Marabunta

Posted: 7 March 2017 by Irwan Apriansyah

PISAU itu terhunus ke dalam perut seseorang, berulang-ulang, tanpa peduli darah muncrat ke tangan dan pakaiannya. Lambung mayat itu telah robek, sesosok tangan menarik usus dari perut dengan penuh keyakinan. Ia menarik usus itu hingga memanjang ke atas, lalu dengan silet merk Tiger menyayat dari ujung ke ujung membentuk garis vertikal hingga isinya terburai ke mana-mana. Kemudian dengan perlahan tangannya merogoh jantung dan menggenggamnya, terkadang ditatapnya lama-lama jantung yang masih berdegup itu selama masih berada dalam genggaman, sesekali mengelusnya seperti mengelus bulu anak ayam yang baru lahir. Seusai ritual kecil itu, ia tidak segan memasukkan jantung tersebut ke dalam rongga mulutnya yang menganga. Mengunyahnya pelan-pelan, mengunyahnya dengan penuh kenikmatan. Lalu, sepasang matanya menyala.  

Bercak darah di mana-mana, di wajah lelaki, di kemeja putihnya, di celana abu-abunya dan di sepasang tangannya yang berlumuran darah. Sepasang matanya menyorot tajam ke arah si mayat penuh kebencian. Seolah-olah hanya dengan sorot mata, ia telah melepaskan nyawa dari sangkar tubuh seseorang. Jemarinya lihai mengaduk-aduk isi perut, mencerabut jantung, dan menarik usus. Baginya, membunuh adalah seni tertinggi. Hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang tidak hanya berbakat tapi juga memiliki kelihaian khusus dalam membaca perilaku dan isi kepala si calon korban.

“Dulu aku percaya bakat dapat mengubah masa depan seseorang,” gumamnya pada diri sendiri, “Tapi kini, aku juga percaya pada kerja keras yang membuat masa depan seseorang bisa jadi lebih baik.”

Berbakat membunuh, mencuri, merayu, (atau keahlian apa pun), serta mampu mengorganisir orang-orang saja tidak cukup. Segalanya mesti dibarengi kerja keras, kehendak untuk menguasai, ketelitian dan kesabaran yang terlatih dan juga insting tajam. Hidup dengan mengandalkan bakat yang tak terasah, tidak akan mampu membuat seseorang mencapai level ahli, paling hanya mencapai level medioker. Muncul lalu lenyap seketika, seperti meteor, ya, meteor. Dan demikianlah yang dirasakan Marabunta. Lelaki dengan sebilah pisau yang setiap malam hanya memburai bagian tubuh manusia. Itu berarti, setiap hari Marabunta harus mendapat korban untuk melatih kelihaiannya dalam seni mutilasi tubuh.

*

Marabunta tidak peduli pada kisah hidup si mayat. Tapi terkadang sesekali terlintas pertanyaan macam-macam di kepalanya. Siapa kekasih mayat ini? Ah, barangkali kekasihmu sedang menunggumu di sebuah restoran yang sederhana. Sambil terus memandangi wajah si mayat yang telah terpotong dari lehernya, sepasang mata Marabunta seperti tidak berkedip, lamunannya melayang ke masa hidup si mayat ketika sebelum dirobeknya kulit di batang leher dengan sebilah pisau pada suatu sore di sebuah gang dekat restoran yang sepi.

Pernah sesekali terlintas di benaknya tentang seorang perempuan yang menjadi kekasih hatinya. Siapa pun nama perempuan itu, entah dari mana asal perempuan itu, ia tidak peduli, asalkan mampu menerima segala keburukannya. Dibayangkannya sosok perempuan berambut lurus sepundak dengan poni menggantung di kening sedang melambai padanya. Dan juga sebuah senyuman dilemparkan pada hati Marabunta yang kesepian. Lalu mengajaknya makan di sebuah restoran kecil, atau nonton film di bioskop. Mungkin hari-hari Marabunta akan dipenuhi kebahagiaan. Mungkin Marabunta tidak perlu mencari korban untuk dicincang. Mungkin ia akan menjadi Marabunta yang lain, bukan menjadi Marabunta yang sekarang.

Darah hangat yang mengalir dari leher si mayat ke jari-jemari Marabunta menyadarkan dirinya dari lamunan. Membuyarkan balon-balon khayalan yang mengambang di udara. Marabunta kini sadar siapa dirinya, hanya seorang yang hatinya didera sepi dan masih hidup di dunia. Lampu-lampu merkuri bercahaya, berjejer di setiap pinggir jalan. Sementara langit menyaksikan perilakunya lewat kerlip bintang-bintang.

*

Keesokan harinya, ketika matahari telah condong ke barat dan menyepuh separuh langit dengan warna kemerah-merahan. Di sebuah taman kota, seorang lelaki dengan sebilah pisau terselip di pinggang, di balik jaket baseball-nya. Marabunta sedang duduk di bangku taman, menghabiskan waktu senja sambil mencari mangsa.

Di bangku sebelahnya tampak seorang perempuan sedang gelisah menunggu kekasihnya. Sesekali diliriknya jam di layar ponsel. Wajahnya dipenuhi kecemasan dan rasa kesal. Lalu ditekannya tombol pemanggil di ponsel layar sentuhnya. Dan hanya “tut, tuut, tuut, nomor yang Anda hubungi sedang sibuk,” demikian yang didengar dari seberang sana.

Perempuan dengan rambut bergelombang itu mengenakan kaos ketat putih bergambar wajah Marilyn Monroe di bagian depan. Bagian rambut Monroe menutupi bentuk dada yang padat menerobos bahan katun. Bagian bawahnya dibalut celana jins abu-abu ketat yang terbuat dari bahan tipis, sehingga tiap leluk lutut, paha, dan bongkahan pinggul montok yang sedang duduk gelisah itu tidak bisa berdiam diri.

Sampai Marabunta mendekat dan mengajaknya berkenalan, perempuan itu masih merasa segalanya berjalan baik-baik saja, segalanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bahkan Marabunta berhasil menggiring korbannya menonton film seperti yang dikhayalkannya semalam. Mereka keluar dari bioskop ketika hari telah malam.

“Aku akan mengantarmu pulang,” ucap Marabunta, padahal hatinya mengharapkan lain. Jika si perempuan mengiyakan, itu berarti secara tidak langsung berkata “aku ikut ke mana pun kau mau,” dan Marabunta merasa berhasil malam itu setelah mendengar kata “boleh” dari mulut pasangannya. Maka Marabunta mengajaknya mampir ke apartemen sebelum mengantar si perempuan pulang. Sesekali dirabanya pisau dalam sarung yang terselip di pinggang, di balik jaket baseball-nya.

*

Di balkon, di puncak apartemen, sebuah bayangan hitam mengoyak tubuh seorang perempuan. Tepat di bawah bulan pucat, disayatnya perlahan dari belahan dada sampai bawah pusar. Setiap garis yang ditarik dari ujung pisau itu mengeluarkan darah. Darah menyembul pelan-pelan dari balik kulit yang tergores. Malam seperti milik Marabunta sepenuhnya.

Tadi sebelum ia menikam leher perempuan itu, sesuatu singgah di dadanya. Ada rasa cinta muncul tiba-tiba. Rasa kasih sayang yang menyergap batinnya. Ia berkeringat, dadanya bergetar. Tapi tangannya merogoh sesuatu yang menyembul di balik punggung. Tangan yang gemetar itu mengeluarkan sebilah pisau. Ada keraguan hinggap di dadanya. Hampir ia membatalkan kehendaknya namun sesuatu berbisik di relung batinnya.

“Hidupmu ditempa rasa sakit, didera kesendirian, dan diasingkan orang-orang,” bisik suara asing itu menggema ke seluruh lorong tergelap jiwanya.

Layar malam yang ditatapnya menjelma gambar-gambar masa silam. Ia ingat bagaimana dirinya harus bertahan hidup. Sejak kecil diasingkan masyarakat. Sebab ayah dan ibunya aktivis sebuah partai berlambang palu arit. Suatu pagi didapatinya kekosongan dalam rumah. Marabunta kecil terbangun mendengar suara kukuruyuk ayam. Dipanggilnya ayah dan ibunya, namun tak ada jawaban. Dipanggilnya berkali-kali, suaranya terpantul-pantul dalam  kesunyian.

“Ayah?”

“Ibu?”

Ternyata malam sebelum pagi itu, ketika kedua orangtuanya dalam perjalanan pulang ke rumah, segerombolan orang mencegat dan membawa mereka ke suatu tempat. Beberapa orang menyilet kulit orangtuanya semasa nyawa masih dalam tubuh lalu menggorok leher dan mengoyak tubuh mereka sampai hancur. Sebelum eksekusi mengerikan itu, ibunya diperkosa beramai-ramai sampai pingsan.

Marabunta kecil segera bangkit, ketika segerombolan orang menyiram pintu dan jendela dengan bensin. Ia tergagap, wajahnya pucat dan penuh ketakutan. Sebelum seseorang melempar sebatang puntung rokok sambil berteriak “anjing komunis!” Marabunta telah bergegas keluar lewat pintu belakang. Menyembunyikan tubuhnya dalam kebun belakang rumah. Diterobosnya daun-daun kacang, kakinya yang telanjang meninggalkan tapak mungil. Ia sembunyi di balik pohon salak. Ditatapnya rumah yang terbakar sejenak, sebelum Marabunta memutuskan lari untuk selama-lamanya. Ia lari dalam ketakutan. Lari dari kampung ke kampung, melewati sungai, ngarai, dan jalan bebatuan. Dan bayangan itu pudar, Marabunta mendapati dirinya tengah menggenggam sebilah pisau.

“Dan ini balasanku pada kalian…” pisau pun menggores leher yang terbalut kulit halus.

*

Pada suatu pagi, orang-orang mendapati sebuah kardus besar tergeletak begitu saja di depan pintu rumah mereka. Di bagian atas kardus tertera sebuah kertas bertuliskan: Anjing Komunis!  Seorang lelaki tua yang melihat tulisan tersebut terperangah. Ia kaget dan sekaligus ada rasa takut menyergapnya. Ia takut bukan lantaran seorang komunis. Tapi diingatnya sesuatu, sebuah kata-kata yang pernah diteriakkannya pada masa muda yang penuh gelora.

“Anjing komunis, anjing, komunis, anjing komunis…” ucapnya terbata-bata dan penuh rasa takut. Sebatang rokok masih menyala, hendak dilemparkannya, namun urung sebab tangannya hanya gemetar. Rokok itu terjatuh di samping kaki keriputnya.

Lalu tangannya membuka kardus. Ketika terbuka ia melihat tubuh yang terpotong-potong perbagian seperti; tangan, paha, kaki, perut, jantung, dada, dan kepala, semua bagian tubuh itu masih penuh dengan bercak darah. Lelaki tua itu menjerit sekeras-kerasnya, tubuhnya tersungkur ke lantai. Seluruh penghuni rumah keluar, melihat apa yang terjadi.

“Pak, anak kita, Pak!” jerit seorang ibu sambil berurai airmata.

“Itu kepala Lasmi, ah!” seorang kakak segera menangis.

“Anjing, aku anjing, Bu…” Lelaki tua itu perlahan bangkit dan tersungkur kembali.

“Aku yang anjing, aku yang anjing, bukan keluarga rumah itu…”

Seluruh penduduk kampung menjerit panik. Para lelaki tua ketakutan. Bayangan masa silam menyergap pikiran mereka. Sekali lagi suara jeritan terdengar di mana-mana. Para lelaki tua di kampung itu berlarian keluar rumah. Mereka berhamburan satu-persatu sambil dikejar-kejar anak istri yang merasa khawatir. Orang-orang itu berlari ke sebuah tempat di mana sisa-sisa tembok rumah yang pernah dibakar dulu masih ada, tapi hampir punah.

Sementara Marabunta terlelap di apartemennya. Ia lelah setelah semalam mengendarai mobil ke sebuah kampung masa kecilnya. Berkali-kali ia melakukan hal tersebut dengan memutilasi tubuh putra-putri para penduduk di sana, sampai lelaki-lelaki tua di kampung itu bunuh diri dengan sendirinya. Bunuh diri satu-persatu karena rasa bersalah yang menghantui batin mereka, rasa bersalah yang menggelisahkan malam-malam mereka.

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *