Penyemat Suci

Posted: 22 May 2018 by Hasan Gauk

PERUTKU mual! Bagaimana tidak, di depan matamu sendiri parang mengilat terus-terusan digosok batu asah. Leherku terikat di bawah pohon besar dan sangat kokoh, tubuhku yang kecil tidak bisa berbuat apa-apa. Aku perkirakan usia pohon itu sekitar seratus tahun lebih kalau dilihat dari ukuran dan pahatan kulitnya. Aku memang tidak bisa memanjat, tapi sedari kecil aku sudah sangat akrab dengan berbagai macam jenis pohon. Kau bahkan tidak akan pernah meragukan kemampuanku soal penafsiran.

Darahku membeku saat melihat beberapa orang di depanku berbincang sambil sesekali menunjuk ke arahku. Mereka kadang tertawa sambil terlihat mengejek, ada juga yang sengaja menghampiri sambil mengelus kepalaku. Tertangkap juga oleh mataku orang-orang asing itu berbisik-bisik sembari memegang tali berukuran sama dengan tali yang mengikat leherku di pohon besar sialan ini. Napasku tersedak, seorang lelaki tua paruh baya yang sedari tadi mengasah parangnya menghampiriku, parangnya mengilap, sangat mengilap. Pak tua itu memegang leherku, orang-orang lalu mulai mengikutinya dari belakang. Tali dibentangkan, sekarang tidak hanya leherku yang terikat, kedua kakiku juga kini telah terikat kencang. Aku mulai berontak, tapi tenagaku tidak sanggup mengalahkan tenaga orang-orang dewasa itu dengan kuda-kuda yang mereka pasang sembari menarik tali dengan kencangnya. Aku hanya bisa merintih kesakitan, tapi apa peduli mereka? Kulitku mulai menggigil! Parang menempel di urat leherku. Dan akhirnya aku tidak sanggup mendengar gesekan yang menjalar ke telingaku. Tuhan, leluasa benar parang itu menguasai leherku, dan aku hanya bisa pasrah merasakan parang menembus urat tenggorokanku.

Darahku seketika mengaliri tanah kering dan tandus, perih yang teramat sangat menyakitkan! Bau anyir darah tercium. Tubuhku lunglai lemas terkapar, dunia seakan berputar di mataku, darah mengalir dari lubang tenggorokanku membanjiri tanah, udara seolah berhenti meyapaku, dan dalam kesakitan, aku masih bisa mendengar dan melihat dalam sayup mata yang sudah tidak bisa melihat dengan jelas, tawa puas dari orang-orang dewasa yang mengikat kaki serta menggorok leherku. Bayang-bayang dan suara tawa itu berlalu perlahan. Siapa yang dapat menawar kematian! Ia datang begitu saja. Oih, gelap mulai menyapa pandanganku.

’’Apakah dia belum mati?’’ seorang anak laki-laki berteriak bertanya pada bapaknya. Sungguh, tak ada makhluk hidup yang sanggup menawar kematian, dan pada akhirnya nyawaku meninggalkan sebatang jasad yang terkapar tak berdaya.

***

’’HARAL, ajak Sahrul ke laut bersihkan isi perut itu’’ teriak Marjun pada putranya, yang kini masih membujang di usianya yang sudah cukup matang.

’’Ya, Amaq.’’ jawab Haral. Seperti warga Jerowaru lainnya, Haral memanggil ayahnya dengan amaq.

’’Kau juga, Mahsun, ajak teman-teman kau itu memindahkan batang-batang pisang itu, sebentar lagi sudah waktunya diiris!’’ sementara para pemuda yang lain sedang sibuk mengupas kelapa, pepaya, dan nangka.

Di lain tempat, di teras rumah Inaq Sahir, banyak orang sedang sibuk-sibuknya memilah cabai, bawang, dan beberapa rempah-rempah kebanggaan bumi nusantara. Ada yang sedang mengupas, menggiling, dan menggoreng, mereka juga sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Han Kejot bertugas memarut kelapa, lalu Ramlan dan Nasron bergantian memeras, mereka bertiga agak lamban dalam tugas ini, tidak seperti biasanya. Nasron yang memiliki kepala mirip batok kelapa ini sembari bercerita kepada dua rekan kerjanya, Ia sedang mengalami mabuk asmara dengan salah satu putri sulung Pak Kades. Melihat kelambatan ketiga pemuda yang sedari memarut dan memeras itu, Bambang yang memiliki tubuh tinggi yang konon tiga kali gagal melamar menjadi abdi negara itu berteriak. “Woooe, kalian ini ngapain, kok aku lihat dari tadi dapat kalian cuma segitu-gitu saja, kerja woooe, kerjaaa.’’ teriaknya memekik.

“Kampreeet si Bambang.’’ Nasron mengerutu.

“Ya, cari muka dia di depan Inaq-inaq itu’’ Ramlan membenarkan.

“Sudah, biarkan saja si Kocok itu, jangan digubris, Nas. Terus, terus, sampai mana tadi ceritamu itu?’’ Han Kejot tak ambil pusing dengan teriakan Bambang itu.

Melihat mereka masih lamban, sementara santan harus segera direbus untuk campuran ares, masakan khas Lombok yang bahan bakunya dari pohon pisang. Bambang mulai geram dan mendatangi tiga kawanan itu yang sedari tadi hanya bercerita.

“Woooe, kapan ini akan selesai kalau kau hanya cerita terus, hah?’’

“Santai dong, ini kawan kita lagi jatuh cinta, santan ini juga belum dibutuh-butuhkan amat kok!’’ ucap Han membela.

Mendengar ucapan Han, Inaq Seruni tak kalah besar teriakannya. “Lihat itu, lihat!’’ bentaknya sambil menunjuk ke arah tungku besar dengan api kayu yang nyala apinya berkobar. “Airnya sudah mendidih dari tadi, sementara kalian baru dapat satu ember? Kalau kalian tidak sanggup mengerjakan ini, mendingan kalian pergi,’’ sambungnya lagi dengan semburan bara di mulutnya. Mendengar ucapan itu, Bambang yang sedari tadi ikut memperhatikan tiga kawanan pemuda itu ikut mengiyakan apa yang diucapkan Inaq Seruni. “Haha, dengar itu, dengar kalian.’’ Katanya sembari tertawa puas melihat tiga temannya kena semburan.

Sementara kaum remaja perempuan bertugas mengambil air ke sebuah mata air yang cukup jauh dari lokasi begawe. Mereka akan berduyun-duyun bolak-balik sampai wadah yang cukup besar terisi. Dari sekian remaja itu, akan kita temukan juga satu-dua orang ibu-ibu sebagai penjaganya. Di sinilah kadang letak seorang lelaki menilai seorang perempuan yang cocok untuk dijadikan istrinya. Sembari menuju lokasi pengambilan air, tugas inaq-inaq yang ikut mendampingi adalah bekayak, bernyanyi lagu-lagu lawas khas daerah. Dalam syair-syair bekayak, tersimpan banyak petuah yang menjadi salah satu mantra lokal dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

***

BAU jangan, sebutan daging oleh orang-orang Jerowaru, telah merangsek ke tiap-tiap hidung yang menunggu jatah makan siang. Wangi ares juga tak kalah ganas. Perut-perut keroncongan yang menunggu jatah semakin terpacu menagih. Seolah-olah mereka berbisik, “Sudah, tunggu apalagi, bawa saja satu-dua piring itu ke tungku besar itu, ambil sendok dan tuangkan.’’ Namun apa daya, semakin perut itu menagih, semakin kuat ketidakberanian mata, hidung itu menatap dan mencium bau sedap yang berkeliaran itu. Kenapa? Karena di desa tersebut tidak boleh sembarang orang mencicip makanan sebelum seseorang yang dianggap tetua di desa itu mencobanya dulu, kalau hal itu dilanggar, bisa kena tulah. Begitu masyarakat menyakininya.

Masyarakat dari berbagai kalangan mulai berkumpul, miskin, kaya, anak-anak, remaja, pemuda hingga orang tua berbaur menjadi satu. Dari berbagai latar agama berkumpul dalam satu nampan besar yang sudah terisi dengan nasi, jangan, ares, serebuk. Masing-masing satu nampan diisi oleh lima orang. Itu biasa disebut begibung.

Dalam acara begibung ini, segala macam isi yang ada di nampan tidak boleh ada yang tersisa. kecuali tulang belulang. Jika ada nasi atau lauk yang tidak dihabiskan oleh masing-masing orang yang sudah dibagi itu maka; mereka harus siap menggantinya dengan sumbangan kepada anak yatim-piatu. Namun, di sinilah biasanya letak kejahilan para pemuda yang mau mengerjai teman-temannya. Nasron, Ramlan, dan Bambang salah satunya, mereka akan dengan sengaja membagikan bekas nasi mereka kepada teman-temannya yang sudah kelihatan kenyang.

Nasron mulai memainkan mata sebagai kode, Bambang yang sudah mafhum dengan hal itu mulai menyetok nasinya pada rekan yang duduk di sebelahnya.

Acong kau, Bam.’’ ucap kawan di sebelahnya yang sudah menjadi korban, riuh tawa akan akan santer terdengar seketika kalau ada satu-dua kelompok yang mendapat kejadian menyedihkan itu. Gurauan semacam itu akan akrab kita dengar di desa sebagai bahasa kekerabatan. Tidak ada yang akan merasa tersinggung atau marah dengan kata-kata yang menurut kebanyakan orang adalah kata-kata yang tidak pantas, seperti kata acong, yang berarti anjing.

Begitulah acara yang selalu diadakan tiap tahun di Desa Jerowaru, ritual semacam itu menandakan bahwa; bulan suci ramadhan tinggal menghitung hari. Makan bersama atau masyarakat biasa menyebutnya dengan sebutan begawe (pesta/syukuran), yang diiringi dengan doa bersama kepada Tuhan atas rahmat yang diberikan.

Inaq Seruni, kembali berteriak “Ooooi, sisakan saya jangan dan ares itu, Bambang!’’ riuh tawa semakin santer terdengar.

 

Yogyakarta, 7 Mei 2018

Pendapat Anda: