimpa malapetaka? Lelaki tua pemilik becak diam begitu saja, dia duduk tenang di trotoar sembari sedikit membungkuk meniupi luka di lutut, wajahnya agak memelas, terlihat di kedua matanya tergantung setitik air. Dan berulang kali serbet kotak warna merah putih yang ada di pundak diusapkan ke muka.

“Mbak, bangun…!” kukeraskan sedikit suaraku.

“Percuma Mas, dia sudah muksa, dan tidak akan terbangun dalam waktu cepat. Memang begitu yang terjadi kalau kaum wanita mulai berani menenggak minuman keras, mungkin dia lupa, ini Yogya, bukan Jakarta !!” mata renta itu menikam tubuh si wanita tanpa ampun.

Lelaki tua itu sudah beranjak dari trotoar, pindah ke atas becak. Diperiksanya kondisi ‘kuda besi’ miliknya, dan menyadari bahwa becaknya mengalami kerusakan parah. Atap plastik pelindung hujan sobek, velg ban bengkok, ban dalam menjumbul keluar dan sadelnya tertekuk. Mulutnya grunengan, entah apa yang dikatakannya, tapi yang jelas itu tak akan mengubah kondisi becak seperti mula.

Kualihkan pandanganku, menyapu sekeliling. Tidak ada kendaraan yang lewat dengan perlahan, rata-rata melintas dengan kecepatan di atas 80 km/jam, bahkan ketika berbelok kecepatan tersebut tidak dikurangi, benar-benar ajaib, Tuhan menyertai para pengendara yang ugal-ugalan. Dan memang, malam hari adalah waktu yang sangat tepat untuk menjadi angkuh bagi kendaraan bermotor.

“Becak ini penghidup keluarga, tapi lihat apa yang telah dilakukan wanita sialan itu! Sebenarnya apa yang ada di pikirannya ?! Berjalan sempoyongan, memegang botol minuman keras murahan. Wanita itu muncul dari gang tanpa toleh kanan-kiri, dan aku terkejut bukan main karena tiba-tiba ada seorang wanita sudah berdiri di tengah jalan! Kalau sudah begini, darimana aku bisa mendapat uang untuk biaya sekolah cucuku?!” Setelah mengeluh, ia meludah, emosinya kembali tinggi.

Kuangkat tubuh wanita mabuk sendirian, kusandarkan di tembok bangunan restoran cepat saji dekat perempatan. Kepalanya tertunduk, rambut panjangnya terurai, menutupi sebagian muka. Kurapikan kerudungnya, tapi selalu saja menggelayut jatuh ke pundak, dua kancing kemeja bagian atas telepas, dan ada kalung Rosario menggelayut di lehernya.

“Mbah, sampeyan ada air?”

“Ada, ini…” dilemparkannya padaku botol bening hasil olahan bijih plastik.

Kubasahi telapak tanganku, lalu kuusapkan ke wajah wanita itu. Berulang kali kulakukan, tapi sama sekali tak berarti. Dia tetap saja diam dengan mata teduh yang tertutup. Karena jengkel kuguyurkan sedikit air minum lelaki tua ke ubun-ubunnya, tapi hasilnya sama saja.

“Kamu itu siapanya kok peduli amat? Kalau wanita itu adalah pacarmu, kamu benar-benar mengalami nasib celaka, dan kalau wanita itu istrimu, kecelakaanmu berlipat ganda. Kamu tentu mengerti maksudku!”

Lelaki tua itu meracau tak keruan. Kalau kuakui tuduhannya, maka ujung-ujungnya lelaki tua akan meminta ganti rugi padaku. Memang celaka, lagipula kenapa aku harus menolong wanita yang tak pernah kukenal, kalau pada akhirnya aku yang dimintai pertanggung jawaban? Nampaknya kebaikan yang kulakukan pada si wanita tidak lebih dari kebaikan yang mencelakakan!

“Bukan Mbah, saya bukan pacar apalagi suaminya! Saya membantunya karena kasihan. Apa salahnya membantu seseorang yang sedang tertimpa musibah?” Setelah itu kuceritakan secara runtut kenapa aku menolongnya.

Begini, saat dalam perjalanan pulang dari mengaji aku sempat berpapasan dengan si wanita mabuk. Dia terlihat frustasi, bau tubuhnya menyengat hidung. Dia menyusuri gang gelap sendirian, menembus kesunyian sambil sesekali menenggak air pengharapan. Aku ingin memperingatkannya agar jangan berjalan sambil mabuk, tapi niat tersebut tertahan di ujung lidah, seolah ada yang menahan. Karena tak mampu berucap maka aku putuskan untuk diam, berdiri mengamati laju wanita itu, kulihat bayangannya semakin memanjang saat dirinya semakin mendekat pada lampu gang, dan saat lampu berkedip, kegelapan yang hanya sepersekian detik itu mengagetkanku dengan suara tumbukan dan jeritan.

Setelah kuceritakan runtutan hubunganku dengan si wanita mabuk, si lelaki tua bangkit dari becak. Tangannya menyahut botol yang kugenggam, dengan penuh nafsu haus ia tenggak habis air mineral di dalamnya. Dia berjongkok di depan wanita mabuk yang kusandarkan. Mata tuanya menyapu seluruh tubuh, setiap lekukan diamati betul, lalu dia memandang tajam muka si wanita mabuk, terdengar samar ketika laki-laki tua menelan ludahnya sendiri. Timbul kecurigaan padaku.

“Mbah mengenalnya?” kusorongkan kepalaku.

“Tidak!”

“Lalu kenapa menelan ludah ?” tanyaku keheranan.

“Karena dia cantik, dan tubuhnya lumayan…”

“Bajigur, otak tua mesum !!” Kukira dia mengenalnya, ternyata telanan ludah itu tak menunjukkan apa-apa selain hawa nafsu buta dari seorang lelaki tua, yang mungkin sudah lama tidak ber – ho ho hi he dengan lawan jenis.  

“Minggir Mbah, dasar saru!” Kusuruh lelaki tua menyingkir, kemudian kuperiksa saku kemeja wanita itu, dan menjelajah celana jeans ketat berwarna perak, kuraba tanpa ada yang terlewat.

“Aku boleh membantu?!” Kini ganti kepalanya yang disorongkan, matanya tertuju pada dada.

“Tidak, tidak perlu!” Tawarannya kutolak mentah-mentah, mengingat perkataanya tadi sudah cukup membahayakan kehormatan, -bila memang terhormat-, si wanita mabuk. Kali ini yang kulakukan tidak sia-sia, aku mendapatkan sebuah dompet berwarna biru. Kubuka dompet yang ternyata berisi sejumlah uang. Aku terpaku!

“Ah, kepergok !! Jangan-jangan kamu yang mengenalnya ?”

“Tidak!”

“Lalu kenapa menelan ludah ?” tanyanya curiga.

“Uangnya banyak !” jawabku tertegun memandang isi dompet.

“Dasar pemuda mata duitan!!” Lelaki tua malah menghardikku, dia bersungut-sungut, kembali duduk di atas becak. Mulutnya kecap-kecap sendiri.

Selain dompet, aku juga menemukan handphone di sakunya. Nampaknya aku harus menghubungi pihak keluarga si wanita mabuk. Siapa tahu ada yang akan mendatangi dan mengakhiri derita malamku. Kubuka hondphone, kuamati riwayat teleponnya, ‘ayah’ itulah nama kontak yang terakhir kali menghubunginya. Kujumput handphone ku sendiri yang ada di dalam saku, mencoba menghubungi ‘ayah’ si wanita mabuk. Karena kalau aku menghubungi dengan nomor si wanita mabuk sendiri, tentu ayahnya akan beranggapan bahwa anaknya sedang dilanda kesulitan, penculikan misalnya.

Kutelepon ayah si wanita mabuk, dan aku mendapat sambutan hangat operator. Lelaki tua berdiri lagi, dengan wajah yang lebih kesal dari sebelumnya, dia menyahut teleponku, dan menggantikanku. Tapi hasilnya sama.

“Di waktu begini, mana ada orang yang masih terjaga!!”

Mulutnya kembali mengumpat, dia bicara dengan handphone ku, bukan dengan seseorang yang harusnya tersambung di jaringan telepon. Alat komunikasi tercanggih era modern milikku dihina habis-habisan, dan aku memutuskan untuk ikhlas, mengingat si lelaki tua tengah melakukan sebuah kesalahan besar, yakni marah-marah pada benda mati. Suaranya menggelegar, membuat kaget deretan burung pipit yang nyenyak tidur, bertengger di kabel listrik.

“Ahhh, aku muak! Dasar barang mahal tidak berguna!! Kamu yang membuatku sampai seperti ini, andai saja makhluk sepertimu tidak ada tentu aku tidak akan tertimpa nasib sial hari ini. Becakku ringsek, belum lagi aku akan dituduh menabrak wanita mabuk, dan karena aku hanya seorang penarik becak, tentu wanita kejam itu akan meminta ganti rugi atas sesuatu yang tak pernah dengan sengaja kulakukan !!”

Di tengah situasi yang membingungkan, ada sedikit hiburan. Lelaki tua tukang becak bermonolog dengan handphone ku, wajahnya murka, letupan air liur muncrat ke segala arah. Kurasa inilah namanya kesempatan dalam kecelakaan.

“Memangnya apa yang diperbuat barang itu padamu Mbah, kok sampai begitu murka ?” Tanyaku dengan niat mencari hiburan.

Lelaki tua tercenung, kepalanya menoleh padaku dengan sangat cepat, matanya merah nyala, ujung alisnya bertemu, dan kedua bola mata itu memicing keras.

“Kamu mestinya tahu apa yang telah diperbuat benda ini pada para pemuda, terutama cucuku. Benda ini memberikan gambar-gambar buruk, mengajarkan hal-hal buruk, dan barang ini lebih berbahaya daripada narkotika ! Kamu tahu apa yang diperbuat cucuku akibat benda ini ? Dia putus dari sekolah, mabuk, judi, bahkan dia berani melakukan sesuatu yang berada di luar batasan norma. Karena ulahnya yang kelewatan, istriku stress berat dan akhirnya mati, terbunuh oleh jantungnya sendiri !!” Diceritakannya alasan kenapa ia sangat membenci handphone.

“Bukan benda itu yang salah, tapi…”

“Ya!! Cucuku yang salah!! Itulah yang dikatakan orang-orang !! Mereka bilang kalau cucuku adalah pembunuh, dan kamu tidak berbeda !!” Ia memotong ucapanku yang sebenarnya belum tuntas.

“Maksudku…” Kucoba untuk mngklarifikasi.

“Diam ! Jangan bicara lagi !! Ambil barang ini !!”

Mulutku terkunci karena hardikan yang sangat keras. Aku berjalan ragu, menyambut handphone yang ditodongkan. Memang cucunya tak harus menanggung semua kesalahaan akibat menggunakan handphone, masalahnya adalah kenapa harus handphone ku yang harus kena batunya ?

Lelaki tua duduk di trotoar, entah apa yang harus kulakukan, sedangkan yang tertimpa sial sebenarnya bukanlah dia, atau si wanita mabuk yang masih tak sadarkan diri, melainkan aku ! Mereka datang dengan tiba-tiba di kehidupan malam tenangku, atau jangan-jangan, mereka bersekongkol untuk menempatkanku dalam kondisi menjengkelkan seperti ini ?

“Kalian jelas saling kenal !!” Kecurigaanku kambuh.

Lelaki tua hanya memandang jalanan aspal dengan kekosongan. Begitu pelan, ditolehkan wajahnya padaku, dan pandangannya membuatku berapi.

“Katakan saja kalau mbah mengenalnya, kalian pasti saling kenal !!”

Pipi keriput itu basah, penuh dengan guyuran tangis. Sedangkan dengan sangat tenang dia bicara padaku.

“Kami berdua sedang tertimpa musibah, dan kamu beranggapan bahwa aku mengenalnya, begitupun sebaliknya ?”

“Ya, itu jelas, sebab kalian adalah orang suruhan bank !! Kalian tahu siapa aku, tempat tinggalku, dan rutinitasku, kemudian kalian merencanakan kecelakaan ini untuk menjebakku. Buktinya, mbah menuduh kalau aku punya hubungan dengan wanita teler itu !!”

“Pemuda goblok !!” Begitu singkat ucapannya, tapi rasanya begitu menghancurkan hati.

Kembali aku tertegun, aku kalah pengalaman dalam hal hardik-menghardik. Kuhampiri si wanita mabuk, kugoyangkan lagi tubuhnya, kucubiti pipinya, kutampar, kutendangi kakinya, tapi dia tak kunjung bangun.

“Bangunnn !!” Kesabaran yang kumiliki sudah habis, teriakanku dibarengi dengan hembusan lirih angin malam. Lelaki tua tidak bereaksi, burung-burung pipit berhamburan, pindah mencari tempat lain untuk tidur. Pikiranku mulai kalut, terbayang situasi di rumah.

Lalu kusadari bahwa di seberang jalan ada bayangan seseorang yang sedang mengawasi, mungkin sudah sejak tadi, berdiri saja, tidak bergerak. Tubuhnya cukup gempal, rambutnya gondrong sampai ke bahu. Tangannya terkunci di belakang pinggang, kuamati dengan seksama, perlahan kudekati bayangan itu.

“Siapa itu ?!” Tanyaku berteriak.

Bayangan masih saja diam, lekat dalam kegelapan. Kuberanikan langkah kaki untuk memastikan. Mungkin dia adalah orang yang kukenal, atau orang kenalan si lelaki tua, namun aku berharap bayangan itu adalah bayangan seorang kerabat si wanita mabuk. Kupaksa kakiku untuk lebih mendekat lagi.

“Katakan ! Siapa kamu ?!”

Bukannya jawaban yang kudapatkan, dia malah berlari, wussss. Segera kukejar bayangan tersebut. Larinya kencang, kuimbangi dengan kecepatan yang kumiliki. Aku harus tahu identitas asli bayangan tersebut, kulupakan si wanita mabuk dan lelaki tua tukang becak yang sedang dalam duka di perempatan. Kurasa si lelaki tua tidak akan sampai hati untuk meninggalkan seorang wanita yang tak sadarkan diri di pinggir jalan.

Kami memasuki sebuah gang, dia masih cepat berlari, sedangkan aku susah payah mengatur nafas yang sudah puasa senin-kamis. Adrenalinku memuncak, kutambah kecepatanku, dan berbuah dengan jarak yang semakin dekat. Rambut gondrong itu meliak-liuk terbawa udara, tanganku meraih-raih, jangkah kaki semakin lebar, tapi belum juga terjangkau. Aku tidak akan mengambil keputusan untuk berteriak minta tolong, karena dia belum melakukan sesuatu yang mencurigakan atau membahayakan.

Sebuah pagar melintang panjang, ia meloncat dengan begitu lihai, kurasa usianya masih muda. Sarungku kuangkat lebih tinggi lagi, kuambil ancang-ancang, kutapakkan telapak tangan kiriku pada pagar, kuhentakkan kakiku keras-keras, tubuhku melayang melewati pagar.

Celaka !! Ikatan sarungku melonggar, kemudian sarung hitam yang kupakai melepaskan diri dari pinggang, menjuntai ke bawah, dan berpegangan pada sebuah paku yang menganga. Pikiranku kosong. Yang ada hanyalah muka-muka orang bank yang dengan begitu bengis menyiramkan teh panas ke muka ibu, padahal teh tersebut dibuat ibu untuk menyambut mereka. Peristiwa tersebut kalah mengerikan saat muka ibu ditinju, dan kepalaku dibenturkan pada ujung meja. Aku kalah, tubuhku ditarik gravitasi yang layaknya hutang, menjatuhkan setiap orang tanpa pandang keadaan. Sebongkah batu bata menyambut pelipis kiriku, sarung pemberian kyai terkoyak, kupegangi kepalaku, sambil mengerang kesakitan. Di depan pembaringan, ada sepasang sepatu di depan mataku, kuarahkan mata ke atas untuk melihat wajah pemilik sepatu tapi yang terlihat hanya wajah hitam. Begitu santai dia berjalan meninggalkanku, tanpa beban rasa bersalah sedikit pun.

“Siapa kau ? Kenapa lari ? Katakan siapa namamu !!” suaraku teredam sakit.

“Namaku tidak penting, yang jelas aku bukan orang jahat, aku hanya ingin menemui  simbah, meminta maaf padanya atas semua perbuatanku. Tapi betapa sial nasibku hari ini, aku tak bisa mendekat, karena ada mantan kekasihku !” Mukanya tertutup gelap, tapi jawabannya begitu terang.

“Kau ?!”

Mataku memejam perlahan, semuanya kabur, semuanya lenyap, baik yang ada di pandangan maupun yang ada di pikiran, termasuk rasa duka cita. Ketika ibu menunggu di rumah, dengan kekhawatiran kalau-kalau aku diringkus oleh petugas bank, aku malah berakhir disini, terkapar, mengikhlaskan diri untuk pingsan. Bagaimana nanti nasib ibuku ? Bagaimana nasib ibu? Bagaimana nasib ibu dan wanita mabuk sekaligus si lelaki tua ? Aku pingsan.

Yogyakarta, 19 September 2017

 

 

*Foto karya LakeHurst-Images

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *