Lelaki yang Bersepeda Melintasi Waktu

Posted: 24 October 2017 by Andreas Nova

“Nder, aku datang dari masa depan,” bisiknya ketika kopi panas tersaji di meja kami.

Ya, itu kalimat pertama yang diucapkannya padaku setelah sebulan lebih tak bersua. Bukankah seharusnya ia menanyakan kabar atau basa-basi terlebih dahulu layaknya manusia normal lainnya? Aku sudah mengenalnya lebih dari sepuluh tahun. Memang terkadang ia tidak bertindak layaknya manusia normal, tapi sungguh, ini di luar ekspektasiku. Ia bilang ia datang dari masa tujuh tahun ke depan. Aku tidak tahu harus mempercayainya atau tidak, namun suaranya yang tidak lantang itu—bahkan cenderung setengah berbisik—terdengar penuh keyakinan. Belum sempat aku memutuskan aku harus mempercayainya atau tidak, ia sudah menjejali aku dengan prediksi-prediksi tujuh tahun ke depan. Ia bahkan menyuruhku bertaruh untuk sebuah tim sepakbola medioker yang setahuku saat ini ada di Divisi Kedua sebagai Juara Divisi Utama enam tahun lagi. Ia bilang aku bisa untung besar karena tak ada yang mengunggulkan tim itu. Padahal alih-alih memikirkan keuntungan dari perjudian tersebut, benakku dipenuhi dengan pertanyaan, mengapa ia hanya datang dari tujuh tahun ke depan. Bukan sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Bukankah umumnya dalam film-film fiksi ilmiah itu, tokoh utamanya datang dari berabad-abad mendatang, memamerkan dengan arogan segala teknologi canggih yang sudah diciptakan di masanya namun kembali ke masa lalu karena bumi telah rusak dan tak terselamatkan. Lalu kalau seandainya benar ia dari masa depan, berarti mesin waktu benar-benar sudah diciptakan. Aku bertanya-tanya seperti apa bentuk mesin waktunya.

“Aku datang dari masa depan menggunakan sepeda.”

Kutil kuda! Jawabannya membuatku melongo. Kupikir akan lebih mudah dicerna otak jika dia datang dari masa depan, muncul dari dalam laci seperti dalam kartun, atau melalui lorong waktu yang dibuat oleh sebuah teko yang bisa berbicara atau menggunakan mesin yang sangat rumit serupa dengan portal dalam film-film fiksi ilmiah. Ia sendiri tidak tahu bagaimana ia bisa sampai ke masa sekarang. Ia ingat betul ia bersepeda untuk kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah ia melihat ayahnya ada di rumah. Ayah yang di masa tujuh tahun mendatang, mati di depan mata kepalanya sendiri. Ayah yang seharusnya sudah tenang di alam sana, ia lihat sedang bersantai sembari membaca koran di ruang tamu rumahnya. Aku sendiri tidak melihat ada yang aneh dengan itu. Ayahnya memang seharusnya di rumah. Di tempat yang sama aku terakhir bertemu dengan ayahnya sebulan yang lalu. Masih segar bugar di usia setengah abad lebih. Masih tangkas bermain badminton di lapangan RW. Lalu ia menjelaskan kepadaku di masa tujuh tahun mendatang, ayahnya besok akan mati. Ayahnya akan terjatuh dari sepeda motor dan tergilas truk yang supirnya terlambat menginjak rem dalam sepersekian detik. Darah muncrat membekas di atas aspal, kepala ayahnya entah seperti apa bentuknya. Secara kebetulan ia melihat secara langsung saat-saat terakhir kematian ayahnya. Hatinya remuk seketika ketika mengetahui ayahnya benar menjadi korban kecelakaan tersebut. Saat itu ia hanya terduduk lemas, tak tahu harus berbuat apa. Siapa yang bisa berpikir jernih jika mengalami hal seperti itu. Bahkan semenjak itulah ia tidak pernah menyentuh barang bernama sepeda motor. Ia tak mau bernasib seperti ayahnya. Ia bersepeda tanpa embel-embel motor. Sepeda yang dikayuh dan tak perlu diberi minum bensin supaya mau jalan saat tuas gasnya dipelintir. Sepeda yang gambarnya ada di kaleng-kaleng kue wafer, dalam bentuk yang lebih modern dan harganya hampir sama dengan ponsel pintarku. Sepertinya trauma akan kejadian itu membekas cukup dalam. Sungguh, sukar dipercaya ia bisa meninggalkan motornya. Ia dan motornya sudah seperti dua hal yang membentuk simbiosis mutualisme seperti Nobita yang selalu mendapat masalah dan Doraemon yang selalu memiliki solusinya. Hanya ke warung sembako yang ada di ujung gang dekat rumahnya pun ia menggunakan sepeda motor—tak lupa menggunakan helm untuk menjaga kewarasan kepalanya. Sejak pertama kali mengenalnya di hari pertama masuk SMA, aku malah baru tahu dia bisa bersepeda. Tahun pertama kami di SMA, ia selalu diantar-jemput ayahnya mengendarai sepeda motor cungkring yang biasa digunakan oleh pegawai kecamatan. Baru tahun kedua rengekannya untuk meminta sepeda motor sendiri berhasil. Ia mulai mengendarai sepeda motor bebek bekas berwarna biru yang katanya dibelikan ayahnya dengan cara mengangsur dari pamannya. Semenjak itu ia seperti terobsesi dengan sepeda motor. Semua berita dan buku tentang motor dibacanya. Ia sendiri mencoba-coba mengulik motornya sendiri. Entah kebetulan atau tidak, mungkin berkat sepeda motor itulah ia berhasil merebut hati teman sekelasku. Aku turut berbahagia, setidaknya aku tidak perlu mendengarkan keluhan tentang hidupnya yang hampa karena tidak memiliki pacar. Dan seperti jamaknya orang berpacaran, tentu saja proses berpacarannya tidak semulus kulit putri raja yang biasa dibaca dalam buku dongeng anak-anak. Dari keluhannya ia setidaknya sudah pernah putus dua kali walaupun akhirnya hubungan mereka kembali membaik dan berpacaran lagi. Entah memang jodoh atau memang sudah belajar dari kebodohan mereka, aku belum pernah lagi mendengarnya mengeluhkan pacarnya. Paling hanya pertengkaran kecil yang bagi mereka seperti bumbu pedas manis dalam manisan salak yang asam. Hubungan mereka berjalan langgeng, sudah berjalan sekitar tiga puluh lima bulan. Aku ingat betul karena terakhir ia mengabariku bahwa mereka berbaikan dan kembali menyambung hubungan asmara bersamaan dengan sepeda motorku—atas namaku tentu saja—yang baru saja terbeli—dengan gaji yang sudah kutabung selama setahun sebagai uang muka. Sepeda motor berjenis skuter dengan balutan plastik yang menyelimuti rangkanya dan bertransmisi otomatis.  Ia pernah berkomentar bahwa aku akan tetap kesulitan mendapatkan pacar karena perempuan tidak menyukai lelaki yang mengendarai skuter matik. Ia bilang aku seharusnya membeli motor sport yang menurutnya lebih maskulin. Tapi bagaimana aku harus percaya pendapat seorang lelaki yang mengendarai sepeda motor bebek keluaran awal milenium dan tidak pernah melihatnya menggunakan sepeda motor dengan kopling manual. Lagipula aku tidak menyukai sepeda motor yang seperti itu. Selain tampak arogan, juga terlalu banyak tuas untuk dioperasikan. Ayolah, akui saja. Apakah dengan arus informasi yang sudah sedemikian kencang ini kamu lebih memilih ponsel dengan dua belas tombol angka—masih ditambah tombol navigasi—atau memilih ponsel dengan tiga tombol—volume atas bawah dan power, sisanya menggunakan layar sentuh? Tentu saja yang kedua. Yang lebih sedikit tombolnya. Logika yang sama kugunakan dalam memilih sepeda motor. Arus lalu lintas yang membuat kita lebih banyak berdoa—kepada Tuhan tentu saja—dan memaki—kepada pengguna jalan yang ngawur—secara simultan membuatku tidak ingin semakin direpotkan dengan banyaknya tuas kendali sepeda motor yang kukendarai. Skuter matik bagiku adalah pilihan terbaik bagiku yang hanya membutuhkan maju, berhenti, berbelok dan tentu saja memberi tanda dengan benar ketika akan berbelok. Bulan depan sepeda motorku ini akan lunas, dan ia masih berpacaran dengan temanku. Setahuku yang lebih lama dari hubungan pacarannya adalah hubungan pertemanan kami dan hubungannya dengan motor bebek biru kesayangannya.

Ketika ia menghubungi dan mengajakku bertemu di warung kopi langganan kami, aku heran ia datang memasuki parkiran warung kopi dengan bersepeda. Ia mengenakan topi alih-alih helm hitam yang biasa ia pakai. Terakhir kami bertemu ia masih menggunakan sepeda motornya. Selain itu aku merasa melihat dia sebagai orang yang berbeda. Tampilan fisiknya masih sama, kurus dengan beberapa lekuk tulang yang menonjol dari balik kulitnya yang coklat kusam. Ia masih mengenakan kaus hitam polos yang sering sekali ia kenakan. Yang berbeda adalah wajahnya yang lebih cerah penuh kepercayaan diri, sorot mata yang lebih tajam, juga cara bicaranya yang lebih tegas. Seandainya aku orang buta, mungkin aku akan mengira ia adalah orang yang berbeda. Entah hal itu karena aku sudah lama tak bertemu dengannya, atau karena ia memang menjadi berbeda atau karena ia benar datang dari tujuh tahun yang akan datang. Ia tidak seperti dulu, yang peragu, dan sering meminta pertimbangan dariku. Entah apa pertimbangannya semua hal harus dipertimbangkan denganku. Aku sendiri bukan seseorang yang bijak. Pernah aku memberi nasihat agar sesekali berpegang dengan pendiriannya ketika ia bertengkar dengan pacarnya. Hasilnya? Hancur lebur. Hubungan mereka merenggang, dan dia menjadi seperti orang linglung.

Aku membayangkan kekagetannya ketika ia bertemu dengan ayahnya. Mungkin rasanya seperti bertemu dengan hantu. Aku sendiri belum pernah bertemu hantu. Hanya saja, aku kerap kali bertemu dengan almarhum kakekku yang meninggal delapan tahun yang lalu di dalam mimpi. Sama seperti ketika ayahnya yang ia temui sedang duduk santai di ruang tamu, kakekku juga selalu menemuiku dalam keadaan santai. Entah sedang duduk di kursi goyang atau sedang duduk lesehan bersandar pada pohon kersen. Hal tersebut membuatku heran. Manusia sering takut pada kematian, padahal orang yang telah mati selalu nampak santai tanpa beban ketika mereka datang menemui kita dalam alam mimpi.

Ketika ia bilang ayahnya akan mati, aku sempat berpikir apakah dia adalah anak durhaka yang menubuatkan ayahnya sendiri mati mengenaskan. Tapi anak durhaka macam mana yang mencintai kedua orang tuanya setulus itu. Aku tahu betul ia sangat mencintai kedua orang tuanya. Bahkan aku sendiri ragu aku mampu mencintai kedua orang tuaku seperti dirinya. Aku berpikir apakah ia diberi kesempatan kedua untuk menyelamatkan ayahnya dan memperbaiki hidupnya. Apakah karena ia begitu mengasihi kedua orang tuanya, Tuhan berbaik hati untuk memutar roda waktu? Aku pernah mendengar cerita-cerita tentang orang yang menembus waktu. Entah dari buku Wells atau kartun-kartun yang tayang ketika aku masih kecil. Tapi waktu itu aku tak pernah memikirkan bagaimana hal tersebut bisa saja terjadi. Dalam fiksi, semua adalah kebenaran. Aku sama sekali tak mengerti prinsip-prinsip ruang dan waktu dalam fisika atau apalah nama keilmuannya. Entah ia melintasi persimpangan ruang dan waktu, atau berimpitan dengan lipatan waktu, aku tak tahu. Entah benar atau tidak apa yang dikatakannya pun, aku tak begitu mempedulikannya. Jika benar pun, untung saja ia datang dari masa depan dengan bersepeda dan memberitahu ia datang dari masa depan kepadaku dengan berbisik. Bayangkan ia datang dari masa depan dengan mobil norak DeLorean kemudian berteriak-teriak lantang seperti Yohanes Pembabtis mungkin ia hanya bertahan paling lama sejam. Ia kemudian diarak, dihakimi, dituduh menistakan agama, dirajam dan dibakar massa, kemudian DeLorean akan dijual kiloan ke pengepul besi tua.

Namun apakah dia satu-satunya orang yang diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu? Bayangkan saja jika ternyata seseorang di sekitar kita adalah orang dari masa depan. Seperti Cak Mahmud pemilik warung kopi ini. Bagaimana jika ia ternyata berasal dari masa sepuluh tahun yang akan datang. Ia tahu bahwa bisnis warung kopi akan melejit karena banyak mahasiswa yang terlalu malas mengolah kopi sendiri untuk mendapatkan kopi yang enak, sedangkan waktu mereka terbatas karena terhimpit tugas-tugas kuliah yang berkejaran menghantui. Kemudian ia kembali ke masa lalu untuk membangun warung kopi yang harganya bersahabat dengan kantong namun keuntungannya dapat ia gunakan untuk hidup yang lebih baik.

“Aku besok akan menyelamatkan ayahku. Aku akan mengantarkannya sampai depan kantornya dengan selamat, lalu akan kujemput saat pulang.”

Aku pikir, dia adalah seseorang yang sangat beruntung. Ia diberi kesempatan kembali ke masa lalu dan menyelamatkan nyawa ayahnya dengan semudah itu. Semudah mengantar kerja dan menjemputnya sepulang kantor. Seandainya mendapatkan pacar semudah mengantar dan menjemput, pastilah pabrik motor adalah pihak yang paling beruntung. Membayangkan berapa omzet tambahan yang akan didapat sudah membuat kepalaku pening.

Sesudah mengatakan itu ia berpamitan untuk pulang. Ia memintaku mendoakannya supaya ia dan ayahnya berhasil selamat. Mungkin ia lupa, aku tak pernah berdoa. Bukan aku tidak ingin satu hal buruk terjadi padanya, tapi jika kau percaya Tuhan Maha Baik, segala sesuatu pasti terjadi dengan baik. Sepintas setelah ia berlalu, aku teringat sebuah teori bahwa kepakan kecil sayap kupu-kupu di Brasil dapat menimbulkan angin puyuh di Texas beberapa bulan kemudian. Apakah yang dilakukannya saat ini benar-benar mampu menyelamatkan ayahnya di kemudian hari? Namun memang dunia tidak berjalan seperti asumsi dan kemauan manusia. Keputusanku untuk tidak berdoa mungkin aku sesali karena esok lusa aku mendapat kabar duka dari jarkom pesan singkat teman sekelas semasa SMA. Ia dan ayahnya meninggal secara mengenaskan karena kecelakaan lalu lintas.

 

*Gambar adalah digital painting karya Hang

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *