Kisah yang Tak Ingin Kauceritakan

Posted: 6 February 2018 by Willy Akhdes Agusmayandra

Jika kau pulang ke rumah menemui ibumu, kau selalu memilih untuk datang selain hari Minggu. Sebab itu adalah hari khusus bagi keluarga besarmu untuk berkumpul di rumah dan bercerita tentang banyak hal, dan kau tak menyukainya. Mereka adalah orang-orang yang memantau perkembanganmu sedari kecil hingga kini kau menjadi gadis dewasa dan mandiri.

Mereka adalah bibi, paman dan saudara sepupumu yang lainnya. Hampir semua  perempuan. Ketika berkumpul, mereka akan membicarakan tentang segala, mulai perihal sepele mengenai motif terbaru alas meja yang sedang laris dijual di pusat perbelanjaan tengah kota, atau tentang sinetron yang sedang digemari di layar kaca, atau membincangkan saudara lainnya yang berhalangan hadir, sampai mengenai perihal yang kau hindari membicarakannya: pernikahan. Meski kadang mereka berkumpul dalam rangka acara yang berbeda, mulai dari pengajian bulanan, arisan keluarga, sampai rapat persiapan suatu acara sosial, namun cerita yang bergulir adalah sama belaka. Dan kau sungguh bosan dengan itu semua.

Di antara keluarga besar yang sering berkumpul di rumahmu, kau mengenal beberapa sepupumu begitu karib. Karena beberapa diantaranya, seperti Rosi, pergi ke sekolah yang sama denganmu dulu dan usia kalian tak terpaut jauh. Rosi, anak perempuan pertama Bi Izah, kakak tertua ibumu, hanya dua tahun lebih muda darimu. Dan, bulan kesepuluh tahun ini adalah bulan yang paling ditunggu Rosi dan keluarga besar. Ia akan menikah dengan pemuda mapan dan gagah yang dikenalkan ayahnya. Kau dulu pernah sekali bertemu sang calon, ketika Rosi mengajakmu bertemu di sebuah kafe dan mengenalkan calon pasangan hidupnya itu. Ia memang rupawan, kau mengakuinya.

Telepon dari ibumu semalam yang memintamu untuk pulang agar kau ikut berkumpul di acara keluarga hari Minggu ini membuat kau kehabisan cara untuk menolak. Minggu ini keluarga besarmu akan rapat keluarga di rumahmu, dengan agenda penting: merancang acara pernikahan Rosi, dan tentunya membicarakan hal remeh lainnya, seperti biasa.

* * *

Setiap kali orang-orang menanyakan tentang pernikahan, kau seperti terperangkap cerita menakutkan dan dilemparkan ke masa lalu. Kau kembali teringat sosok yang tak pernah kaukenal dalam hidupmu: ayah.

Sosok ayah yang kau ingat adalah seorang lelaki beringas yang jarang kautemui di rumah. Sesekali di rumah, ia akan merusak hari-hari bahagia masa kecilmu. Ia pulang ke rumah hanya untuk menumpang tidur, makan dan mungkin mandi. Kau tak pernah tahu apa pekerjaan ayahmu. Yang kau tahu ia pulang hanya  membawa satu tas berisi pakaian kotor, lalu beberapa hari kemudian pergi lagi dengan memikul tas yang sama dengan pakaian bersih, dan tak pernah kautahu kapan ia pulang.

Setiap kali ayahmu pulang ke rumah, maka setiap itu pula ia akan bertengkar dengan ibumu. Sumpah serapah menjadi tutur kata yang lumrah kau dengar saat mereka bertengkar. Yang bisa kaulakukan hanya lari ke kamar dan meringkuk sambil menempelkan telinga ke dinding berusaha mendengar pertengkaran mereka. Kemudian, seperti biasa, perang mulut itu akan diakhiri dengan bunyi tamparan keras pada wajah dan diikuti suara tangis pecah ibumu. Lalu kau merintih, seolah tamparan itu mendarat di pipimu. Esok harinya kau akan melihat guratan merah selebar tapak tangan di pipi ibumu. Dan ibumu tak pernah mau membicarakannya jika kau menanyakan tentang itu. “Bukan hal  yang penting untuk dibahas,” ujarnya singkat.

Kau tak pernah habis pikir mengapa ibumu bisa sanggup hidup bertahun-tahun dengan seorang lelaki yang tak pernah menunjukkan bahwa ia seorang suami dan seorang ayah bagi anak-anaknya. Dan ibumu tak pernah menganggap kelakuan tak beradab ayahmu sebagai masalah besar yang perlu ia umbar. Tak pernah kau dengar cerita tentang kebengisan ayahmu dari saudara-saudara ibumu, mungkin juga karena ibumu tak pernah membincangkannya. Hanya tetangga terdekatmu yang mungkin tahu, mungkin saja mereka seringkali mendengar suara gaduh dari rumahmu. Tapi mereka pun tak pernah membicarakannya.

Di luar semua itu, ibumu sepertinya tampak bahagia. Ibumu menemukan kebahagiaan yang lain dengan memelihara bunga-bunga. Ia menyibukkan diri merawat dan merangkai bunga-bunga hampir setiap petang,  sepulang ia bekerja di kantor kecamatan. Ia mencintai bunga-bunga sebagaimana ia mencintai anak-anaknya. Ketiga anaknya diberikan nama-nama bunga. Krisan, Dahlia dan Seruni. Sepertinya hanya dengan begitu ia bisa melupakan kebengisan suaminya, dan dengan itu pula ia meluapkan kekesalannya. Rumahmu tampak asri di tumbuhi beragam bunga di pekarangan yang luas.

Namun ibumu yang begitu pendiam dan selalu mengalah jika menghadapi ayahmu, ia akan meledak juga bila ayahmu melampiaskan kemarahannya pada kalian, anak-anaknya. Pernah suatu malam di penghujung bulan Maret, kala itu kakak lelakimu, Krisan, sedang gemar-gemarnya bermain sepak bola. Ia sering bermain di halaman samping bersama teman-temanya. Dalam satu waktu bola mereka mengenai kaca jendela kamar tidur, dan memecahkannya. Ayahmu yang sedang di kamar itu tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Mungkin ia terkena pecahan kaca atau pantulan bola, atau keduanya. Serta merta amarahnya pecah. Dengan suara keras seperti petir pengantar hujan, ia mendaratkan telapak tangannya di muka Krisan, dan mengurung anak itu di kamar mandi setelah menggiringnya ke belakang dengan lecutan ikat pinggang. Krisan meraung sejadinya. Penderitaannya berakhir setelah ibumu pulang dari pasar. Ia mencampakkan barang belanjanya ketika ia dengar raungan Krisan dari dalam kamar mandi. Ia murka melihat anaknya meringkuk tersedu dengan pipi memerah. Ia menghampiri ayahmu yang baru saja kembali tidur dan melantingkan kursi kayu dan berbagai perabot kamar ke tubuhnya. Ia mengusirnya malam itu juga. “Aku masih sanggup menahan kebiadabanmu. Tapi jangan sesekali sentuh anakku,” teriak ibumu padanya.

Sejak kejadian itu, Krisan tak pernah lagi berada di rumah jika ayahmu pulang. Ia akan pergi entah kemana, mungkin ke rumah teman-temannya dan menginap disana selama beberapa hari. Dan ia tak pernah lagi memanggil ‘Ayah’ kepada lelaki itu.

Namun, sejak dua belas tahun lalu, saat kau baru selesai SMA, ayahmu tak pernah pulang lagi ke rumah. Ibu pun tak pernah mencarinya, apalagi membicarakannya, kau pun tak ada niat menanyakannya. Kepergiannya untuk selamanya diterima begitu saja seperti penerimaanmu terhadap takdir hidup. Apa kau mensyukurinya?

* * *

Acara kumpul keluarga besarmu telah selesai. Orang-orang sudah sudah kembali ke rumahnya. Pembicaraan mengenai persiapan pernikahan Rosi, bagimu, berlangsung begitu membosankan. Belum lagi kalimat-kalimat yang sengaja dilontarkan kepadamu, menyemangatimu agar segera mengikuti langkah sepupumu itu. Atau bagimu bukan sebuah semangat, tapi semacam ledekan.

“Dahlia, kamu juga pasti tambah cantik nanti kalau pakai gaun ini di pesta pernikahanmu. Ayo, jangan tunggu lama-lama. Nanti keburu tua,” ujar Bi Ratih diringi gelak tawa saudara-saudaramu yang lainnya. Bagimu mereka seolah menertawakan lelucon paling hambar. Kau tersenyum seadanya.

Setelah orang-orang itu pulang, tinggal kau dan ibumu di rumah melewati malam. Kau merindukan masa-masa seperti ini, berdua saja dengan ibumu dan bercerita tentang bunga-bunga. Kau membawakan ibumu, waktu kau pulang, beberapa pot bunga mawar dan aster yang sudah lama ibumu inginkan.

“Kenapa kau menyukai bunga-bunga, Ibu?” Kau merebahkan kepala di pangkuan ibumu yang sedang bersimpuh menata bunga-bunga yang kaubawa di jambangan.

“Merawat bunga itu menenangkan dan manusia mengenal kata harum dari aroma bunga-bunga”

Nduk. Tidak kah kau ada keinginan untuk mengikuti jejak Rosi segera?” tiba-tiba ibumu, dengan pandangan masih terpaku pada bunga mawar, mengalihkan pembicaraan.

“Katanya dulu Cleopatra menaklukkan Mark Anthony dengan bunga mawar seperti ini, Bu.”

“Aku tidak sedang membicarakan mawar. Aku sedang membicarakan tentang dirimu, Dahlia.” Ibumu menatap matamu dalam-dalam.

Kau hanya mengatakan kau belum bertemu dengan lelaki yang tepat. Kau bilang kau tak mau salah memilih laki-laki. Doakan saja, ucapmu. Lalu kau bangkit dan beranjak ke kamar, meninggalkan ibumu dengan bunga-bunganya. Pembicaraan mengenai pernikahan dan pasangan hidup selalu berakhir seperti itu, dan tak pernah mencapai kata selesai.

* * *

Malam ini, kau datang padaku. Tidak biasa. Kau memaksa ingin bersua. Dan aku sedang banyak tugas kantor yang harus kuselesaikan malam ini juga. Namun, kau memaksa ingin bertemu dan memilih datang ke apartemenku, meski hujan lebat diluar. Ada sesuatu yang harus dibicarakan, ujarmu singkat lewat telepon.

“Rini, aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Ibuku terus mendesakku untuk segera menikah. Aku bingung harus menceritakan apa padanya. Aku tidak mau menceritakan tentang kita pada ibuku. Biarlah kisah kita ini hanya kita yang tahu. Ia pasti tak sanggup menerima ini. Atau aku yang belum siap mengatakannya. Entahlah.“ Ucapmu padaku di malam dingin itu saat kau sampai di tempatku. Matamu basah, seperti jalanan di luar, habis diguyur hujan.

Aku tidak menemukan kalimat yang pantas untuk kusampaikan. Lidahku seperti kehilangan cara untuk mengeluarkan kata-kata. Aku hanya meraih  tanganmu dan menggenggamnya erat seperti anak kecil menggenggam mainan kesayangan. Tanganmu dingin dan tatapanmu meredup. Kau menyandarkan kepalamu di bahuku, wangi magnolia menyeruak dari rambutmu yang mengilap. Kita harus mencari cara agar ibumu tetap bahagia seperti ia bahagia merawat bunga-bunga, ucapku sambil tetap menggenggam tanganmu yang mulai hangat, mengalirkan geloranya menuju jantungku. Aku inginkan udara memadat dan waktu berhenti. Lalu membekukan kita berdua.

Bandung, November 2017

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *